“QURB”: MEMAHAMI MAKNA DEKAT DENGAN ALLAH

Jurnal Suficademic | Artikel No. 84 | Juli 2023

“QURB”: MEMAHAMI MAKNA DEKAT DENGAN ALLAH
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Qurb” artinya dekat. Bisa dalam pengertian dekat secara fisik, ruhani, tempat ataupun waktu. Ketika dikaitkan dengan Allah, “qurb” bermakna dekat secara ruhaniah. Sebab, Allah secara esensial (Dzatiyah) kita pahami sebagai wujud gaib/ruhaniah.

Dalam perspektif teologis (tauhid/kalam) dan syariat; Allah dipahami sebagai wujud yang tidak serupa dengan apapun (laitsa kamislihi syai-un, QS. Asy-Syura: 11). Atau juga, wujud yang jauh di langit atau di ‘arasy sana. Alhasil, mustahil menjangkau Allah yang trancendent seperti ini. Karena itu, dalam perspektif teologis dan syariat, Allah hanya sekedar diketahui “ada”. Tapi tidak bisa dijumpai. Tidak bisa diajak bicara. Karena tidak pernah diketahui seperti apa Dia, dan persisnya ada dimana. Karena itu, mustahil makrifat kalau beragama pada level ini.

Disisi lain, Allah juga disebut sebagai Wujud yang lebih dekat dari urat leher. “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qaf: 16). Ternyata, Dia juga menjelaskan diri-Nya sebagai Wujud yang secara “material” dekat dengan manusia (“lebih dekat dari urat leher”). Karena itu, sangat memungkinkan bagi manusia untuk kemudian menjangkau-Nya. Karena itulah para Nabi bisa “melihat”, “bertemu” atau “berbicara” dengan-Nya.

Siapapun bisa seperti itu. Dengan syarat, memiliki kesamaan metode dengan para nabi, dalam memahami dan mendekati Allah. Tradisi ilmiah memang seperti itu. Agama Islam adalah agama ilmiah. Kalau tidak ilmiah, itu bukan Islam. Selama metode yang dipakai adalah sama dengan metode orang sebelumnya, dalam menguji hal yang sama, maka akan diperoleh hasil yang sama (pada waktu dan tempat yang berbeda). Islam shalih li kulli zaman wa makan. Kebenaran ilmiah Islam berlaku sepanjang tempat dan zaman.

BACA: SYARIAT-TARIQAT-HAKIKAT-MAKRIFAT, METODE ILMIAH DALAM BERAGAMA


Kita tidak menolak, bahwa Allah itu “jauh” dan berbeda (transenden). Tapi, kok bisa secara material ia “dekat” dengan kita (imanen)? Kenapa Dia yang “maha jauh”, pada saat bersamaan “lebih dekat dari urat leher”. Pertanyaannya, bisakah sesuatu yang “jauh”, secara material justru “dekat” dengan kita? Bagaimana menggambarkan bentuk hubungan dua hal; yang jarak antara keduanya sangat jauh, tapi sekaligus dekat?

Berikut penjelasannya.

Bayangkan. Anda punya teman yang tinggal di Kutub Utara sana. Jauh sekali. Andapun tidak tau persisnya dimana. Karena tidak pernah kesana. Tapi, dengan sebuah teknologi HP, jarak Anda berdua menjadi sangat dekat. Tinggal angkat HP ke muka Anda, dan kalau HP-nya hidup, wajahnya pasti terlihat seketika. Atau, tinggal tempel HP ke telinga yang ada di dekat “urat leher” Anda, maka semua yang dia bicarakan disana terdengar ke telinga Anda.

Teknologi HP bisa membawa wujud yang jauh entah dimana, dan entah seperti apa Dia disana, menjadi dekat sekali dengan wajah Anda. Inni wajjahtu wajhiya.. (QS. Al-An’am: 79). Teknologi HP membawa wujud yang yang jauh tidak terhingga menjadi dekat sekali dengan “urat leher” Anda.

Bahkan, uniknya, Allah bisa lebih dekat lagi daripada itu. “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qaf: 16). Dia bisa dihadirkan lebih dalam lagi, langsung ke dalam diri kita. Ada teknologi yang lebih canggih dari HP, yaitu “ruh/jiwa”. Instrumen HP hanya bisa menangkap dan membawa wujud yang jauh untuk menempel dekat dengan “urat leher” (telinga) Anda. Sementara jiwa, bisa menangkap dan menghadirkan Allah yang “maha jauh” itu, langsung ke dalam diri manusia. Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim (QS. At-Tin: 4). Diri manusia (jiwa insan) adalah sebuah gadget karya Ilahi yang maha sempurna, yang mampu menangkap dan memvisualkan gelombang wujud kehadiran Ilahi.

Wahyu atau ilham, pada konteks teknologi Ruhani ini adalah sesuatu yang hadir dalam diri manusia. Tuhan yang sedang berbicara “jauh” disana; pada saat bersamaan juga dapat terdengar berbicara dalam diri manusia. Allah yang Wajahnya ada di “langit” sana, pada waktu yang sama juga bisa terlihat terpancar dalam layar ruhaniah manusia. Teknologi komunikasi yang canggih ini memungkinkan Dia ada dan hadir dimana-mana. Al-Haqq (Kebenaran) ada di ufuk langit sana, sekaligus dalam diri manusia (QS. Fuṣṣilat: 53). “Kemanapun engkau menghadap, disitulah Wajah Allah..” (QS. Al-Baqarah: 115).

HP adalah teknologi tempat ber-tajalli, tempat kehadiran dan penampakan setiap wujud yang jauh. Kalau seseorang tau cara menggunakan HP, serta tau frekuensi untuk menangkap posisi lawan bicara, maka si komunikan bisa muncul dan berbicara di HP-nya.

Percayalah. Manusia adalah perangkat teknologi paling canggih yang pernah diciptakan Allah, yang mampu menangkap kehadiran-Nya. Ketika perangkat teknologi ruhaniahnya bisa “diaktifkan”, manusia bisa mendengar Tuhan berbicara dalam dirinya. Manusia juga bisa melihat bahwa Allah ada dalam dirinya.

Inilah yang dalam bahasa esoteris klasik disebut wahdatul syuhud. Yaitu kemampuan menyaksikan Allah melalui mata batiniah. Allah bisa dilihat melalui mata bashirah. Tuhan yang dilihat, itu ada dalam diri. Bahkan segala sesuatu terlihat dalam Rupa-Nya. Hanya saja, konsep ini masih memisahkan antara hamba dengan Tuhan. Seolah-olah, yang dilihat itu adalah Wujud Tuhan yang terpisah dari diri manusia. Padahal, Wujud yang dilihat itu juga ada dalam “layar” jiwanya. Segala sesuatu yang ada di alam dan juga dalam diri manusia adalah pancaran dan bagian dari Cahaya-Nya. “Allah adalah Cahaya langit dan bumi..” (QS. An-Nur: 35).

Ahli sufi lainnya seperti Abu Yazid Al-Bistami (804-874 M) menyebut fenomena gnostis ini sebagai ittihad. Gelombang jiwa manusia bisa “naik” untuk menjangkau Ruh Ilahi. Sedangkan Mansur Al-Hallaj (858-922) menamainya hulul. Gelombang ketuhanan bisa “turun” untuk bersinggungan dengan gelombang kejiwaan manusia. Dalam istilah umum lainnya disebut wahdatul wujud (Ibnu Arabi, 1165-1240 M). Wujud yang melihat dan yang Dilihat, sudah menyatu dalam satu diri. Subjek yang mengetahui, dengan Objek Pengetahuan, itu sudah manunggal. Allah bukan lagi sebatas “Realitas Eksternal” (Kebenaran transenden, hushuli, atau makrokosmik). Melainkan juga telah dirasakan secara aktual sebagai “Realitas Internal” (Kebenaran yang immanen, hudhuri, atau mikrokosmik) dalam diri si salik atau researcher.

Bayangkan. Seandainya gelombang Tuhan hadir dalam kapasitas yang besar dan panjang, seseorang bisa kehilangan kesadaran materialitasnya. La maujuda illa Allah. Ia bisa fana dalam tarikan Ilahi (fana fillah). Sehingga, setiap kata dan geraknya, menjadi cerminan dari qudrah dan iradah Allah. Akhlaknya akan menjadi manifestasi dari akhlak Allah. Telinga, mata, lisan, tangan dan kakinya akan menjadi tempat aktualnya berbagai kekuatan Ilahiah. Orang-orang seperti ini menjadi wadah tempat aktualnya pesan-pesan dan ketauladanan Ilahiah. Laqad kaana lakum fii Rasulillaahi uswatun hasanah (QS. Al-Ahzab: 21). Wainnaka la’alaa khuluqin ‘Adhiim (QS. Al-Qalam: 4). Akhlak “Yang Agung” ada dalam diri Muhammad SAW.

Dulu, orang masih sulit menerima pemahaman transmisi dan penyatuan gelombang ruhaniah antara makhluk dengan Khalik; semacam syuhudiyah, ittihad, hulul atau wujudiyah. Sehingga dengan mudahnya menuduh para pengamal ajaran esoteris sebagai sesat. Bahwa, tidak mungkin antara seorang hamba dengan Tuhan itu “menyatu” (ruju’, wushul, atau liqa’ secara ruhaniah). Sekarang, seseorang justru akan dianggap idiot, jika masih tidak memahami hubungan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya melalui penjelasan fenomena spiritual yang saintifik seperti ini.

Memang, sebagaimana halnya sebuah HP, secara “fisik-material”, para nabi utusan Tuhan adalah makhluk lahiriah (basyariah). Tapi, isi dalamnya merupakan pancaran cahaya dan gelombang dari alam Rabbani (wahyu). “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia biasa seperti kamu, yang telah menyatu dengan gelombang wahyu..” (QS. Al-Kahfi: 110). Hakikat wujud manusia adalah jiwa/ruhnya. Ruh manusia bisa mendekat atau didekati oleh (Ruh) Tuhan. Hubungan yang dekat inilah yang disebut “kesatuan wujud“. Bukan fisik dengan fisik yang menyatu. Tapi ruhani dengan Ruhani.

Nabi secara lahiriah adalah wujud jasadiah. Tapi isi dalamnya merupakan perwujudan dari Ruh. Karena itu, dekat dengan seorang Nabi/Wali, dianggap sama dengan dekat dengan Allah. Mereka merupakan wasilah, satelite, hotspots, wadah atau wujud wahid (ilahun wahid, QS. Al-Kahfi: 110) dari gelombang kehadiran Allah -yang azalinya Dia adalah “Ahad” (The Divine Nothingness).

BACA: “FA INNI QARIB”; MELALUI SATELIT, HUBUNGAN ANDA DENGAN ALLAH MENJADI DEKAT

BACA: SPIRITUAL HOTSPOTS

Itulah yang disebut qarib. Walaupun dimensi “basyar” dan “wahyu” merupakan dua hal berbeda, namun bisa menyatu dalam satu wadah manusia. Meskipun Allah itu jauh dan secara material tidak serupa, namun wujud gelombang ruhaniahnya bisa tanazzul, turun bersemayam dalam qalbu manusia. Manusia juga bisa melakukan mikraj atau mujahadah untuk naik menemukan gelombang ketuhanan yang lebih tinggi. Ketika ia menemukan itu, ia akan merasakan getaran kehadiran Tuhan dalam dirinya. Ini semua disebut sebagai “inner journey”, atau teknik perolehan pengetahuan hudhuri.

BACA: “HUSHULI” DAN “HUDHURI”, DUA TEKNIK BERPIKIR DALAM PEROLEHAN PENGETAHUAN

Jadi, “dekat” dengan Allah bermakna seseorang telah mengalami mukasyafah atau musyahadah. Layar kejiwaannya telah “bersih” dan “kuat”. Sehingga jiwanya menjadi perangkat teknologi yang mampu menangkap dan memancarkan Cahaya Ilahi. Karena itu, kaum muqarrabin adalah orang-orang yang telah mampu “melihat”, “berbicara” atau “berbisik-bisik” dengan Allah; via Cahaya itu.

Manusia biasa (basyar) tidak bisa dekat dan berkomunikasi dengan Allah. Hanya “insan” yang mampu melakukannya. Insan adalah jenis manusia yang perangkat dan teknologi Cahaya dalam jiwanya telah sempurna tercipta. Sehingga memungkinkan baginya untuk “berbisik-bisik” dengan Tuhannya. Sebagaimana firman-Nya:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan insan dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qāf: 16).

Untuk memperoleh kecakapan komunikasi dengan Allah, seseorang harus menempuh proses “evolusi”, dari basyar ke insan. Tentang metode transformasi jiwa ke wujud malakut (cahaya), bisa dibaca dalam artikel “Dua Tahap Evolusi, Alami dan Ikhtiyari”.

BACA: DUA TAHAP EVOLUSI, “ALAMI” DAN “IKHTIYARI”

Penutup

Seseorang disebut “dekat” dengan presiden, gubernur atau bupati ketika ia bisa berbisik-bisik dengan mereka. Karenanya, yang paling dekat dengan para pemimpin biasanya adalah para “pembisik”. Bisikannya cepat didengar. “Doa”-nya makbul. Namun susah untuk menjadi pembisik. Untuk menjadi yang terdekat, seseorang harus masuk ke ring-1 istana. Harus menjadi orang yang dipercaya. Harus menjadi “kekasih”-nya.

Dengan Allah juga begitu. Level “dekat” bertingkat. Mulai dari diperhatikan, disayang, dicintai, sampai dikasihi. Kemampuan berbisik dan tingkat kemakbulan doa tergantung level kedekatan tersebut. Namun yang pasti, untuk naik dari satu level ke level taqarrub lainnya, selain memerlukan seorang pembimbing, banyak sekali amal shaleh yang harus dikerjakan (i.e., zikir/meditasi dan ibadah nawafil lainnya). “..Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan dalam beribadah kepada Tuhannya sesuatu pun” (QS. Al-Kahfi: 110).

Latihan ruhani sangat diperlukan, agar jiwa manusia memiliki ketajaman dan kecepatan spiritual saat menempuh jalan menuju Tuhan. Sehingga qalbu menjadi cepat connect dengan Allah. Karena itu dikatakan, “Tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali hati hamba-Ku yang mukmin lunak dan tenang” (HR. Abu Dawud). Hanya qalbun salim (QS. Asy-Syu’ara: 88-89), hanya jiwa yang muthmainnah (QS. Al-Fajr: 27-30); yang dapat menerima dan diterima oleh Allah. Frekuensi qalbu harus sangat stabil, tinggi dan jernih; guna dapat menangkap kehadiran Allah.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
FOLLOW US
:
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

One thought on ““QURB”: MEMAHAMI MAKNA DEKAT DENGAN ALLAH

Comments are closed.

Next Post

ISLAM: AGAMA WAHYU ATAU AGAMA PEMIKIRAN?

Sat Jul 15 , 2023
Jurnal […]

Kajian Lainnya