BERAGAMA, DARI MONOLOG KE DIALOG

Jurnal Suficademic | Artikel No.71 | Juni 2023

BERAGAMA, DARI MONOLOG KE DIALOG
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Biasanya, seseorang dikatakan gila, kalau sudah mulai bicara sendiri. Memang begitu. Orang gila, rata-rata suka ngomong sendiri. “Monolog” sifatnya. Saat bicara, dia berhalusinasi, menganggap ada lawan bicara yang hadir di depannya. Sementara, bagi kita yang “sehat”, ketika berbicara, itu ada komunikan lain yang hadir di hadapan kita. “Dialogis” sifatnya.

Beragama, Dari Level “Gila” ke Level “Sehat

Pernahkah kita berfikir, sebenarnya, cara beragama juga terbangun pada dua level itu. Level “gila” dan level “sehat”.

Pada level “gila”, kita komat-kamit sepanjang waktu. Terus berbicara. Terus meminta kepada Tuhan. Mungkin dengan bahasa-bahasa yang sangat fasih. Sementara, Tuhan tidak pernah hadir. Tidak pernah menjawab. Kita saja yang menghayal, bahwa Dia mendengar dan menjawab. Sangat monolog.

Pada level “sehat”, Anda juga melakukan hal serupa. Bertanya banyak hal kepada Tuhan. Mengeluh berbagai masalah kepada Tuhan. Meminta pendapat kepada Tuhan. Memohon fatwa-fatwa dari Tuhan. Dengan Tuhan, Anda berkata-kata, berdoa dan berbicara. Tapi, Dia menjawab!

Misalnya, Anda bertanya, “Ya Allah, bolehkah saya minum sanger sekarang?”. Lalu Dia membalas, “Gak boleh”. Anda kembali bertanya, “Ya Allah, benarkah orang bersurban yang sedang bicara di depan saya ini seorang alim agama?”. Allah menjawab, “Bukan, itu setan”. Anda bertanya lagi, “Ya Allah, menurut ayat dalam Quran , seorang laki-laki boleh beristri 4. Saya baru punya 1 istri, bolehkan saya kawin satu lagi tahun ini?”. Allah menjawab, “Tidak boleh, haram!”. Sesekali Anda menyapa, “Ya Allah, saya ingin naik caleg tahun 2024, Yes or No?”. Allah mereply, “Yes!”. Anda juga bisa bertanya, “Ya Allah, ada ulama mengatakan bahwa hukum bunga bank itu halal. Ada juga yang berpendapat, itu haram. Bagaimana menurut Engkau; halal atau haram?”.

Ajukan terus berbagai keresahan. Coba dengarkan, apa jawab-Nya. Sesekali jangan marah, kalau Allah tidak mau menjawab gara-gara banyak kali bertanya. Mungkin pertanyaan pun tidak berkualitas. Pun, tidak semua pertanyaan harus dijawab.

Kalau sudah sampai pada level mampu meng-encode message secara benar, lalu mampu memperoleh feedback atas berbagai pesan yang telah dikirim; itu level agamanya sudah “sehat”. Komunikasinya sudah efektif. Pada level “dialogis” seperti ini, Allah itu sudah men-‘zahir’ (nyata). Dia telah hadir bersama Anda. Dia telah ber-Kalam, telah bersedia memberi hidayah berupa wahyu/ilham secara langsung kepada Anda.

Pada level ini, Dia telah merespon pertanyaan, kegalauan, pemikiran dan kegundahan kita. Kita tidak lagi bicara sendiri, seperti orang gila. Kita tidak lagi sekedar menafsirkan sesuatu secara monologis menurut alam akal dan pikiran kita sendiri. Pada level “dialogis”, sudah terbangun hubungan aktif dengan Allah. Dialah Teman terbaik tempat bertanya. Dialah Penolong Anda.

Kita Semua dalam Mode “Gila”?

Apakah dengan demikian, kita semua sedang berada dalam mode “gila” beragama?

Iya, kalau kita merujuk pada penjelasan di atas. Sejauh masih berbicara dengan tembok mati, kita belum sehat dalam beragama. Tuhannya belum “hidup”, masih memberhala. Kita berbicara dengan sesuatu yang tidak menjawab, diam saja. Itukan gila. Mungkin kita tidak mau mengakui, bahwa kita gila. Mana ada orang gila yang mengaku gila. Justru orang sehat yang dituduh gila oleh orang gila.

Karenanya, para nabi dituduh gila. Gara-gara mengaku bisa naik ke langit. Atau gara-gara mengaku telah bertemu malaikat, bisa berjumpa dan berbicara dengan Allah; dan sebagainya. Para nabi banyak yang diusir, dituduh sesat, gara-gara terlalu sehat dalam beragama.

Memang, ada sejumlah orang yang suka berbohong. Mengaku telah bertemu dan bercakap-cakap dengan Allah. Karena si “kadzab” inilah, orang-orang menjadi tidak percaya lagi kepada para nabi/wali yang memang mewarisi kemampuan itu. Karena itu pula para wali (sufi) sangat berhati-hati, bahkan cenderung silent kepada publik, dalam mengungkap pengalaman spiritualnya. Salah-salah bisa dituduh gila, oleh orang-orang gila.

Hati yang “Tertidur” (Mati)

Mungkin terlalu kasar kalau kita menyebut diri sendiri, dan orang-orang yang serupa dengan kita, sebagai orang “gila” (gara-gara selalu monolog dalam bertuhan). Bisa marah mereka. Karenanya, bahasanya dilembutkan. Menjadi orang “awam”. Sama saja sebenarnya. Sama-sama belum sehat, belum cerdas akal ruhaniahnya.

Imam Ali menggunakan istilah yang lebih lembut untuk menyebut kita yang “awam” (“gila”) ini. Beliau mengatakannya sebagai “tertidur”. Kata Beliau, “Manusia itu tertidur, kalau mati baru terjaga”. Orang-orang “tertidur” adalah orang-orang yang qalbunya belum hidup. Qalbu membawa gelombang “ukhrawi”. Karenanya, jika dapat diaktivasi, ia mampu berkomunikasi dengan Allah. Orang-orang yang “tertidur”, gelombang ruhaniahnya masih mengalami hibernasi. Lataif qalbiahnya (God-Spots) belum mampu terkoneksi dengan Yang Maha Hidup dan Maha Berbicara.

Sementara, untuk orang-orang seperti ini, Quran menyebutnya sebagai orang “mati”. Fisik mereka hidup. Qalbunya yang mati. Sehingga tidak mampu membangun interaksi yang dialogis dengan Tuhannya. Tidak bisa mendengar dan melihat kehadiran Al-Haqq. Manusia yang hatinya mati disetarakan dengan “mayat hidup”. Hidup, tapi mati. Hidup, tapi tidak terkoneksi dengan Allah yang Maha Hidup. Mereka bergerak dan bernafas selayaknya makhluk hidup. Tapi tidak ruju’, tidak wushul, tidak mengalami liqa’ dengan Allah. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka. Pada penglihatan mereka ada penutup, dan bagi mereka azab yang sangat berat (QS. Al-Baqarah : 7).

Karena itulah, Quran adalah “Kalam” yang berbicara hanya kepada orang yang (hatinya) hidup. Tuhan hanya berdialog dengan orang-orang yang qalbunya tidak mati:

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ

“.. (Wahyu) itu tidak lain hanyalah peringatan dan bacaan yang jelas. Supaya dia memberi peringatan kepada orang-orang yang (hatinya) hidup .. (QS. Yâsîn: 69-70).

Agama “Monologis” vs. Agama “Dialogis”

Berdasarkan kondisi ini, agama dibagi dua. Pertama, agama “monologis” (meditatif). Kedua, agama “dialogis” (interaktif).

Semua agama di dunia (i.e., Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu dan lainnya), itu punya spiritualitas. Semua mengajarkan tata cara berhubungan dengan Tuhan dalam berbagai ritual. Apakah dalam bentuk shalat, meditasi, dan lain sebagainya. Coba Anda perhatikan cara sejumlah umat agama beribadah, itu mirip-mirip dengan cara kita shalat dalam Islam. Baik di Kristen ortodoks, Yahudi maupun Budha; itu ada berdiri, rukuk dan sujudnya. Pertanyaannya, apakah semua ibadah yang dilakukan itu mampu membuat hubungan mereka “dialogis” dengan Tuhan?

Hindu dan Budha misalnya, itu sangat terkenal dengan ritual meditasi dan Yoga. Pertanyaannya, apakah itu membuat mereka bisa berdialog secara interaktif dengan Tuhan? Atau hanya sekedar untuk mengosongkan pikiran saja, agar hati jadi tenang.

Semua agama mengajarkan “ketenangan”. Sebenarnya, lewat tidur pun kita bisa tenang. Tidak perlu susah payah beragama. Kalau bisa tidur nyenyak, pasti otak menjadi tenang. Fungsi meditasi sebenarnya juga mirip-mirip itu. Tujuannya untuk membawa gelombang kesadaran otak; dari Beta Waves yang terlalu kritis, ke level frekuensi lebih santai. Sehingga seseorang bisa mengalami relaksasi di level Alpha Wave. Atau bahkan sampai tertidur, baik dalam bentuk “light sleep” di level Theta Wave, ataupun “deep sleep” di level Delta Wave.

BACA: “SPIRITUAL BRAINWAVES”, MENATA GELOMBANG YANG BERKESADARAN ILAHI

Agama bukan sekedar “meditasi” (monolog dan ketertiduran). Agama bertujuan membawa manusia ke level “keterjagaan” (enlightened). Makna enlightened, kalau meminjam istilah brainwaves, adalah aktifnya kesadaran ruhaniah pada level “Gamma”. Gelombang qalbu (“atas sadar”)-nya menjadi aktif. Baik dalam keadaan mata tertutup (meditatif) ataupun terjaga (interaktif); seseorang mampu berbicara dengan Allah (dialogis).

Agama meditatif cenderung menuhankan “alam semesta”. Meditasi yang banyak diajarkan sekarang, itu hanya membawa kesadaran manusia untuk mencapai keseimbangan dengan gelombang material lainnya yang ada di alam semesta. Hasil akhirnya juga “tenang”. Tapi tidak membawa kepada kondisi keterjagaan spiritual. Tidak membawa pelakunya kepada perjumpaan yang dialogis dengan Tuhan pemilik alam (Rabbul ‘Alamin).

Karena bisa memberi bentuk-bentuk ketenangan tertentu, ajaran meditasi (Yoga) kini banyak diminati. Khususnya di Barat. Tidak harus menjadi orang beragama untuk dapat melakoni ritual ini. Sebab, ujungnya bukan untuk mencapai kondisi “ridha dan diridhai” (mampu rujuk dan dialogis dengan Tuhan). Bahkan banyak dari praktisi Yoga dan meditasi tidak percaya kepada adanya Tuhan. Meditasi dilakukan hanya sekedar untuk mengejar level ketenangan tertentu (muthmainnah). Rasa “tenang” inilah yang langka dalam era industrialisasi dan individualisme dunia moderen.

Kalau jiwa sudah tenang, akhlak biasanya juga akan membaik. Makanya, banyak biksu dan pendeta yang baik budinya. Karen mereka juga rajin melakukan meditasi. Masalahnya, apakah meditasinya itu membawa mereka berjumpa dengan Allah, itu yang perlu kita selidiki kembali. Siapapun yang bisa menenangkan hati, dengan cara apapun, perilakunya akan menjadi teduh.

Mencapai Level Dialogis

Islam, melalui tradisi sufistiknya, ingin membawa manusia melampaui ritus meditatif. Selain untuk mencapai ketenangan jiwa, juga agar terbuka “hijab” untuk menyaksikan Wajah Allah. Tujuan ritual agama adalah untuk membawa manusia kembali kepada Wujud aslinya, kembali ke dimensi surgawi dari fitrah ketuhanan, ke the Source of creation. Itulah wujud ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki (a blissfull life).

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ [27] ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ [28] فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ [29] وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ [30]

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. dan masuklah ke dalam surga-Ku! (QS. Al-Fajr [89]: 27-29)

Agama, melalui ajaran-ajaran hakikatnya, ingin membawa manusia kembali “dialogis” dengan Tuhan. Ridha dan diridhai bermakna “berbalas” (dialogis). Ada messages (ridha). Ada feedback (mardhiyyah). Bukan cuma kita yang aktif mengirim pesan kepada-Nya (ridha). Tapi Dia juga mengirim feedback (mardhiyyah) kepada kita. Dalam bahasa serupa, Allah berkata: Fadzkuruunii, adzkurkum. “Kau ingat aku, kuingat engkau” (QS. Al-Baqarah: 152). Berbalas. “Kau tanya, Kujawab!”. Ud-‘uni astajib lakum (QS. Gafir: 60).

Kalau ber-Islam masih pada tataran khusyuk, yang bersifat “meditatif” (monolog), maka level keislaman kita masih sama dengan level spiritualitas agama-agama lainnya yang diduga telah “terputus” dengan Tuhan. Yahudi, apa kurang khusyuknya. Demikian juga Hindu dan Budha, apa kurang zikirnya. Namun, kekhusyukan itu bersifat “one-way communication”. Cuma manusianya saja yang aktif komat-kamit membaca kidung dan mantra. Tuhannya diam saja.

Sementara, kalau model khusyuknya sudah “dialogis”, itu pertanda kita mulai menauladani level keislaman para nabi. Mereka khusyuk, dalam berdialog dengan Allah. Setiap bacaan shalat dijawab oleh-Nya. Karenanya, shalat seperti itu disebut “mikraj”, tembus ke ruang Tuhan. Sudah terbangun “two-way communication”. Saat membaca doa, mereka mulai mendengar berbagai jawaban dan respon dari Tuhannya. Ada muraqabah ataupun yaqazahnya. Inilah level “sehat”, “sadar” atau “hidup”. Sudah dalam kondisi “terjaga” (spiritually awake) saat beragama.

Untuk mencapai level komunikasi transendental yang efektif (dialogis), kalau kita pelajari ilmu komunikasi; itu antara sender dengan receiver ada “channel” penyampai pesan. Antara seorang hamba dengan Tuhan, itu harus jelas, channel apa yang digunakan untuk mengirim pesan. Jika channel/media atau teknologi pengirim frekuensi dan gelombang pesan tidak tepat; Tuhan tidak akan menjawab.

Dialogis atau tidaknya dalam bertuhan, itu sangat ditentukan oleh “wasilah” (media/channel/teknologi spiritual) yang digunakan. Banyak agama yang telah kehilangan “wasilah”. Sehingga terjatuh menjadi agama meditatif-monologis semata. Islam masih punya itu. Masih ada waris nabi/rasul yang dapat dijadikan menjadi channel, satelite atau hotspot untuk mengirimkan pesan, untuk berdialog secara live dan interaktif dengan Allah.

BACA: “SPIRITUAL HOTSPOTS”

Kesimpulan

Kami teringat kata-kata Guru. “Islam itu agama dialogis, bukan meditatif”. Apa yang telah kami urai di atas adalah menjelaskan makna itu. Kita bukan sekadar agama tutup mata lalu komat-kamit baca doa. Lalu merasa bahwa Tuhan mendengarnya. Kita menganut agama yang diwarisi para nabi, yang diajak untuk bisa berdialog dengan Sang Ilahi. Bukan ngomong sendiri. Sebab, Allah itu ada. Maha mendengar dan maha berkata-kata.

Karena itu, kualitas ilmu dan praktik keislaman harus terus di upgrade. Dari level awam, ke level pencerahan. Dari model meditatif, ke bentuk yang interaktif. Dari monolog, ke dialog.

Sejak tahap awal beragama, cara berbicara dengan Allah memang sudah dilatih. Terutama melalui shalat maupun doa-doa. Namun, pada level ini, Allah masih bersifat Maha Batiniah. Gaib mutlak. Tidak terjangkau. Tidak dapat diajak berkomunikasi. Yang paling bisa kita lakukan hanya bicara sendiri. Lalu berimajinasi, “seolah-olah kita melihatNya, atau minimal berprasangka bahwa Dia melihat kita”. Itu cara terbaik untuk tidak sepenuhnya dianggap sedang bicara sendiri.

Pada level selanjutnya, lewat sayr wa suluk, lewat mujahadah dan zikir-zikir yang tersalurkan via channel yang suci, kita bisa mengetuk pintu hati-Nya. Sehingga ia mau membuka diri untuk “turun” (tanazzul) menyapa kita. Pada level ini, pola beragama akan menjadi sangat interaktif. Relasi hamba dengan Allah akan berada pada level yang dialogis. Karena itulah, banyak sekali ayat tentang zikir. Fungsinya untuk menghidupkan hati:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ مَثَلُ الْحَىِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan tidak berdzikir bagaikan orang hidup dan orang mati” (HR. Bukhari)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
FOLLOW US
:
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

3 thoughts on “BERAGAMA, DARI MONOLOG KE DIALOG

Comments are closed.

Next Post

"YUSUF ZULAIKHA": SYAIR CINTA ANTARA MEULABOH DAN KUTARAJA

Thu Jun 15 , 2023

Kajian Lainnya