Advertisements

Jurnal Suficademic”| Artikel No. 103 | Desember 2022

“THE INFINITY”: MENGURAI MAKNA SHOLAWAT DALAM KERESAHAN TAUBAT SOEKARNO
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Dalam sebuah riwayat sufistik disebutkan. Suatu ketika Jibril AS berkata, “Ya Muhammad, aku mampu menghitung berapa tetes air hujan yang turun sejak Adam tercipta. Tapi, aku tidak mampu menghitung berapa banyak pahala yang diperoleh oleh seseorang ketika bersholawat kepadamu”.

Dalam riwayat lainnya dari Tirmizi juga disebutkan. Jibril AS berkata, “Allah berikan aku kecerdasan untuk mampu mengetahui jumlah lembar dedaunan yang ada di bumi, jumlah ikan di laut, jumlah bintang di langit, jumlah butiran pasir di bumi. Tapi satu hal yang aku tidak tau, jumlah Rahmat yang diperoleh umatmu ketika bersholawat kepadamu”.

Malaikat yang super cerdas, itu mampu menghitung jumlah tetesan hujan yang pernah turun ke bumi, dan sebagainya itu. Tapi menyerah, ketika harus mengkalkulasi pahala orang yang bersholawat. Kenapa?

***

Salah satu jawabannya dapat diperoleh dari hasil sebuah diskusi yang terjadi pada tahun 1965, antara Presiden Soekarno dengan ahli metafisika Islam Indonesia, Prof. Dr. Kadirun Yahya (1917-2001). Kisah ini pernah diulas disejumlah media. Profesor ini bukan sosok biasa. Prof Kadirun merupakan seorang walimursyid sebuah tariqah sufi. Ia termasuk ulama fenomenal. Sampai akhir hayat punya 700 surau tempat zikir di seluruh Indonesia.

Soekarno memanggil Beliau dan bertanya. Kenapa seorang pelacur bisa masuk surga hanya gara-gara memberi minum seekor anjing yang kehausan? Kok semudah itu? Apakah kita yang banyak sekali dosa ini juga bisa masuk surga kalau memberi minum anjing yang kehausan? Enak sekali kalau begitu. Buat dosa banyak-banyak, kasih minum anjing. Selesai!

Soekarno sudah 10 tahun mencari jawaban untuk kasus ini. Tapi ia tidak puas dengan berbagai jawaban yang ia peroleh dari banyak ulama. Sukarno sebenarnya sedang ketakutan dengan dosa-dosanya. Ia ragu, apakah masih bisa bisa terhapuskan. Tapi, pada kasus pelacur itu, ia melihat cara masuk surganya mudah sekali. Tapi ia juga ragu, rasanya tidak semudah itu. Tapi kalaupun bisa, apa sebabnya?

***

Saidi Syekh Kadirun Yahya Muhammad Amin Al-Khalidi kemudian menjelaskan kepada Soekarno dalam bahasa ilmiah eksakta yang bisa dipahami untuk seorang insinyur seperti Soekarno. Diriwayatkan, dialog antara keduanya terjadi dalam bahasa Belanda. Karena keduanya pernah menempuh pendidikan berbahasa Belanda.

Seorang pelacur atau siapapun dari kita, itu tidak akan terhapus dosa hanya gara-gara memberi minum anjing yang kehausan. Dosa pelacuran, dosa menganiaya orang, dosa korupsi atau sejenisnya; itu terlalu besar. Tidak akan terhapus karena rajinnya sholat ataupun rutinnya naik haji. Adam, itu 40 tahun lamanya terlunta-lunta dalam dosa akibat mencicipi sedikit dari Khuldi. Padahal setelah itu, siang malam ia beribadah memohon ampun kepada Allah. Tapi tidak terima juga. Sampai kemudian, ia membaca sebuah Nama yang ia ingat tertulis di dinding surga. Dengan Nama itulah ia bertawasul. Seketika dosa-dosanya terhapuskan.

Kenapa bisa begitu?

Dalam bahasa Prof. Kadirun, Adam dan juga sang pelacur itu, telah menemukan the infinity, “faktor tidak terhingga” (simbolnya: ∞). Kepada Soekarno Beliau menjelaskan sebuah model matematika sederhana. Sepuluh dibagi faktor tidak terhingga, hasilnya nol (10 : ∞ = 0). Begitu juga dengan seratus, seribu, sejuta atau berapapun; ketika dibagi “faktor tidak terhingga”, hasilnya tetap nol. Dosa, berapapun besarnya, kalau dibagi “faktor tidak terhingga”, hasilnya menjadi nol.

Begitu juga kalau seratus, seribu, sejuta atau berapapun saja; jika dikali “faktor tidak terhingga”, hasilnya menjadi “tidak terhingga”. Begitu juga satu dikali “faktor tidak terhingga”, hasilnya tidak terhingga (1 x ∞ = ∞). Artinya apa? Si pelacur, walau hanya berbuat satu kebaikan saja, tapi menemukan “faktor tidak terhingga”, sehingga hasilnya adalah surga yang tak terhingga.

***

Itulah yang harus ditemukan dalam hidup ini, “Faktor Tidak Terhingga” (The Infinity). Sehingga tidak ada lagi hijab antara anda dengan Allah SWT. Anda memiliki akses langsung kepada Allah SWT. Dosa menjadi terampuni. Dengan faktor ini, amal anda tidak akan dihisab lagi di akhirat nanti.

Itulah Nama yang Adam lihat di Surga, yang dengan Nama itu ia bertawasul sehingga dosa besarnya di-nol-kan oleh Allah SWT. Itulah sholawat. Itulah wasilah. Wasilah adalah pengambilan sebuah “Nama”, yang Nama itu adalah Asma, tajalli, bahkan Diri-Nya sendiri. Nama Allah banyak ditempel dimana-mana. Nama Muhammad juga beredar sangat luas. Hanya saja, ada nama yang palsu (berdimensi duniawi) dan ada yang asli (berdimensi surgawi).

Mengucap nama Allah atau nama Rasulullah yang palsu, itu tidak memberi pengaruh apapun pada diri kita. Atau mungkin sedikit sekali pengaruhnya. Tapi, mengucap Nama yang asli, Nama yang suci, itu bisa menghadirkan langsung Allah SWT. Lisan bisa saja mengucap semua nama secara fasih dan merdu. Tapi Nama atau Kalimah yang asli haruslah sesuatu yang turun langsung dari sisi-Nya. Tidak bisa dibuat-buat. Hanya ruhani yang telah mengenal-Nya yang mampu memanggilnya.

Betapa banyak orang yang mengadu pada Allah, pada Rasulullah. Tapi Allah dan Rasulullah tidak pernah hadir. Karena nama yang ia ucapkan palsu, dari mulut semata. Doa menjadi karamah dan makbul ketika kita menemukan Nama atau Kalimah yang asli, yang ada Allah pada Nama itu. Sebab, sesungguhnya Dzat-Nya tidak pernah terpisah dengan Namanya.

Kisah pelacur yang masuk surga gara-gara memberi minum anjing, itu bukan cerita biasa. Bukan karena sekedar memberi minum anjing ia ke surga. Tapi ia menemukan “wasilah”, jalur atau “frekuensi” yang menghubungkan dia dengan-Nya. Ia menemukan Nama Tuhan yang asli dalam amalannya itu. Sehingga segala dosa besarnya dihapus oleh Allah SWT. Ia mampu menjangkau Tuhan yang maha jauh lewat sebuah channel spiritual, sehingga terdengar dan terjawab segala doanya.

Sholawat yang asli adalah wasilah/frekuensi, wujud kehadiran Tuhan itu sendiri. Allah hadir (bersholawat) pada Nabi (QS. Al-Ahzab: 56). Itulah kenapa Jibril tidak punya kemampuan untuk menghitung semua amal yang ada wujud hakiki dari sholawat. Karena ada Allahnya disana. Ada “faktor tidak terhingga”.

Oleh sebab itu, pekerjaan terberat dalam beragama sebenarnya adalah menemukan “faktor tidak terhingga”. Dan itu adalah para nabi dan warisnya, para “pembawa wasilah” (frekuensi ketuhanan). Menemukan itu, berarti anda menemukan Allah. Sholawat adalah aktifitas memuji-memuji sosok manusia, yang disitu ada Tuhannya, agar ibadah kita diterima. Entah itu syirik atau tidak. Tapi memang begitu kenyataannya.

Kita bersyukur, sejak zaman Adam sampai kiamat nanti, Allah tidak pernah berhenti mengutus “faktor tidak terhingga” kepada setiap kaum dan masa. Agar mereka menjadi wasilah atau channel frekuensi bagi kita dalam mengakses rahmat, keampunan dan kasih sayang-Nya:

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS. At-Taubah [9]: 128).

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin