“BUBARNYA AGAMA”, DIKAJI OLEH TIGA AKADEMISI UIN SUNAN KALIJAGA

JOGYAKARTA. “Bubarnya Agama”, sebuah puisi viral yang ditulis oleh Said Muniruddin, dikaji oleh akademisi dari UIN Sunan Kalijaga Jogyakarta.

Tiga tim peneliti ini terdiri dari Dr. Tatik Mariyatut Tasnimah, M.Ag, dosen pada Prodi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga. Dua penulis lainnya adalah Ahmad Hizkil dan Mukhotob Hamzah. Keduanya adalah mahasiswa pascasarjana pada institusi yang sama.

Hasil kajian mereka berjudul “Corona in the Poet’s Perspective: A Comparative Literature study of The Poetry “Bubarnya Agama” and “Syukran Kuruna”. Dipublikasikan pada Al-Ta’rib, Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, IAIN Palangka Raya, Vol. 9, No. 2, December 2021, 187-204. Hasil penelitian tersebut menganalisis pesan dari dua puisi tentang pandemi virus Corona. Artikelnya juga dapat dibaca/download disini.

“Bubarnya Agama”

Puisi pertama berjudul “Bubarnya Agama”, adalah karya Said Muniruddin asal Aceh – Indonesia. Puisi tersebut terposting di web saidmuniruddin.com; pada 16 Maret 2020. Pada awal sempat “kisruh”. Entah bagaimana, puisi yang viral pada masa pandemi ini sempat mengambil nama guru kita; KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai penulisnya. Mungkin pada awalnya beredar potongon puisi sufistik ini tanpa nama penulis. Sehingga ada yang tidak sengaja membubuhi nama Gus Mus sebagai pemiliknya.

Said Muniruddin, selain telah menulis hampir 700 artikel ilmiah-populer terkait leadership dan tasawuf; ada sekitar 85 puisi sufistik lainnya yang belum terkompilasi. Puisi-puisi tersebut dapat diakses di “List Puisi Said Muniruddin”.

“Syukrān Kurūnā”

Puisi kedua yang diangkat oleh tiga peneliti ini adalah “Syukrān Kurūnā”, karya Jabeer Ali Ba’adany asal Yaman, yang tinggal di Amerika. Jabeer telah menulis beberapa buku. Salah satu karyanya adalah “Diwan/Asy-Sya’ir” (2019), yang berisi kumpulan puisi yang ia tulis selama hidupnya. “Syukrān Kurūnā” pertama kali ia posting di Tweeter-nya pada 15 Maret 2020.

Analisis Peneliti

Sebagaimana disebut oleh Ahmad Hizkil, Mukhotob Hamzah, dan Dr. Tatik Mariyatut Tasnimah, M.Ag, penelitian tersebut berusaha mengungkap persamaan dan perbedaan kedua puisi ini berdasarkan unsur intrinsik dan ekstrinsiknya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan sastra bandingan.

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca dan catat. Yaitu, penulis membaca secara teliti dan mendalam kemudian mencatat hal-hal penting dari kedua puisi tersebut. Sedangkan untuk teknik analisis datanya adalah deskriptif-komparatif yakni memaparkan unsur intrinsik dan ekstrinsik kedua puisi kemudian membandingkannya. Pesan yang terkandung dalam kedua puisi dihasilkan dari hasil pemaknaan dan perbandingan unsur keduanya.

Peneliti tersebut mengatakan, hasil penelitian menunjukkan bahwa: “Puisi Bubarnya Agama karya Said Muniruddin asal Indonesia, dan puisi Syukrān Kurūnā karya Jabeer Ali Ba’adany asal Yaman, adalah dua puisi yang memiliki ciri khas tersendiri dari segi unsur intrinsik dan ekstrinsiknya. Kedua puisi tersebut merupakan respon dua penyair berbeda negara terhadap pandemi virus Corona yang sedang melanda seluruh belahan dunia. Kedua penyair memiliki cara pandang tersendiri dalam memaknai pandemi virus corona tersebut. Meski demikian, kedua penyair sama-sama melihat Corona sebagai sesuatu yang membawa hikmah dan perubahan besar terhadap tatanan berkehidupan dan berkeagamaan umat manusia.”

Secara spesifik, peneliti mengurai berbagai “elemen intrinsik” (affinity aspect) yang ada di dalam kedua puisi ini. Termasuk topik (topic), diksi (diction), sajak (rhyme), nada dan nalar (tone dan sense), metafora (metaphore) dan pesan (message). Penulis juga mengungkap “elemen ekstrinsik” (aspek tradisi), yang menjadi latar belakang tradisi munculnya sosok penyair.

Selain itu, penulis juga mengurai persamaan dan perbedaan dari kedua puisi yang berasal dari dua negara yang berbeda tersebut. Persamaan kedua bentuk puisi diulas dari perspektif tekstual dan kontekstual. Sejumlah kesamaan tekstual meliputi segi gaya bahasa (language style) serta elemen konstruktif lainnya (other constructive elements).

Sedangkan sisi kontekstualnya mencakup latar lahir dan pesan dari puisi (background of the creation and message). Semenetara, perbedaan kedua puisi meliputi tema dan penekanan (theme and emphasize). Termasuk juga perbedaan linguistic rule (balaghah) dari masing puisi. Sebab, yang satu diungkap dalam bahasa melayu, satu lagi dalam bahasa arab.

Masih banyak sisi lain yang coba diulas oleh tiga peneliti dari UIN Sunan Kalijaga ini. Artikel ilmiah berbahasa Inggris ini cukup menarik. Karena mampu mengevaluasi sekaligus mengapreaiasi sebuah karya sastra sufistik moderen Indonesia, dalam perbandingannya dengan karya penyair di Arab sana, terkait pandemi. All the best untuk peneliti, syukran!

Salah satu video puisi “Bubarnya Agama”

[Tim Suficademic-News].*****

___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
Channel WA: The Suficademic
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

Next Post

ISLAM, TASAWUF DAN "DOCTOR OF PHILOSOPHY"

Fri Jan 12 , 2024
Jurnal […]

Kajian Lainnya