Advertisements

“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 95 | Desember 2022

ZIARAH KE KOTA SUCI, SAUDI YANG MENANG MELAWAN ARGENTINA, DAN BANJIR BESAR DI JEDDAH (BAGIAN 3)
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

***

Bagian 1: “Perjalanan Mencari Berlian”
Bagian 2: “Islam, Wahyu untuk Orang Ganteng”
Bagian 3: “Umrah, Petualangan Penuh Ujian”
Bagian 4: “Di Madinah Al-Munawwarah, Empat Hari Bersama Nabi”
Bagian 5: “Ada Ibrahim, Hajar dan Ismail dalam Putaran Tawaf dan Sa’i Kami”
Bagian 6: “Makkah dan Madinah, di Fase Mana Anda Berada?”
Bagian 7: “Mencari Tuhan di Baitul Kakbah, Ketemunya di Rumah”

***

BAGIAN 3: “UMRAH, PETUALANGAN PENUH UJIAN”

Orang cenderung meyakini, untuk berangkat haji/umrah itu modalnya uang. Iya, kalau ada uang dan sehat badan, berangkatnya mudah. Yang berangkat ke haji/umrah, itu kan orang-orang yang sehat dan mampu secara ekonomi. Tapi banyak juga orang sehat dan berduit yang tidak pernah sampai ke makam Nabi. Ada saja kesibukannya. Termasuk saya. Saya sudah berkeliling lebih dari 15 negara di Eropa dan Asia. Tapi baru sekarang sampai ke Baitullah. Lalai memang!

Sementara, banyak orang miskin yang punya niat kuat untuk sampai ke Tanah Suci. Sekalipun dengan mengumpulkan uang receh. Makanya, ziarah disebut sebagai “panggilan”. Hanya orang-orang yang sangat rindu, atau dirindui oleh Nabi, yang sampai.

Karena ini perjalanan penting, maka akan diuji. Baik sebelum berangkat ataupun setiba di Tanah Suci. Ada saja masalah yang dihadapi. Saat kami berangkat, ada 30an jamaah dari travel lain yang sebenarnya satu pesawat dengan kami tapi gagal berangkat. Bus mereka semalaman terjebak longsor dan banjir di Aceh Tamiang. Akhirnya tidak bisa tiba di bandara pada waktu yang ditentukan. Gagal take off. Sedih sekali.

Wisata umrah tidak selalu seindah yang dibayangkan. Banyak hal tidak terduga terjadi sepanjang jalan. Kita sering mendengar ada jamaah yang gagal berangkat. Bahkan terlunta-lunta di bandara, karena ditipu oleh travel. Macam-macam kejadian. Yang sudah tiba di Arab pun juga sering menuai masalah lain. Seperti buruknya pelayanan hotel, terbatasnya makanan di restoran, kualitas bus dan lainnya. Ada saja hal yang muncul selama umrah sehingga memicu emosi. Disatu sisi kita butuh kenyamanan dalam fasilitas ibadah. Disisi lain jamaah harus bersabar atas berbagai ketidak sempurnaan pelayanan. Apa yang sudah diatur sejak awal, bisa tidak berjalan sesuai agenda. Pelayanan di Arab pun boleh dikatakan, tidaklah sebagus kalau anda berwisata ke negara-negara maju lainnya. Orang Arab itu sendiri punya karakter “kasar”. Gaya bicaranya keras. Mirip dibentak-bentak kita.

Tujuan ke Tanah Suci adalah ziarah. Utamanya ke makam Nabi di Madinah, dan Baitullah di Mekkah. Keduanya punya nilai sejarah penting dalam Islam. Kedua tanah ini disebut “Haram” (suci). Karena keduanya paling sering disentuh oleh “Ruh Suci”. Khusus Kakbah misalnya, itu pusat spiritualitas yang dibangun para nabi. Makkah dan Madinah adalah tanah yang zikir-zikir Muhammad masih melekat disetiap sudut tempatnya. Tanah dimana bersemayam begitu banyak jasad suci dari Keluarga Nabi, para auliya dari keturunan dan sahabatnya.

Karenanya, perjalanan ziarah ke puncak mata rantai dari sanad spiritual keislaman kita ini akan diberi “sedikit” tantangan. Perjalanannya mudah, sekaligus tidak mudah. Tergantung siapa yang berangkat. Kalau yang berangkat itu “jin” dalam badan kita, setiba disana pasti akan “apoh-apah” (terasa sulit). Kalau yang berangkat itu kemurnian hati kita, biasanya akan mudah. Disinilah pentingnya tradisi spiritual berupa “tazkiyatun nafs”, sebelum menempuh safar. Yang diharapkan terjadi adalah pertemuan ruhani dengan ruhani, dalam perjalanan fisik yang luar biasa.

Kami pun begitu, sejak awal mau berangkat mengalami banyak tantangan. Termasuk harus sering mengelola “emosi”. Perjalanan ke Tanah Suci, itu mirip pengalaman pergi suluk (iktikaf/khalwat). Yang lamanya juga mencapai 10 hari. Ada saja cobaan. Hal-hal kecil bisa membuat rusuh. Salah-salah, tidak jadi berangkat. Yang diuji adalah kesabaran. Maha Benar Allah dengan firman-Nya, “Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu” (QS. Al-Baqarah: 45).

Kita harus pandai-pandai menata hati saat melakukan safar ke tempat-tempat sakral. Yang niatnya lurus dan kuat, biasanya diberi kemudahan. Sementara yang masih membawa jiwa penuh rasa was-was, pemarah dan angkuh; umumnya akan menghadapi banyak masalah. Bisa stres ketika tiba di tujuan, bawaannya ngomel terus, bingung, tersesat, bosan, kecolongan, dan sebagainya. Sepulang umrah pun biasanya lebih banyak bercerita susah, daripada pengalaman spiritual. Karena, apa yang kita bawa, itu yang akan kita terima. Datang dengan hati lapang, perjalanan akan lapang. Hadir dengan hati yang sempit, sepanjang jalan penuh kesempitan. Semua terlihat salah.

Banyak dari kita yang ketika berangkat, itu niatnya masih “suci”. Ingin ibadah. Ingin taubat, ingin ini, ingin itu. Mulia semua. Begitu dua hari di Tanah Haram, kembali lagi ke tabiat asli. Yang suka gosip, gosip terus. Yang suka belanja, belanja terus. Yang suka tidur, tidur terus. Yang suka ke restauran, ke restauran terus. Yang suka ngerokok, ngerokok terus. Yang suka main WA, main WA terus. Ibadah dan ziarahnya kurang sekali. Baru sadar tiba-tiba sudah 10 hari. Sudah mau pulang. Hati tidak terisi. Uang habis puluhan juta, jiwa tidak bahagia. Tidak ada “koneksi” dan “memori” yang terbangun dengan wilayah-wilayah suci.

Seharusnya, safar itu menjadi “perjalanan jiwa”. Lelah memang. Karena melibatkan badan. Berbagai ritual umrah (tawaf dan sai), mobilitas ibadah lima waktu, lokasi masjid yang luas, jarak hotel yang terkadang jauh, tentengan barang yang berat, naik turun tangga, cuaca yang terkadang buruk, makanan yang tidak sesuai lidah; itu semua bisa membuat jamaah lelah dan sakit. Konon lagi yang usianya sudah lanjut. Salah-salah bisa mati. Memang banyak yang meninggal dalam berhaji atau umrah. Namun, siapapun yang sepanjang waktu bisa berterusan terfokus (“daim”) dalam membangun ingatan (“rabithah”) dengan Allah dan Rasulullah, itulah yang akan mabrur dalam haji dan umrahnya.

Safar itu perjalanan untuk menemui Rasul, ditempat-tempat yang pernah dibangunnya. Bahkan langsung di makamnya. Rasul itu makhluk suci. Kalau kita hadir dengan jiwa yang kasar, itu langsung tertolak. Kami teringat pesan Guru, “Pergilah kalian berhaji atau umrah setelah 3 kali suluk”. Ternyata ada banyak sekali hikmahnya. Para salik yang dibimbing seorang walimursyid, biasanya akan memahami “ilmu kehadiran” (hudhuri). Ilmu ini menjadi bekal dalam perjalanan spiritual. Ada “kontak vertikal” yang bisa dibangun saat berziarah ke tempat-tempat sakral. Sehingga, kita tidak menjadi zombie di Tanah Suci. Bergerak kesana sini, tapi yang kita peroleh hanya lelahnya saja. Harus ada “langkah” untuk diterima. Ruhani kita harus benar-benar hidup untuk merasakan kehadiran Ilahi.

Saya bukan orang yang hebat-hebat sekali dalam urusan ruhani. Malah masih lemah sekali. Tapi kita sama-sama tau, kalau ruhani terlalu bebal, otomatis akan tertolak di titik-titik suci. Saya merasakan itu saat di Masjid Nabawi. Butuh waktu untuk bisa “dekat” dengan-Nya. Awalnya seperti ditolak. Setiap ziarah tidak pernah bisa mendekat ke makam Nabi. Terkadang dilarang oleh “askar” (penjaga makam). Di lain waktu disuruh jalan di barisan yang jauh dari dinding makam. Sampai kemudian menangis dan sadar. Ternyata saya terlalu membawa “diri”. Barulah setelah memohon ampun, ziarah selanjutnya menjadi lenggang. Jalan menjadi mudah. Bahkan bisa merapat dengan mudah ke dinding makam suci untuk ‘menyalami’ Nabi, setiap pagi. Serta banyak pengalaman unik lainnya baik ketika di Madinah maupun Mekkah.

Setiap salah langkah, kurang adab, ataupun melanggar aturan; biasanya ada teguran yang datang. Dalam wujud “isyarat” tertentu. Bahkan dalam bentuk sakit seperti demam. Setelah bertaubat, itu bisa seketika hilang. Jadi, kalau tiba-tiba anda mengalami sakit di Tanah Suci, itu bukan semata-mata faktor cuaca dan fisik saja. Boleh jadi itu bentuk dosa dan pelanggaran terhadap adab. Ada niat dan perilaku kita yang Dia tidak berkenan. Sehingga langsung kena tegur. Bahkan pemikiran, omongan dan canda kita bisa dibalas seketika.

Ada jamaah yang satu rombongan dengan kami, sudah senior usianya, bercanda kepada istrinya. “Lon sang paih tinggai di sinoe, awak droe mantong yang woe”, katanya. Ia merasa lebih cocok tinggal di Arab. Tidak mau pulang. Begitu candanya. Terjadi. Hari terakhir di Mekkah, beliau demam. Lalu dibawa ke rumah sakit. Saat diperiksa ternyata kena Covid. Sampai kami tiba di tanah air, beliau satu-satunya yang masih tinggal untuk dirawat di Mekkah. Sedangkan istri dan rombongannya sudah pulang semua.

Saya juga pernah kualat. Suatu ketika disaat Tawaf, kebetulan agak rapat ke dinding Kakbah. Disitu saya melihat seorang laki-laki kurus India yang kehabisan nafas. Dia terlihat sedang berjuang ingin menyentuh Batu mulia itu. Tapi terjepit oleh ratusan jamaah, hingga terhempas ke dinding Kakbah. Terdengar ia berteriak minta tolong: “Help me! Help me!”. Wajahnya seperti sedang sekarat. Mirip-mirip mau mati. Saya yang melihat itu hanya tersenyum, tanpa rasa kasihan. Pun tidak bisa membantu. Jadi hiburan juga melihat orang-orang terjepit. Lucu. Karena, kalau tidak mau terjepit, ngapain kesitu. Nyusahin diri saja.

Ternyata, dua malam kemudian, sayalah yang mengalami hal serupa saat mencoba merayap ke dinding Kakbah dan Hajar Aswad. Saya betul-betul terjepit. Mengalami sesak napas dan kelelahan yang luar biasa. Mau keluar tidak bisa karena terus terdorong oleh lautan manusia berbadan hitam dan besar-besar. Mau mati rasanya. Dan itu terjadi tepat di titik yang sama yang dialami si India dua malam sebelumnya, yang saya pernah menertawakannya. Disitu saya sadar, inilah balasan untuk hal yang pernah saya tertawakan. Astaghfirullah!

Malam besoknya, kami menjadi anak baik. Disenggol berkali-kali saat tawaf, kami sabar dan hanya tersenyum saja. Tidak ada rasa marah sedikitpun. Ketika ada orang menerobos di depan, kami beri mereka kesempatan lewat dengan senang hati. Alhasil, pada malam itu juga, kami seperti diberi banyak sekali keluangan. Saat ingin ke Multazam, tiba-tiba jalan terbuka begitu saja. Pun ketika ingin solat di Hijir Ismail, rombongan lain di stop semua. Justru kami yang diarahkan masuk kesana. Padahal baru antri. Sementara yang lain sudah berjam-jam menunggu giliran. Hanya dalam waktu singkat, kami bisa berdoa lama di Multazam dan kemudian langsung bisa bergerak untuk solat sampai enam rakaat di Hijir Ismail. Padahal jamaah sedang membludak. Cuma waktu itu saya sempat berdoa, “Ya Allah, izinkan Guruku berdoa di Multazam; dan solat wuduk, taubat dan hajat dua rakaat di Hijir Ismail”. Ternyata, kalau kita bawa Guru, Allah mudahkan. Kalau kita serobot sendiri, putus nafas kita. La haula wala quwwata illa Billah!

(Bersambung ke BAGIAN 4: “Di Madinah Al-Munawwarah, 4 Hari Bersama Nabi”)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin