BOLEHKAH MELAKUKAN HAL YANG TIDAK PERNAH DIKERJAKAN NABI?

Jurnal Suficademic | Artikel No.54 | April 2023

BOLEHKAH MELAKUKAN HAL YANG TIDAK PERNAH DIKERJAKAN NABI?
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Jawabannya, boleh. Sejauh ada izin Allah. Itulah yang disebut “InsyaAllah” (dengan izin Allah).

Tidak hanya minta izin langsung kepada Allah. Anda juga bisa minta izin kepada Rasulullah. Itupun kalau Anda percaya “Rasulullah” masih hidup. Muhammad bin Abdillah memang sudah meninggal. Tapi apakah dia itu total sudah mati? Bagaimana dengan “Ruhaninya”? Apakah sudah mati juga?

Tidak. Hanya jasad Muhammad yang sudah mati. Ruhnya abadi. Ruh Muhammad adalah wujud dari Nur Muhammad (Nurullah/Nurun ‘ala Nurin, QS. An-Nur: 35). Nur Muhammad merupakan Ruh “utusan” Allah dalam diri Muhammad. Ruh “super cerdas” inilah yang disebut Rasulullah. Hakikat dari Muhammad adalah Ruh yang Maha Hidup.

Karena kita percaya bahwa Nabi dalam konteks Ruh masih hidup; maka dalam setiap doa selalu kita sampaikan salam dan shalawat. Termasuk dalam shalat. Salam itupun kita ucapkan dalam bentuk sapaan langsung kepada “orang pertama tunggal”. Seolah-olah Beliau masih hidup dan hadir di depan kita: “Assalamualaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakatuh”. Baru kemudian kita bersyahadat. Seolah-olah (Ruh) Beliau hadir dan langsung tersaksikan oleh mata batin kita: “Asyhadu an-la ilaha illa Allah, wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”.

Islam itu, pada prinsipnya adalah “agama gaib”. Islam adalah tata cara berhubungan dengan hal-hal gaib. Fungsi dan hakikat shalat adalah bentuk komunikasi dengan ontologi gaib. Allah, malaikat, rasul; itu semua gaib. Kita diarahkan untuk mampu membangun komunikasi dengan semua elemen gaib itu. Setelah tembus ke alam gaib dan mengenal Allah, baru kemudian kita diberikan amanah sebagai “wakil Allah” (khalifatullah) untuk mengurus berbagai program di dunia nyata. Baik penjuru “langit” (alam gaib) maupun penjuru “bumi” (alam material), itu ada spesifikasi ilmu dan seni (“sultan”) untuk menembusinya. “La tanfudzuu illa bi sulthan” (QS. Ar-Rahman: 33).

Dua Level Beragama: “Meniru” (Level Material) dan “Minta Izin Langsung” (Level Spiritual)

Kita semua sepakat, patron beragama adalah “Kalam Ilahi” (Quran) dan “Pribadi Nabi” (Sunnah). Hanya saja, kedua unsur ini punya tingkatan wujud yang berbeda. Baik Quran maupun Sunnah, ada level yang sifatnya “material”, ada level yang wujudnya sangat “spiritual”.

Quran pada level “material” adalah teks/buku/tulisan Quran. Kalau ingin beramal, silakan baca teks, pahami dan tafsirkan. Sunnah juga begitu. Sunnah adalah riwayat ataupun dalil historis teks tentang kepribadian Nabi. Silakan kumpulkan teks riwayat, pahami dan tafsirkan. Lalu tiru dan amalkan.

Itulah yang dimaksud beragama pada level syariat. Syariat adalah beragama pada dimensi “historis” dan “material”. Harus ada dalil ayat dan riwayat dari masa lalu untuk mengamalkan sesuatu. Agama, pada level ini, adalah “meniru” Nabi sesuai dalil dan riwayat. Kalau tidak ada ayat dan riwayat secara material, Anda bisa dihukum sebagai pelaku “bid’ah”. Agama pada level syariat sangat kaku dan selalu merujuk ke masa lalu. Memang begitu karakter syariat. Awal beragama memang harus seperti itu, seperti anak-anak, belajar dengan meniru.

Selanjutnya, ada level beragama yang lebih dewasa, kreatif dan fleksibel. Yaitu agama pada level “spiritual”. Spiritual artinya “spirit”. Spirit adalah “ruh” (jiwa) yang maha hidup. Beragama pada level ini adalah bentuk interaksi langsung ruh kita dengan para malaikat dan Ruhul Quddus. Gerak kita sudah sangat dinamis dan decisive; sesuai muraqabah, hidayah dan vibrasi tuntunan dari Allah. Beragama pada konteks ini bukan lagi sekedar meniru teks mati dari lembaran ayat dan hadis.

Ketika bicara Quran dan Sunnah, pada level “spiritual”, itu bukan lagi teks mati. Tapi sudah unsur hidupnya. Quran adalah “Kalam Ilahi”, Ruh dan unsur-unsur malakut yang maha hidup dan senantiasa berbicara. Pada level spiritual, Quran adalah Allah itu sendiri. Yaitu Kalam yang berkata-kata secara langsung, tanpa huruf dan suara, dalam lembaran jiwa manusia.

Sunnah juga begitu. Pada level “spiritual”, Sunnah bukan lagi kitab hadis atau teks riwayat. Melainkan “pribadi hidup” (Ruh) dari sang Nabi. Ruhnya terwarisi sepanjang masa dan terus menjadi saksi bagi sekalian manusia. Walaupun Nabi tidak pernah mengerjakannya, sebuah tindakan tetap akan bernilai “Sunnah” ketika terkonfirmasi dengan Ruhani Nabi. Dulu, saat Nabi masih hidup, ada orang-orang yang mengerjakan sesuatu yang tidak dikerjakan Nabi. Sejauh Nabi setuju, itu boleh. Kalau Nabi tidak setuju, itu tidak boleh.

Hukum yang sama masih berlaku sampai sekarang. Kalau yang Anda kerjakan telah disaksikan dan disetujui (Ruh) Nabi, lanjutkan. Jika tidak, stop. Sebuah tindakan akan menjadi bid’ah, kalau ada getaran Ruhani yang hadir untuk melarang itu.

Jadi, ibadah dan muamalah itu bukan sekedar meniru yang kita persepsikan baik. Ini persoalan Nabi setuju atau tidak setuju. Meskipun dulu Nabi pernah mengerjakan itu, kalau saat kita kerjakan Nabi justru tidak setuju, tinggalkan. Tidak semua perilaku meniru Nabi itu bagus. Kecuali diridhai Allah/disenangi Nabi. Intinya bukan pada meniru. Melainkan pada rasa senang Allah dan Rasulnya atas apa yang kita lakukan pada setiap konteks zaman. Untuk mencapai level ini, jiwa kita harus menyatu dengan jiwa Nabi.

Membangun Komunikasi Spiritual

Kunci naik level dalam beragama, dari “meniru” ke “menyatu” adalah pada kedewasaan spiritual. Melalui metode tertentu, kita sebenarnya mampu membangun “sanad spiritual” (jaringan komunikasi batiniah) dengan Nabi. Muhammad, kalau tidak punya kemampuan ini, tentu ia tidak mampu berinteraksi dengan para nabi sebelumnya.

Kenyataannya, Beliau mampu berkomunikasi dengan mereka saat malam Israk Mikraj. Nabi malah sempat memimpin mereka semua saat shalat di Masjidil Aqsha. Artinya, secara ruhaniah, seseorang mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan segala ruhani. Ilmu “tariqah” adalah ilmu untuk mengaktivasi sanad spiritual semacam ini. Ada matriks energi yang bisa dihidupkan, sehingga kita semua terhubung kembali dengan semua entitas ruhani yang ada di alam semesta.

Bisa saja dalam mengamalkan sesuatu, Anda tidak menemukan dalil material ayat dan hadis. Atau bahkan tidak hafal Quran dan hadis. Tidak perlu susah. Jika kapasitas spiritual Anda bagus, Anda dapat bertanya secara langsung kepada Allah/Rasulullah. Itulah Sahabat sejati kita. Boleh jadi, Allah dan Rasulnya akan memberi izin kita izin untuk melakukan itu. Jika tidak diizinkan, maka tinggalkan. Kita tidak bisa meminta sesuka hati. Dia lebih tau isi hati kita. Allah lebih tau apa keinginan dan kebutuhan kita.

Tidak sembarangan kita bisa mengutak atik hukum syariat, tanpa izin Allah. Hanya seorang mujaddid yang bisa “memperbaharui” sebuah hukum, sesuai kehendak Allah. Mujaddid itu tentunya seorang yang punya kemampuan berkomunikasi dengan Allah. Ia bisa disebut sebagai imam, walimursyid atau nama lainnya. Karenanya, fatwa-fatwa seorang imam atau walimursyid, baik dalam mazhab spiritual Syiah atau Sunni, itu cenderung disetarakan dengan “hadis” (Sunnah). Karena, yang berbicara dan memutuskan bukan hawa nafsu. Melainkan unsur-unsur ruhaniahnya yang suci. Perlu latihan penyucian ruhani yang intensif untuk mencapai makam-makam kekudusan “suara hati”.

Karena itulah, sufi cenderung hadir dalam cara-cara kreatif. Atas izin Allah, seorang wali berani melakukan asimilasi budaya lokal dengan nilai-nilai universal dari agama. Karenanya, Islam yang dibawa para wali cenderung adaptif dan tidak radikal. Ditangan mereka, Islam dapat didakwahkan sesuai konteks tempat dan zaman. Mereka melakukan islamisasi budaya. Bukan arabisasi agama.

Karenanya, beragama pada level “spiritual” lebih fleksibel dan kreatif. Sebab, Anda terkoneksi dengan Wujud yang Maha Hidup dan Maha Berkata-kata (Allah dan Rasulullah). Ini tidak berarti bahwa Anda bisa beribadah dan merombak agama suka-suka. Sebab, banyak perjanjian syariat yang qath-i antara Allah dengan Nabi. Semua itu secara alamiah mengikat kita semua. Kita semua diharapkan patuh pada itu. Artinya, sulit membuat hukum-hukum ibadah mahdhah baru.

Syariat secara umum sudah selesai diturunkan kepada Khatamun Nabi. Namun, ada celah-celah pengamalan yang lebih “rileks dan fleksibel”, sesuai konteks dan kondisi. Karena itu memungkinkan lahirnya mazhab berbeda dalam praktik sesuai lokalitas dan situasi. Karena itu, aplikasi syariat dalam dunia ibadah dan muamalah, pertama, itu tergantung dalil riwayat (best practice terdahulu). Anda bisa taklid secara penuh kepada doktrin teks atau sampel contoh sebelumnya. Kedua, Anda bisa melakukan komunikasi/negosiasi dengan Allah untuk merumuskan best practice dan kearifan baru sesuai kebutuhan dunia Anda. Antum ‘alamu bi umuri dunyakum.

Ketika telah terkonfirmasi kebenarannya secara “spiritual laduniah” kepada Allah dan Rasulullah, semua gerak dan keputusan Anda akan bernilai “Sunnah”. Jadi, Sunnah itu bukan sekedar meniru “historis” sebuah teks/riwayat. Tapi hakikatnya adalah memperoleh izin “aktual” dari-Nya. Semua gerak Nabi disebut Sunnah, sebab saat itu langsung terkonfirmasi kebenarannya kepada Allah. Sejauh Ruh (spiritual) kita telah mengenal Allah, kita juga bisa menauladani hal yang sama.

Penutup

Karena itu, ilmu tertinggi dalam Islam adalah ilmu tata cara berhubungan secara langsung dengan Allah. Allah itu ada. Maha hidup. Maha berkata-kata. Maha mendengarkan. Maha menjawab. Ketika disebut “Kembali ke Quran dan Sunnah”, pemaknaan tertingginya adalah kembali ke Ruhani yang Maha Hidup dari Allah dan Rasulullah. Bukan sekedar kembali ke buku teks Quran dan hadis.

Karena itulah, perjalanan agama ini bertingkat. Mulai dari level material (syariat) sampai ke level spiritual (tarikat). Di level syariat, beragama dilakukan secara statis dengan meniru teks. Di level tarikat, seseorang akan mencapai vibrasi gerak yang sempurna karena dibimbing secara langsung oleh al-Ruh al-Ilahi. Di level inilah seseorang akan mencapai pengalaman-pengalaman makrifat.

Nabi SAW menempuh jalan spiritual ini untuk mengupgrade kecerdasannya. Sebagai seorang pedagang dan pengamal ajaran Ibrahim yang hanif, Beliau tentu sangat paham syariat yang diwariskan oleh ayah, ibu dan kakeknya. Beliau pasti bisa membaca banyak teks. Tapi, pada level tarikat, ia memilih menjadi “ummi”. Ia berusaha melampaui bacaan. Tidak terhenti pada teks, ia justru mampu mengkoneksikan diri secara langsung dengan Pemilik Teks. Membaca teks itu penting. Tapi, terhubung dengan Pemilik teks, itu jauh lebih penting.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
FOLLOW US
:
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

Next Post

"THE POWER OF KALIMAH": TAHLIL ITU SENJATA DAN TELEPORTER AMAL

Sun Apr 30 , 2023
Jurnal […]

Kajian Lainnya