Site icon SAID MUNIRUDDIN

SUFI, HALAL HARAM SENI DAN KEHADIRAN TUHAN

Advertisements

Jurnal Suficademic” | Artikel No. 89 | Oktober 2022

SUFI, HALAL HARAM SENI DAN KEHADIRAN TUHAN
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Main domino, kalau tidak membuat kita ingat kepada Allah, itu “riya'”, sia-sia. Main musik, kalau tidak membuat kita ingat kepada Allah, itu juga “riya”, sia-sia. Minum kopi pun begitu, kalau tidak membuat kita ingat kepada Allah, itu “riya”, sia-sia. Sholat juga sama, kalau tidak membuat kita ingat kepada Allah, itu “riya”, sia-sia.

Semua pekerjaan akan bernilai ibadah, kalau membuat kita ingat kepada Allah. Semua pekerjaan juga akan menjadi “riya” (evoria), kalau tidak membuat kita ingat kepada Allah. Ingat kepada Allah menjadi sentra dari “halal-haram” sebuah kerja dan aktifitas. Tidurpun, kalau tidak hadir Allah, akan didatangi setan. Tidur jadi bermasalah. Karena itu, halal atau haramnya sebuah pekerjaan, bukan sekedar karena adanya persepsi buruk atas pekerjaan itu. Seringkali, itu tergantung pada “hadir” atau tidaknya Allah.

Karena itu, para pendakwah awal, hadir ke sebuah wilayah bukan untuk “membasmi” total apa yang telah berkembang. Justru melakukan “islamisasi”, menghadirkan Allah pada adat dan tradisi. Bahkan memberi warna baru pada agama yang telah duluan ada disana. Banyak masjid kuno di Indonesia, justru pengalihan dari bangunan ibadah Hindu. Dari arsitekturnya kita tau, dengan atap bertingkat-tingkat, tempat sholat kita pada awalnya adalah Pura. Dulu disitu hanya terdengar mantra-mantra, kini diganti dengan doa-doa.

Para sufi sangat adaptif dengan tradisi lokal. Mereka hadir untuk memberikan warna “Islam” pada apapun yang ada. Bahkan, adu ayam pun dibuat jadi syar’i. Sebelum adu ayam, Sunan Kalijaga menyuruh para jagoannya membaca Kalimah Syahadat (“Kalimasodo”). Sesederhana itu. Tidak seradikal pendakwah di akhir zaman ini. Sikit-sikit bidah. Sikit-sikit haram. Sikit-sikit syirik. Zina sekalipun, itu sebenarnya haram. Tapi dibuat menjadi halal, tok gara-gara diberi sedikit ‘aqad dimuka. Katanya, Bank Syariah juga begitu. Gara-gara ada ‘aqad, jadi Islam dia. Walau pelayanannya masih begitu-begitu juga. ATM juga susah keluar uangnya. Bunga diganti jadi margin. Istilah Inggris diganti Arab. Jadi Islam semua. Apa susahnya!

Dalam tradisi sufi juga begitu. Doa-doa Arab bisa diganti dengan bahasa ibu. “Allah” bisa menjadi “Khoda” (Persia), “Gusti” (Jawa), “Po” (Aceh) dan sebagainya. Sufi menginginkan, hubungan manusia dengan Allah tidak harus selalu dibatasi dengan “bahasa asing”. Berbicaralah dengan Allah dalam bahasa yang kita pahami. Setidaknya kita juga tau apa yang kita minta. Allah pun maha cerdas, paham semua bahasa.

Bahkan sholat kita semua, itu bercampur bahasanya. Secara lisan bahasa Arab. Tapi dalam niat, dalam hati dan pikiran, ada bahasa terjemahan atas apa yang kita ucapkan. Kalau tidak, susah khusyuk. Sebab, tidak paham apa yang kita baca. Khusyuk itulah inti ibadah. Kalau beribadah tidak paham arti, kata orang Aceh, itu seperti “Cina main seudati”. Gerak dan ucapan sholatnya mungkin sangat fasih. Tapi tidak tau apa makna dari syair-syair yang diucapkannya.

Sufi itu agak fleksibel, pada sisi syariat. Tapi ketat sekali pada dimensi hakikat. Agama yang awalnya berdimensi “Arab”, bisa di convert menjadi “Nusantara”. Menjadi apapun dalam tradisi lokal dimana Islam berada. Menjadi “Cina”. Menjadi “Melayu”. Menjadi “India”. Menjadi “Afrika” dan sebagainya. Islam yang universal, bisa menjelma dalam aneka khazanah lokal. Sebenarnya, mazhab fikih juga sering begitu. Tidak berlaku di semua tempat. Hanya untuk kelompok tertentu, dipaksakan pada daerah tertentu.

Cuma terkadang ahli fikih sangat kaku dengan dalil-dalil tertentu. Para sufi justru mampu melunakkan itu. Musik misalnya, ada ulama yang keras mengharamkannya. Alasannya macam-macam. Terkadang juga dipengaruhi psikologi sang ulama, yang memang tidak punya ruh musik dalam dirinya. Sebagian besar sufi, justru memanfaatkan musik untuk membangun “rasa” dalam beragama. Menjadi media dalam berdakwah. Apa yang haram di luar sana, kalau dibawa kehadapan sufi, bisa halal semua itu. Sejauh Allah-nya bisa dihadirkan pada semua dimensi.

Karena, yang disebut “akhirat” dalam kosmologi sufi adalah “kehidupan duniawi yang bertuhan”. Sufi itu mengejar dunia, yang bertuhan. Kalau ada sufi yang lari dari dunia, itu jangan-jangan jenis sufi yang tidak menemukan Tuhan di dalamnya. Curiga kita, sufi tersebut belum makrifat. Belum sampai ke Tuhan.

Lihat Nabi Muhammad SAW, apa yang tidak dikejarnya. Apa yang tidak dimilikinya. Uang melimpah, saat jadi pengusaha. Terakhir, jadi Presiden Arab beliau. Istri pun ada 12. Allah pun selalu bersama, tidak pernah berpisah dengannya. Beliau juga senang saat kedatangannya di Yatsrib (Madinah) pada 622 M disambut kaum Anshar dengan dendangan syair lagu “thola’al badru ‘alayna”. Sempurna sekali dunia dan akhirat Nabi kita. Bisa kita tiru itu?

Makanya, kalau ada orang yang hidupnya sangat suntuk, kaku, keras, ekstrim, dan radikal; curiga kita, mereka belum merasakan dunia sufi sesungguhnya. Coba perhatikan, yang paling getol “mengharamkan” sufi adalah rombongan ISIS dengan berbagai varian takfirisnya. Agamanya sangat kuat. Tapi hatinya “benak”. Hidup mereka seperti kurang hiburan. Bertauhid tanpa musik. Bertuhan tanpa menari. Mengaji tanpa bernyanyi. Perempuan mereka suka. Tapi diperbudaknya.

Karena itulah agama para sufi sangat rileks dan toleran. Sangat ritmis. Sangat elegan. Sangat estetis. Seni budaya, itu rata-rata lahir dari kecerdasan iluminatif para syekh. Di Aceh ada “Saman”. Itu dari tradisi Samaniyah. Ada Rapa-i. Itu dari Rafaiyah. Tanpa sufi, mungkin kita hanya tau sholat dan puasa saja. Tidak mengenal tari dan irama. Tanpa sufi, mungkin Islam akan menjadi agama paling suntuk di dunia.

Sufi adalah kelompok yang menganggap dunia ini hanya permainan dan senda gurau (hedon). Karena itu harus dibuat lucu. Harus dinikmati. Harus diberi nilai seni. Dengan syarat, Allah hadir untuk meliputi. Dengan demikian, dunia ini, bagi para sufi, adalah petualangan bersama Tuhan, sebelum kembali ke kampung yang asli.

Jadi, sufi itu hedon memang. Tapi bertujuan. Mereka melukis untuk merangkum Tuhan. Bermusik untuk merasakan Tuhan. Menari untuk mentawafi Tuhan. Bernyanyi untuk memuji Tuhan. Sholat untuk menemani Tuhan. Bangun malam untuk mencumbui Tuhan. Bahkan ada yang ngopi pagi dan petang, untuk menunggu wahyu dari Tuhan.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

#powered by SUFIMUDA

___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Exit mobile version