“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 92 | Oktober 2022

“KHITTAH”: GARIS RUHANIAH DAN SILSILAH KEMENANGAN
Oleh Said Muniruddin | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Dalam bahasa Inggris, “semangat” disebut “spirit”. Kata spirit ini juga diartikan sebagai “jiwa” atau “ruh”. Orang yang hidupnya bersemangat dan bahagia, itu ruh/spiritnya bagus. Orang seperti ini biasanya menang terus. Ruhnya menjadi magnet yang menarik berbagai keberhasilan.

Sebaliknya, kalau hidup mulai diliputi rasa was-was dan putus asa, itu pertanda mulai ada masalah dengan ruh/jiwa. Pun ketika perilaku mulai negatif, suka curiga, sinis dan mencerca misalnya; itu juga pertanda jiwanya sedang bermasalah. Orang macam ini sering gagal dalam hidup. Ruhnya sakit.

Karena itulah, agama dan umat manusia diserahkan kepada orang-orang sekelas nabi. Sebab, “semangat” mereka tinggi sekali. Tidak mungkin tugas-tugas kekhalifahan dan pembinaan umat diserahkan kepada manusia-manusia yang hidupnya pesimis dan penuh keraguan. Apalagi kepada orang-orang malas.

Para nabi, ideolog atau mujahid-mujahid agung; itu tingkat “kecerahannya” tinggi sekali. “Wajahnya bercahaya” (enlightened). Sudah ada getaran Tuhan bersama mereka. Jiwa mereka sudah terisi sebuah visi besar kemana dunia atau komunitasnya harus dibawa. Karena vibrasi ruhnya tinggi, hidup mereka selalu dalam keadaan “terjaga” (makhluk sadar). Sisi ruhnya sudah lebih aktif daripada sisi materialnya.
Orang-orang seperti ini biasanya sudah kurang jam tidurnya. Bahkan susah kalau tidur terlalu lama. Tapi sehat-sehat saja. Berbeda dengan kita yang ruhnya masih bermasalah. Masih suka tidur. Bahkan malas bangun, khususnya untuk zikir malam atau subuh.

Karena itulah; jiwa para nabi, wali, imam, mursyid atau guru-guru spiritual sangat aktif dan tidak pernah tidur. Ruh mereka bahkan sudah mengalami “sublimasi”. Hidup dan hadir dimana-mana. Ruh mereka telah menjadi saksi atas apa yang terjadi. Kapanpun dipanggil, pasti datang. Karena itulah salam kepada Nabi siang malam kita ucapkan. Kalau tidak didengar dan dibalas, ngapain buang-buang waktu bersholawat kepada orang yang sudah mati. Kenyataannya, Allah dan malaikat selalu bersholawat kepada Nabi (QS. Al-Ahzab: 56). Artinya, hanya orang-orang beriman yang sudah sampai ke Allah dan para malaikat, yang mampus secara efektif berkomunikasi dengan Nabi.

Orang-orang tercerahkan adalah orang-orang yang jiwanya telah dihampiri “malaikat”. Telah mendapat “celupan” Ilahi. Karena itulah, metode standar yang digunakan untuk mencapai tingkat optimum kecerahan jiwa adalah “suluk” atau “khalwat”. Ibrahim as, Musa as, Isa as, Muhammad saw dan lainnya; semua melakukan itu. Sampai mereka bersentuhan dengan “malaikat”. Sampai ruhnya tersucikan. Sampai tembus ke alam Rabbani.

Memang, mereka itu juga intelektual. Orang-orang yang cerdas sejak awal. Para pekerja semua itu, pebisnis, politisi dan sebagainya. Semangat juangnya kuat sekali. Sejak awal memang sudah tampil sebagai pembela masyarakat. Tapi ada titik dimana jiwa mereka buntu, sampai kemudian menemukan Tuhan. Musa yang cerdas dan bersemangat misalnya, pada akhirnya juga harus menemui Khidir untuk mengup-grade ruhaninya. Kalau tidak, mentok ruhaninya.

Karena itu, mereka mengasingkan diri ke gunung, gua, atau ruang spiritual tertentu. Agar menemukan jiwa, visi dan semangat baru. Tanpa meng-up grade diri sampai ke tingkat tertinggi; mustahil menjadi “Khalifah Allah”. Tapi, ketika ruhnya berhasil diperbaharui, mereka bahkan punya berbagai kekuatan yang mampu bertindak sebagai wakil Tuhan, bahkan untuk memberi syafaat dan keampunan. Apa yang kita sebut sebagai “rahmatal lil-‘alamin” itu sesungguhnya adalah jenis orang-orang yang memiliki qudrah iradah untuk mentransfer energi Ilahiah. Bahkan mampu menjamin orang untuk masuk surga. Keyakinannya sudah pada level “Haqq”. Sebab, kalau kita sendiri tidak jelas apakah akan masuk surga atau tidak, kenapa rajin kali dakwah dan maksain orang ikut kita.

Itulah pentingnya meng-upgrade spirit, sampai terhubung/berjumpa dengan ruhani-ruhani yang lebih tinggi. Ruhani suci. Ruhani para nabi. Ruhani malaikat. Sebenarnya, disinilah letak praktik berguru dan bertawasul. Tujuannya untuk menyambungkan silsilah ruhani (spirit) kita dengan ruhani (spirit) yang lebih tinggi, sehingga sampai kepada Allah (Ruhullah). Fungsi ziarah ke makam nabi dan para wali sebenarnya juga itu. Untuk membangun kontak dengan ruh yang sebenarnya tidak pernah mati itu.

Nabi Muhammad saw misalnya, bagaimana pada malam israk mikraj menunjukkan hubungan dan kontak langsungnya dengan (ruh) para nabi yang tidak pernah mati itu. Ia bahkan menjadi imam sholat mereka semua. Ini indikasi bahwa Beliaulah yang memegang otoritas spiritual terkini. Sekaligus menunjukkan pertalian sanad ruhaniah Beliau dengan mereka semua. Hubungan ruhaniah itu sifanya langsung dan nyata!

Ketika Islam disebut sebagai agama “spiritual”, maka koneksi spiritual menjadi sangat penting. Ketika jiwa kita tidak terhubung dengan para “arwahul muqaddasah”, dengan “ruh-ruh suci”, atau dengan “jiwa malaikat” itu; power kita akan melemah. Kita akan menjadi buih di lautan. Sebab, hanya sisi “malaikat” yang terus menerus bertasbih, bekerja dan menang. Hanya malaikat yang tauhid dan semangat jihadnya tinggi sekali. Tanpa software ini, kita akan ambruk dan melanglang dalam peta politik yang tidak jelas. Tidak jelas arah. Gerakan-gerakan kita mungkin hanya sebatas evoria saja. Akhirnya menjadi pragmatis, oportunis dan avonturir.

Nabi menang pada 27 kali perang selama hidupnya. Itu bukan karena sekedar jago strategi. Tapi karena mampu menurunkan para “malaikat”. Bayangkan, 22 tahun bertempur dalam aneka medan perang, menghadapi musuh bersenjata lengkap dan seringkali dalam jumlah tak terbayangkan, itu tidak mungkin terus-menerus menang. Kecuali, ada ruh tak terkalahkan dalam diri pasukannya. Ada spirit agung dalam jiwa para petempurnya. Ada “malaikat” bersamanya:

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ

(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan(-nya) bagimu (seraya berfirman), “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfāl [8]:9)

Kita juga begitu, tidak mungkin menang dalam berbagai usaha (dalam arti paling sakral) kecuali telah menjalani “penyucian jiwa”. Telah aktif dimensi suci dari ruh kita, telah hilang ‘patung-patung’ dalam diri sehingga bersedia hadir malaikatnya. Sebab, medan juang yang kita tempuh adalah melawan musuh paling nyata, yaitu iblis/setan (khususnya yang ada dalam diri kita). Tanpa spirit malaikat, mustahil menang. Tanpa jiwa yang tercerahkan, mungkin kita akan hidup dengan semangat musiman. Ugal-ugalan. Dengan pikiran kotor tak karuan. Penuh nafsu dan evoria.

Dengan nafsu dan kekotoran jiwa, mungkin pertempuran bisa kita menangkan. Tapi perang tidak. Tanpa membawa getaran Ilahi, kita tidak akan diikuti. Tanpa berwasilah kepada ruh para nabi, aura kita tidak akan melampaui zaman. Ruh kita tidak akan abadi. Tidak akan menjadi teladan suci.

Lihat Isa putra Maryam. Hidupnya singkat, hanya 33 tahun. Ia dikejar untuk disalib, dan terpaksa “diangkat ke langit”. Sekilas terlihat ‘kalah’ dalam pertempuran. Tapi spirit ajarannya telah menjelma menjadi salah satu agama besar dunia. Muhammad saw juga begitu, dalam beberapa waktu ke depan, agama yang ia perkenalkan secara formal diperkirakan menjadi yang terbesar di dunia. Tapi secara hakikat, ruhnya masih lemah. Masih kalah dimana-mana.

Untuk menang, kita memang harus kembali ke “silsilah”, kembali ke “garis” atau “khittah” perjuangan, ke mental menang. Khittah berasal dari kata “khath” (garis). Perjuangan harus bersilsilah, harus bertalian garis ruhani ke kepada Allah dan Rasulullah. Kalau tidak, tercerai berai kita. Sebab, yang kita hadapi adalah iblis-iblis besar dengan bala tentaranya. Dan tentunya, sebagaimana janji-Nya, tidak ada istilah kalah untuk mereka yang mengikuti para kekasih Allah:

كَتَبَ اللّٰهُ لَاَغْلِبَنَّ اَنَا۠ وَرُسُلِيْۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ

Allah telah menetapkan, “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa (QS. Al-Mujādalah [58]: 21)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin