Advertisements

“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 100 | Desember 2022

ZIARAH KE KOTA SUCI, SAUDI YANG MENANG MELAWAN ARGENTINA DAN BANJIR BESAR DI JEDDAH
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

***

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tulisan ini secara eksklusif mengulas pengalaman dan pelajaran yang kami dapatkan selama 12 hari umrah di dua Kota Suci. Cerita kami bagi dalam 7 bagian:

Bagian 1: “Perjalanan Mencari Berlian”
Bagian 2: “Islam, Wahyu untuk Orang Ganteng”
Bagian 3: “Umrah, Petualangan Penuh Ujian”
Bagian 4: “Di Madinah Al-Munawwarah, Empat Hari Bersama Nabi”
Bagian 5: “Ada Ibrahim, Hajar dan Ismail dalam Putaran Tawaf dan Sa’i Kami”
Bagian 6: “Makkah dan Madinah, di Fase Mana Anda Berada?”
Bagian 7: “Mencari Tuhan di Baitul Kakbah, Ketemunya di Rumah”

***

BAGIAN 1:
“Perjalanan Mencari Berlian”

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Bro, ada slot satu lagi nih. Mau ikut?”, tanya Said Husain adik kami. “Ayo!”, jawab kami. Itu cerita kenapa berangkat umrah. Diajak. Selain itu, juga ikut Naylus dan Muhammad (istri Said Husain dan anaknya yang belum genap berusia dua tahun). Juga ada Akram, abang kami.

Mengetahui kami akan umrah, istri saya mulai tidak ngomong lagi. Mirip-mirip sedih. Rupanya ada sesuatu yang terpendam di hati. Tapi tidak pernah diungkap. Hal itu diketahui oleh Guru.

Suatu ketika saat berziarah, Beliau membaca isi hatinya. Lalu berkata: “Dalam sekali permintaan si Kiki istri Said Munir ini. Belilah sebutir berlian untuk dia, biar senang. Harganya berapalah, paling 40 jutaan”. Setelah bicara itu, sang Guru Sufi melanjutkan cerita-cerita tentang umrah. Padahal Beliau tidak pernah diberitau bahwa kami akan pergi berumrah.

Ternyata memang itu ‘berlian’ yang Beliau maksud. Istri terus berdoa dan bernazar, agar bisa ikut. Akhirnya, terkabulkan. Saya harus mengeluarkan uang tepat 40 juta untuk membawa istri ikut. Bagi pegawai biasa seperti kami, itu pengeluaran istimewa. Tapi wajar. Sudah 8 tahun berkeluarga, mengurus 4 anak, tapi belum pernah ia pergi jalan-jalan ke luar negeri, sebagaimana cita-citanya. Saya kira sudah tepat jika ikut serta. Ia senang sekali, sampai menangis sejadi-jadinya. Ke “Tanah Suci” pula.

Hanya kurang dari seminggu, serba mendadak, semua selesai ia urus. Visa dan sebagainya. Kelihatannya memang dia yang sedang ditunggu Rasulullah. Saya sendiri mirip-mirip ditugaskan jadi tukang antar saja. Banyak fenomena dan kemudahan yang ia alami di sana. Misalnya, selama 4 hari di Madinah, tiap pagi ia berhasil masuk ke Raudhah, ke pusat tersuci dari Masjid Nabawi. Padahal untuk masuk kesitu, sekarang harus ada “tasreh” (izin masuk) dari otoritas setempat yang harus diurus jauh hari. Biasanya diurus oleh travel umrah untuk masuk secara rombongan. Dan itu cuma dapat jatah satu kali untuk setiap jamaah. Tapi, ia masuk berkali-kali, tiap pagi, tanpa mengantongi izin apapun. Banyak orang justru di suruh keluar saat sudah di pintu masuk, karena tidak bisa menunjukkan barcode izin. Mungkin itulah ‘berlian’ untuknya.

Begitu juga ketika di Mekkah. Dia menjadi jamaah pertama dalam rombongan kami yang tembus ke Hajar Aswad, dengan berbagai kemudahan. Itupun bukan sekali. Empat kali! Padahal, kami yang laki juga pernah mencoba. Sekali saja susahnya minta ampun. Bahkan umumnya gagal. Karena padat sekali. Badan para jamaah disana besar-besar, juga kasar-kasar. Saling dorong dan himpit. Susah sekali untuk mendekati Batu Hitam itu. Salah-salah, jadi ikan pepes kita. Sesak napas. Terlempar kesana-kemari. Paska pandemi, jamaah umrah terus membludak. Karena sudah 3 tahun tidak pernah ada umrah dan haji.

Vibrasi spiritualnya sangat hidup ketika akan berziarah ke tempat-tempat sakral. Seperti selalu ada “langkah” untuk berjumpa dengan ruhani-ruhani yang ada ditempat itu. Doanya juga makbul sekali disana. Saya khawatir sekali kalau dia sudah mengangkat tangan untuk berdoa. Apalagi kalau berdoa untuk dimudahkan rejeki. Kantong saya pasti ‘robek’ lagi setelah itu.

***

BAGIAN 2:
“Islam Diwahyukan kepada Orang Ganteng”

Peta Saudi Arabia

Menurut saya, wahyu harus diturunkan kepada orang ganteng. Kalau wahyu turun ke orang kurang ganteng, itu fatal. Islam ini ibarat sinteron. Kalau pemainnya kurang pas, “salesman”-nya tidak menarik, tidak bakal naik rating filmnya. Tidak laku dakwahnya. Maka sudah tepat kalau ras Arab yang jadi nabi. Juru dakwahnya ganteng. “Wajahnya bercahaya”. Karena itulah cepat populer agama ini.

Bayangkan, kalau Islam turun ke suku mante di Aceh, yang postur tubuhnya pendek, hitam dan pesek. Mungkin sampai kiamat hanya ada beberapa orang yang masuk Islam. Untunglah, yang menerima wahyu itu Muhammad. Orang paling ganteng di Arab. Cepat yakin kita. Walaupun musuh yang menolaknya juga ganteng-ganteng. Ya, paling tidak, Islam itu perang sesama orang ganteng. Perangnya berkelas. Kalau perang sesama orang jelek, ah malas kita.

Itu kesan pertama ketika Lion Airbus JT0084 yang kami tumpangi dari Kualanamu Medan mendarat di Airport Madinah pada magrib Sabtu 19/11/2022, setelah 8 jam melayang di udara. Semua petugas imigrasinya saya perhatikan. Rata-rata cewek, dan semuanya cantik. Cantik-cantik sekali. Dengan kulit putih dan abaya hitamnya, semua terlihat seperti bidadari. Pun esok hari, dari pagi sampai malam saya perhatikan satu persatu, semua orang Arab yang lewat ganteng-ganteng dan cantik.

Lama-lama ragu saya. Ini surga atau dunia. Kalaupun ada orang yang lewat yang terlihat kurang cantik atau kurang ganteng, itu pasti bukan Arab. Maaf, itu pasti orang melayu. Orang Indonesia. Bukannya orang kita tidak ganteng dan cantik. ganteng dan cantik juga. Tapi hilang total ganteng dan cantiknya kalau sudah sampai ke Arab. Bahkan hari kedua di Madinah saya sempat memprotes Tuhan. “Ya Allah kenapa Kau beri hidung berlebih kepada orang Arab, lalu Engkau sisakan sedikit bagi kami di Indonesia”. Saya belum tau apa hikmah orang Indonesia tercipta kurang cantik dan kurang ganteng, dibandingkan Arab. Tapi untunglah ada ayat di penghujung al-Hujurat 13 yang menghibur kita, bahwa intinya bukan di rupa. Tapi pada taqwa.

Disini saya mulai paham, kenapa sosok seperti Ibnu Arabi pun dulu pernah terpana dalam perjalanan spiritualnya ke kota Makkah. Ia mengatakan, “Saat Tawaf, kulihat Tuhan dalam wajah perempuan”. Sudah pasti, yang dilihatnya itu cantik sekali. Sehingga lahir syair-syair indah tentang perempuan dalam “Tarjuman Asywaq”. Lebih dari sebuah pandangan sensual, Syaikh Akbar menemukan getaran-getaran malakut pada wajah indah yang dijumpainya itu. Konon, ia berguru Sufisme pada sejumlah perempuan cantik saat di Mekkah. Seperti Fakhr Nisa, Qurrah ‘Ain dan Nizam. Gadis terakhir ini ia sebut sebagai “jelita Romawi”, karena kemudaan dan kecantikannya mencuri pandangan semua orang. Gadis mulia bergelar Syaikhah Al-Haramain ini kemudian menjadi kekasih yang membuatnya selalu merasakan kehadiran Allah ketika berjumpa. Untuk ia Ibnu Arabi menulis:

“jika dia bicara semua yang ada jadi bisu, dia adalah matahari di antara ulama, taman indah di antara para sastrawan, wajahnya begitu jelita, tutur bahasanya sungguh lembut, otaknya memperlihatkan kecerdasan yang sangat cemerlang, ungkapan-ungkapannya bagai untaian kalung yang gemerlap penuh keindahan dan penampilannya benar-benar anggun dan bersahaja”.

Saya kira wajar cewek Arab bercadar semua. Bukan saja sebagai pelindung dari debu padang pasir dan bukit berbatu. Atau penutup wajah dari panas dan dinginnya cuaca. Karena hidung mereka juga menjadi pusat perhatian seluruh dunia. Sudah ditutup dengan kain pun, mancungnya masih nongol. Rasanya kurang tepat kalau kita orang Indonesia meniru orang Arab dalam pemakaian cadar. Karena tidak ada yang menarik dari hidung kita, datar begitu. Dibuka pun mungkin tidak ada yang lirik. Astaghfirullah!

Kita cukupkan pembahasan Arab itu cantik dan non Arab kurang cantik. Terlalu rasis. Sebenarnya, saya pun orang Arab. Tapi sudah 10 generasi di Aceh. Sayangnya, 90 persen ganteng kami sudah hilang. Mungkin karena terlalu lama makan asam sunti. Anda tau, asam sunti itu belimbing yang sudah susut akibat di jemur. Begitulah nasib orang Arab yang lama di luar Arab. Gantengnya susut. Istri saya juga turunan Arab. Tapi kebetulan masih sangat cantik dia. Mungkin karena masih rajin mengkonsumsi kurma.

Tapi setidaknya, melalui pengalaman ini, saya punya hipotesa baru. Bahwa, Islam itu turun di Arab bukan semata karena orangnya jahiliah. Kalau masalah jahiliah, kita Indonesia sebenarnya lebih jahiliah dari Arab. Negara Arab, walaupun pemimpinnya autokratik, rakyatnya kaya raya dengan minyak. Kita di Indonesia yang sumberdaya alamnya melimpah ruah, tanahnya hijau dan iklimnya sempurna, warganya justru masih miskin dengan sistem demokrasinya. Jahiliah betul kita!

Jadi, Islam itu turun di Arab bukan karena jahiliah. Kalau alasannya jahiliah, maka Islam itu harusnya turun di Indonesia. Islam itu turun di Arab karena orang Arab itu ganteng-ganteng. Sehingga pantas menjadi penyampai wahyu. Pantas menjadi artis pilihan Tuhan. Tampilannya asik. Apalagi kalau sampai berdakwah keluar Arab. Pasti disukai. Buktinya, artis-artis di Indonesia yang berwajah indo-arab sangat diminati.

Kalau orang ganteng yang berdakwah, itu beda. Jangankan mendakwahkan Islam, mendakwahkan yang aneh-aneh pun, pasti diikuti. Karena yang ngomongnya menarik. Lihat saja artis di TV. Yang diajari ke kita, rata-rata keburukan semua. Tok karena cantik dan ganteng, makanya kita ikuti. Mulai dari cara berpakaian, pemilihan produk dan sebagainya. Coba kalau mereka yang cantik dan ganteng-ganteng itu mengajari umat ini yang baik-baik, sudah lama maju Indonesia kita.

***

BAGIAN 3:
“Umrah, Petualangan Penuh Ujian”

Orang cenderung meyakini, untuk berangkat haji/umrah itu modalnya uang. Iya, kalau ada uang dan sehat badan, berangkatnya mudah. Yang berangkat ke haji/umrah, itu kan orang-orang yang sehat dan mampu secara ekonomi. Tapi banyak juga orang sehat dan berduit yang tidak pernah sampai ke makam Nabi. Ada saja kesibukannya. Termasuk saya. Saya sudah berkeliling lebih dari 15 negara di Eropa dan Asia. Tapi baru sekarang sampai ke Baitullah. Lalai memang!

Sementara, banyak orang miskin yang punya niat kuat untuk sampai ke Tanah Suci. Sekalipun dengan mengumpulkan uang receh. Makanya, ziarah disebut sebagai “panggilan”. Hanya orang-orang yang sangat rindu, atau dirindui oleh Nabi, yang sampai.

Karena ini perjalanan penting, maka akan diuji. Baik sebelum berangkat ataupun setiba di Tanah Suci. Ada saja masalah yang dihadapi. Saat kami berangkat, ada 30an jamaah dari travel lain yang sebenarnya satu pesawat dengan kami tapi gagal berangkat. Bus mereka semalaman terjebak longsor dan banjir di Aceh Tamiang. Akhirnya tidak bisa tiba di bandara pada waktu yang ditentukan. Gagal take off. Sedih sekali.

Wisata umrah tidak selalu seindah yang dibayangkan. Banyak hal tidak terduga terjadi sepanjang jalan. Kita sering mendengar ada jamaah yang gagal berangkat. Bahkan terlunta-lunta di bandara, karena ditipu oleh travel. Macam-macam kejadian. Yang sudah tiba di Arab pun juga sering menuai masalah lain. Seperti buruknya pelayanan hotel, terbatasnya makanan di restoran, kualitas bus dan lainnya. Ada saja hal yang muncul selama umrah sehingga memicu emosi. Disatu sisi kita butuh kenyamanan dalam fasilitas ibadah. Disisi lain jamaah harus bersabar atas berbagai ketidak sempurnaan pelayanan. Apa yang sudah diatur sejak awal, bisa tidak berjalan sesuai agenda. Pelayanan di Arab pun boleh dikatakan, tidaklah sebagus kalau anda berwisata ke negara-negara maju lainnya. Orang Arab itu sendiri punya karakter “kasar”. Gaya bicaranya keras. Mirip dibentak-bentak kita.

Tujuan ke Tanah Suci adalah ziarah. Utamanya ke makam Nabi di Madinah, dan Baitullah di Mekkah. Keduanya punya nilai sejarah penting dalam Islam. Kedua tanah ini disebut “Haram” (suci). Karena keduanya paling sering disentuh oleh “Ruh Suci”. Khusus Kakbah misalnya, itu pusat spiritualitas yang dibangun para nabi. Makkah dan Madinah adalah tanah yang zikir-zikir Muhammad masih melekat disetiap sudut tempatnya. Tanah dimana bersemayam begitu banyak jasad suci dari Keluarga Nabi, para auliya dari keturunan dan sahabatnya.

Karenanya, perjalanan ziarah ke puncak mata rantai dari sanad spiritual keislaman kita ini akan diberi “sedikit” tantangan. Perjalanannya mudah, sekaligus tidak mudah. Tergantung siapa yang berangkat. Kalau yang berangkat itu “jin” dalam badan kita, setiba disana pasti akan “apoh-apah” (terasa sulit). Kalau yang berangkat itu kemurnian hati kita, biasanya akan mudah. Disinilah pentingnya tradisi spiritual berupa “tazkiyatun nafs”, sebelum menempuh safar. Yang diharapkan terjadi adalah pertemuan ruhani dengan ruhani, dalam perjalanan fisik yang luar biasa.

Kami pun begitu, sejak awal mau berangkat mengalami banyak tantangan. Termasuk harus sering mengelola “emosi”. Perjalanan ke Tanah Suci, itu mirip pengalaman pergi suluk (iktikaf/khalwat). Yang lamanya juga mencapai 10 hari. Ada saja cobaan. Hal-hal kecil bisa membuat rusuh. Salah-salah, tidak jadi berangkat. Yang diuji adalah kesabaran. Maha Benar Allah dengan firman-Nya, “Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu” (QS. Al-Baqarah: 45).

Kita harus pandai-pandai menata hati saat melakukan safar ke tempat-tempat sakral. Yang niatnya lurus dan kuat, biasanya diberi kemudahan. Sementara yang masih membawa jiwa penuh rasa was-was, pemarah dan angkuh; umumnya akan menghadapi banyak masalah. Bisa stres ketika tiba di tujuan, bawaannya ngomel terus, bingung, tersesat, bosan, kecolongan, dan sebagainya. Sepulang umrah pun biasanya lebih banyak bercerita susah, daripada pengalaman spiritual. Karena, apa yang kita bawa, itu yang akan kita terima. Datang dengan hati lapang, perjalanan akan lapang. Hadir dengan hati yang sempit, sepanjang jalan penuh kesempitan. Semua terlihat salah.

Banyak dari kita yang ketika berangkat, itu niatnya masih “suci”. Ingin ibadah. Ingin taubat, ingin ini, ingin itu. Mulia semua. Begitu dua hari di Tanah Haram, kembali lagi ke tabiat asli. Yang suka gosip, gosip terus. Yang suka belanja, belanja terus. Yang suka tidur, tidur terus. Yang suka ke restauran, ke restauran terus. Yang suka ngerokok, ngerokok terus. Yang suka main WA, main WA terus. Ibadah dan ziarahnya kurang sekali. Baru sadar tiba-tiba sudah 10 hari. Sudah mau pulang. Hati tidak terisi. Uang habis puluhan juta, jiwa tidak bahagia. Tidak ada “koneksi” dan “memori” yang terbangun dengan wilayah-wilayah suci.

Seharusnya, safar itu menjadi “perjalanan jiwa”. Lelah memang. Karena melibatkan badan. Berbagai ritual umrah (tawaf dan sai), mobilitas ibadah lima waktu, lokasi masjid yang luas, jarak hotel yang terkadang jauh, tentengan barang yang berat, naik turun tangga, cuaca yang terkadang buruk, makanan yang tidak sesuai lidah; itu semua bisa membuat jamaah lelah dan sakit. Konon lagi yang usianya sudah lanjut. Salah-salah bisa mati. Memang banyak yang meninggal dalam berhaji atau umrah. Namun, siapapun yang sepanjang waktu bisa berterusan terfokus (“daim”) dalam membangun ingatan (“rabithah”) dengan Allah dan Rasulullah, itulah yang akan mabrur dalam haji dan umrahnya.

Safar itu perjalanan untuk menemui Rasul, ditempat-tempat yang pernah dibangunnya. Bahkan langsung di makamnya. Rasul itu makhluk suci. Kalau kita hadir dengan jiwa yang kasar, itu langsung tertolak. Kami teringat pesan Guru, “Pergilah kalian berhaji atau umrah setelah 3 kali suluk”. Ternyata ada banyak sekali hikmahnya. Para salik yang dibimbing seorang walimursyid, biasanya akan memahami “ilmu kehadiran” (hudhuri). Ilmu ini menjadi bekal dalam perjalanan spiritual. Ada “kontak vertikal” yang bisa dibangun saat berziarah ke tempat-tempat sakral. Sehingga, kita tidak menjadi zombie di Tanah Suci. Bergerak kesana sini, tapi yang kita peroleh hanya lelahnya saja. Harus ada “langkah” untuk diterima. Ruhani kita harus benar-benar hidup untuk merasakan kehadiran Ilahi.

Saya bukan orang yang hebat-hebat sekali dalam urusan ruhani. Malah masih lemah sekali. Tapi kita sama-sama tau, kalau ruhani terlalu bebal, otomatis akan tertolak di titik-titik suci. Saya merasakan itu saat di Masjid Nabawi. Butuh waktu untuk bisa “dekat” dengan-Nya. Awalnya seperti ditolak. Setiap ziarah tidak pernah bisa mendekat ke makam Nabi. Terkadang dilarang oleh “askar” (penjaga makam). Di lain waktu disuruh jalan di barisan yang jauh dari dinding makam. Sampai kemudian menangis dan sadar. Ternyata saya terlalu membawa “diri”. Barulah setelah memohon ampun, ziarah selanjutnya menjadi lenggang. Jalan menjadi mudah. Bahkan bisa merapat dengan mudah ke dinding makam suci untuk ‘menyalami’ Nabi, setiap pagi. Serta banyak pengalaman unik lainnya baik ketika di Madinah maupun Mekkah.

Setiap salah langkah, kurang adab, ataupun melanggar aturan; biasanya ada teguran yang datang. Dalam wujud “isyarat” tertentu. Bahkan dalam bentuk sakit seperti demam. Setelah bertaubat, itu bisa seketika hilang. Jadi, kalau tiba-tiba anda mengalami sakit di Tanah Suci, itu bukan semata-mata faktor cuaca dan fisik saja. Boleh jadi itu bentuk dosa dan pelanggaran terhadap adab. Ada niat dan perilaku kita yang Dia tidak berkenan. Sehingga langsung kena tegur. Bahkan pemikiran, omongan dan canda kita bisa dibalas seketika.

Ada jamaah yang satu rombongan dengan kami, sudah senior usianya, bercanda kepada istrinya. “Lon sang paih tinggai di sinoe, awak droe mantong yang woe”, katanya. Ia merasa lebih cocok tinggal di Arab. Tidak mau pulang. Begitu candanya. Terjadi. Hari terakhir di Mekkah, beliau demam. Lalu dibawa ke rumah sakit. Saat diperiksa ternyata kena Covid. Sampai kami tiba di tanah air, beliau satu-satunya yang masih tinggal untuk dirawat di Mekkah. Sedangkan istri dan rombongannya sudah pulang semua.

Saya juga pernah kualat. Suatu ketika disaat Tawaf, kebetulan agak rapat ke dinding Kakbah. Disitu saya melihat seorang laki-laki kurus India yang kehabisan nafas. Dia terlihat sedang berjuang ingin menyentuh Batu mulia itu. Tapi terjepit oleh ratusan jamaah, hingga terhempas ke dinding Kakbah. Terdengar ia berteriak minta tolong: “Help me! Help me!”. Wajahnya seperti sedang sekarat. Mirip-mirip mau mati. Saya yang melihat itu hanya tersenyum, tanpa rasa kasihan. Pun tidak bisa membantu. Jadi hiburan juga melihat orang-orang terjepit. Lucu. Karena, kalau tidak mau terjepit, ngapain kesitu. Nyusahin diri saja.

Ternyata, dua malam kemudian, sayalah yang mengalami hal serupa saat mencoba merayap ke dinding Kakbah dan Hajar Aswad. Saya betul-betul terjepit. Mengalami sesak napas dan kelelahan yang luar biasa. Mau keluar tidak bisa karena terus terdorong oleh lautan manusia berbadan hitam dan besar-besar. Mau mati rasanya. Dan itu terjadi tepat di titik yang sama yang dialami si India dua malam sebelumnya, yang saya pernah menertawakannya. Disitu saya sadar, inilah balasan untuk hal yang pernah saya tertawakan. Astaghfirullah!

Malam besoknya, kami menjadi anak baik. Disenggol berkali-kali saat tawaf, kami sabar dan hanya tersenyum saja. Tidak ada rasa marah sedikitpun. Ketika ada orang menerobos di depan, kami beri mereka kesempatan lewat dengan senang hati. Alhasil, pada malam itu juga, kami seperti diberi banyak sekali keluangan. Saat ingin ke Multazam, tiba-tiba jalan terbuka begitu saja. Pun ketika ingin solat di Hijir Ismail, rombongan lain di stop semua. Justru kami yang diarahkan masuk kesana. Padahal baru antri. Sementara yang lain sudah berjam-jam menunggu giliran. Hanya dalam waktu singkat, kami bisa berdoa lama di Multazam dan kemudian langsung bisa bergerak untuk solat sampai enam rakaat di Hijir Ismail. Padahal jamaah sedang membludak. Cuma waktu itu saya sempat berdoa, “Ya Allah, izinkan Guruku berdoa di Multazam; dan solat wuduk, taubat dan hajat dua rakaat di Hijir Ismail”. Ternyata, kalau kita bawa Guru, Allah mudahkan. Kalau kita serobot sendiri, putus nafas kita. La haula wala quwwata illa Billah!

***

BAGIAN 4:
“Di Madinah Al-Munawwarah, 4 Hari Bersama Nabi”

Kami mengambil wisata spiritual yang berlangsung 12 hari, 19 November s.d 01 Desember 2022. Empat hari pertama dihabiskan di Madinah. Enam hari lagi di Makkah. Sisa dua hari dihabiskan untuk perjalanan pergi dan pulang.

Dua belas hari, itu waktu yang singkat. Juga sangat lama. Tergantung agenda. Umrah sendiri terdiri dari 4 rukun. Dimulai dengan miqat (start) di Bir Ali Madinah menuju Makkah. Lalu di Mekkah dilanjutkan dengan Tawaf, Sa’i dan diakhiri Tahalul (potong rambut). Jarak Madinah-Mekkah hanya 6 jam. Jadi, semua prosesi ihram bisa diselesaikan dalam 1 hari. Sementara sisa hari lainnya diberi kebebasan berziarah dan menambah amalan iktiqaf/ibadah di masjid, baik di Madinah ataupun di Makkah. Atau dapat juga mengambil ihram lanjutan sebagai badal/hadiah untuk orang tua dsb.

Selama di Madinah, pekerjaan utama jamaah adalah solat lima waktu di Masjid Nabawi. Selebihnya rutin berziarah ke makam Rasulullah yang berada di bagian kiblat masjid. Ziarah dapat dilakukan setiap hari. Masjid 9 menara dengan 232 tiang ini memiliki 41 pintu masuk (gate). Pintu 1 yang terletak disisi kanan depan masjid dibuka secara khusus setiap selesai solat fardhu. Melalui gate ini, jamaah dapat melintasi langsung bagian depan makam suci Nabi.

Yang sebenarnya paling diminati dari bagian Masjid Nabawi adalah Makam Nabi. Disitu orang-orang pecah dalam tangis. Saat solat sekalipun tidak terlihat ada yang menangis. Jamaah justru khusyuk dalam tangis saat melintasi Makam Nabi. Allah memang terlalu jauh untuk dijangkau nalar manusia. Sulit kita bayangkan bagaimana Wajah Tuhan, karena Dia entah dimana. Umat Islam hanya mampu menemukan “gelombang” ketuhanan di wujud dan makam Nabinya (dan juga para pewaris ruhaninya). Manusia hanya mampu menjangkau utusan-Nya. Karena itulah Allah bertajalli, terderivasi dalam wujud para kekasih-Nya. Sehingga mudah untuk dijumpai. Segala benda dan pusaka yang ditinggal utusan Tuhan, itu membawa “frekuensi wasilah”, memiliki gelombang ketuhanan yang tinggi. Getaran Ruh atau Asmanya melekat dimana-mana.

Makam Nabi terletak tepat di bawah kubah berwarna hijau. Itu bekas rumah Nabi. Beliau dimakamkan di rumahnya, yang terletak tepat di samping masjid, yang kini menjadi bagian dalam masjid. Rumah Nabi dan masjid bersambung. Sebenarnya, kita ke masjid selain untuk solat juga untuk menziarahi para guru Ruhani. Masjid itu punya Ruhani. Ruhaninya ada pada seorang imam/rasul yang mampu mensyafaati dan membimbing ruhani para jamaah. Masjid yang tak punya Ruhani disebut ‘kuburan’, benda atau bangunan mati, alias “berhala”. Kata Nabi, “Jangan solat di ‘kuburan’, ditempat manapun yang ruhanimu mati”.

“Ma baina baiti waminbari raudhatu min riyadhil jannah” (hadis). Antara rumah dan mimbar Nabi, disitu terletak “Raudhah (salah satu dari taman surga). Ini titik paling sakral di Masjid Nabawi. Paling diperebutkan untuk dimasuki. Katanya doa paling makbul disini. Untuk masuk kesitu, harus ada izin (tasreh) yang mesti diurus jauh hari melalui aplikasi Eatmarna dan Tawakkalna. Kami berkesempatan ke Raudhah pada Rabu pagi, 23/11/2022, pukul 00-01 waktu Madinah. Luar biasa vibrasi di area ini. Bagi saya, ini puncak ziarah selama di Madinah, sebelum siangnya berangkat memulai umrah ke Mekkah.

Sebenarnya kami khawatir, kalau selama di Madinah tidak diterima oleh Rasulullah. Alhamdulillah, ada sensasi luar biasa ketika berada di ruangan suci ini pada dini hari itu. Biasanya, jamaah masuk secara rombongan yang diatur oleh travel masing-masing. Lalu diberi kesempatan solat sunat beberapa rakaat serta berdoa dalam batasan waktu tertentu. Ketika waktu habis, petugas akan ‘mengusir’ jamaah satu persatu, agar jamaah lain yang sedang antri juga bisa masuk ke Raudhah. Tapi kami seperti tidak menjadi perhatian polisi. Sehingga masih berada di tiang-tiang Raudhah untuk solat dan berdoa sampai ruangan sudah benar-benar kosong.

Keluar dari makam Nabi, kita langsung berhadapan dengan pemakaman suci lainnya, Jannatul Baqi. Setiap Subuh setelah setelah menyalami Nabi, kami melanjutkan ziarah ke pekuburan seluas 175.000 M2 ini. Cuma laki-laki yang diizinkan masuk. Di Arab, perempuan tidak dibolehkan ke kuburan. Kasihan mereka. Padahal, disitu dimakamkan tidak kurang dari 10.000 orang-orang mulia yang pantas dikunjungi oleh setiap mukmin baik laki-laki maupun perempuan.

Di kompleks ini dimakamkan semua istri nabi (kecuali Khatijah dan Maimunah yang dimakamkan di Mekkah). Disitu pula disemayamkam anak-anak Nabi, termasuk wanita suci “pemimpin perempuan di surga” Sayyidah Fatimah Azzahra. Juga Ruqaiyyah, Zainab, Ummu Kalsum dan Ibrahim. Di Baqi pula terbaring jasad-jasad mulia cucu baginda Nabi seperti Imam Hasan, beserta anak turunan Imam Husain seperti Imam Ali Zainal Abidin, Imam Muhammad Albaqir, Imam Jakfar Shadiq dan lainnya. Bibi-bibi Nabi, sahabat-sahabat, para syuhada dan auliya di zamannya juga terbaring disini. Sayangnya, kita tidak tau lagi yang mana makam mereka semua. Karena sudah ‘dihancurkan’, tanpa jejak dan nama.

Madinah ini memang kota Madani (civilised). Seperti mengakomodir semua mazhab sebagai satu kesatuan dalam Islam. Walaupun Saudi memiliki prinsip-prinsip keagamaan dalam kerangka salafi, namun di dinding Masjid Nabawi terpampang nama 12 imam muslim Syiah (Ali, Hasan, Husain, Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Jakfar as-Sadiq, Musa Al-Kazim, Ali ar-Rida, Muhammad at-Taqi, Muhammad an-Naqi, Hasan Al-Askari, dan Muhammad Al-Mahdi).

Selama di Madinah (juga di Mekkah), jamaah yang punya tradisi khusus dalam ibadah akan berlama-lama di Masjid. Sambil mengerjakan solat-solat sunat, mereka akan melakukan iktikaf, zikir, membaca Quran, dan sebagainya; tanpa keluar-keluar dari satu waktu solat ke waktu solat lainnya. Sehingga benar-benar terasa selalu bersama Nabi.

Kami kalau solat sering datang lebih cepat dan memilih tempat yang dapat melihat makam Nabi. Khususnya dengan berada di depan tiang bertuliskan nama Abbas, Husain dan Ali, yang berhadapan langsung dengan makam Nabi. Maupun dengan masuk melalui gate 2 untuk berada di bagian kuno dari masjid, berdekatan dengan posisi imam dan Raudhah. Getarannya beda. Area ini paling diminati. Satu atau dua jam sebelum solat, wilayah ini sudah padat. Selama di Madinah, kami selalu terpanggil untuk bangun sebelum jam 3 pagi, untuk iktikaf di masjid. Ada sensasi berbeda ketika bisa selalu melakukan tawajuh tengah malam selama 4 hari di Madinah, dihadapan makam Nabi. Seolah-olah, Beliau sendiri yang memimpin zikir pada setiap malam yang dingin itu. Sampai Subuh.

Selain itu, di luar kota Madinah juga terdapat spot penting lain untuk dikunjungi. Seperti Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun Nabi di Madinah. Juga ada Masjid Qiblatain yang terkenal dengan kisah perubahan arah kiblatnya. Diriwayatkan, saat jamaah sedang solat, tiba-tiba ada berita dari Nabi bahwa arah kiblat telah berubah dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Seketika itu juga jamaah yang semula menghadap ke Palestina, merubah arah solat mereka ke Makkah. Ada beberapa masjid lain yang juga punya nilai sejarah tersendiri di kota ini.

Situs penting lainnya di Madinah adalah Jabal Uhud. Sayyidina Hamzah dan 70 syuhada lain syahid dalam perang di dekat gunung ini. Di kaki Uhud terdapat makam Beliau dan beberapa syuhada pendampingnya. Kondisinya sama, bahkan lebih parah dari Baqi. Makam dipagari tanpa bisa dimasuki peziarah. Juga tanpa nisan dan nama. Bahkan kuburannya rata dengan tanah dan sulit dikenali. Itulah sedikit problem dalam pengelolaan situs sejarah di negeri Bani Su’ud. Kita dibuat “putus kontak” dengan para syuhada, sahabat dan ahli bait Nabi. Makamnya dibuat kabur, sama sekali tidak teridentifikasi.

Empat hari di Madinah sudah cukup untuk anda rasakan kebersamaan dengan Nabi. Baik dalam ziarah dan berbagai ibadah pendukungnya. Selain juga sesekali diselingi dengan agenda kuliner dan ngopi-ngopi. Sebab, setelah selesai solat, zikir dan ziarah; capek kita. Perut minta jatah untuk diisi menu-menu istimewa. Kami sering nongkrong di tempat yang kami sebut “Jalur Bangla”. Karena, setiap masuk waktu solat, ribuan rombongan Bangladesh melintasi kawasan itu menuju Masjid Nabawi. Lokasinya sekitar 300 meter di depan jalan menuju Masjid Nabawi. Banyak resto terbuka disana dengan aneka ragam menu Arab. Sedikit ke luar kota juga ada resto-resto dengan olahan mandhi dan kebuli yang lezat sekali.

1 / 43

***

BAGIAN 5:
“Ada Ibrahim, Hajar dan Ismail dalam Putaran Tawaf dan Sa’i Kami”

Setelah 4 hari di Madinah, proses umrah ke Mekkah pun dimulai. Diawali dengan Miqat di Masjid Bir Ali di Zil Hulaifah, sekitar 10 Km di luar Madinah. “Miqat” artinya “start”. Bahasa sufistik Aceh disebut “Cok Langkah” (ambil langkah).

Secara syariat, miqat mungkin dapat dilakukan kapan saja di Bir Ali. Dengan terlebih dahulu mandi, solat sunat ihram dua rakaat serta berniat “Labbaikallahumma Umratan”. Dalam tradisi sufistik mungkin akan sedikit berbeda. Syariatnya sama. Hanya saja, langkah untuk berangkat umrah dari tempat miqat akan dilakukan setelah ada “persetujuan” Rasulullah. Artinya, umrah itu dilakukan “bersama” Rasulullah. Rasulullah sendiri yang akan memimpin ihram kita.

Kita tidak mampu berumrah, apalagi mencapai derajat mabrur, kalau bukan Rasul sendiri yang menuntun. Umrah tanpa kehadiran Nabi akan ‘hampa’. Inilah kelebihan dimensi “muraqabah” dalam tradisi irfan. Seorang salik mesti punya kemampuan berinteraksi dengan Sang Nabi sepanjang proses ibadah. Walau berjarak ribuan tahun, ruhani-Nya yang quddus itu senantiasa hidup. Dia bisa dihadirkan untuk menuntun setiap langkah ibadah kita.

Perjalanan 450 km dengan bus, dari Bir Ali menuju Mekkah, ditempuh dalam waktu 6 jam. Kami berangkat setelah solat Ashar dari Bir Ali, sekitar jam 5 sore. Tiba di Makkah pukul 10 malam. Rencana berangkat sejak Dhuhur. Tapi molor. Memang harus sabar mengurus puluhan jamaah agar tertib dan tepat waktu. Apalagi jika jamaahnya ada yang tua-tua. Geraknya harus dituntun. Sejak di Bir Ali, semua jamaah sudah memakai baju Ihram. Sudah tunduk pada rukun dan syarat ihram.

Memang umrah (ataupun haji) itu betulan ibadah fisik. Mobilitasnya sangat tinggi. Konon bagi yang usianya sudah lanjut, butuh kesabaran bagi para mutaif (pendamping) untuk melayani mereka. Geraknya harus dituntun. Ketika sampai di Makkah, kondisi jamaah sudah lelah, tapi umrah harus dilanjutkan.

Walau kondisi masih lelah, kami dengan istri memutuskan untuk terus melanjutkan umrah. Tidak sabar ingin masuk ke Haram untuk melihat Kakbah. Sementara jamaah lain ada yang memutuskan istirahat sebentar, sebelum melakukan Tawaf dan Sa’i pada tengah malam itu, dibimbing oleh ustad-ustad pendamping.

Ada beberapa kali rasa haru yang muncul begitu intens dalam perjalanan umrah ini. Pertama, ketika di Madinah. Khususnya saat pertama kali melihat Masjid Nabawi, menziarahi Makam Nabi, mengunjungi Kuburan Baqi, dan ketika berada di Raudhah. Kedua, ketika di Makkah. Yaitu saat pertama kali memasuki Masjidil Haram, melihat Kakbah, melakukan Tawaf dan melakukan Sa’i. Spot utama yang begitu fanatik jadi rebutan jamaah di Mekkah tentu Kakbah dengan elemen yang melengkapi sakralitas Masjidil Haram. Seperti Hajar Aswad, Makam/Tapak Ibrahim, Hijir Ismail, Multazam, bukit Safa dan Marwah, serta minuman Zamzamnya.

Tubuh terasa bergetar dalam berbagai pengalaman itu. Karena memori dan jiwa seperti dibawa kembali ke era dimana para Nabi, Keluarga dan para syuhada lainnya berjihad dengan segala yang mereka miliki untuk mempertinggi bangunan keislaman ini. Serasa ada kontak Ruhani dengan Ibrahim as, Ismail as, Muhammad SAW, para zuriat, sahabat dan auliya-auliya para pewaris cahaya Ilahi saat menatap dan menziarahi titik-titik suci ini.

Tidak terasa, air mata mengalir deras dalam lantunan talbiyah, takbir, sholawat, salam dan doa-doa sepanjang proses umrah. Air mata tidak terbendung. Hati seperti meledak saat melakukan 7 putaran Tawaf dan Sa’i tengah malam itu. Dalam doa sepanjang Shafa dan Marwah, seolah-olah terdengar ada tangisan Ismail yang kehausan. Terlihat seperti ada Siti Hajar yang berlari-lari mencari air dalam nafas kelelahan. Kami ikut terisak dalam baluran air mata.

Jumlah peziarah lagi banyak-banyaknya. Cuaca di Makkah dan Madinah lagi baik-baiknya, sejuk. Masjidil Haram padat. Pun di jalur Sa’i, semakin malam semakin sesak. Kami dengan istri bahkan terpisah setelah Tawaf. Akhirnya memutuskan untuk terus melakukan Sa’i sendiri-sendiri sampai dengan Tahalul (memotong beberapa helai rambut) sebagai tanda penutup ihram pertama. Karena direncanakan, akan ada beberapa kali ihram lagi pada sisa hari di Makkah, yang akan kami niatkan sebagai hadiah untuk kedua orang tua dan juga Guru. Umrah selanjutnya dilakukan melalui miqat dibeberapa titik terdekat. Seperti Ji’ranah, Qarnul Manazil dan Tan’im.

Selain ritual umrah yang wajib diselesaikan pada hari-hari tertentu, hari-hari lainnya dibebaskan bagi jamaah untuk melakukan iktikaf dan solat jamaah 5 waktu di Masjidil Haram. Selebihnya tentu ada City Tour ke tempat-tempat bersejarah di Kota Mekkah. Baik dengan mengunjungi langung tempat tersebut ataupun sekedar lewat untuk melihatnya. Ada Jabal Nur (Gua Hirak), Jabal Tsur (Gua Tsur), Jabal Rahmahnya Adam dan Hawa, Padang Arafah, Muzdalifah, Mina, dan lainnya.

Bagi peminat masjid, ada Masjid Jin; tempat diislamkannya rombongan jin oleh Nabi. Juga ada Masjid Ji’ranah; tempat singgah Nabi setelah perang Hunain, Masjid Jawatha, tempat penyimpanan Hajar Aswad selama 22 tahun. Dan lainnya.

Bagi peminat ziarah, pemakaman Al-Ma’la (atau Hajun) merupakan destinasi utama yang bisa dicapai sekitar 25 menit jalan kaki dari Masjidil Haram. Itu adalah kuburan keluarga nabi di Madinah, sejak dari nenek moyang sampai keturunannya. Disana dimakamkan kakek-kakek Nabi seperti Qushay bin Kilab, Abdu Manaf, Hasyim, Abdul Muthalib, Abu Thalib paman Nabi, Aminah ibu Nabi, dan juga Siti Khatijah dan Maimunah istri Nabi. Sejumlah syuhada terawal Islam juga dimakamkan disini seperti Yasir dan Sumayyah. Demikian juga para pembesar sahabat, tabiin dan auliya banyak sekali yang terkubur disini.

Sama seperti pemakaman Baqi di Madinah, makam-makam utama di maqbarah (pekuburan) Al-Ma’la dulunya berkubah, khususnya makam Khatijah. Tapi setelah dikuasai Bani Suud dengan rigiditas aliran tauhidnya, bangunan-bangunan makam yang telah dibangun sedemikian rupa oleh generasi terdahulu, pada tahun 1963-1964 dibuldozer semua. Ketika berada disana, anda akan kesulitan melacak jejak para syuhada. Anda tidak akan tau lagi kuburan siapa dan dimana. Kecuali beberapa saja.

Sekali lagi, ini “wisata spiritual”. Jiwa, otak dan perut harus sama-sama terisi. Ini bukan tentang umrah, solat, ziarah dan iktikaf saja. Ini juga tentang makan-makan dan belanja. Kasihan sanak saudara di kampung. Anda pergi umrah dapat pahala. Sementara mereka yang dikampung hanya mau tau apa oleh-oleh yang anda bawa. Oleh-oleh itu penting. Itu sebagai bentuk anda berbagi gembira. Sama seperti kenduri, walau ada yang mengatakan itu bid’ah, sebenarnya itu ekspresi dari berbagi bahagia. Bahagia karena anda sudah berjumpa Allah dan Rasul di kota sucinya. Terkadang doa-doa dan ibadah kita baru makbul dan mabrur setelah kita menyempurnakannya dengan kenduri dan sedekah. Karena itulah, kenduri dan sedekah menjadi bagian penting dalam tradisi sufi.

2 / 27

***

BAGIAN 6:
“Makkah dan Madinah, di Fase Mana Anda Berada?”

Kehidupan di Mekkah dan Madinah menandai 2 fase kehidupan manusia: “keras” dan “santai”.

Kehidupan di Mekkah itu “keras”. Ini ditandai dengan ritual seperti “tawaf” dan “sai”. Tawaf adalah gerak terus menerus untuk memutari Kakbah, dalam himpitan dan kepadatan manusia. Disitu kita menyaksikan, ada sesuatu yang diperebutkan. Orang-orang mencari jalan untuk menuntaskan pekerjaannya. Orang-orang bahkan “berkompetisi” untuk mencium Hajar Aswad. Semua ini miniatur kerasnya kehidupan dunia. Mirip-mirip “survival of the fittest”. Hanya yang punya tekad dan kuat badan yang sukses. Saling dorong. Saling sikut. Saling injak. Saling tarik. Ngeri!

Saya pun suatu waktu tertarik ikut dalam “pertarungan” ini. Ada sensasi tersendiri saat berada dalam kerumunan manusia. Tapi saya tidak mau mendorong dan menyikut orang-orang. Saya hanya bergerak mengikuti dorongan orang, sampai tiba tepat di depan Hajar Aswad. Tapi setelah menyentuh batu itu dan mengusap kemuka, tiba-tiba saya terlempar ke belakang. Memang, untuk bisa mencium, anda harus bekerja lebih keras. Mungkin harus sedikit kasar. Harus siap mengalahkan semua pesaing anda. Fighting spirit harus sangat kuat. Tidak boleh tanggung-tanggung disitu. Habis anda!

Disatu sisi kita heran, ngapain saling berseteru dalam menyentuh Batu Hitam. Kok dalam ibadah saling dorong begitu. Tapi, kalau kita berfikir lebih dalam, itulah gambaran kehidupan. Orang-orang berebut untuk memperoleh sesuatu yang langka. Sesuatu yang dianggapnya mulia. Kalau tidak berjihad seperti itu, mungkin ia tidak akan pernah memperolehnya. Baginya, dapat mencium Hajar Aswad adalah bentuk “rejeki yang wajib diusahakan”. Kalau kita perhatikan, orang-orang India paling lihai dalam perjuangan mencapai ini. Tidak pernah menyerah mereka. Sangat ngotot, bahkan kasar sekali. Mungkin ini gambaran kalau orang India punya determinasi dan sangat bersikeras dalam bisnis dan pencapaian tujuan. Mirip-mirip ‘menghalalkan segala cara’. Bahkan diinjaknya kaki kita.

Tapi ada juga yang dapat mencium Hajar Aswad hanya lewat doa. Entah bagaimana, tiba-tiba sudah terbuka jalan dan terbawa begitu saja kehadapan Hajar Aswad. Ini mungkin masuk kategori “rezeki yang diberi”. Tapi jumlah orang-orang yang mendapat kemudahan seperti ini sangat langka.

Padahal, kalau dipikir-pikir, batu apalah Hajar Aswad itu. Sedikitpun tidak menarik. Bukan permata pun. Tapi terlanjur dipersepsikan sebagai “batu syurga”. Ampun dosa kalau pernah menciumnya. Bahkan dianggap belum ‘sah’ Tawaf, belum dapat “wings” haji/umrah kalau belum pernah menciumnya. Terkadang saya heran, kok mencium Batu ini begitu diminati. Dianggap bisa ampun dosa. Kenapa mencium tangan seorang wali/ulama jadi bid’ah. Mirip penyembah batu kita ini. Tapi ya itu, ada prestise tersendiri jika dapat mencium batu yang pernah dicium Nabi ini.

Selanjutnya ada Sa’i. Ini juga lumayan lelah. Memang tidak ada kompetisi, seperti saat mencium Hajar Aswad. Tapi anda punya kewajiban menuntaskan 7 putaran di Safa dan Marwah. Capek juga. Bisa keram betis kita. Yang tua-tua harus sering istirahat dipinggir jalan, sebelum kuat untuk kembali meneruskan Sa’i. Konon lagi kalau anda memilih “berlari-lari” seperti Siti Hajar, bisa habis nafas anda. Bolak-balik, total jarak tempuh 4,5 Km. Ini tentu belum seberapa, jika dibanding jamaah yang ziarah ke pusara Sayyidina Husain R.A pada setiap hari Arbain, di Irak. Yang menempuh jalan kaki 100 km dari Najaf ke Karbala.

Itu gambaran “fase Mekkah”. Periode kehidupan yang mesti kita lalui. Periode dimana sejak muda anda harus sangat kuat. Harus sigap. Harus kerja keras. Sebab, hidup ini perjuangan. Butuh sense of competition untuk sukses. Tapi tentu bukan dengan cara menghabisi mati orang-orang. Walaupun misalnya, jika terjun dalam dunia bisnis dan politik, sadar atau tidak, anda sebenarnya harus merebut posisi dan ‘menghabisi’ kesempatan orang lain.

Kehidupan “Mekkah” itu lelah. Keras. Tapi kita harus punya bentuk-bentuk itu. Tapi tidak untuk seumur hidup. Tidak untuk dari pagi sampai malam. Kasihan juga kalau terus berkeringat dan ngos-ngosan sampai tua. Karenanya harus ada “fase santai” dalam hidup ini. Harus ada masa pensiun, yang kerjanya hanya goyang-goyang kaki dan ngopi. Tanpa perlu kerja keras lagi. Itulah suasana Madinah. Tidak ada lagi Tawaf dan rebutan ciuman Hajar Aswad. Tidak ada lagi lari-lari Sa’i. Kerjanya cuma ibadah santai dan i’tiqaf di Makam Nabi.

Melalui perspektif “Makkah” dan “Madinah”, kita bisa mengevaluasi diri. Seperti apa kehidupan kita sekarang. Masih berkeringatkah seperti orang Tawaf dan Sa’i? Atau sudah adem ayem seperti orang-orang yang beriktikaf di ketenangan Masjid Nabawi?

Sejatinya, dimasa muda kita harus menjalani “Periode Mekkah”. Jangan santai. Jangan lalai. Ada hal yang harus kita geluti secara serius. Disaat masih kuat dan sehat. Sehingga ada titik dimana kita bisa sukses dan tinggal menikmati hasilnya. Berat rasanya kalau sampai tua masih “bekerja keras”. Kapan rileksnya?

Kehidupan harian kita juga harus diseimbangkan dalam dua bingkai ini. Siangnya anda harus bekerja keras, sibuk bergerak kesana kemari untuk membangun hubungan dengan manusia dalam mencari rejeki. Malamnya anda harus menarik diri, duduk melipat kaki, menghela nafas panjang dalam ketenangan tahajud dan zikir, sambil ngopi. Itu tradisi sufi dalam bertaqarub dengan Tuhannya. Memang, kalau dapat banyak uang di waktu siang, enak kita berzikir di waktu malam. Ideal sufi begitu. Mereka zuhud dalam keadaan tanpa kerisauan lagi kepada kondisi ekonomi. Itulah Muhammad SAW. Di Mekkah sudah duluan menjadi pebisnis. Sudah duluan kaya raya. Diakhir usia banyak santai di Madinah. Santai, tapi terus bekerja, dalam pola berbeda.

***

BAGIAN 7:
“Mencari Tuhan di Baitul Kakbah, Ketemunya di Rumah”

Mengapa harus berhaji ataupun umrah? Ingin mencari Tuhankah?

“Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, tidak ada yang mulia dari Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi. Tidak ada yang sakral dari Kakbah. Cuma bangunan biasa itu. Sudah berulang kali direnovasi. Pun tidak ada yang suci dari kuburan Nabi. Makanya, sekilas sudah pantas kalau banyak makam dihancurkan oleh otoritas keagamaan di Saudi. Kalau mau diratakan semua, termasuk Kakbah, sebenarnya bisa. Tidak ada Allah disitu. Allah tidak bisa dikurung dalam bangunan apapun. Allah juga tidak ada di kuburan manapun. Allah ada di ‘langit’ sana, saya mulai berpikir kritis.

“Tapi, karena ini bisnis haji dan umrah, beberapa bangunan harus disisakan. Ada omset tidak terhingga yang setiap tahunnya masuk ke kantong penerus dinasti. Bukan karena dianggap suci sekali pun semua tempat yang ditinggalkan oleh Nabi itu. Kalau dianggap suci, maka semuanya akan benar-benar dipelihara. Kenyataannya, modernisasi Mekkah dan Madinah seperti tidak ramah dengan tempat-tempat bersejarah. Hampir semua titik-titik yang terkait Nabi dan para tabiin awal telah hancurkan sedemikian rupa”, saya sampai berpikiran begitu.

Ketika sampai di Mekkah atau Madinah, anda seperti tiba di kota metropolitan di negara entah berantah. Jauh dari panorama sejarah. Hotel dan gedung-gedung pencakar langit telah menghilangkan jejak utama dari kesederhanaan asal usul Islam. Anda hanya mampu menemukan Kakbah saja. Itupun dalam wajah moderen Masjidil Haramnya. Menara Zamzam yang terlihat menjulang tinggi di balik perbukitan Mekkah, persis seperti tower “mata satu” milik Lord Sauron dalam Lord of The Rings. Sebuah menara yang dibangun jauh dari nilai sejarah dan mirip-mirip dibuat untuk ‘menandingi’ kesahajaan Kakbah.

Sementara, ribuan lokasi historis yang berhubungan dengan Nabi, baik di Madinah dan kota lainnya seperti hilang tersapu pembangunan yang entah mengarah kemana. Walaupun ada sedikit sisa-sisa bangunan era kenabian, itupun hampir semuanya “terlarang” untuk diziarahi. Apakah itu makam, masjid tua, dan lainnya. Mirip-mirip diputuskan hubungan kita dengan Nabi. Aneh, Batu Hitam yang secuil yang ada di pinggang Kakbah bisa mereka jaga. Kenapa ribuan atau mungkin jutaan kubik batu yang membentuk bangunan makam dan masjid-masjid awal hilang semua?

Kita sering lupa, agama itu terdiri dari dua komponen: software dan hardware. “Iman/akidah” adalah software dari agama, yang harus dirawat dengan doktrin-doktrin tertentu. Sementara, “warisan sejarah” adalah hardware-nya. Rasa beragama tumbuh dari “bentuk-bentuk” dan bukti-bukti arkeologis yang ditinggalkan. Rasa kehadiran muncul ketika anda mampu berkomunikasi dengan warisan peradaban, sesederhana apapun itu. Ada genetik para pendahulu agama yang tersisa pada semua situs dan bangunan. Sehingga disebut sebagai “rumah suci”.

Ketika makam dan bangunan-bangunan yang pernah disentuh para Nabi, Keluarga dan sahabatnya dihancurkan; kita akan kehilangan “memori suci”. Kita kehilangan objek visual yang mampu membawa kita ke lokus kesadaran paling dalam. Maka wajar, ketika orang-orang yang sedang berumrah atau berhaji, itu tatapannya “kosong”. Mereka tidak lagi mampu menemukan “peta keislaman” yang asli di tengah kemoderenan Mekkah dan Madinah.

Sejatinya, ziarah ke Tanah Haram adalah napak tilas ke pusara dan bangunan-bangunan yang menjadi “wasilah” untuk merasakan kehadiran Yang Suci. Anda tidak mengenal Muhammad SAW, maupun Keluarganya. Anda juga tidak mengenal Ibrahim dan Keluarganya. Juga sahabat-sahabat mereka. Tapi, ketika memiliki kontak dengan warisan, relasi spiritual anda dengan mereka akan tumbuh sendiri. Bayangkan kalau anda jauh terpisah dari orang tua. Dengan menatap foto peninggalannya, itu serta merta membangun hubungan dengan mereka. Paling tidak, anda harus punya bayangan serta legacy dari mereka. Artinya, mereka “ada” dibalik imej/foto/bangunan itu. Ada Ruh dibalik benda-benda duniawi. Ada yang Quddus dibalik Kakbah. Ada yang Sacred dibalik profanitas makam. Itulah “wasilah”. Itulah inti ziarah, menumbuhkan kesadaran suci dari berbagai bahasa komunikasi dengan objek-objek pusaka.

Di atas itu semua kita menyadari, selain fisik terasa akan lelah sekali, ziarah ke Kota Suci adalah sebuah perjalanan jiwa. Anda tidak serta merta menemukan Allah dan Rasulnya pada semua bangunan fisik yang tersisa. Itu hanya “wasilah-wasilah” untuk menyadari, bahwa sesungguhnya Allah itu ada dalam Diri, dalam Ruh yang menyertai anda. Sekali lagi, Dia tidak bertempat. Allah tidak ada pada aneka gedung dan konstruksi:

“Dia tidak ada di Kakbah. Tidak ada di Hajar Aswad. Tidak ada di Multazam. Tidak ada di Makam Ibrahim. Tidak ada di Hijir Ismail. Tidak ada di rute Safa dan Marwah. Tidak ada di Mina. Tidak ada di Muzdalifah. Tidak ada di Arafah. Dia tidak ada dimanapun dalam keramaian itu. Dia justru akan kau temukan dalam kesunyian diri, dalam kegelapan Hirak, saat kau mengasingkan diri. Allah itu ada dalam ketenangan dirimu. Hatimu lah Kakbah itu. Lataifmu lah, makam Rasulmu. Denyut dan suara-Nya ada dalam dirimu”.

Sekitar 500 tahun lalu, dalam bahasa berbeda Hamzah Fansuri berkata:

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah
Mencari Tuhan di Baitul Kakbah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya ditemukan di dalam rumah

Fansuri juga mengakui, perjalanan ziarah ke Mekkah “terlalu payah”. Terlalu banyak biaya dan tenaga yang dikeluarkan. Apalagi di era pejalan kaki, menggunakan kapal laut dan unta. Pasti banyak sekali ujian dan tantangan yang dihadapi. Tapi Tuhan tidak ada di semua tempat yang dikunjungi. Allah justru ditemukan dalam Diri. Di ‘rumah’. Di qalbu. Bahkan pada diri guru-guru spiritualmu.

Suatu ketika, Abu Yazid Al-Bistami hendak berhaji ke Mekkah. Dia singgah disebuah tempat guru sufi di Basrah. Sang guru bertanya, “Hai Abu Yazid, mau kemana engkau?”. Abu Yazid menjawab, “Aku hendak menunaikan ibadah haji ke baitullah Mekkah”. Sufi ini bertanya lagi, “Berapa banyak uang yang kau bawa untuk pergi kesana?”. Abu Yazid kembali menjawab, “200 dirham”. Sang sufi menodongnya, “Berikan uang itu kepadaku. Tak usah kau ke Mekkah sana. Kau tawaf aku saja sebanyak tujuh kali sebagai penggantinya”. Sang guru menjelaskan, “Abu Yazid, tahukah engkau bahwa Allah tidak pernah bersemayam di Kakbah sejak itu selesai dibangun. Tapi, Dia tidak pernah keluar dari hatiku sejak Dia hadir disana”.

Ketika Ruh-mu sudah tersambung dengan-Nya, melalui wasilah-wasilah spiritual, Dia dapat ditemukan dimana-mana, bahkan di kampungmu sendiri. Dalam dirimu sendiri. Setelah itu, ziarah ke Baitul Kakbah hanya sebuah perjalanan memorial bersama-Nya, di dalam-Nya. Untuk menapak tilasi jejak fisik dan ruhani para Rasulnya.

***

PENUTUP. Luar biasa perjalanan umrah kali ini. Sejak pergi sampai pulang dimudahkan Allah SWT. Sepertinya Rasulullah sungguh-sungguh menerima kami di dua Kota Sucinya. “Sejak landing di Madinah, rasa senang Nabi atas kepulangan kita sudah terasa. Buktinya, Arab Saudi bisa menang melawan Argentina”, kata saya bercanda kepada istri, meniru kata-kata Abuya Sufimuda. “Ketika hendak pulang, Jeddah pun mengalami banjir tidak biasa. Seolah-olah ingin membersihkan jalan-jalan yang ingin kita lewati sebelum take off kembali ke Indonesia”, tambah saya lagi yang disambut tawa oleh istri.

Terima kasih kepada Sayyid Husain yang telah mengajak kami ziarah ke dua Kota Suci. Semoga mabrur bersama istri dan anaknya. Selamat juga kepada istri kami yang telah memecahkan Guinness World Record. Dalam sekali umrah, bisa mencium Hajar Aswad 4 kali. Banyak pengalaman spiritual yang tidak bisa kami ceritakan semua. Selamat juga kepada 150 jamaah lain yang satu rombongan. Kami doakan agar umrah kita diridhai Allah dan Rasulnya.

Terima kepada ustadz Jamhuri Ramli atas panduannya selama di Madinah dan Mekkah. Terima kasih juga kepada ustadz Marzuq dan Abdullah, mutawif (tour guide) yang begitu gigih dan ramah, mulai sejak di Madinah sampai ke Mekkah. Apresiasi juga kami berikan kepada ustadz Muhammad Ikhsan “Tabarak”, atas proses fasilitasi dan perhatian yang luar biasa selama perjalanan umrah ini. Mabrur dan mabrurah untuk semuanya!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin