1 DARI 10 ORANG DI INDONESIA MENGALAMI GANGGUAN JIWA, OBATNYA APA?

Jurnal Suficademic | Artikel No.112 | November 2023

1 DARI 10 ORANG DI INDONESIA MENGALAMI GANGGUAN JIWA, OBATNYA APA?
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. “Di Indonesia, 1 dari 10 orang mengalami gangguan jiwa,” kata Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin. Hal itu disampaikannya dalam rapat kerja bersama Komisi IX di DPR RI (CNN, 8/11/2023). Data ini diperoleh dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018.

Selanjutnya dirincikan. Terdapat lebih dari 20 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun yang terkena gangguan mental emosional. Selain itu, sekitar 12 juta orang mengalami depresi. Sementara, 450.000 lainnya menderita skizofrenia/psikosis yang merupakan gangguan jiwa berat (FK UI, 2022). Temuan ini bersifat diagnosis sederhana, via observasi manual (kuisioner) di tingkat fasilitas kesehatan (faskes). Artinya, secara umum terdeteksi ada banyak sekali kasus di Indonesia yang mengarah ke gangguan ke jiwa.

Sumber Penyakit Jiwa: “Cemas” (Anxiety)

Salah satu gejala kejiwaan yang umum dialami masyarakat kita adalah “kecemasan” (anxiety). Problem ini memang masih sulit terdeteksi. Orang-orang bisa saja tersenyum dalam video dan foto yang setiap hari mereka upload ke medsos. Tapi, rata-rata, jika kita telusuri, jiwanya sedang bermasalah.

Penyakit gelisah (anxiety) tidak hanya diderita orang miskin. Orang kaya juga begitu. Ini juga bukan fenomena yang khusus dialami oleh orang-orang tidak berpendidikan. Orang terdidik semacam profesor doktor pun mengidap penyakit yang sama. Bukan cuma pengangguran, pejabatpun tinggi tingkat kecemasannya.

Jika tidak tertangani akan mengarah ke depresi dan skizofrenia. Skizofrenia adalah gangguan mental berat yang dapat memengaruhi tingkah laku, emosi, dan komunikasi. Kalau Anda suka marah, atau sensistif sekali sehingga mudah tersulut emosi, kemungkinan besar sudah terkena penyakit ini. Di rumah, seringkali seorang suami marah dengan istri tanpa alasan yang jelas. Si istri juga begitu, tiba-tiba saja marah ke anak akibat hal-hal sederhana. Jika sudah berulang-ulang, itu kejiwaannya sudah pada level skizofrenia. Tanpa disadari, perilaku kita sudah berubah menjadi “gila”.

Manusia adalah makhluk “angan-angan”. Dia mengkhayal banyak hal. Ada harapan yang dibangun. Ingin kaya. Ingin sukses. Ingin bahagia. Ingin berkuasa. Ingin naik pangkat. Ingin dapat jabatan. Banyak sekali keinginannya. Batasannya juga tidak selalu jelas. Sebab, nafsu memang tidak pernah terpuaskan. Semua ini membentuk angan-angan, delusi, dan halusinasi. Karenanya, ia akan mengalami ketakutan dengan dunia yang imperfect, ketika yang dihayalkan tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

Berawal dari berbagai angan-angan, kecemasan dan ketakutan; lalu lahir aneka penyakir fisik. Diabetes, jantung, kanker, mag, infeksi dan lain sebagainya; semua ini penyakit yang dipicu oleh kondisi psikis. “Air muka” adalah pancaran kondisi jiwa. Sakit yang kita alami, seringkali merupakan efek dari “dosa” (gelombang batin yang terganggu). Kondisi fisik kita terbentuk dari berbagai kondisi psikologis. Ada berbagai gelombang di alam bawah sadar, yang menjadi blueprint terhadap realitas lahiriah (nasib) kita.

Karena itu, kami setuju dengan WHO, perlu strategi “mental health” yang bagus untuk menangani gangguan jiwa. Khususnya “kecemasan” (anxiety), yang menjadi pemicu kelahiran semua penyakit. Disatu sisi, tidak mungkin merawatnya di rumah sakit jiwa (RSJ). Ada stigma buruk terhadap RSJ. Orang-orang cenderung menghindarinya. Cara terbaik adalah dengan mengembalikan mereka ke komunitas masing-masing. Pengobatannya pun bukan semata melalui terapi obat-obatan kimia. Tapi lebih kepada proses “penyucian jiwa”.

Obat Penyakit Jiwa: “Penyucian Jiwa” (Takiyatun Nafs)

Penyakit jiwa, sudah sepatutnya ditangani dengan “Jiwa”. Bukan dengan obat-obatan. Unsur kimiawi sering menjadi shorcut untuk memanipulasi mekanisme kerja tubuh. Pada akhirnya justru merusak kekebalan tubuh. Tapi, kapitalisme farmasi dan kedokteran seringkali menjadikan obat sebagai solusi. Mungkin cocok untuk kasus kecelakaan. Sementara, tubuh juga punya mekanisme untuk melakukan penyembuhan terhadap dirinya sendiri. Metode ini harus diperkuat.

Tubuh manusia, yang secara lahiriah terlihat sebagai materi; sebenarnya pada lapisan terbawah tersusun dari gelombang-gelombang elektromagnetik (cahaya) yang bersifat immateri. Itulah “esensi” manusia. Penyembuhan, dalam konsepnya yang paling dasar, adalah mekanisme untuk menata kembali semua gelombang yang mengatur cara kerja dunia fisika.

“Gelombang cahaya” itulah jiwa, wujud batiniah dari manusia. Gelombang-gelombang ini masuk dalam wilayah metafisik. Ia bukan sesuatu yang bisa dicerap langsung oleh indera. Konon lagi, ada sebuah Gelombang lebih tinggi, yang belum diketahui, yang para saintis menduganya sebagai penggerak semua gelombang yang ada dalam tubuh kita. Ada “Cahaya” lebih tinggi, yaitu Cahaya di atas cahaya (QS. An-Nur: 35), yang menjadi Asal Usul atau Penggerak Awal (Causa Prima) dari semua gerak gelombang/cahaya dalam tubuh kita.

Masih banyak misteri terkait cara kerja unsur psikologi. Kondisi psikologis manusia bukan an sich karena reaksi materi kimiawi yang bisa diintervensi dengan obat-obatan. Melainkan ada penggerak lain di luar struktur materi. Disinilah kemudian hadir para “ahli spiritual” (para nabi dan wali), yang menyampaikan rahasia kesehatan pada level “metafisik”. Asal usul kita adalah “alam Ruh”. Karenanya, elemen ruh/jiwa (gelombang bawah sadar dari materialitas kita) hanya bisa diperbaiki melalui intervensi Ruh/Jiwa yang lebih tinggi.

Gelombang ruh/jiwa kita hanya bisa disembuhkan ketika dicelup dalam gelombang Ruh/Jiwa yang lebih murni. Ini serupa dengan mekanisme thaharah dalam dunia materi. Materi, seperti kulit yang kena najis, hanya bisa dibersihkan oleh unsur materi yang lebih murni, yaitu air. Begitu juga dengan jiwa; hanya bisa disucikan oleh Jiwa yang lebih suci. Artinya, obat dari segala penyakit jiwa adalah “perjumpaan/keterkoneksian” dengan Ruh. Tananzalul malaikatu war-Ruh (QS. Al-Qadar: 3). Ketika Ruh hadir dalam jiwa seseorang, orang itu akan mengalami enlightenment (spiritually healed). Hilang rasa-was-was dan terbangun kesadaran baru yang sangat positif.

Penyakit dasar yang dialami semua orang adalah “cemas” (anxiety). Dalam bahasa agama, ini disebut was-was: “syarril was-was al-khannas” (bisikan buruk yang tersembunyi). Bisikan-bisikan inilah yang membangun alam kesadaran manusia: “yuwaswisu fi shudurinnas”. Karena halusnya gelombang ini, maka disebut setan atau “jin”. Gelombang yang halus (jin) ini, selain melekat pada berbagai elemen alam, juga ada dalam diri setiap manusia: “minal jinnati wan nas”.

Surah An-Nas: 1-6

Arti surah An-Nas: 1-6: (1) Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan manusia; (2) Raja manusia; (3) Sembahan manusia; (4) Dari kejahatan bisikan/kecemasan yang tersembunyi; (5) Yang membisikkan ke dalam kesadaran (dada) manusia; (4) Dari (usnur) jin dan manusia.”

Ayat ini mengulas penyakit dasar kejiwaan manusia, yaitu “kecemasan” (anxiety), yang menjadi sumber segala penyakit. Kecemasan akut, dalam bahasa ilmiah moderen disebut “skizofrenia”. Sementara, dalam literatur klasik keagamaan disebut “was-was” (bisikan setan/unsur-unsur buruk dari gelombang jin). Tidak memandang kelas, semua manusia (tua-muda, miskin-kaya, bodoh-cerdas); mengidap penyakit ini!

Penutup

Jika 1 dari 10 masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim ini mengalami gangguan jiwa, itu pertanda ada masalah dalam kita beragama. Boleh jadi cara beragama yang masih salah. Ataupun cara kita beragama yang belum kaffah (tuntas/sempurna). Beragama pada level syariat saja memang bisa membuat kita “was-was”. Betapa banyak orang yang menjadi radikal, suka mengkafirkan, merasa suci, rasis dan reaktif gara-gara doktrin dan tafsir terhadap dalil-dalil tertentu dari agama. Itu semua bentuk “kegilaan” akibat informasi yang tidak terkelola secara bijak. Destruksi pemikiran yang terjadi pada level gelombang Beta di otak ini dapat disembuhkan dengan proses “zikir” (meditatif). Karena itulah, ada dimensi gnostis (tasawuf/tariqah) dalam Islam untuk melakukan tugas itu.

Sebenarnya, beragama atau tidak beragama, semua orang punya bawaan “sakit jiwa” (jiwa fujur). Obatnya satu: “penyucian atau penataan kembali gelombang kejiwaan” (tazkiyatun nafs); sehingga menguat sisi taqwanya. Ada metode mistisisme khusus untuk itu. Dalam teknik-teknik healing terkini, itu dipraktikkan lewat pola-pola hipnotherapy. Sepintas, rekayasa ini mampu menata sejumlah gelombang elektromagnetik di otak. Tapi tidak mampu menjangkau gelombang Gamma (Divine Wave/Ruh/Jibril). Untuk menjangkau gelombang malaikat dan ketuhanan, seseorang mesti mendalami “tasawuf”, yang merupakan metode esoteris/terapi psikospiritual yang diajarkan para nabi.

Diutusnya para rasul; serta hadirnya guru-guru spiritual disetiap komunitas, sebenarnya menjadi dokter untuk mengobati berbagai “gangguan jiwa” (penyakit hati). Ketika gangguan jiwa yang sangat halus ini dapat diperbaiki, akhlak dan pola komunikasi masyarakat otomatis menjadi baik. Ketika jiwa mulai menjadi “tenang” (muthmainnah); masyarakat terjauhkan dari halusinasi, delusi, kekacauan berpikir dan berbagai perubahan sikap yang menyebabkan mereka berperilaku gila/radikal (ammarah/lawwamah).

BACA: “SPIRITUAL BRAINWAVES”: MENATA GELOMBANG YANG BERKESADARAN ILAHI
BACA: MENG-UPGRADE GELOMBANG “RUH”
BACA: “GELOMBANG BAWAH DAN ATAS SADAR”: KUNCI SUKSES, TENANG DAN BAHAGIA
BACA: “RUH”: ARTINYA JIWA, ATAU JIBRIL?

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

Next Post

SAYYID AHMAD, TAMAT IQRAK

Thu Nov 23 , 2023
___________________SAID […]

Kajian Lainnya