ISLAM: PENYEMPURNA JUDAISME DAN KRISTEN

Jurnal Suficademic | Artikel No.110 | November 2023

ISLAM: PENYEMPURNA JUDAISME DAN KRISTEN
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. Kita sering diberitau, bahwa Islam yang diasuh Muhammad SAW adalah “penyempurna” agama-agama terdahulu. Yaitu, Yahudi (Judaisme) dan Nasrani (Kristen). Paling tidak, dua agama itulah yang serumpun dengan Islam. Jejak sanad ketiga agama ini bisa dengan mudah ditelusuri sampai kepada Ibrahim as, “bapak monoteisme”.

Semua agama samawi, pada prinsipnya adalah “Islam”. Termasuk Yahudi dan Nasrani. Semua nabi Bani Israil membawa konsep tauhid yang sama dengan nabi Bani Ismail. Walau kemudian diakui, seiring perjalanan waktu, disana sini terjadi bias dan penyimpangan. Selain melakukan kemungkaran, membunuh para nabi, mengubah teks suci, Yahudi dan Kristen juga mengaburkan ajaran lewat fabrikasi teks dan tafsir-tafsir baru. Sehingga lahir kitab suci dalam versi beragam. Semua dilakukan sesuai kepentingan kapitalistik para ulama, pengusaha dan penguasa.

Karena itu, tidak hanya riba’ dan bisnis keuangan yang populer dalam tradisi penganut judaisme Talmud. Judi pun menjadi sangat bias. Meskipun tidak disukai, hukumnya juga tidak dilarang. Kenyataannya, banyak Yahudi yang menjadi pengusaha judi. Mungkin dari tradisi “judea” inilah lahir kata “judi”. Miriam Adelson (78th) misalnya, ratu judi kelahiran Israel, disebut Forbes (2023) sebagai orang terkaya 24 di dunia. Kekayaan pemilik Casino Las Vegas Sands ini mencapai Rp 509 Trilyun. Perempuan terkaya di Amerika ini menjadi salah satu megadonor bagi berbagai kampanye politik di AS.

Sebagaimana Islam, Yahudi juga sangat kuat dengan doktrin monoteismenya. Begitu bertauhidnya mereka, sampai melahirkan kelompok ektrim. Orang diluar mereka dianggap kafir. Cuma agama kami yang benar. Cuma ras kami yang diterima Tuhan. Gara-gara ini, agama Yahudi menjadi sangat eksklusif. Arogan dan tidak toleran. Zionisme Israel dibangun dengan keyakinan ekstrim ini. ‘Purifikasi’ tauhid menjadi isu sentral bagi Yahudi ekstrim. Karena itu, mereka tidak sungkan-sungkan melakukan teror dan pemusnahan etnis lain, atas dasar agama.

Dalam Islam juga ada kelompok yang terimbas keyakinan israiliyat yang ektrim ini. Memandang dirinya paling benar. Hanya bangsanya yang paling mulia. Hanya mazhabnya yang masuk surga. Hanya dalilnya yang sahih. Selebihnya rafidhah, bid’ah dan kafir. Sehingga harus diusir, dibunuh dan diperangi. Mereka membangun doktrin, negeri ini adalah tanah yang dijanjikan Tuhan untuk kelompoknya saja. Selebihnya harus dipersekusi. Dunia harus dibersihkan dari kesyirikan. Selain kami, semua musyrik. ISIS, Al-qaeda, dan kelompok sejenisnya; diciptakan oleh Mossad dan CIA melalui akar judaisme ekstrim ini. Gerakan-gerakan takfiris ini mengusung ide-ide brutal yang serupa dengan zionis, tapi dicapai lewat simbol-simbol Islam.

Islam Muhammadi muncul untuk mengkoreksi rigiditas pemahaman hukum dan ekstrimisme semacam ini. Sehingga lahir sikap tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang) atau ‘itidal (tegak lurus). Lahir “Negara Madinah”, yang menghargai semua agama dan perbedaan, serta melarang semua bentuk ekstrimisme. Suku bangsa yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa (QS. Al-Hujurat: 13). Semua agama, sejauh bertauhid pada jalur sanad masing-masing, percaya hari akhir dan melakukan amal shaleh; tidak perlu takut dan sedih (QS. Al-Baqarah: 62; Al-Maidah: 69).

Prinsip-prinsip ini menjadikan Islam sebagai agama akhir zaman, agama paling moderen dan paling siap menghadapi keragaman. Doktrinnya telah melampaui prinsip-prinsip fasisme dan rasisme dari judaisme zionistik. Masing agama dan mazhab tidak perlu kehilangan keyakinan. Mereka bisa hidup bersama, di tanah suci yang sama, dengan derajat yang sama. Namun terikat dalam satu hukum yang saling menghargai, dan sama-sama berlomba dalam berbuat kebaikan (QS. Al-Baqarah: 148).

Berbagai perang yang pernah dilalui Muhammad SAW bertujuan untuk “pembebasan” (liberation). Bukan “pendudukan” (occupation). Liberation adalah jenis perang yang punya fikih dan etika, dan bertujuan menciptakan visi sosialistik “ummah” dengan mengeliminir waham kapitalistik dari sebuah masyarakat. Sedangkan occupation adalah bentuk imperialisme atau kolonialisme. Sebuah perang tanpa fikih dan etika. Karenanya, para kolonialis tidak segan-segan melakukan genosida di tanah jajahan mereka. Anak-anak, perempuan, fasilitas publik; semua disikat. Bahkan sampai hilang penduduk aslinya. Ini dialami suku Aborigin di Australia, Indian di Amerika, ataupun suku-suku tertentu di Afrika; saat negara-negara Eropa masuk kesana.

Imperialisme tidak hadir untuk melakukan integrasi atau asimilasi. Melainkan diskriminasi dan annihilasi (pemusnahan). Ada model dakwah yang mengikuti pola imperialisme. Caranya, menghabisi semua tradisi lokal yang dianggap “beda”, karena dianggap musyrik atau tidak pernah dilakukan Nabi. Ada juga bentuk dakwah yang mencoba memberi frame, penguatan dan spiritualitas terhadap tradisi/wisdom lokal. Tidak dihabisi semua. Sufisme mengikuti pola terakhir, bijak dan akomodatif.

Nabi Muhammad pun ketika muncul, tidak bekerja untuk menghabisi semua tradisi terdahulu. Beliau hanya memperbaiki, mempertajam, dan menyempurnakan keyakinan yang telah dibawa para nabi sebelumnya. Serta melarang hal-hal yang memang telah sengaja disalah artikan oleh kaumnya. Muhammad SAW tidak hadir untuk melakukan pembersihan etnis dan membangun arogansi kaum tertentu. Bahkan, Quran yang dibawanya, lebih banyak menceritakan nabi-nabi terdahulu, daripada menceritakan tentang dirinya.

Berbeda dengan zionis. Mereka hadir cenderung untuk menegasikan yang lain. Menolak nabi, selain yang telah ada pada kelompok mereka. Bahkan, jika ditemukan, akan membunuhnya. Karena itu pula Buhaira pernah meminta Abu Thalib menjaga Muhammad kecil, karena sedang diincar untuk dihabisi.

Kelompok-kelompok ekstrim ini sebenarnya bukanlah Yahudi sejati. Bukan “bangsa terpilih” yang disebut-sebut dalam Kitab Suci. Melainkan kelompok “khawarij”-nya Yahudi. Yang telah keluar dari akhlak terpuji seorang Yahudi islami. Sehingga dikutuk menjadi ‘monyet’ atau ‘babi’ (QS. Al-Baqarah: 65; Al-Maidah: 60; Al-Araf: 166). Zionis bukanlah orang-orang yang patuh pada Musa as. Bukan pengamal Taurat yang murni. Melainkan kelompok-kelompok fasik, yang menjual agama. Pengamal ayat-ayat rasis dari Talmud.

Sekelompok Yahudi fasik (zionis) ini memanfaatkan “kerasnya” hukum Yahudi, bukan untuk memperbaiki diri. Melainkan untuk menjustifikasi kekerasan terhadap manusia lainnya. Padahal, Musa as memperkenalkan hukum-hukum yang keras untuk mengontrol kerasnya watak Bani Israil yang telah lama diperbudak di Mesir. Lama hidup tertekan, Musa as juga mengajarkan kaumnya keberanian dan perlawanan. Kerasnya syariat Yahudi diwakili oleh prinsip “an eye for an eye”. Mata dibalas mata. Mirip-mirip balas dendam dengan cara serupa. Keras memang. Dari sisi hukum qishash, itu memang adil.

Lalu datang Isa as (Yesus) yang mengkhutbahkan prinsip alternatif, “turning the other cheek”. Kalau ditampar pipi kiri, kasih pipi kanan. Beliau mengajarkan etika, maaf, kesabaran, kemanusiaan dan nilai-nilai sufistik non kekerasan. Melakukan perlawanan tidak selalu menjadi cara terbaik untuk memenangkan perang. Berkorbanlah, jika dengan cara itu kita menjadi manusia yang lebih luhur. Isa as sebenarnya hanya mengingatkan kembali Bani Israil akan nilai-nilai gnostik yang pernah diajarkan Musa as. Sesuatu yang diperoleh dari Khidir. Tradisi spiritual ini dikenal dengan Kabbalah. Walau kemudian banyak diselewengkan ke arah penyembahan setan (freemason). Ilmu spiritual, ketika tidak ada guru/wasilah, kalau bukan wali Tuhan yang membimbing, itu pasti setan gurunya.

Kalau judaisme dikenal dengan rigiditas hukum Tauratnya, Nasrani populer dengan nilai-nilai esoteris dan kasih sayangnya. Yahudi kuat di syariat. Nasrani tekun di tasawuf. Islam menggabungkan keduanya. Karena itu kita disebut “umat pertengahan” (ummatan washatan). Untuk itulah kita perlu memahami syariat, sekaligus tasawuf. Sehingga bisa memahami dan mengamalkan agama secara “moderat”. Kita tidak boleh kehilangan sikap fundamental dalam urusan akidah/keimanan. Tapi juga tidak menjadi fundamentalis gara-gara itu. Kita harus bisa membaca teks hukum, sekaligus mampu merasakan kehadiran Tuhan. Otak dan hati mesti berjalan seimbang. Hukum memang harus ditegakkan. Tapi dengan cara-cara yang arif (etis-moralis), sesuai “bisikan” Tuhan. Harus ada kemampuan berinteraksi dengan Tuhan, jangan dengan kitab hukum semata.

Kesimpulan

Jadi, Muhammad SAW diutus Allah bukan untuk membawa agama baru. Melainkan, melanjutkan ajaran tauhid yang telah ada sejak nabi sebelumnya, pada level yang lebih kontekstual. Umat Islam dipilih Tuhan sebagai “khaira ummah” (umat terbaik, QS. Aali Imran: 110), bukan untuk menjadi makhluk rasis. Melainkan untuk membangun civilization, menegakkan amar makruf dan nahi munkar dengan prinsip-prinsip yang tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang) dan ‘itidal (tegak lurus).

Sampai era milenial ini, Anda bisa menyaksikan sendiri. Bagaimana rasisnya sikap AS, Inggris, Perancis dan sekutunya terhadap apa yang terjadi di Palestina. Anda tidak bisa berharap sama sekali kepada negara-negara maju yang fasik itu, untuk menjadi “penengah” atas krisis kemanusiaan. Mereka semua punya agenda imperialisme dengan mendukung zionis. Harus ada sebuah bangsa atau umat lain, yang berjihad untuk menegakkan amar makruf nahi munkar, sesuai prinsip-prinsip dasar kemanusiaan yang bersifat universal. Quran telah mengingatkan kita untuk menjadi bagian dari itu. Hanya dengan berjihad menegakkan keadilan, kita akan menjadi “bangsa terpilih”, menjadi lebih civilised dari ‘monyet-monyet’ itu.

BACA: YAHUDI PERNAH DIBENCI DI EROPA, KINI PERILAKU JAHATNYA PUN DILINDUNGI MEREKA; KENAPA?

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

One thought on “ISLAM: PENYEMPURNA JUDAISME DAN KRISTEN

Comments are closed.

Next Post

HABIS MAGRIB MENGAJI, HABIS SUBUH NGOPI

Tue Nov 21 , 2023

Kajian Lainnya