Articles

ZIARAH KE KOTA SUCI, SAUDI YANG MENANG MELAWAN ARGENTINA, DAN BANJIR BESAR DI JEDDAH (BAGIAN 5)

Baitullah, Kakbah

“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 97 | Desember 2022

ZIARAH KE KOTA SUCI, SAUDI YANG MENANG MELAWAN ARGENTINA, DAN BANJIR BESAR DI JEDDAH (BAGIAN 5)
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

***

Bagian 1: “Perjalanan Mencari Berlian”
Bagian 2: “Islam, Wahyu untuk Orang Ganteng”
Bagian 3: “Umrah, Petualangan Penuh Ujian”
Bagian 4: “Di Madinah Al-Munawwarah, Empat Hari Bersama Nabi”
Bagian 5: “Ada Ibrahim, Hajar dan Ismail dalam Putaran Tawaf dan Sa’i Kami”
Bagian 6: “Makkah dan Madinah, di Fase Mana Anda Berada?”
Bagian 7: “Mencari Tuhan di Baitul Kakbah, Ketemunya di Rumah”

***

BAGIAN 5: “ADA IBRAHIM, HAJAR DAN ISMAIL DALAM PUTARAN TAWAF DAN SA’I KAMI”

Setelah 4 hari di Madinah, proses umrah ke Mekkah pun dimulai. Diawali dengan Miqat di Masjid Bir Ali di Zil Hulaifah, sekitar 10 Km di luar Madinah. “Miqat” artinya “start”. Bahasa sufistik Aceh disebut “Cok Langkah” (ambil langkah).

Secara syariat, miqat mungkin dapat dilakukan kapan saja di Bir Ali. Dengan terlebih dahulu mandi, solat sunat ihram dua rakaat serta berniat “Labbaikallahumma Umratan”. Dalam tradisi sufistik mungkin akan sedikit berbeda. Syariatnya sama. Hanya saja, langkah untuk berangkat umrah dari tempat miqat akan dilakukan setelah ada “persetujuan” Rasulullah. Artinya, umrah itu dilakukan “bersama” Rasulullah. Rasulullah sendiri yang akan memimpin ihram kita.

Kita tidak mampu berumrah, apalagi mencapai derajat mabrur, kalau bukan Rasul sendiri yang menuntun. Umrah tanpa kehadiran Nabi akan ‘hampa’. Inilah kelebihan dimensi “muraqabah” dalam tradisi irfan. Seorang salik mesti punya kemampuan berinteraksi dengan Sang Nabi sepanjang proses ibadah. Walau berjarak ribuan tahun, ruhani-Nya yang quddus itu senantiasa hidup. Dia bisa dihadirkan untuk menuntun setiap langkah ibadah kita.

Perjalanan 450 km dengan bus, dari Bir Ali menuju Mekkah, ditempuh dalam waktu 6 jam. Kami berangkat setelah solat Ashar dari Bir Ali, sekitar jam 5 sore. Tiba di Makkah pukul 10 malam. Rencana berangkat sejak Dhuhur. Tapi molor. Memang harus sabar mengurus puluhan jamaah agar tertib dan tepat waktu. Apalagi jika jamaahnya ada yang tua-tua. Geraknya harus dituntun. Sejak di Bir Ali, semua jamaah sudah memakai baju Ihram. Sudah tunduk pada rukun dan syarat ihram.

Memang umrah (ataupun haji) itu betulan ibadah fisik. Mobilitasnya sangat tinggi. Konon bagi yang usianya sudah lanjut, butuh kesabaran bagi para mutaif (pendamping) untuk melayani mereka. Geraknya harus dituntun. Ketika sampai di Makkah, kondisi jamaah sudah lelah, tapi umrah harus dilanjutkan.

Walau kondisi masih lelah, kami dengan istri memutuskan untuk terus melanjutkan umrah. Tidak sabar ingin masuk ke Haram untuk melihat Kakbah. Sementara jamaah lain ada yang memutuskan istirahat sebentar, sebelum melakukan Tawaf dan Sa’i pada tengah malam itu, dibimbing oleh ustad-ustad pendamping.

Ada beberapa kali rasa haru yang muncul begitu intens dalam perjalanan umrah ini. Pertama, ketika di Madinah. Khususnya saat pertama kali melihat Masjid Nabawi, menziarahi Makam Nabi, mengunjungi Kuburan Baqi, dan ketika berada di Raudhah. Kedua, ketika di Makkah. Yaitu saat pertama kali memasuki Masjidil Haram, melihat Kakbah, melakukan Tawaf dan melakukan Sa’i. Spot utama yang begitu fanatik jadi rebutan jamaah di Mekkah tentu Kakbah dengan elemen yang melengkapi sakralitas Masjidil Haram. Seperti Hajar Aswad, Makam/Tapak Ibrahim, Hijir Ismail, Multazam, bukit Safa dan Marwah, serta minuman Zamzamnya.

Tubuh terasa bergetar dalam berbagai pengalaman itu. Karena memori dan jiwa seperti dibawa kembali ke era dimana para Nabi, Keluarga dan para syuhada lainnya berjihad dengan segala yang mereka miliki untuk mempertinggi bangunan keislaman ini. Serasa ada kontak Ruhani dengan Ibrahim as, Ismail as, Muhammad SAW, para zuriat, sahabat dan auliya-auliya para pewaris cahaya Ilahi saat menatap dan menziarahi titik-titik suci ini.

Tidak terasa, air mata mengalir deras dalam lantunan talbiyah, takbir, sholawat, salam dan doa-doa sepanjang proses umrah. Air mata tidak terbendung. Hati seperti meledak saat melakukan 7 putaran Tawaf dan Sa’i tengah malam itu. Dalam doa sepanjang Shafa dan Marwah, seolah-olah terdengar ada tangisan Ismail yang kehausan. Terlihat seperti ada Siti Hajar yang berlari-lari mencari air dalam nafas kelelahan. Kami ikut terisak dalam baluran air mata.

Jumlah peziarah lagi banyak-banyaknya. Cuaca di Makkah dan Madinah lagi baik-baiknya, sejuk. Masjidil Haram padat. Pun di jalur Sa’i, semakin malam semakin sesak. Kami dengan istri bahkan terpisah setelah Tawaf. Akhirnya memutuskan untuk terus melakukan Sa’i sendiri-sendiri sampai dengan Tahalul (memotong beberapa helai rambut) sebagai tanda penutup ihram pertama. Karena direncanakan, akan ada beberapa kali ihram lagi pada sisa hari di Makkah, yang akan kami niatkan sebagai hadiah untuk kedua orang tua dan juga Guru. Umrah selanjutnya dilakukan melalui miqat dibeberapa titik terdekat. Seperti Ji’ranah, Qarnul Manazil dan Tan’im.

Selain ritual umrah yang wajib diselesaikan pada hari-hari tertentu, hari-hari lainnya dibebaskan bagi jamaah untuk melakukan iktikaf dan solat jamaah 5 waktu di Masjidil Haram. Selebihnya tentu ada City Tour ke tempat-tempat bersejarah di Kota Mekkah. Baik dengan mengunjungi langung tempat tersebut ataupun sekedar lewat untuk melihatnya. Ada Jabal Nur (Gua Hirak), Jabal Tsur (Gua Tsur), Jabal Rahmahnya Adam dan Hawa, Padang Arafah, Muzdalifah, Mina, dan lainnya.

Bagi peminat masjid, ada Masjid Jin; tempat diislamkannya rombongan jin oleh Nabi. Juga ada Masjid Ji’ranah; tempat singgah Nabi setelah perang Hunain, Masjid Jawatha, tempat penyimpanan Hajar Aswad selama 22 tahun. Dan lainnya.

Bagi peminat ziarah, pemakaman Al-Ma’la (atau Hajun) merupakan destinasi utama yang bisa dicapai sekitar 25 menit jalan kaki dari Masjidil Haram. Itu adalah kuburan keluarga nabi di Madinah, sejak dari nenek moyang sampai keturunannya. Disana dimakamkan kakek-kakek Nabi seperti Qushay bin Kilab, Abdu Manaf, Hasyim, Abdul Muthalib, Abu Thalib paman Nabi, Aminah ibu Nabi, dan juga Siti Khatijah dan Maimunah istri Nabi. Sejumlah syuhada terawal Islam juga dimakamkan disini seperti Yasir dan Sumayyah. Demikian juga para pembesar sahabat, tabiin dan auliya banyak sekali yang terkubur disini.

JANNATUL MA’LA. Di balik jeruji ini mereka mengentikan orang-orang agar tidak bertemu seorang wanita termulia, yang melalui harta dan kasih sayangnya Muhammad berhasil menghadapi kezaliman kaumnya. Dari balik pagar tinggi ini, jiwaku menerobos jauh sampai jatuh rebah di kaki makam Sayyidah Khadijah Al-Kubra. Salam sejahtera untukmu wahai Kekasih Baginda. Maqbarah Al-Ma’la, hanya 2,5 Km dari Masjidil Haram. Adalah makam Bani Quraisy. Tempat disemayamkannya sejumlah kakek (Qushay, Abdu Manaf, Hasyim, Abdul Muthalib), paman (Abu Thalib), ibu (Aminah), istri (Khadijah dan Maimunah), bibi, cucu, para sahabat, ulama dan auliya-auliya pewaris mereka.

Sama seperti pemakaman Baqi di Madinah, makam-makam utama di maqbarah (pekuburan) Al-Ma’la dulunya berkubah, khususnya makam Khatijah. Tapi setelah dikuasai Bani Suud dengan rigiditas aliran tauhidnya, bangunan-bangunan makam yang telah dibangun sedemikian rupa oleh generasi terdahulu, pada tahun 1963-1964 dibuldozer semua. Ketika berada disana, anda akan kesulitan melacak jejak para syuhada. Anda tidak akan tau lagi kuburan siapa dan dimana. Kecuali beberapa saja.

Sekali lagi, ini “wisata spiritual”. Jiwa, otak dan perut harus sama-sama terisi. Ini bukan tentang umrah, solat, ziarah dan iktikaf saja. Ini juga tentang makan-makan dan belanja. Kasihan sanak saudara di kampung. Anda pergi umrah dapat pahala. Sementara mereka yang dikampung hanya mau tau apa oleh-oleh yang anda bawa. Oleh-oleh itu penting. Itu sebagai bentuk anda berbagi gembira. Sama seperti kenduri, walau ada yang mengatakan itu bid’ah, sebenarnya itu ekspresi dari berbagi bahagia. Bahagia karena anda sudah berjumpa Allah dan Rasul di kota sucinya. Terkadang doa-doa dan ibadah kita baru makbul dan mabrur setelah kita menyempurnakannya dengan kenduri dan sedekah. Karena itulah, kenduri dan sedekah menjadi bagian penting dalam tradisi sufi.

Pasar Kakkiyah, Pusat Belanja “Oleh-Oleh” di Mekkah

(Bersambung ke BAGIAN 6: “Makkah dan Madinah, di Fase Mana Anda Berada?”)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Komentar Anda

%d bloggers like this: