“HOLDING ON, LETTING GO”: SEBUAH SENI KEHIDUPAN

Jurnal Suficademic | Artikel No.114 | November 2023

“HOLDING ON, LETTING GO”: SEBUAH SENI KEHIDUPAN
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. Ada dua seni dalam menjalani hidup: “holding on” dan “letting go”.

Pertama, “Holding On”

“Holding on” adalah konsep kepemilikan. Pada tahap awal kehidupan, manusia secara alamiah belajar untuk memiliki dan menguasai. Lalu berusaha mempertahankannya. Rasa sakit akan dialami manakala hartanya disita, statusnya dicabut dan jabatannya hilang.

Mode kehidupan paling primitif ini, secara umum kita temukan pada anak kecil. Pada fase awal perkembangan kepribadian, seorang anak selalu berusaha untuk memiliki sesuatu. Ia akan menangis saat meminta sesuatu. Juga akan menjerit-jerit manakala barang mainannya diambil orang. Pada fase ini, mungkin ia belum sepenuhnya memahami konsep berbagi. Ia masih belajar bagaimana cara memiliki dan mempertahankannya. Ini bukan sesuatu yang salah. Melainkan hal yang alamiah. Setiap orang perlu berjihad untuk mempertahankan hartanya.

Namun, ada hal yang mesti kita sadari. Fase awal kehidupan seperti ini adalah fase perkembangan “ego” dan naluri ingin memiliki. Manusia, disatu sisi, adalah makhluk primata. Ada unsur kebinatangannya. Ada unsur tribal, yang membuatnya selalu punya hasrat untuk menguasai.

Merujuk kepada berbagai teori motivasi, manusia pada level primitif, adalah makhluk materi. Ia akan berusaha memenuhi unsur-unsur “basic physiological and safety needs”. Disini seringkali masih berlaku hukum “survival of the fittest.” Tidak jauh berbeda dengan hewan, manusia siap berperang untuk mendapatkan serta mempertahankan sesuatu.

Untuk itulah hadir syariah (berbagai aturan yang bersifat relijius ataupun hukum yang bernilai positif lainnya). Tujuannya untuk meregulasi hasrat materialisme yang tidak terbatas. Pada level syariah, Anda tidak bisa mengajari manusia, bahwa semua yang dia miliki adalah milik Tuhan. Otaknya tidak akan paham sampai ke level itu. Tapi, untuk sedikit membuka mata hati, pada level syariah diajarkan, bahwa hanya 2,5 persen dari harta yang dimiliki adalah milik Tuhan.

Konsep “holding on” itu perlu. Melalui konsep ini kita berusaha mengejar dunia. Belajar menjadi kaya. Belajar mempertahankan hak kita. Namun, penyakit pelit dan kikir sering muncul pada level kehidupan semacam ini. Begitu juga dengan penyakit pamer, bermegah-megahan dan suka menimbun harta. Kapitalistik dan koruptif.

Kedua, “Letting Go”

Baru kemudian, pada level “letting go”, seseorang akan diajari bahwa segala sesuatu yang ia miliki adalah 100 persen milik Tuhan. Ini bukan lagi syariah. Ini sudah masuk level etika relijius (ihsan/tasawuf). Orang tidak bisa dipaksa mengakui bahwa segala sesuatu milik Tuhan. Orang hanya bisa diajak merasakan, bahwa ia tidak memiliki apapun. Dari kesadaran inilah lahir kemampuan untuk melepaskan. Karena itu, sahabat nabi banyak yang ‘miskin’. Sebab, konsep zakat bukan lagi 2,5 persen. Sudah mirip-mirip 100 persen.

Karena itu, hukum-hukum sedekah (ikhlas) diajarkan secara rinci pada level tasawuf. “Letting go” adalah fase kehidupan yang advance. Yang dibangun bukan lagi kesadaran memiliki. Melainkan perasaan “faqir indallah”. Karena itulah nilai-nilai sufisme mendidik seseorang untuk menjadi ‘miskin’. Sekaya apapun dia, harus mampu merasakan kefanaan diri dihadapan Tuhannya.

Dari pola kehidupan seperti ini, muncul sifat ringan tangan. Pasrah. Ikhlas. Tawadhuk. Suka menolong. Dermawan. Sebab, apapun yang dimiliki, apakah itu harta, tenaga maupun pikiran; semuanya titipan, milik Tuhan. Ia tidak akan segan-segan mengembalikan itu semua, pada saat diminta. Bahkan nyawapun akan ia berikan, kalau Tuhan memanggilnya.

“Letting go” adalah perwujudan dari konsep La haula wala quwwata illa billah. Hanya orang dewasa yang memahami ini. Tidak ada sumberdaya maupun kekuatan, melainkan semuanya milik Allah, milik Rasulullah. Beribadah sekalipun, pada level ini, bukan lagi untuk mencari atau menumpuk pahala. Melainkan untuk dihadiahkan kepada sang Guru dan Rasulnya. Inilah yang diajarkan dalam tariqah misalnya, “seumpama ada pahala dari ibadah yang kulakukan ini, kuhadiahkan semuanya kepada Rasulullah”. Karena itu, pada level sufistik yang hakiki, sifat kikir dan bermegah-megahan sulit berkembang dalam diri seseorang.

Karena perasaan “tidak memiliki” apapun, serta kemampuan untuk “menyerahkan semuanya” kepada Allah; orang-orang pada level “letting go” punya sikap pasrah (taslim) yang luar biasa. Psikis psikologisnya cenderung sehat. Ia mampu mengosongkan dirinya dari apapun yang berpotensi membuat alam bawah sadarnya sakit. Karenanya, pikirannya selalu positif. Auranya bagus. Spiritualnya kuat. Ia mudah memaafkan dan mampu menyembuhkan semua luka batin. Banyak penyakit yang sembuh manakala seseorang berada pada “state of letting go”. Ia bisa menerima setiap kondisi yang ia alami sebagai bagian dari ujian dan dinamika dalam menjalankan tugas-tugas kekhalifahan.

Kesimpulan

“Life is a balance of holding on and letting go”, Rumi. Hidup adalah keseimbangan antara menarik dan melepaskan. Holding on dan letting go adalah “hukum pernafasan”, hukum utama kehidupan. Setelah ditarik, lalu tanpa jeda, harus segera dilepaskan. Jangan pernah memiliki. Kita hanya menjadi wadah untuk penyaluran. Inilah hukum kaya raya, sekaligus senantiasa faqir disisi Tuhan. Memiliki sekaligus dermawan.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

One thought on ““HOLDING ON, LETTING GO”: SEBUAH SENI KEHIDUPAN

Comments are closed.

Next Post

MARKET DAY, SDN 16 BANDA ACEH

Tue Nov 28 , 2023
___________________SAID […]

Kajian Lainnya