MENG-UPGRADE “SYAHADAT”, DARI KALIMAT KE MAKRIFAT

Jurnal Suficademic | Artikel No. 88 | Juli 2023

MENG-UPGRADE “SYAHADAT”, DARI KALIMAT KE MAKRIFAT
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Secara syariat, seseorang dikatakan Islam kalau sudah “mengucapkan” dua kalimah syahadat. Secara hakikat, seseorang dikatakan benar-benar Islam ketika mengalami “syahadah”. Ruhani seseorang baru dikatakan Islam, jika sudah pada aspek pengalaman (experiencing). Bukan lagi pada level “pengucapan” (theorizing).

Mengucap dua kalimah syahadat, itu kecerdasan lahiriah dari lisan. Sedangkan mengalami, itu bentuk kecerdasan qalbu tentang “kehadiran”. Cara mengucap yang benar, itu diajarkan dalam ilmu syariat (kefasihan berbahasa). Sedangkan untuk benar-benar mengalaminya, itu ranahnya ilmu tarikat (praktik spiritual).

Berislam harus kaffah, dhahir dan batin. Bukan cuma lisan yang bersyahadat. Ruhani juga harus diajarkan untuk mengalami syahadah. Allah bisa “disaksikan” melalui sebuah pengalaman teofani kejiwaan, yang melampaui nyayian kata-kata. Ada metode untuk “mengalami” sesuatu, melampaui permainan kosa kata di lidah.

Syahadat Tauhid

Agama itu, puncaknya adalah “pengalaman” bertuhan. Bukan hafalan tentang Tuhan. Syahadah itu pengalaman. Memang, untuk level anak-anak, harus dihafalkan dulu. bahwa Allah itu ada. Agar kalimat itu melekat di otaknya. Setelah itu, perlahan diperkenalkan esensi dari Wujud yang dihafal itu. Wujud itu bisa dihadirkan dalam wadah ruhani. Bisa dilihat, diajak bicara, didengar dan dirasakan.

Karena itulah; para nabi sangat dekat dengan Allah. Bahkan bisa melihat, mendengar dan berbicara dengan-Nya. Para nabi tidak lagi pada level sekedar mengucap kalimat. Mereka sudah mampu mengalami “kehadiran” Allah. Itulah syahadah. Sudah bisa “menyaksikan” kehadiran Allah. Sudah tersingkap semua hijab dalam diri. Mukasyafah. Sehingga Allah bisa hadir pada dirinya.

Syahadah tauhid artinya “menyaksikan” keberadaan Allah. Apa makna menyaksikan?

Perhatikan. Seseorang bisa menjadi “saksi” di pengadilan; ketika ia pernah melihat atau mendengar sebuah kejadian secara “langsung”. Itu saksi utama. Selebihnya hanya saksi pada level ke sekian. Yang tidak punya pengalaman langsung terhadap sebuah perkara.

Begitu pula dalam bertuhan. Kita jenis saksi yang mana. Saksi utama atau bukan? Syahadah kita terhadap-Nya, itu “nyata”, atau pura-pura? Apanya Dia yang telah kita saksikan? Kalau seseorang sudah mengalami perjumpaan ruhani dengan Esensi dari Wujud, itulah pengalaman musyahadah. Tauhidnya sudah pada makam tauhid nabi (sufi).

Oleh sebab itu, pada jenjang lebih tinggi, agama itu pengalaman “syahadah”. Bukan kalimat syahadat. Jauh sekali berbeda antara kalimat dengan pengalaman. Misalnya, Anda mengatakan “aku menyaksikan api”. Sementara, Anda tidak pernah menyaksikan api. Itu kalimat, bukan pengalaman.

Kecuali Anda benar-benar telah menyaksikan api. Kemudian secara sadar membuat kalimat itu. Itu baru pernyataan yang konfirmatif (Kebenaran/Haq). Antara apa yang diucapkan, selaras dengan yang dialami. Jika tidak, kalimat itu bisa menjadi sebuah pernyataan palsu. Kesaksiannya palsu.

Karena itu, syahadah bertingkat. Pada level paling rendah, itu hanyalah sepotong “kalimat”. Kalimat itu mungkin hanya sekedar menunjukkan sikap “percaya”. Bahwa Allah itu ada. Walaupun belum pernah disaksikannya. Karena itu, agama, pada level paling awam adalah tauhid dan syariat. Isinya hanya kalimat-kalimat hipotesa tentang eksistensi Allah. Agama memang dimulai melalui doktrin-doktrin kalimat. Sifatnya sangat lahiriah. Syahadah, pada level ini, masih dalam bentuk “ilmul yaqin” (theory & hypothesis).

Pada tahap selanjutnya, syahadah mulai menjadi pengalaman batiniah. Melalui metode spiritual tertentu, ruhani bisa diaktivasi atau diperjalankan untuk “melihat” berbagai fenomena Wujud di alam metafisis. Disitulah mata bashirah mulai mengobservasi aneka pola Wujud yang nilainya lebih hakiki. Disini seorang mistikus akan memperoleh pengetahuan tentang esensi Tuhan melalui “melihat”, “mendengar” dan “merasakan”. Level kesaksiannya sudah lebih tinggi. Ruhaninya sudah mengalami interaksi dengan Dzat. Syahadah, pada level ini, sudah dalam bentuk “ainul yaqin” (spiritually observed).

Pada tahap tertinggi, syahadah adalah pengalaman kehadiran dalam kesatuan. Subjek dengan Objek Pengetahuan, itu telah menyatu, dalam rasa dan pengalaman yang sulit dilukiskan. Si observer malah sudah kehilangan kesadaran materialnya. Seolah-olah, ia telah lebur dalam Dzat yang ia saksikan. Ketika ia melihat sesuatu, ia justru seperti melihat dengan mata-Nya. Ketika berbicara, ia justru seperti sedang berbicara dengan lisan-Nya. Ketika ia melihat pada dirinya, justru tidak ada. Yang secara iluminatif ada hanya Dia. Dari pengalaman inilah muncul kalimat semacam “La Maujuda illa Allah”. Ini syahadah, sebuah pengalaman makrifah yang tertinggi. Disebut juga sebagai pengetahuan yang “haqqul yaqin”. Seseorang telah mampu melihat Diri-Nya, melalui mata-Nya sendiri.

Menyaksikan keberadaan Allah dalam pola dialogis bukanlah imajinasi. Melainkan fakta. Dulu, saat masih di alam ruh, kita sudah menyaksikan Allah dan bisa berbicara dengan-Nya. Alastu Birabbikum, qaalu balaa syahidna! (QS. Al-‘Araf: 172). Kelahiran kita dalam dimensi materi telah membuat Ruhani menjadi bisu, tuli dan buta. Shummum bukmun ‘umyun fahum la yarji’un (QS. Al-Baqarah: 18).

BACA: “ALASTU BIRABBIKUM”, ALAM DIALOG DAN PENYAKSIAN

Seandainya kebutaan Ruhani ini bisa diobati, setiap manusia akan kembali memiliki ruh yang “murni”, yang dapat menyaksikan Allah. Bahkan berkomunikasi dengan-Nya. Satu-satunya manusia yang dapat “mensucikan” kembali ruhani manusia agar bisa kembali bersyahadah terhadap esensi Allah, adalah Rasul. Karena itu, Rasul (dan orang-orang yang mewarisinya) menjadi wasilah bagi kita dalam menapaki jalan untuk mengenal kembali lembaran kitab yang hakiki yang penuh hikmah, sehingga bisa mengalami perjumpaan dengan Allah (QS. Aali Imran: 164).

لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ

Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri; yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164).

Syahadat Rasul

Bisakah kita melihat Allah?

Tidak. Kecuali, ada bantuan Rasul. Sosok yang telah berhasil menjumpai Allah; serta punya kapasitas untuk men-talqin ayat serta mensucikan kembali jiwa manusia.

Karena itu, tidak usah sibuk mencari Allah. Tidak bakal ketemu. Cari saja Rasul Allah. Sosok yang Allah telah mengutus Diri-Nya dalam ruhani orang-orang seperti ini. Lalu saksikan mereka. Tidak lama setelah itu, para pencari pasti akan melihat, mendengar dan terhubung dengan Allah. Inilah hebatnya ilmu sufi, ilmu rahasia para nabi. Ilmu “menyaksikan” Ruhani sang Rasul, untuk menyaksikan Allah.

Asyhadu an-la ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Dimana ada Rasul, disitu ada Allah. Dimana ada Allah, disitu ada Rasul. Ini dua bentuk syahadah yang tidak bisa dipisah. Siapapun yang punya teknik dan metodologi yang benar dalam “menyaksikan” Rasul, sebagaimana diajarkan dalam berbagai tariqah yang haq, pasti akan menyaksikan Allah. Islam itu tinggi. Tidak tinggi Islam, kalau tidak bisa membuat kita menyaksikan Dia yang Maha Tinggi.

Agama itu sebenarnya mudah. Agama bukan ilmu untuk mencari dimana Allah. Tapi ilmu untuk mencari dimana Rasul Allah. Cari saja orang, yang dalam dirinya ada warisan kerasulan. Makrifat adalah mengenal “entitas Rasul”, yang diwarisi dari satu zaman ke zaman lainnya. Dari satu qalbu ke qalbu berikutnya. Siapapun yang menemukan (waris) Rasul di zaman ini, pasti akan menyaksikan kehadiran Allah, Rabbul ‘Arsyil ‘Adhim:

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ . فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

(128) Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin; (129) Jika mereka berpaling (dari keimanan), katakanlah (Nabi Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik ‘Arasy (singgasana) yang agung (QS. At-Taubah: 128-129).

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

3 thoughts on “MENG-UPGRADE “SYAHADAT”, DARI KALIMAT KE MAKRIFAT

  1. Assalamualaikum wr wb.
    Ustad bagaimana cara mengambil hikmah agar tidak mudah hilang dari ingatan kita.
    Contohnya tulisan ustad di sini agar lebih manfaat buat kami.

    1. HIKMAH sebenarnya bukan sesuatu yang diingat. Hikmah merupakan kesadaran (sadr), gerak yang berasal dari ilham/bisikan Tuhan. Sesuatu yang duduk di qalbu. Sedangkan ilmu, itu ingatan. Hafalan otak. Bisa lupa. Bahkan bisa cepat lupa, kalau tidak dibawa dalam kesadaran. Hikmah adalah ilmu yang diperoleh lewat uzlah dan bimbingan zikir.

Comments are closed.

Next Post

"UZLAH", TRADISI SPIRITUAL PARA NABI

Mon Jul 31 , 2023
Jurnal […]

Kajian Lainnya