Info & News

Sempat Viral, Akademisi USK Tulis 484 Artikel, Jadi Penulis Tasawuf Paling Produktif di Indonesia

Advertisements

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul “Sempat Viral, Akademisi USK Tulis 484 Artikel, Jadi Penulis Tasawuf Paling Produktif di Indonesia”, https://aceh.tribunnews.com/2022/12/31/sempat-viral-akademisi-usk-tulis-484-artikel-jadi-penulis-tasawuf-paling-produktif-di-indonesia.
Penulis: Indra Wijaya | Editor: Nurul Hayati

BANDA ACEH – Akademisi Darussalam, Banda Aceh, Said Muniruddin tercatat sebagai salah satu penulis artikel tasawuf paling produktif di Indonesia tahun ini. Tercatat 99 artikel tasawuf telah terpublikasikan selama tahun 2022. Ini merupakan jumlah artikel tasawuf terbanyak yang lahir dalam periode 7 tahun terakhir. Tahun 2022, hampir satu juta orang telah membaca artikel-artikel onlinenya.

Berikut data artikel sufisme yang dipublikasikan ke publik dari tahun ke tahun. Tahun 2022, 99 artikel. Tahun 2021, 92 artikel. Tahun 2020, 67 artikel. Tahun 2019, 70 artikel. Tahun 2018, 63 artikel. Tahun 2017, 40 artikel. Tahun 2016, 27 artikel. Tahun 2015, 26 artikel. Tidak kurang dari 484 artikel kritis terkait tasawuf atau irfan yang ia publikasikan selama 8 tahun terakhir.

Selain itu, ia juga menulis sejumlah syair sufistik. Tercatat ada 85 puisi yang ia telah publikasikan. Salah satunya adalah “Bubarnya Agama”. Puisi ini telah dibaca oleh banyak orang diberbagai channel youtube. Ini merupakan puisi paling viral saat pandemi Covid-19. Bahkan sempat beredar yang tiba-tiba berubah nama dan mencatut nama KH. Mustafa Bisri.

Artikel-artikel tasawuf yang ia tulis bernilai unik. Sebab, ia mengangkat sisi-sisi pengalaman maupun pengetahuan sufistik dalam perspektif berbeda. Kalaupun ada yang sama dengan para ahli tasawuf klasik, namun ia kupas dalam sisi dan bahasa berbeda.

Tulisan-tulisannya sangat kritis. Mungkin banyak dari artikel itu yang mengejutkan publik awam. Tapi sangat disenangi oleh orang-orang khusus. Sebab, tasawuf khususnya level ontologi makrifati memang sesuatu yang berbeda dengan kajian tasawuf biasa. Artikel-artikelnya telah membuka kesadaran baru bagi para pembaca akan pentingnya dunia spiritual.

Said Muniruddin bukanlah orang baru dalam kancah tasawuf. Darah sufisme memang mengalir dalam darahnya dari tradisi keluarga Habaib. Banyak kitab tasawuf yang ditinggalkan oleh leluhurnya. Namun, tradisi tasawuf agak luntur setelah era kolonialisme serta menguatnya pemahaman Islam yang rigid dan radikal dalam dunia Islam.

Belakangan, ia juga kembali menekuni sisi esoteris dunia gnostisisme Islam dengan sosok ulama makrifat Aceh seperti Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda. Disini ia mulai mengembangkan teknik-teknik spiritual writing. Mengawinkan dimensi muraqabah dengan skil menulis. Dari pengalamannya disini, ia banyak menuliskan ragam khazanah sufisme baik dalam level “tasawuf falsafi” (ontologi tasawuf/tasawuf tauhid/tasawuf teoritis), “tasawuf akhlaki” (tasawuf syaril’i/fikih tasawuf/adab tasawuf), dan “tasawuf makrifati” (pengalaman batiniah tasawuf).

Tulisan-tulisannya dipublikasikan melalui platform bernama saidmuniruddin.com. Ruang menulis ini brand dalam nama sebagai “The Suficademic”. Ia menggabungkan ontologi tasawuf dengan kaidah-kaidah dunia akademik. Sehingga, kupasan terma-terma spiritual menjadi bernilai rasional. Melalui ini ia coba memperkenalkan nilai-nilai sufisme dalam dunia akademik.

Selain menjabat sebagai Rektor di Suficademic, ia juga seorang akademisi di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Ia juga sering menyampaikan ceramah dan materi-materi training terkait spiritual leadership dalam berbagai pelatihan di Indonesia. Saat ini, tulisan-tulisannya sedang dikompilasi untuk diterbitkan dalam aneka ragam judul buku.

Sebelumnya, ia juga telah menerbitkan beberapa judul buku sufistik seperti “Berpuisilah untuk Gurumu Walau Hanya Satu Baris” (2020), “Karamah Auliya” (2019), “Bintang Arasy” (2014), dan beberapa buku umum akademik dan leadership lainnya seperti Islam di Australia (2017) dan lainnya.

Khusus buku Bintang Arasy misalnya, Prof. Dr. Mahfud MD sempat menyebutnya sebagai “Buku kepemimpinan yang sangat dalam dan paling kaya pesan-pesan spiritual”. Sedangkan Anies Baswedan secara memberi komentar, “integrasi pemikiran filosofis dengan irfan menciptakan energi pembruan yang dibutuhkan setiap organisasi Islam”.

Di Indonesia, selain Said Muniruddin, tercatat ada sejumlah nama yang sering mengeluarkan tulisan terkait sufisme. Seperti Haidar Bagir, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (imam besar masjid Istiqlal) dan beberapa lainnya. Perkembangan tasawuf semakin menguat belakangan ini. Seiring perkembangan global yang menuntut orang-orang untuk mencari esensi diri dan Tuhannya ditengah kepungan modernisasi yang semakin mencabut akar identitas spiritual manusia.(*)

Komentar Anda Cancel reply