“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 101 | Desember 2022

PENDOSA YANG DICINTAI ALLAH
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Dulu, ada seorang pendosa. Tiap hari kerjanya berbuat maksiat. Sampai suatu waktu, ia selalu melaporkan maksiatnya, selama 40 hari tanpa henti kepada Allah.

Hari pertama, ia mencuri barang orang. Malamnya ia melapor. “Ya Allah, terserah Engkau suka atau tidak, pokoknya telah kucuri barang kepunyaan tetanggaku siang tadi”, begitu katanya.

Hari kedua, ia menipu kawannya. “Ya Allah, terserah Engkau suka atau tidak, pokoknya telah kutipu kawanku sore tadi”, begitu katanya.

Hari ketiga, ia berbohong kepada istrinya. “Ya Allah, terserah Engkau suka atau tidak, pokoknya tadi pagi aku berkata bohong kepada istriku”, begitu katanya.

Begitulah seterusnya. Selama 40 hari, tidak pernah berhenti ia melakukan aneka kezaliman, keburukan dan kemungkaran. Selama 40 hari itu pula, ia tidak pernah berhenti melaporkan semua tindak jahatnya itu secara sungguh-sungguh kepada Allah.

Pada hari ke 40 itu, malamnya ia bermimpi. Tiba-tiba Allah mendatanginya. Lalu berfirman, “Wahai hambaku yang penuh dosa, mulai saat ini kuangkat engkau sebagai kekasih-Ku”.

Si pendosa ini terkejut dan terbangun. Lalu melakukan protes. “Ya Allah, bagaimana mungkin Engkau angkat aku sebagai kekasih-Mu. Sementara dosaku sudah menggunung. Kejelekanku sudah tidak terhitung. Engkau pasti sedang bercanda”.

Malam selanjutnya, Allah kembali hadir dalam mimpinya dan bersabda. “Wahai hambaku, dosa dan keburukanmu memang sudah menggunung dan tak mungkin terhapuskan. Tapi, kemauanmu untuk selalu mengingat-Ku sepanjang kejahatanmu itu, telah membuat rahmat-Ku turun kepadamu melampaui besarnya murka-Ku”.


Saudara-saudara sekalian. Tidak usah diprotes tentang cerita ini. Terima saja. Sebab, si pendosa itu adalah saya, dan juga anda semua. Bedanya, kita tidak diangkat Allah untuk menjadi kekasih-Nya. Karena, setiap berbuat dosa, kita lupa mengingat-Nya.

Sementara, ada satu dua orang, yang begitu menyadari akan dosa-dosanya dan tidak sungkan-sungkan mengakui itu setiap hari dihadapan Tuhannya. Sedangkan kita, setiap hari melakukan dosa, tapi merasa tidak pernah melakukannya. Kita, sudah banyak dosa, lupa pula mengingat Allah. Bahkan merasa diri terlalu suci.

Tahukah anda apa itu dosa besar?

Dosa besar adalah, ketika anda merasa tidak pernah berdosa. Dosa besar adalah, merasa bahwa hari ini tidak melakukan dosa. Begitulah setiap harinya, kita lewati tanpa merasa ada dosa. Dan begitu pula, kita lalui waktu demi waktu tanpa pernah mengakui secara serius kepada Allah bahwa kita senantiasa melakukan dosa.

Tahukah anda apa dosa terbesar?

Dosa terbesar adalah “syirik”. Syirik adalah melupakan Allah. Itulah bentuk dari menduakan Tuhan, dengan cara melupakan Dia, lalu menghabiskan waktu untuk mengingat yang lain selain Dia. Banyak orang yang menghabiskan waktu mengabdi kepada nusa dan bangsa, kepada umat dan agama. Memang itulah pekerjaan kita setiap hari. Tapi riya’. Lupa kepada Allah. Dikiranya ada Allah pada itu semua. Padahal, iblis juga disitu.

Kita diciptakan hanya untuk ingat dan mengabdi hanya kepada Allah. Sedetik saja kita lupa “mengingat” (berzikir) kepada Allah, sedetik itu pula kita telah melakukan kesyirikan. Bayangkan, betapa musyriknya kita, gegara sering lupa kepada Allah. Kalau kita sadar ini, maka tidak ada satu hari pun yang kita lewati tanpa melakukan sholat taubat.

Kita manusia, semuanya pendosa. Tapi, sebaik-baik manusia adalah yang setiap hari hadir ke hadapan Tuhan untuk membuat pengakuan dosa. Jangankan kita, Nabi pun yang disebut sebagai “suci”, tidak pernah melewati hari tanpa istighfar yang banyak sekali. Bukan istighfar karena dosanya. Tapi karena merasa masih berdosa. Merasa ada yang kurang dari apa yang dilakukannya. Merasa ada yang salah dan lemah dari apa yang diusahakannya. Itu yang membuatnya semakin suci. Orang suci adalah orang yang merasa paling banyak dosa.

Tidak ada dosa yang tidak diampuni, selama setiap hari kita bersedia mendatangi Dia melalui zikir. Melalui istighfar yang sungguh-sungguh sebagai seorang pendosa. Itulah kenapa, zikir dapat mengangkat derajat seseorang di sisi Allah. Kita masuk surga bukan karena bagusnya amal kita. Sebagian besar justru masuk surga karena tidak pernah melupakan-Nya. Selalu mengingat-Nya. Itulah yang membuat Allah mencintai mereka.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin