Articles

ZIARAH KE KOTA SUCI, SAUDI YANG MENANG MELAWAN ARGENTINA, DAN BANJIR BESAR DI JEDDAH (BAGIAN 7)

Baitullah, Kakbah

“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 99 | Desember 2022

ZIARAH KE KOTA SUCI, SAUDI YANG MENANG MELAWAN ARGENTINA, DAN BANJIR BESAR DI JEDDAH (BAGIAN 7)
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

***

Bagian 1: “Perjalanan Mencari Berlian”
Bagian 2: “Islam, Wahyu untuk Orang Ganteng”
Bagian 3: “Umrah, Petualangan Penuh Ujian”
Bagian 4: “Di Madinah Al-Munawwarah, Empat Hari Bersama Nabi”
Bagian 5: “Ada Ibrahim, Hajar dan Ismail dalam Putaran Tawaf dan Sa’i Kami”
Bagian 6: “Makkah dan Madinah, di Fase Mana Anda Berada?”
Bagian 7: “Mencari Tuhan di Baitul Kakbah, Ketemunya di Rumah”

***

BAGIAN 7: “MENCARI TUHAN DI BAITUL KAKBAH, KETEMUNYA DI RUMAH”

Mengapa harus berhaji ataupun umrah? Ingin mencari Tuhankah?

“Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, tidak ada yang mulia dari Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi. Tidak ada yang sakral dari Kakbah. Cuma bangunan biasa itu. Sudah berulang kali direnovasi. Pun tidak ada yang suci dari kuburan Nabi. Makanya, sekilas sudah pantas kalau banyak makam dihancurkan oleh otoritas keagamaan di Saudi. Kalau mau diratakan semua, termasuk Kakbah, sebenarnya bisa. Tidak ada Allah disitu. Allah tidak bisa dikurung dalam bangunan apapun. Allah juga tidak ada di kuburan manapun. Allah ada di ‘langit’ sana, saya mulai berpikir kritis.

“Tapi, karena ini bisnis haji dan umrah, beberapa bangunan harus disisakan. Ada omset tidak terhingga yang setiap tahunnya masuk ke kantong penerus dinasti. Bukan karena dianggap suci sekali pun semua tempat yang ditinggalkan oleh Nabi itu. Kalau dianggap suci, maka semuanya akan benar-benar dipelihara. Kenyataannya, modernisasi Mekkah dan Madinah seperti tidak ramah dengan tempat-tempat bersejarah. Hampir semua titik-titik yang terkait Nabi dan para tabiin awal telah hancurkan sedemikian rupa”, saya sampai berpikiran begitu.

Ketika sampai di Mekkah atau Madinah, anda seperti tiba di kota metropolitan di negara entah berantah. Jauh dari panorama sejarah. Hotel dan gedung-gedung pencakar langit telah menghilangkan jejak utama dari kesederhanaan asal usul Islam. Anda hanya mampu menemukan Kakbah saja. Itupun dalam wajah moderen Masjidil Haramnya. Menara Zamzam yang terlihat menjulang tinggi di balik perbukitan Mekkah, persis seperti tower “mata satu” milik Lord Sauron dalam Lord of The Rings. Sebuah menara yang dibangun jauh dari nilai sejarah dan mirip-mirip dibuat untuk ‘menandingi’ kesahajaan Kakbah.

Sementara, ribuan lokasi historis yang berhubungan dengan Nabi, baik di Madinah dan kota lainnya seperti hilang tersapu pembangunan yang entah mengarah kemana. Walaupun ada sedikit sisa-sisa bangunan era kenabian, itupun hampir semuanya “terlarang” untuk diziarahi. Apakah itu makam, masjid tua, dan lainnya. Mirip-mirip diputuskan hubungan kita dengan Nabi. Aneh, Batu Hitam yang secuil yang ada di pinggang Kakbah bisa mereka jaga. Kenapa ribuan atau mungkin jutaan kubik batu yang membentuk bangunan makam dan masjid-masjid awal hilang semua?

Kita sering lupa, agama itu terdiri dari dua komponen: software dan hardware. “Iman/akidah” adalah software dari agama, yang harus dirawat dengan doktrin-doktrin tertentu. Sementara, “warisan sejarah” adalah hardware-nya. Rasa beragama tumbuh dari “bentuk-bentuk” dan bukti-bukti arkeologis yang ditinggalkan. Rasa kehadiran muncul ketika anda mampu berkomunikasi dengan warisan peradaban, sesederhana apapun itu. Ada genetik para pendahulu agama yang tersisa pada semua situs dan bangunan. Sehingga disebut sebagai “rumah suci”.

Ketika makam dan bangunan-bangunan yang pernah disentuh para Nabi, Keluarga dan sahabatnya dihancurkan; kita akan kehilangan “memori suci”. Kita kehilangan objek visual yang mampu membawa kita ke lokus kesadaran paling dalam. Maka wajar, ketika orang-orang yang sedang berumrah atau berhaji, itu tatapannya “kosong”. Mereka tidak lagi mampu menemukan “peta keislaman” yang asli di tengah kemoderenan Mekkah dan Madinah.

Sejatinya, ziarah ke Tanah Haram adalah napak tilas ke pusara dan bangunan-bangunan yang menjadi “wasilah” untuk merasakan kehadiran Yang Suci. Anda tidak mengenal Muhammad SAW, maupun Keluarganya. Anda juga tidak mengenal Ibrahim dan Keluarganya. Juga sahabat-sahabat mereka. Tapi, ketika memiliki kontak dengan warisan, relasi spiritual anda dengan mereka akan tumbuh sendiri. Bayangkan kalau anda jauh terpisah dari orang tua. Dengan menatap foto peninggalannya, itu serta merta membangun hubungan dengan mereka. Paling tidak, anda harus punya bayangan serta legacy dari mereka. Artinya, mereka “ada” dibalik imej/foto/bangunan itu. Ada Ruh dibalik benda-benda duniawi. Ada yang Quddus dibalik Kakbah. Ada yang Sacred dibalik profanitas makam. Itulah “wasilah”. Itulah inti ziarah, menumbuhkan kesadaran suci dari berbagai bahasa komunikasi dengan objek-objek pusaka.

Di atas itu semua kita menyadari, selain fisik terasa akan lelah sekali, ziarah ke Kota Suci adalah sebuah perjalanan jiwa. Anda tidak serta merta menemukan Allah dan Rasulnya pada semua bangunan fisik yang tersisa. Itu hanya “wasilah-wasilah” untuk menyadari, bahwa sesungguhnya Allah itu ada dalam Diri, dalam Ruh yang menyertai anda. Sekali lagi, Dia tidak bertempat. Allah tidak ada pada aneka gedung dan konstruksi:

“Dia tidak ada di Kakbah. Tidak ada di Hajar Aswad. Tidak ada di Multazam. Tidak ada di Makam Ibrahim. Tidak ada di Hijir Ismail. Tidak ada di rute Safa dan Marwah. Tidak ada di Mina. Tidak ada di Muzdalifah. Tidak ada di Arafah. Dia tidak ada dimanapun dalam keramaian itu. Dia justru akan kau temukan dalam kesunyian diri, dalam kegelapan Hirak, saat kau mengasingkan diri. Allah itu ada dalam ketenangan dirimu. Hatimu lah Kakbah itu. Lataifmu lah, makam Rasulmu. Denyut dan suara-Nya ada dalam dirimu”.

Sekitar 500 tahun lalu, dalam bahasa berbeda Hamzah Fansuri berkata:

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah
Mencari Tuhan di Baitul Kakbah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya ditemukan di dalam rumah

Fansuri juga mengakui, perjalanan ziarah ke Mekkah “terlalu payah”. Terlalu banyak biaya dan tenaga yang dikeluarkan. Apalagi di era pejalan kaki, menggunakan kapal laut dan unta. Pasti banyak sekali ujian dan tantangan yang dihadapi. Tapi Tuhan tidak ada di semua tempat yang dikunjungi. Allah justru ditemukan dalam Diri. Di ‘rumah’. Di qalbu. Bahkan pada diri guru-guru spiritualmu.

Suatu ketika, Abu Yazid Al-Bistami hendak berhaji ke Mekkah. Dia singgah disebuah tempat guru sufi di Basrah. Sang guru bertanya, “Hai Abu Yazid, mau kemana engkau?”. Abu Yazid menjawab, “Aku hendak menunaikan ibadah haji ke baitullah Mekkah”. Sufi ini bertanya lagi, “Berapa banyak uang yang kau bawa untuk pergi kesana?”. Abu Yazid kembali menjawab, “200 dirham”. Sang sufi menodongnya, “Berikan uang itu kepadaku. Tak usah kau ke Mekkah sana. Kau tawaf aku saja sebanyak tujuh kali sebagai penggantinya”. Sang guru menjelaskan, “Abu Yazid, tahukah engkau bahwa Allah tidak pernah bersemayam di Kakbah sejak itu selesai dibangun. Tapi, Dia tidak pernah keluar dari hatiku sejak Dia hadir disana”.

Ketika Ruh-mu sudah tersambung dengan-Nya, melalui wasilah-wasilah spiritual, Dia dapat ditemukan dimana-mana, bahkan di kampungmu sendiri. Dalam dirimu sendiri. Setelah itu, ziarah ke Baitul Kakbah hanya sebuah perjalanan memorial bersama-Nya, di dalam-Nya. Untuk menapak tilasi jejak fisik dan ruhani para Rasulnya.

PENUTUP. Luar biasa perjalanan umrah kali ini. Sejak pergi sampai pulang dimudahkan Allah SWT. Sepertinya Rasulullah sungguh-sungguh menerima kami di dua Kota Sucinya. “Sejak landing di Madinah, rasa senang Nabi atas kepulangan kita sudah terasa. Buktinya, Arab Saudi bisa menang melawan Argentina”, kata saya bercanda kepada istri, meniru kata-kata Abuya Sufimuda. “Ketika hendak pulang, Jeddah pun mengalami banjir tidak biasa. Seolah-olah ingin membersihkan jalan-jalan yang ingin kita lewati sebelum take off kembali ke Indonesia”, tambah saya lagi yang disambut tawa oleh istri.

Terima kasih kepada Sayyid Husain yang telah mengajak kami ziarah ke dua Kota Suci. Semoga mabrur bersama istri dan anaknya. Selamat juga kepada istri kami yang telah memecahkan Guinness World Record. Dalam sekali umrah, bisa mencium Hajar Aswad 4 kali. Banyak pengalaman spiritual yang tidak bisa kami ceritakan semua. Selamat juga kepada 150 jamaah lain yang satu rombongan. Kami doakan agar umrah kita diridhai Allah dan Rasulnya.

Terima kepada ustadz Jamhuri Ramli atas panduannya selama di Madinah dan Mekkah. Terima kasih juga kepada ustadz Marzuq dan Abdullah, mutawif (tour guide) yang begitu gigih dan ramah, mulai sejak di Madinah sampai ke Mekkah. Apresiasi juga kami berikan kepada ustadz Muhammad Ikhsan “Tabarak”, atas proses fasilitasi dan perhatian yang luar biasa selama perjalanan umrah ini. Mabrur dan mabrurah untuk semuanya!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

TAMAT

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Komentar Anda

%d bloggers like this: