Articles

ZIARAH KE KOTA SUCI, SAUDI YANG MENANG MELAWAN ARGENTINA, DAN BANJIR BESAR DI JEDDAH (BAGIAN 2)

Baitullah, Kakbah

“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 94 | Desember 2022

ZIARAH KE KOTA SUCI, SAUDI YANG MENANG MELAWAN ARGENTINA, DAN BANJIR BESAR DI JEDDAH (BAGIAN 2)
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

***

Bagian 1: “Perjalanan Mencari Berlian”
Bagian 2: “Islam, Wahyu untuk Orang Ganteng”
Bagian 3: “Umrah, Petualangan Penuh Ujian”
Bagian 4: “Di Madinah Al-Munawwarah, Empat Hari Bersama Nabi”
Bagian 5: “Ada Ibrahim, Hajar dan Ismail dalam Putaran Tawaf dan Sa’i Kami”
Bagian 6: “Makkah dan Madinah, di Fase Mana Anda Berada?”
Bagian 7: “Mencari Tuhan di Baitul Kakbah, Ketemunya di Rumah”

***

BAGIAN 2: “ISLAM, WAHYU UNTUK ORANG GANTENG”

Peta Saudi Arabia

Menurut saya, wahyu harus diturunkan kepada orang ganteng. Kalau wahyu turun ke orang kurang ganteng, itu fatal. Islam ini ibarat sinteron. Kalau pemainnya kurang pas, “salesman”-nya tidak menarik, tidak bakal naik rating filmnya. Tidak laku dakwahnya. Maka sudah tepat kalau ras Arab yang jadi nabi. Juru dakwahnya ganteng. “Wajahnya bercahaya”. Karena itulah cepat populer agama ini.

Bayangkan, kalau Islam turun ke suku mante di Aceh, yang postur tubuhnya pendek, hitam dan pesek. Mungkin sampai kiamat hanya ada beberapa orang yang masuk Islam. Untunglah, yang menerima wahyu itu Muhammad. Orang paling ganteng di Arab. Cepat yakin kita. Walaupun musuh yang menolaknya juga ganteng-ganteng. Ya, paling tidak, Islam itu perang sesama orang ganteng. Perangnya berkelas. Kalau perang sesama orang jelek, ah malas kita.

Itu kesan pertama ketika Lion Airbus JT0084 yang kami tumpangi dari Kualanamu Medan mendarat di Airport Madinah pada magrib Sabtu 19/11/2022, setelah 8 jam melayang di udara. Semua petugas imigrasinya saya perhatikan. Rata-rata cewek, dan semuanya cantik. Cantik-cantik sekali. Dengan kulit putih dan abaya hitamnya, semua terlihat seperti bidadari. Pun esok hari, dari pagi sampai malam saya perhatikan satu persatu, semua orang Arab yang lewat ganteng-ganteng dan cantik.

Lama-lama ragu saya. Ini surga atau dunia. Kalaupun ada orang yang lewat yang terlihat kurang cantik atau kurang ganteng, itu pasti bukan Arab. Maaf, itu pasti orang melayu. Orang Indonesia. Bukannya orang kita tidak ganteng dan cantik. Ganteng dan cantik juga. Tapi hilang total ganteng dan cantiknya kalau sudah sampai ke Arab. Bahkan hari kedua di Madinah saya sempat memprotes Tuhan. “Ya Allah kenapa Kau beri hidung berlebih kepada orang Arab, lalu Engkau sisakan sedikit bagi kami di Indonesia”. Saya belum tau apa hikmah orang Indonesia tercipta kurang cantik dan kurang ganteng, dibandingkan Arab. Tapi untunglah ada ayat di penghujung al-Hujurat 13 yang menghibur kita yang kurang ganteng dan cantik, bahwa intinya bukan di rupa. Tapi pada taqwa.

Disini saya mulai paham, kenapa sosok seperti Ibnu Arabi ikut terpana dalam perjalanan spiritualnya ke kota Makkah. Ia mengatakan, “Saat Tawaf, kulihat Tuhan dalam wajah perempuan”. Sudah pasti, yang dilihatnya itu cantik sekali. Sehingga lahir syair-syair indah tentang perempuan dalam “Tarjuman Asywaq”. Lebih dari sebuah pandangan sensual, Syaikh Akbar menemukan getaran-getaran malakut pada wajah indah yang dijumpainya itu. Konon, ia berguru Sufisme pada sejumlah perempuan cantik saat di Mekkah. Seperti Fakhr Nisa, Qurrah ‘Ain dan Sayyidah Nizam. Gadis terakhir ini ia sebut sebagai “jelita Romawi” dan “Ainu Syam” (mata dari matahari); karena kemudaan dan kecantikannya mencuri pandangan semua orang. Gadis mulia bergelar Syaikhah Al-Haramain ini kemudian menjadi kekasih yang membuatnya selalu merasakan kehadiran Allah ketika berjumpa. Untuk ia Ibnu Arabi menulis:

“Jika dia bicara semua yang ada jadi bisu, dia adalah matahari di antara ulama, taman indah di antara para sastrawan, wajahnya begitu jelita, tutur bahasanya sungguh lembut, otaknya memperlihatkan kecerdasan yang sangat cemerlang, ungkapan-ungkapannya bagai untaian kalung yang gemerlap penuh keindahan dan penampilannya benar-benar anggun dan bersahaja”.

Saya kira wajar cewek Arab bercadar semua. Bukan saja sebagai pelindung dari debu padang pasir dan bukit berbatu. Atau penutup wajah dari panas dan dinginnya cuaca. Karena hidung mereka juga menjadi pusat perhatian seluruh dunia. Sudah ditutup dengan kain pun, mancungnya masih nongol. Rasanya kurang tepat kalau kita orang Indonesia meniru orang Arab dalam pemakaian cadar. Karena tidak ada yang menarik dari hidung kita, datar begitu. Dibuka pun mungkin tidak ada yang lirik. Astaghfirullah!

Bersama Jelita Madinah

Kita cukupkan pembahasan Arab itu cantik dan non Arab kurang cantik. Terlalu rasis. Sebenarnya, saya pun orang Arab. Tapi sudah 10 generasi di Aceh. Sayangnya, 90 persen ganteng kami sudah hilang. Mungkin karena terlalu lama makan asam sunti. Anda tau, asam sunti itu belimbing yang sudah susut akibat di jemur. Begitulah nasib orang Arab yang lama di luar Arab. Gantengnya susut. Istri saya juga turunan Arab. Tapi kebetulan masih sangat cantik dia. Mungkin karena masih rajin mengkonsumsi kurma.

Tapi setidaknya, melalui pengalaman ini, saya mengajukan teori baru. Bahwa, Islam itu turun di Arab bukan semata karena orangnya jahiliah. Kalau masalah jahiliah, kita Indonesia sebenarnya lebih jahiliah dari Arab. Negara Arab, walaupun pemimpinnya autokratik, rakyatnya kaya raya dengan minyak. Kita di Indonesia yang sumberdaya alamnya melimpah ruah, tanahnya hijau dan iklimnya sempurna, warganya justru masih miskin dengan sistem demokrasinya. Jahiliah betul kita!

Jadi, Islam itu turun di Arab bukan karena jahiliah. Kalau alasannya jahiliah, maka Islam itu harusnya turun di Indonesia. Islam itu turun di Arab karena orang Arab itu ganteng-ganteng. Sehingga pantas menjadi penyampai wahyu. Pantas menjadi artis pilihan Tuhan. Tampilannya asik. Apalagi kalau sampai berdakwah keluar Arab. Pasti disukai. Buktinya, artis-artis di Indonesia yang berwajah indo-arab sangat diminati.

Kalau orang ganteng yang berdakwah, itu beda. Jangankan mendakwahkan Islam, mendakwahkan yang aneh-aneh pun, pasti diikuti. Karena yang ngomongnya menarik. Lihat saja artis di TV. Yang diajari ke kita, rata-rata keburukan semua. Tok karena cantik dan ganteng, makanya kita ikuti. Mulai dari cara berpakaian, pemilihan produk dan sebagainya. Coba kalau mereka yang cantik dan ganteng-ganteng itu mengajari umat ini yang baik-baik, sudah lama maju Indonesia kita.

(Bersambung ke BAGIAN 3: “Umrah, Petualangan Penuh Ujian”)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Komentar Anda

%d bloggers like this: