Articles

“SPIRITUAL AND SCIENTIFIC OBSERVATION”, USAHA MENEMBUS PETALA LANGIT DAN BUMI

Jurnal Suficademic | Artikel No.42 | Maret 2023

“SPIRITUAL AND SCIENTIFIC OBSERVATION”, USAHA MENEMBUS PETALA LANGIT DAN BUMI
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Setelah postingan berjudul “Spiritual Intelligence, Agama dan Pengetahuan Paska Google Search dan ChatGpt” (Jurnal Suficademic, No.40, Maret 2023), seorang kolega bertanya: “Pak Said, apa kita tidak takut akan terbakar kalau melihat Allah?” (QS. Al-Baqarah: 55). Tulisan tersebut menyebut-nyebut bagaimana Allah sebenarnya juga bisa “diobservasi” sebagaimana objek alam (fisika). Namun ada perbedaan antara metode observasi untuk objek fisika dan metafisika.

“Tersambar Halilintar”

Suatu ketika, Bani Israil menantang Musa as untuk bisa melihat Tuhan agar mereka menjadi orang beriman:

وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَخَذَتْكُمُ الصّٰعِقَةُ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ

(Ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum melihat Allah dengan jelas.” Maka, halilintar menyambarmu dan kamu menyaksikan(-nya) (QS. Al-Baqarah [2]:55)

Orang awam dan keras kepala merasa bahwa semua harus bisa diobservasi dengan mata kepalanya, untuk disebut ada. Bayangkan. Matahari saja yang sejenis dan sama-sama unsur materi seperti kita; tidak bisa diobservasi dengan mata telanjang. Bisa buta. Karena matahari memancarkan cahaya api yang kuat.

Konon lagi Allah, puncak dari segala api dan cahaya. Dia Maha Besar, Maha Dahsyat dan punya power yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Bisa hangus kita. Bisa tersambar halilintar. Bisa terbakar dan musnah seketika kita kalau menatap-Nya atau kalau Dia menampakkan Wujud-Nya.

Namun, lewat metode tertentu, matahari bisa dilihat. Ada kacamata khusus untuk itu. Ada alat yang dapat merekam matahari guna bisa kita lihat. Itu namanya “wasilah”. Ada teknologi yang menjembatani kita untuk dapat melihat matahari secara live.

Terkadang, untuk menangkap objek yang berpower, wadahnya harus kuat. Untuk mampu menampung arus 100.000 Watt, mungkin harus dengan kabel baja khusus. Kalau hanya dengan kabel untuk instalasi rumah tangga, seketika akan hangus tersambar api. Maknanya, kalau seseorang ingin menangkap kehadiran Allah, wadah spiritualnya harus diperbesar dan diperkuat. Harus ada kabel dan jaringan spiritual yang kokoh dalam diri untuk mengalami epifani/mukasyafah. Itulah yang disebut “wasilah”, ada jaringan lain yang di-install dalam diri kita sehingga dapat memfasilitasi kita dalam proses mengobservasi kehadiran Allah.

Tiga Level Ontologi: “Atas” (Spiritual), “Menengah” (Intelektual) dan “Bawah” (Material)

Manusia adalah makhluk material, sekaligus spiritual. Dimensi material (inderawi) seperti mata hanya digunakan untuk mengobservasi ontologi kelas “bawah”.

Ontologi ada tiga. Ontologi kelas “atas” (alam metafisika) dan ontologi kelas “bawah” (alam fisika). Metafisika disebut ontologi “atas” karena ia menjadi penyebab bagi segala alam di bawahnya. Satu lagi ada namanya “ontologi filosofis”. Ini hanya menjadi alat mediasi untuk membangun konsep dan reasoning dalam mengkonfirmasi berbagai kebenaran dari fenomena wujud (realitas) yang sedang diriset.

Karena sifat ontologi dunia bawah adalah materi (kasat), segala riset dalam dunia ini harus menggunakan metode empirik inderawi. Jadi, sifat risetnya sangat atomik (materialistik). Hanya wujud material saja yang dapat diobservasi dengan metode ini. Akibatnya, riset ini sangat positivistik.

Sementara, kalau memakai metode positivistik, Tuhan tidak akan pernah terobserve secara inderawi. Sebab; Tuhan, Ruh, malaikat, (batin) Kitab, hari akhir dan takdir semunya realitas metafisik (gaib). Ada, dan hanya bisa diobservasi melalui cara/metodologi berbeda.

Karena itu, untuk bisa berjumpa Allah, metodologi risetnya harus dilengkapi. Sains alam hanya untuk melihat “ayat”, tanda-tanda, fenomena kehadiran atau kekuasaan Allah di ufuk semesta. Allahnya sendiri tidak dapat diobserve.

Dunia barat mengalami “stuck” di semesta materi. Karenanya, mereka tidak percaya kepada adanya Tuhan. Padahal, kalau mereka mau merujuk kepada dokumen-dokumen Yunani kuno yang juga menjadi literatur dasar mereka (selain mengadopsi karya-karya klasik sains Islam), konsep Tuhan dan alam metafisika sudah dipaparkan secara jelas disana. Bahkan karya-karya Aristoteles (384-322 SM) telah dikumpulkan oleh Andronicus Rhodius (60 SM) dan dipilah dalam kategori physics dan methaphysics.

Namun kita paham, Barat pernah kecewa berat dengan agamanya (Kristen). Mereka sudah capek selama 1000 tahun beragama, namun tidak membawa mereka kepada kemajuan. Doktrin-doktrin metafisika kristen justru membuat mereka terjerembab dalam Dark Ages yang sangat panjang (abad 5-15 M). Pada saat yang sama, dalam periode itu, dunia Islam justru berkembang pesat dengan berbagai karya filosofis, saintis dan metafisisnya. Walau kemudian dunia Islam juga mengalami kemiripan nasib. Agama juga terlihat mulai mengekang kebebasan berfikir untuk mengembangkan riset-riset spiritual, khususnya untuk menelaah Tuhan.

Dunia Barat yang materialistik, kalau mereka mau berfikir sedikit ilmiah, mereka harus menerima keberadaan dunia metafisik. Sebab, ontologi metafisik bukan barang baru. Itu wujud yang sudah dibahas miliaran manusia sejak Adam sampai era Yunani, bahkan sampai ke abad Islamic Golden Ages (8-12 M). Artinya, kalau sesuatu sudah dibahas sebelumnya, bahkan banyak sekali berlalu dalam sejarah orang-orang yang mampu menjangkau wujud metafisik, itu berarti “empirical probability” dari dunia metafisik tinggi sekali, alias sangat ilmiah. Artinya, bisa dijangkau kembali secara berulang-ulang sampai akhir zaman.

Nah, ketika ontologi metafisik sudah diakui keberadaannya, tugas selanjutnya adalah mempelajari kembali metode apa yang digunakan researchers terdahulu (mulai dari para nabi, sufi, rahib, resi, pendeta, ulama dan rabi) dalam mengobservasi Tuhan. Ketika metode ini dapat ditemukan lagi, sains spiritual akan kembali berkembang. Maka sempurnalah pengetahuan moderen. Kita tidak hanya menguasai sains alam (yang mengantarkan kita kepada berbagai temuan dan teknologi duniawi), tapi juga membawa jiwa kita via sains spiritual untuk tersambung kembali dengan puncak tujuan (Allah).

Empat Alat Epistemologi: Ruh, Akal, Indera dan Teks

Manusia punya tiga potensi: ruh, akal, indera dan teks. Keempat ini merupakan alat epistemologi untuk memperoleh pengetahuan (mengobservasi berbagai ontologi).

BACA JUGA: “Relasi Agama dan Sains dalam Empat Level Ontologi”

Pertama, “Ruh”. Ini digunakan untuk mengobservasi Allah dan alam-alam yang tinggi. Ruh punya matanya sendiri untuk secara iluminatif melihat hal-hal yang bersifat niskala (immateri). Ruh itu dari Tuhan, nafas dan tiupan-Nya. Karena itu memungkinkan bagi Ruh untuk menjelajah di alam Tuhan. Kita hanya perlu tau, bagaimana metode memperjalankan si Ruh ini.

Ada master, supervisor, profesor atau sufi (para pewaris spiritual researchers) yang menguasai ilmu ini. Tinggal belajar dengan mereka. Bahkan mereka bisa menjadi “cermin” untuk melihat Allah. Ada hal-hal yang tidak bisa diobserve secara langsung. Tapi bisa dilakukan jika ada “wasilah” (cermin). Karena itu dikatakan, menemukan guru spiritual yang tepat, itu sama dengan menemukan Allah. Menemukan nabi dan para walinya adalah makrifat itu sendiri. Ada “Allah” pada wajahnya suci mereka. Wajahnya adalah refleksi (tajalli) dari kekeramatan wajah Ruh. Sehingga, mengingat dan menyebut nama mereka, sinonim dengan mengingat dan menyebut nama Allah. Mereka merupakan pemilik otoritas dari “Asma” (Zikir). Mereka punya ‘license’ (ijazah) dari Allah untuk membimbing dan menyucikan manusia (QS. Al-Baqarah: 151; Aali Imrah: 164).

Kedua, “akal”. Ini alat untuk membangun konsep dan logika (philosophycal reasoning). Akal juga bisa mengetahui bahwa Allah itu ada. Tapi hanya sekedar tau secara filosofis (lewat alam ide), tidak bisa menjangkaunya secara Dzat. Karena itu dikatakan: “Berfikirlah tentang ciptaan-Ku dan jangan berfikir tentang Dzatku”. Nalar hanya bisa digunakan untuk mengakses alam rendah seperti fenomena sosial dan fisika (yang sifatnya material/baharu). Untuk alam Tuhan, itu tidak mampu. Karenanya harus digunakan Ruh untuk melintasi penjuru “langit” Tuhan. Sebab, Ruh adalah unsur ‘sejenis’ dengan Tuhan, abadi (qadim) juga dia. Ketika jasad manusia mati, Ruh tetap hidup.

Ketiga, “indera”. Ini alat untuk menjangkau alam sosial dan dunia fisika. Kapasitas dan kekuatannya sangat rendah. Indera hanya terfokus pada objek-objek yang memiliki ruang dan waktu. Tidak bisa digunakan untuk melihat Tuhan. Bisa hangus “terbakar” (“tersambar”) halilintar.

Keempat, “teks“. Teks bisa dalam bentuk apapun. Bisa “teks suci” (Quran) ataupun yang tidak suci (karya ilmiah atau berbagai catatan manusia). Pertanyaannya, bisakah teks semacam Quran digunakan untuk mengobservasi Tuhan seperti halnya Ruh, akal dan indera?

Quran adalah “ontologi teks”. Dia hanya teks, yang bernilai suci (tidak ada error). Yang namanya teks, fungsinya hanya sebagai alat untuk memperoleh “informasi”. Jadi, Quran itu hanya sebagai berita, referensi, bahan bacaan, daftar pustaka, dalil, hukum, proposisi, argumentasi atau teori untuk memahami alam sosial, fisika dan metafisika. Kalau dalam metode ilmiah, Quran itu ada di Bab 2 (Kajian Pustaka). Sementara ruh, akal dan indera ada di Bab 3 (alat untuk mengukur dan menguji berbagai wujud ontologi). Para saintis Islam mengalami kemajuan sehingga menghasilkan berbagai realitas peradaban setelah menggali berbagai informasi dari Quran; selain menguji kembali berbagai teks sains dan filosofi Yunani.

BACA: “Syariat-Tarikat-Hakikat-Makrifat”: Metode Ilmiah dalam Beragama

“Manusia Sempurna” (Insan Kamil): Kombinasi Empat Alat Epistemologi

Karena itu; keberadaan informasi dalam teks suci, kemampuan observasi mata inderawi dan rasionalitas harus dipadukan dengan mata qalbu (ruh/jiwa) agar seseorang menjadi manusia sempurna (insan kamil). Mata qalbu punya daya tampung Ruhani yang sangat kuat untuk menyerap unsur-unsur Dzat dari realitas hakiki:

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh” (QS. Al-Ahzab: 72).

“Amanat Allah” adalah unsur-unsur dari Allah sendiri. Makanya gunung walaupun terlihat kokoh tidak mampu menerimanya, bisa lebur (lihat kasus gunung hancur luluh pada kisah Musa, QS. Al-‘Araf: 143). Karena dimensi gunung bersifat material. Tapi manusia, walaupun juga makhluk material yang “bodoh”, mampu menerima amanat “kehadiran-Nya” (kerasulan). Sebab, ada elemen qalbu yang dapat menampung (mengobservasi) kehadiran Ilahi. Inilah sesuatu yang malaikat dulu tidak tau, sehingga diprotesnya kejadian manusia (QS. Al-Baqarah: 30).

Pincangnya dunia pengetahuan kita hari ini terjadi akibat lemahnya penguasaan unsur-unsur ruhani. Sehingga riset-riset hanya terpusat pada kekuatan inderawi (positivistik-empirik).Jika kelemahan ini dapat diperbaiki, seluruh penjuru langit dan bumi bisa dijelajahi. Jika tidak dengan sains alam, maka bisa digunakan sains spiritual.

Sains alam dan sains spiritual, dua hal inilah yang disebut “illa bi sulthan” (QS. Ar-rahman: 33) untuk menjangkau ontologi apapun. Baik penjuru “langit” yang immaterial ataupun “bumi” yang material. Melalui kedua sains ini memungkinkan bagi kita untuk berada di dua tempat pada waktu bersamaan, di langit sekaligus di bumi. Menjadi makhluk spiritual sekaligus material. Berada di dunia sekaligus di akhirat. Itulah sebenarnya wujud Adam. Makhluk surgawi sekaligus duniawi. Tercipta dengan unsur-unsur bumi, tapi hidup dengan kecanggihan spiritual. Wujudnya fisikal, tapi mampu menjangkau keberadaan Tuhan di surga. Asal kita, secara spiritual (metafisis) memang dari surga.

Islam itu sebenarnya agama yang dahsyat sekali. Nabinya hadir untuk menyampaikan kepada kita, bahwa riset/metode perjalanan (mikraj) menuju ontologi metafisik bisa dilakukan. Beliau mewariskan “kasus” ini kepada kita, bahwa itu sifatnya metodologis. Bisa dilakukan, tapi bukan lewat teknologi standar atau kekuatan akal. Melainkan dengan sains atau “teknologi spiritual”.

BACA: “Quantum Teleportation: Teknologi Israk Mikraj”

Tidak lama setelah Muhammad SAW tiada (571-632 M), hanya satu abad setelahnya, dalam dunia Islam mulai lahir para filsuf dan saintis. Hanya 148 tahun setelah Nabi wafat, lahir misalnya Al-Khawarizmi (780-850 M), ahli sains matematika, one of the most influential thinkers of all ime. Tanpa revolusi konsep aljabar dan algoritma yang ia susun kembali, semua pengukuran di alam semesta menjadi impossible. Bahkan internet kita hari ini pun tersusun dari logika dan ekuasi ini.

Muhammad SAW, sesaat sebelum lahir para saintis ini telah membuktikan bahwa onntologi metafisik (Tuhan) bisa dijangkau oleh manusia biasa seperti dirinya. Para ulama dan saintis penerusnya kemudian menurunkan dan menjabarkan lagi pencapaian ini, tanpa meninggalkan Tuhan, bahwa alam dan masyarakat juga bisa dikelola dan dimengerti. Spirit sains spiritual dan sains alam inilah kekuatan sejati dari Islam. Kalau salah satunya hilang, cacatlah keislaman kita.

Penutup

Sangat universal sekali cara kerja saintis muslim di era awal. Berbeda dengan cara pandang radikal sejumlah ulama (ustadz) kita dengan alam pikiran Yunani; yang seolah-olah cacat semua dan bukan Islam sama sekali. Para filsuf dan sufi justru percaya, banyak orang bijak dan ahli pikir Yunani yang jadi nabi. Karenanya, para salaf (saintis awal) tidak hanya menjadikan Quran (“teks dunia timur”) sebagai rujukan, tapi juga mengolah kembali literatur Yunani (“teks dunia barat”) dan juga berbagai hikmah dan pengetahuan dari Babilon dan India sebagai bahan evaluasi. Dunia akademis memang begitu, tidak boleh rasis. Melihat timur dan barat sebagai satu kesatuan, untuk membangun the next level dari peradaban.

Selain berpegang pada teks atau referensi yang telah ada, mereka menggunakan kekuatan observasi dari akal, indera dan ruh untuk menemukan berbagai wujud ontologis. Baik yang ada dalam dunia fisika maupun metafisika. Sehingga pencapaiannya sangat mengagumkan. Mereka menjadi ilmuan yang juga akrab dengan Tuhan. Cerdas sekaligus karamah. Saintis, sekaligus spiritualis. Berada di bumi, sekaligus di langit.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
FOLLOW US
:
saidmuniruddin.com, “The Suficademic”

3 Comments

  1. SUTOKHAWAS Al majnun

    Assalamualaikum…
    Dengan Al Qur’an karena kalamNya in sya Allah kita bisa mencapai tingkat makrifat.Dg memasuki alam firman itu

    Wassalam

  2. Anonymous

    Mencerahkan

  3. Dani

    Terima kasih.

Komentar Anda

%d bloggers like this: