METODE “SPIRITUAL-SENSORIK” DALAM RISET AKADEMIK

Jurnal Suficademic | Artikel No.80 | Juli 2023

METODE “SPIRITUAL-SENSORIK” DALAM RISET AKADEMIK
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Banyak orang mengira, “ilmuan muslim” adalah orang yang sekedar beragama Islam. Lalu punya kemampuan “empiris-aqliyah” untuk mengolah ayat dan hadis menjadi sebuah pengetahuan baru. Bukan. Ilmuan muslim adalah mereka yang mampu memperoleh pengetahuan secara langsung dari Allah. Bukan lewat teks dan akal an sich. Tapi lebih kepada aspek ruhiyah (iluminatif).

Baiklah. Untuk memahami ini, kita bahas kembali berbagai metode perolehan pengetahuan. Pertama kita mulai dengan metode umum dalam dunia akademik ilmiah, yang disebut “rasional-empirik”. Terakhir, kita bahas metode “spiritual-sensorik”. Yang terakhir ini merupakan murni wilayah keahlian seorang ilmuan muslim. Jumlah mereka harus kita akui, sangat terbatas.

Pertama, Metode “Rasional-Empirik”

Manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Cara untuk menemukan kebenaran (pengetahuan yang benar) disebut “riset”. Riset bisa dilakukan dalam skala kecil (sederhana), ataupun secara sangat serius (mendalam). Alat yang digunakan untuk memahami kebenaran pun bervariasi. Mulai dari teks, akal, indera, sampai kepada ruh. Yang terakhir ini, penggunaan ruh, sudah termasuk metode khusus “ilmuan muslim” (khawash).

Di luar daripada ruh, mainstream pencarian kebenaran (pengetahuan) menggunakan tiga instrumen dasar: akal, indera dan teks. Masing alat ini bisa digunakan terpisah, ataupun secara bersamaan.

Ada riset yang bersifat “filosofis-rasional” (argumentatif/aqliyah). Status ontologi dari objek yang coba dipahami berbentuk “metafisika”. Wujud metafisika ini ada dua. Pertama, “matematika” (alam mitsal). Matematika merupakan bagian dari ilmu metafisika. Namun terkait dengan materi dan gerak (i.e., aritmatika, geometri, optika, astronomi, astrologi, musik, ilmu tentang gaya, keteknikan, dll). Kedua, “alam akal murni”. Objeknya terkait nonmateri murni yang tidak berhubungan dengan materi dan gerak (i.e. teologi, ekskatologi, dll).

Dalam riset “filosofis-rasional”, kebenaran dianggap sebagai “realitas internal”. Tapi dalam bentuk konsepsi ide. Kebenaran ada secara objektif dalam alam akal si peneliti. Karenanya, ini juga bagian dari ilmu “hudhuri”. Kebenaran bisa diperoleh kehadirannya dari proses nalar di dalam diri. Metode rasio (akal/intelijensi) ini juga disebut sebagai metode logika dan filsafat (rasional/deduktif).

Kemudian, ada metode “fisik-inderawi” (sensoris). Pada kasus ini, status ontologi dari sebuah objek selidikan bersifat “materialistik”. Penelitian model ini dilakukan terhadap “alam fisika”, yang wujudnya secara niscaya terkait dengan materi dan gerak. Termasuk dalam bidang studi ini adalah kajian unsur, atom, mineral, tumbuhan, binatang, manusia secara materi, berbagai kekuatan fisik di alam semesta, dll).

Metode yang digunakan dalam riset ini adalah “observasi”, “eksperimentasi” atau penggunaan berbagai indera sensoris seperti mata, telinga, hidung, lidah, sentuhan dan lainnya. Melalui metode induksi (empirisme) ini, diharapkan diketahui berbagai hukum (sunnah) yang menguasai alam fisika. Sehingga, dari model riset ini dapat dilakukan berbagai inovasi sains dan teknologi.

Terakhir, ada metode “tekstual (skriptural)”. Melalui metode ini, pengetahuan atau kebenaran diperoleh dengan membaca teks. Teks adalah “catatan” atau “referensi terdahulu”. Boleh jadi, teks terdahulu bernilai ilmiah, sehingga dianggap benar. Boleh jadi salah, atau mengandung kesalahan. Sehingga harus diverifikasi kembali realitas kebenarannya. Sehingga ditempuh kembali berbagai riset, baik dalam bentuk rasional maupun observasional, untuk menguji kembali teks (teori).

Alquran juga “teks”. Tapi dianggap suci. Dipercaya tidak ada salah sama sekali. Namun lagi-lagi, itu adalah teks. Ada ayat yang hanya sekedar menjadi dalil untuk mengasah akal. Ada juga ayat yang harus diuji kebenarannya secara empiris lewat eksperimentasi. Agama itu bukan sekedar “ayat” (untuk dibaca). Tapi juga “ibadat” (untuk diuji dalam praktik yang metodologis). Ketika dikatakan bahwa shalat itu media komunikasi aktif dengan Allah, apakah bentuk komunikasi itu benar terjadi saat shalat? Sehingga harus bisa diverifikasi, yang mana yang disebut shalat yang bisa menjangkau Allah secara aktual.

Ayat merupakan “dalil syariat” (teori) untuk di uji dalam langkah-langkah yang metodologis (tarikat). Sehingga kemudian dihasilkan pembuktian dalam bentuk pengalaman-pengalaman spiritual-empiris (hakikat). Setelah dialami secara langsung, baru kemudian dapat disimpulkan kembali tingkat kebenarannya (makrifat). Tentang metode pembuktian ayat dari level syariat, tarikat sampai ke hakikat dan makrifat; telah kami bahas dalam sejumlah artikel terdahulu. Misalnya “Syariat-Tarikat-Hakikat-Makrifat: Metode Ilmiah dalam Beragama”. Juga, “Syariat dan Tarikat, Dua Jalan Menuju Pengetahuan”.

BACA: “SYARIAT-TARIKAT-HAKIKAT-MAKRIFAT: METODE ILMIAH DALAM BERAGAMA”
BACA: “SYARIAT DAN TARIKAT, DUA JALAN MENUJU PENGETAHUAN

Kedua, Metode “Spiritual-Sensorik” (Ruhiyah)

Dunia riset dan pengetahuan barat yang berkembang sejak era renaisance (abad 14-17), cenderung “positivistik”. Baik dalam bidang sains alam maupun sosial humaniora, metode penelitiannya berbasis “tekstual-rasional-empiris”, namun tidak mempercayai adanya wujud “metafisis murni” (i.e., Ruh, Tuhan, dll). Metode riset yang dikembangkan sampai sekarang pun sudah cukup canggih. Namun tidak mengakui unsur Ruh/Tuhan sebagai wujud untuk diketahui.

Kalau riset saintifik sudah mulai memasukkan unsur Tuhan untuk dijangkau keberadaannya, itu akan dianggap “lucu” dan tidak ilmiah. Begitu gelapnya keberadaan Tuhan dalam dunia akademik ini, sehingga, kampus tidak menjadi tempat untuk membahas Tuhan secara serius. Sehingga kita tidak tau, dimana lagi harus mencari wujud Tuhan secara aktual. Itulah “kegelapan dunia akademik”. Cerdas, tapi tidak membawa kita sampai kepada Allah.

Namun, Islam terlihat mulai kembali mengalami masa renaisance. Ada kebangkitan baru dalam dunia akademik. Riset-riset ilmiah mulai mengintegrasikan konsep dan metodologi dalam multiperspektif. Ada usaha untuk memperkenalkan kembali “divine consciousness” dalam dunia akademik. Di Eropa/Barat juga begitu. Ada pengakuan, bahwa esensi ruh telah lama hilang dalam dunia pengetahuan. Materialisme tidak menawarkan kebahagian secara hakiki. Positivisme tidak menumbuhkan dimensi moral dan etika pada level yang fitri. Manusia cenderung menjadi kapitalistik. Buku-buku spiritual kini mulai menjamur di Barat.

Disinilah muncul kembali pengayaan dimensi ruh dalam dunia akademik. Kunci utama, si researcher mesti percaya kepada adanya kekuatan yang maha besar di belakang fenomena dunia fisika. Kaum relijius menyebutnya “Tuhan”. Islam secara spesifik menyebutnya “Allah”.

Apa fungsi Allah?

Allah adalah “Pusat Pengetahuan”, “Pusat Informasi”, “Pusat Kebenaran”. Kalau ingin tau sesuatu, ngapain capek-capek meneliti. Tanya aja langsung kepada Allah. Bukankah Dia tempat kita bertanya? Bukankah Dia penolong kita? Bukankah Dia Maha Tau? Bukankah Dia Maha Berilmu dan Maha Meliputi segala sesuatu? Bukankah Dia Maha Mendengar dan Maha Menjawab?

Sebenarnya, metode riset hanya sesederhana itu. Cukup dengan memperoleh akses kepada Allah, jawaban terhadap berbagai hipotesis sudah kita tau. Kira-kira begitu.

Masalahnya, bagaimana cara bertanya kepada Allah? Bagaimana cara mendapat jawaban dari Allah? Bagaimana cara menjumpai Allah untuk bisa bertanya? Dengan bahasa apa Allah akan menjawab pertanyaan kita? Bagaimana cara mendengar dia menjawab? Dalam bentuk apa jawabannya hadir? Bagaimana kita tau kalau itu benar jawaban dari Allah?

Itulah pula masalah kita. Masalah kita sangat sederhana, “tidak mengenal Allah”. Karena tidak mengenal Allah, maka kita tidak bisa menjumpai-Nya. Kita tidak bisa mengakses-Nya untuk memperoleh pengetahuan. Kita percaya kepada Allah. Tapi tidak mampu menjangkau-Nya. Seandainya bisa dijangkau, tentu kita akan memperoleh banyak ilmu, secara langsung, dari Allah. “… wa ‘allamnaahu min ladunnaa ilmaa” (QS. Al-Kahfi: 85):

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu (secara langsung) dari sisi Kami” (QS. Al-Kahfi: 85).

Pertanyaannya, apakah Allah bisa dijangkau untuk digali secara langsung pengetahuan dari-Nya?

Secara empiris, bisa! Buktinya, banyak para researcher terdahulu, jumlahnya bahkan mencapai “124.000 orang” (hadis). Ada ratusan ribu spiritual researchers (nabi) yang mampu berkomunikasi dengan Allah. Kalau sudah sebanyak itu jumlahnya, berarti kemampuan berinteraksi dengan Allah sifatnya “ilmiah”. Sebab, kemampuan menjangkau Allah ternyata bisa direplika oleh banyak orang.

Merujuk kepada tradisi spiritual Islam, ini disebut ilmu “spiritual-sensoris” (metode hati/jiwa/ruh/qalbu). Ada satu perangkat dalam diri manusia, yaitu “jiwa/ruh”, yang bisa difungsikan untuk menjangkau Ruh al-Ilahi. Perjumpaan dengan Ruh Tuhannya itulah yang menghasilkan pengetahuan kelas tinggi.

Dalam kajian ini, kami sebut ini sebagai metode “spiritual-sensorik”. Spiritual artinya “ruh”. Yaitu sebuah perangkat “digital” kejiwaan yang mampu menembus dan menangkap pengetahuan dari ‘otak’ Tuhan. Sementara “sensoris” bermakna observatif-empiris. Pengetahuan spiritual laduniah ini bisa dirasa/dicerap secara langsung oleh berbagai “sensor inderawi” (titik Latifah, God Spots) pada jasad kita.

Bagaimana cara mengaktivasi kecakapan metodologis “spiritual sense” ini, telah kami bahas dalam “Tujuh Langkah menjadi Mistikus”. Juga kami singgung dalam “Spiritual Writing: 7 Tips”, serta dalam berbagai tulisan lainnya. Ilmu spiritual bukan ilmu biasa. Ini merupakan bagian dari khazanah islamic mysticism. Bagaimana cara menjadi seorang “ilmuan muslim”, menurut saya, adalah tergantung bagaimana cara kita menempuh langkah dan perjalanan untuk sampai kepada Allah, “Yang Maha Berilmu”.

BACA: TUJUH LANGKAH MENJADI MISTIKUS
BACA: SPIRITUAL WRITING, 7 TIPS!

Ketika seseorang secara ruhaniah telah dekat dengan Allah, bukan berarti dia akan menjadi “malas”. Bukan berarti kalau ingin mengetahui sesuatu, cukup hanya dengan bertanya kepada Allah, tanpa perlu berusaha secara sungguh-sungguh. Tidak seperti itu pemahamannya. Sebagai manusia biasa (“basyar”), seseorang wajib mengoptimalkan potensi kemanusiaannya berupa indera dan akal dalam memperoleh pengetahuan. Tapi, sebagai manusia setengah dewa (“ruhiyah”), ia dapat mengkoneksikan dirinya dengan wujud hakiki Pemilik Ilmu.

Manusia punya instrumen bashirah (mata batin/ruh) untuk memperoleh pengetahuan secara lebih sempurna, melalui bimbingan-Nya. Allah dapat menjadi menjadi “Supervisor” aktif dalam setiap riset kehidupan. Metode bashirah (spiritual-sensorik) bukanlah metode yang terpisah dari kecerdasan metodologis lainnya (akal dan observasional). Melainkan metode yang harus diintegrasikan oleh seorang researcher agar memperoleh bimbingan serta pengetahuan secara langsung dari Ilahi.

Kesimpulan

“Ilmuan muslim”, hakikinya adalah mereka yang mampu memperoleh pengetahuan secara spiritual-sensoris, langsung dari Allah. Kalau sekedar memperoleh kebenaran lewat olah akal, observasi inderawi dan pemahaman teks; orang kafir juga bisa. Bahkan saat ini, mereka lebih ahli. Orang kafir bahkan banyak yang ahli dalam meneliti dan memahami ayat. Banyak buku bagus yang ditulis kafir tentang Islam. Tapi itu tidak membuat mereka menjadi “muslim”.

Sekali lagi, definisi “ilmuan Islam” bukan sekedar beragama Islam, atau paham Islam. Melainkan mereka yang punya kemampuan memperoleh pengetahuan secara langsung (ruhiyah) dari Tuhan. Saya kira ini yang membedakan ilmuan Islam dengan ilmuan “setengah Islam”.

Karena itu, hanya sedikit yang masuk dalam kategori “ilmuan muslim”. Ilmuan muslim adalah ilmuan yang tembus ke “langit” (ke alam metafisika murni). Di antara mereka adalah para nabi, para filsuf yang arif, para fuqaha yang rabbani, serta sejumlah saintis yang hidup sensor spiritualnya. Wajar jika Allah mengatakan, sangat sedikit orang yang mampu menjangkau dimensi pengetahuan melalui penggunaan fakultas ruh: “.. illa qaliilaa” (QS. Al-Isra’: 85):

وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk fakultas (amar) Ketuhanan, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al-Isra’: 85).

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
FOLLOW US
:
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

2 thoughts on “METODE “SPIRITUAL-SENSORIK” DALAM RISET AKADEMIK

Comments are closed.

Next Post

"AHLULLAH"

Sat Jul 8 , 2023
Jurnal […]

Kajian Lainnya