SYARIAT DAN TARIKAT, DUA JALAN MENUJU KESEMPURNAAN BERAGAMA

Jurnal Suficademic | Artikel No.95 | Agustus 2023

SYARIAT DAN TARIKAT, DUA JALAN MENUJU KESEMPURNAAN BERAGAMA
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Syariah dan tarikah adalah dua jalan keislaman, dengan dua fungsi yang berbeda.

Pertama, syariah. Syariah jalan untuk tunduk dan patuh kepada Allah, ketika seseorang masih jauh dengan Allah. Karena itu, syariah disebut juga sebagai “hukum umum” dalam Islam. Hukum ini berlaku untuk semua.

Meskipun kita jauh dengan Allah, tidak tau dimana Allah, tidak mengenal “Wajah” Allah; kita tetap diwajibkan untuk patuh kepada-Nya. Dengan cara menjalankan segala perintah umum yang telah Dia sampaikan dalam kitab hukum utama, Quran dan juga hadis.

Syariah adalah hukum-hukum penyembahan yang berlaku untuk umum. Umumnya memang tidak mengenal Allah. Tau, bahwa ada Tuhan yang bernama Allah. Tapi mereka tidak dekat dengan-Nya. Karena itu, sebagai hamba Tuhan, dimanapun berada, kita secara “lahiriah” diharuskan untuk selalu taat dan patuh pada segala titahnya.

Ini mirip dengan kita rakyat yang ada di segenap pelosok Indonesia. Yang hidup di desa-desa, gunung dan pulau-pulau terpencil. Walaupun jauh dari presiden, kita tetap secara formal diwajibkan taat pada segala aturan dan undang-undang yang ia keluarkan. Sebab, itu aturan umum bagi semua.

Kedua, tarikah. Tarikah adalah jalan untuk “dekat” dengan Allah. Sebagaimana telahbkita bahas dibatas, syariah tidak membawa seseorang dekat dengan Allah. Syariah hanya kerangka umum penyembahan, yang berlaku untuk semua.

Berkutat dengan syariah, berarti kita berkutat dengan tata cara lahiriah penyembahan, sebagai konsekuensi bertuhan. Taat kepada undang-undang, memang tidak serat merta membawa kita dekat dengan presiden. Taat kepada undang-undang hanya sebuah kerangka untuk membawa kita kepada “ketertiban” dalam bernegara, sebagai konsekuensi menjadi warga negara. Taat kepada syariah hanya bertujuan agar kita tertib, tercipta law and order dalam formalitas beribadah dan bermuamalah dengan sesama.

Satu-satunya jalan untuk menjadi dekat dengan Allah, adalah melalui “tarikah”. Tarikah adalah metode perjalanan “jiwa” untuk menuju Allah. Hanya jiwa taqwa (ruhani yang suci) yang bisa bergerak untuk mendekat dengan Allah. Sisi material kita tidak akan pernah bisa sampai kepada-Nya (QS. Al-Hajj: 37).

Proses mikraj, itu terjadi melalui tarikah. Proses terkoneksinya Ruhani Nabi SAW dengan Allah, itu ditempuh dengan tarikah. Semua proses untuk menuju perjumpaan dengan berbagai ontologi keimanan (Allah, malaikat, wujud ruhani dari kitab, entitas cahaya dari Rasul, dsb) itu hanya bisa dilakukan melalui metode tarikah. Tarikah adalah sebuah metode beragama yang dipraktikkan Nabi sejak muda, sejak di Gua Hirak.

Syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji haji; maaf, itu tidak membawa kita dekat dengan Allah. Semua formalitas itu hanya konsekwensi umum yang wajib dikerjakan karena kita adalah hamba Allah. Karenanya, semua ibadah yang selama ini kita kerjakan, sama sekali tidak membuka mata batin. Sama sekali tidak melahirkan pengalaman spiritual. Sama sekali tidak membawa kita kepada perjumpaan (rujuk, liqa, wushul) dengan Allah.

Yang selama ini kita kerjakan hanya ibadah-ibadah umum sebagai hamba Tuhan. Taat membayar pajak, patuh berlalu lintas, rajin masuk kantor; itu tidak membuat kita dekat dengan presiden. Sama sekali tidak. Itu hanya sebagai bukti kita taat dengan aturan-aturan yang dikeluarkan Presiden.

Untuk menjadi dekat dengan presiden sebagai “penguasa” negara, ada langkah-langkah khusus yang harus ditempuh. Ada perjalanan yang harus dilalukan untuk sampai ke Jakarta. Ada lobbi yang harus dilakukan agar diterima. Ada orang-orang dekatnya (wasilah) yang mesti dihubungi, agar bisa terjembatani, sehingga dapat secara mudah dan langsung bertemu dengannya.

Dengan Allah juga begitu. Untuk dekat dan bertemu dengan Allah sebagai “Penguasa” alam semesta, ada langkah metodologis yang harus ditempuh, yang melampaui syariat umum. Ada amalan-amalan nafilah yang harus dikerjakan. “.. Barangsiapa ingin berjumpa dengan Tuhannya, hendaklan ia mengerjakan amal shaleh..” (QS. Al-Isra: 110).

Berbagai amal shaleh “khusus” yang dapat mempertemukan kita dengan Allah, diajarkan dalam pendidikan “tarikah”. Tarikah adalah sebuah pola beragama yang sangat halus, di training secara khusus, sehingga dapat memperbaiki gelombang ruhani. Pola pendidikan inilah yang dapat membebaskan kita dari syirik yang sangat halus. Siapapun yang terbebas dari syirik, pasti akan berjumpa, sejak di dunia akan terkoneksi dan mengalami kontak dengan Allah. Kalau ingin berjumpa dengan Allah, “.. janganlah berlaku syirik dalam beribadah kepadanya” (QS. Al-Isra: 110).

Kalau belum mengalami kontak dan perjumpaan ruhani dengan Allah, belum “karamah”, itu sebuah pertanda bahwa kita masih jauh dengan Allah. Secara lahiriah mungkin sudah terlihat sangat islami. Tapi secara batiniah pasti kita masih berlumuran dengan syirik. Mungkin secara syariat kita termasuk warga yang patuh kepada negara. Tapi sebenarnya kita tidak dikenal oleh Allah. Karena belum punya kontak ruhani dengan-Nya. Belum menjadi kekasih-Nya.

Sebenarnya, pelaksanaan syariat itu baru akan menjadi “powerful”, kalau kita sudah mengenal dan dikenal oleh Allah. Kepatuhan yang dilaksanakan karena mengenal dan dikenal oleh Allah (makrifah), itu berbeda dengan kepatuhan yang ‘buta’, saat belum mengenal dan dikenal. Namun, agama adalah juga sebuah doktrin untuk taat kepada Allah. Mau kenal atau tidak mengenal, kita dipaksa oleh syariat untuk menyembah-Nya.

Namun sempurnanya beragama adalah dengan cara “patuh”, sekaligus mengetahui cara untuk “dekat” dengan-Nya. Karena itulah, syariah dan tarikah idealnya menjadi dua hal yang harus dikuasai oleh setiap muslim. Sayangnya, kita sekarang seperti kehilangan orientasi yang utuh dalam dua hal ini. Ada daerah tertentu, yang kuat mengkampanyekan fikih dan syariat; dan berusaha melabeli sufisme/tarikah sebagai “sempalan”, ” tertutup”, bahkan “sesat”.

Padahal, tanpa mengupgrade agama ke level tarikah (membangun jalan kedekatan dengan Allah), kita akan selamanya menjadi islam sempalan, tertutup bahkan tersesat. Kunci keterbukaan pintu langit dan kedekatan dengan Allah adalah dengan membawa dalil-dalil peribadatan (syariah) ke jenjang pembuktian ruhaniah (tarikah).

Kesimpulan

Fikih dan syariat mendidik kita untuk “patuh” kepada Allah dalam berbagai kerangka aturan lahiriah. Sedangkan sufisme dan tarikat mendidik kita cara bagaimana agar jiwa/batin/ruhani kita bisa terkoneksi dan “dekat” dengan Allah. Syariat adalah pola formal kepatuhan dalam peribadatan; untuk menyembah Tuhan yang “jauh”, tidak serupa dengan apapun, dan tidak diketahui ada dimana. Sementara tarikat adalah; tata cara menyembah Tuhan yang jaraknya lebih dekat dari urat leher, punya Wajah dan ada dimana-mana. Agama mengharapkan kita patuh, sekaligus dekat dengan Allah.

BACA JUGA: “CIRI-CIRI SESAT”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

Komentar Anda

Next Post

SYARIAT UNTUK TAAT, TARIKAT UNTUK DEKAT

Mon Sep 18 , 2023
SAID […]

Kajian Lainnya

%d bloggers like this: