Articles

ZIARAH KE KOTA SUCI, SAUDI YANG MENANG MELAWAN ARGENTINA, DAN BANJIR BESAR DI JEDDAH (BAGIAN 6)

Baitullah, Kakbah

“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 98 | Desember 2022

ZIARAH KE KOTA SUCI, SAUDI YANG MENANG MELAWAN ARGENTINA, DAN BANJIR BESAR DI JEDDAH (BAGIAN 6)
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

***

Bagian 1: “Perjalanan Mencari Berlian”
Bagian 2: “Islam, Wahyu untuk Orang Ganteng”
Bagian 3: “Umrah, Petualangan Penuh Ujian”
Bagian 4: “Di Madinah Al-Munawwarah, Empat Hari Bersama Nabi”
Bagian 5: “Ada Ibrahim, Hajar dan Ismail dalam Putaran Tawaf dan Sa’i Kami”
Bagian 6: “Makkah dan Madinah, di Fase Mana Anda Berada?”
Bagian 7: “Mencari Tuhan di Baitul Kakbah, Ketemunya di Rumah”

***

BAGIAN 6: “MAKKAH DAN MADINAH, DI FASE MANA ANDA BERADA?”

Kehidupan di Mekkah dan Madinah menandai 2 fase kehidupan manusia: “keras” dan “santai”.

Kehidupan di Mekkah itu “keras”. Ini ditandai dengan ritual seperti “tawaf” dan “sai”. Tawaf adalah gerak terus menerus untuk memutari Kakbah, dalam himpitan dan kepadatan manusia. Disitu kita menyaksikan, ada sesuatu yang diperebutkan. Orang-orang mencari jalan untuk menuntaskan pekerjaannya. Orang-orang bahkan “berkompetisi” untuk mencium Hajar Aswad. Semua ini miniatur kerasnya kehidupan dunia. Mirip-mirip “survival of the fittest”. Hanya yang punya tekad dan kuat badan yang sukses. Saling dorong. Saling sikut. Saling injak. Saling tarik. Ngeri!

Saya pun suatu waktu tertarik ikut dalam “pertarungan” ini. Ada sensasi tersendiri saat berada dalam kerumunan manusia. Tapi saya tidak mau mendorong dan menyikut orang-orang. Saya hanya bergerak mengikuti dorongan orang, sampai tiba tepat di depan Hajar Aswad. Tapi setelah menyentuh batu itu dan mengusap kemuka, tiba-tiba saya terlempar ke belakang. Memang, untuk bisa mencium, anda harus bekerja lebih keras. Mungkin harus sedikit kasar. Harus siap mengalahkan semua pesaing anda. Fighting spirit harus sangat kuat. Tidak boleh tanggung-tanggung disitu. Habis anda!

Disatu sisi kita heran, ngapain saling berseteru dalam menyentuh Batu Hitam. Kok dalam ibadah saling dorong begitu. Tapi, kalau kita berfikir lebih dalam, itulah gambaran kehidupan. Orang-orang berebut untuk memperoleh sesuatu yang langka. Sesuatu yang dianggapnya mulia. Kalau tidak berjihad seperti itu, mungkin ia tidak akan pernah memperolehnya. Baginya, dapat mencium Hajar Aswad adalah bentuk “rejeki yang wajib diusahakan”. Kalau kita perhatikan, orang-orang India paling lihai dalam perjuangan mencapai ini. Tidak pernah menyerah mereka. Sangat ngotot, bahkan kasar sekali. Mungkin ini gambaran kalau orang India punya determinasi dan sangat bersikeras dalam bisnis dan pencapaian tujuan. Mirip-mirip ‘menghalalkan segala cara’. Bahkan diinjaknya kaki kita.

Tapi ada juga yang dapat mencium Hajar Aswad hanya lewat doa. Entah bagaimana, tiba-tiba sudah terbuka jalan dan terbawa begitu saja kehadapan Hajar Aswad. Ini mungkin masuk kategori “rezeki yang diberi”. Tapi jumlah orang-orang yang mendapat kemudahan seperti ini sangat langka.

Padahal, kalau dipikir-pikir, batu apalah Hajar Aswad itu. Sedikitpun tidak menarik. Bukan permata pun. Tapi terlanjur dipersepsikan sebagai “batu syurga”. Ampun dosa kalau pernah menciumnya. Bahkan dianggap belum ‘sah’ Tawaf, belum dapat “wings” haji/umrah kalau belum pernah menciumnya. Terkadang saya heran, kok mencium Batu ini begitu diminati. Dianggap bisa ampun dosa. Kenapa mencium tangan seorang wali/ulama jadi bid’ah. Mirip penyembah batu kita ini. Tapi ya itu, ada prestise tersendiri jika dapat mencium batu yang pernah dicium Nabi ini.

Selanjutnya ada Sa’i. Ini juga lumayan lelah. Memang tidak ada kompetisi, seperti saat mencium Hajar Aswad. Tapi anda punya kewajiban menuntaskan 7 putaran di Safa dan Marwah. Capek juga. Bisa keram betis kita. Yang tua-tua harus sering istirahat dipinggir jalan, sebelum kuat untuk kembali meneruskan Sa’i. Konon lagi kalau anda memilih “berlari-lari” seperti Siti Hajar, bisa habis nafas anda. Bolak-balik, total jarak tempuh 4,5 Km. Ini tentu belum seberapa, jika dibanding jamaah yang ziarah ke pusara Sayyidina Husain R.A pada setiap hari Arbain, di Irak. Yang menempuh jalan kaki 100 km dari Najaf ke Karbala.

Itu gambaran “fase Mekkah”. Periode kehidupan yang mesti kita lalui. Periode dimana sejak muda anda harus sangat kuat. Harus sigap. Harus kerja keras. Sebab, hidup ini perjuangan. Butuh sense of competition untuk sukses. Tapi tentu bukan dengan cara menghabisi mati orang-orang. Walaupun misalnya, jika terjun dalam dunia bisnis dan politik, sadar atau tidak, anda sebenarnya harus merebut posisi dan ‘menghabisi’ kesempatan orang lain.

Kehidupan “Mekkah” itu lelah. Keras. Tapi kita harus punya bentuk-bentuk itu. Tapi tidak untuk seumur hidup. Tidak untuk dari pagi sampai malam. Kasihan juga kalau terus berkeringat dan ngos-ngosan sampai tua. Karenanya harus ada “fase santai” dalam hidup ini. Harus ada masa pensiun, yang kerjanya hanya goyang-goyang kaki dan ngopi. Tanpa perlu kerja keras lagi. Itulah suasana Madinah. Tidak ada lagi Tawaf dan rebutan ciuman Hajar Aswad. Tidak ada lagi lari-lari Sa’i. Kerjanya cuma ibadah santai dan iktikaf di Makam Nabi.

Melalui perspektif “Makkah” dan “Madinah”, kita bisa mengevaluasi diri. Seperti apa kehidupan kita sekarang. Masih berkeringatkah seperti orang Tawaf dan Sa’i? Atau sudah adem ayem seperti orang-orang yang beriktikaf di ketenangan Masjid Nabawi?

Sejatinya, dimasa muda kita menjalani “Periode Mekkah”. Jangan santai. Jangan lalai. Ada hal yang harus kita geluti secara serius, disaat masih kuat dan sehat. Sehingga ada titik dimana kita bisa sukses dan tinggal menikmati hasilnya. Berat rasanya kalau sampai tua masih “bekerja keras”. Kapan rileksnya?

Kehidupan harian kita juga harus diseimbangkan dalam dua bingkai ini. Siangnya anda harus bekerja keras, sibuk bergerak kesana kemari untuk membangun hubungan dengan manusia dalam mencari rejeki. Malamnya anda harus menarik diri, duduk melipat kaki, menghela nafas panjang dalam ketenangan tahajud dan zikir, sambil ngopi. Itu tradisi sufi dalam bertaqarub dengan Tuhannya. Memang, kalau dapat banyak uang di waktu siang, enak kita berzikir di waktu malam. Ideal sufi begitu. Mereka zuhud dalam keadaan tanpa kerisauan lagi kepada kondisi ekonomi. Itulah Muhammad SAW. Di Mekkah sudah duluan menjadi pebisnis. Sudah duluan kaya raya. Diakhir usia banyak santai di Madinah. Santai, tapi terus bekerja, dalam pola berbeda.

(Bersambung ke BAGIAN 7: “Mencari Tuhan di Baitul Kakbah, Ketemunya di Rumah”)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Komentar Anda

%d bloggers like this: