NORAK, TANDA BAHAGIA

Jurnal Suficademic | Artikel No. 91 | Agustus 2023

NORAK, TANDA BAHAGIA
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Norak itu tanda bahagia. Tidak percaya?

Lihat saja. Misalnya, acara resepsi penikahan. Norak sekali. Pengantin memakai pakaian yang aneh-aneh. Berbaju warna-warni. Dari kepala sampai ke ujung kaki, digantung entah apa-apa. Make-up nya tebal sekali. Belum lagi makanannya. Biasa sehari-hari, menunya ala kadar. Saat pesta, lauknya panjang berjejeran. Norak sekali. Acara sunatan juga begitu. Kenduri aqiqah juga sama. Pesta ulang tahun apalagi. Itu tanda bahagia. Kenduri dengan segala kenorakannya, adalah cara seseorang berbagi bahagia.

Orang yang baru kaya juga sama. Penampilannya pasti norak. Mulai dari baju, mobil, sampai rumah; semua dipamerkan. Suka ngajak makan dan ngopi. Itu tanda ia lagi bahagia. Biasa itu. Itu sama dengan cara kita merayakan lebaran idul fitri. Pasti norak. Pakek takbir, bakar lilin dan petasan lagi. Dengan baju baru, aneka kue dan minuman. Norak. Wajar, setelah sebelumnya lelah beribadah dan kelaparan. Rasa sukses dan bahagia patut dirayakan!

Makanya, platform medsos semacam TikTok, itu didisain secara khusus untuk selfi, berbagi, update status dan memamerkan “kebahagiaan”. Fiturnya sederhana. Ada tool video, picture, musik, lagu dan lain sebagainya. Sehingga siapapun bisa menggunakannya. Mulai untuk ekspresi-ekspresi ‘konyol’, lipsing, lucu; sampai ke hal-hal yang mungkin agak serius. Semua bisa ikut komen. Orang-orang dipancing untuk terus berkreasi, dengan konten sekreatif dan senorak mungkin. Semua menunjukkan bahagianya di medsos. Walau belum tentu hidupnya sebahagia itu. Justru terkadang itu ekspresi hidup yang lagi bermasalah. Tapi, minimal disitu ia bisa berpura-pura, bisa belajar untuk bahagia. Konon lagi, disitu orang-orang bisa berdagang, cari uang.

Jadi, norak itu penting. Sebab, itu ekspresi bahagia. Dan bahagia itu menular. Tapi, norak terus menerus, bisa menyebabkan kita kehilangan energi. Sebab, norak itu punya sisi “riya”, pamer. Fokusnya cenderung “ke luar”. Karena itulah, banyak artis yang jatuh ‘sakit’ dalam kegemerlapan. Terlihat bahagia ke luar. Tapi isi dalamnya tergerus.

Karena itu, kebocoran energi akibat norak harus diimbangi dengan fokus “ke dalam”. Untuk itulah agama hadir. Ada ibadah-ibadah, yang memanggil orang-orang untuk sesekali , bahkan sering-sering, menarik diri dari keramaian. Manusia diajak untuk mengasingkan jiwa ke ruang-ruang sunyi. Bentuk paling sederhana adalah sholat (zikir). Lainnya, dalam kurikulum lebih khusus, ada yang namanya “uzlah”. Semuanya adalah bentuk ritual yang berusaha mengimbangi norak.

Makanya, saat beribadah, pakaianpun disarankan harus sederhana. Putih. Tidak menampilkan yang aneh-aneh. Bahkan, kalau berihram, itu hanya ada beberapa lembar kain yang melilit tubuh. Tidak boleh bergaya atau membawa perlengkapan lainnya.

Saat beribadah, fokus hanya kepada Allah. Tidak boleh banyak berbicara. Tidak boleh banyak bergerak. Harus khusyuk. Bahkan ritus semacam meditasi (zikir), menutupkan mata. Lidah pun terkadang tidak boleh aktif. Semua harus dikunci. Itu semua bentuk kefaqiran kita dihadapan Tuhan. Simbol ketidak berdayaan. Simbol kehilangan segala macam kenorakan.

Dari proses-proses meditatif seperti inilah kita kembali memperoleh energi. Lalu balik ke dunia untuk terlibat lagi dalam berbagai kenorakan dan gegap gempita. Dalam berbagai agenda bisnis, sosial dan politik.

Seorang sufi sekalipun punya aneka kenorakan. Jangan kira sufi itu bukan orang yang mencintai dunia. Justru di dunia sufilah musik itu halal. Tarian itu ibadah. Bersyair itu dakwah. Lihat bagaimana “the whirling darvish”, Saman, Seudati, Zapin, Hadrah, Rudat dan lainnya. Sangat norak. Sekaligus energik. Tapi itulah ekspresi bahagia dalam visual dunia. Dalam tradisi sufi juga ditemukan aneka kenduri. Mereka suka berpuasa, sebagai wujud kefaqirannya. Sekaligus suka berbagi makan, lewat aneka kenduri.

Kesimpulan

Setiap kita harus punya ruang untuk bermeditasi. Agar dapat terus menerus meningkatkan energi terdalam dari jiwa. Agar terkoneksi dengan Tuhan kita. Pada saat yang sama, juga harus punya ruang untuk berekspresi. Ruang untuk membangun kreatifitas olah raga dan seni. Ruang untuk berbisnis dan berdakwah dengan cara-cara norak dan inovatif.

Mereka yang terlalu fokus “ke dalam”, tapi lupa menari dan bernyayi, biasanya mudah radikal dan suka mengkafirkan. Ada gelombang otaknya yang tidak menemukan saluran untuk merasakan kebebasan. Dia lupa, bahwa dunia ini adalah taman surga. Tempat kita happy-happy. Sebaliknya, mereka yang asik norak dan hura-hura, tapi lupa bermujahadah dalam kamar-kamar yang sepi, itu akan menjadi sekuler dan lupa diri. Akan terputus dengan esensi-esensi suci.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

3 thoughts on “NORAK, TANDA BAHAGIA

    1. Terima kasih tulisannya sangat bagus dan bermanfaat..

      Wah, cocok sekali. Orang yg terlalu serius dalam beragama, tidak ada unsur seni dan bersenang-senang bisa jadi radikal. Dan yang hidupnya cuma senang2 semata tanpa menyendiri dgn Allah akan menjadi kering jiwanya. Semua harus dipadukan.

      Dan saya suka dgn penjelasan bahwa dunia ini adalah taman surga. Saya terima dan yakini ini..😊

Comments are closed.

Next Post

ADAM (TIDAK) TERCIPTA DARI TANAH

Thu Aug 10 , 2023
SAID […]

Kajian Lainnya