BISAKAH KITA SAMPAI KEPADA ALLAH?

Jurnal Suficademic | Artikel No. 16 | Januari 2024

BISAKAH KITA SAMPAI KEPADA ALLAH?
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

SAAT sedang ngopi Ahad pagi, seorang kolega bertanya, “Apakah Pak Sayed sudah sampai kepada Allah?”. Kebetulan pagi itu sempat berkembang sedikit tentang topik tasawuf.

Ini pertanyaan sederhana. Tapi menjebak. Kalau kita jawab “sudah”, muncul dua konsekuensi. Pertama, yang menjawab akan terlihat sombong. Kedua, jawaban seperti itu juga bisa menjadi bahan tertawaan karena dianggap mengada-ngada. Sangat memalukan memang, kalau Anda mengaku sudah sampai ke Tuhan. Dan bisa-bisa itu menjadi “fitnah”.

Karena itu, tasawuf mendorong orang untuk hati-hati berbicara. Bahkan harus belajar untuk menyimpan rahasia, sekalipun itu benar. Sebab, tidak semua orang bisa memahami apa yang kita maksudkan. Lebih baik seseorang diajak bermujahadah, lalu merasakan sendiri (mendapat jawaban) terhadap apa yang ia tanyakan dan ingin ketahui. Daripada dipaksakan menjawab tentang sesuatu, sementara kerangka pemahamannya tentang esensi Wujud belum sampai kesitu.

Karena itu, saya tidak mau menjawab apakah saya sudah sampai kepada Allah atau belum. Sebab, pertanyaan itu adalah pertanyaan untuk kita semua.

Apakah Kita sudah Sampai Kepada Allah?

Itu pertanyaannya. Kata “sampai”, dalam terminologi lain disebut “wushul” atau “rujuk”. Bisa diterjemahkan juga dengan konek, terhubung, tersambung, berjumpa, akrab, diterima dan komunikatif dengan Allah.

“Apakah kita semua sudah sampai kepada Allah?”. Jawabannya apa?

Pertama, jika jawabannya “sudah”, berarti Anda sudah mulai mereplika (menauladani) pengalaman para nabi dan orang-orang shaleh. Mereka semua wushul dengan Allah. Itu bagus.

Kedua, jika jawabannya “belum”, berarti kita bisa termasuk dalam kategori orang-orang “sesat”. Arti sederhana dari sesat adalah “tidak sampai ke tujuan”. Kita mungkin terlalu lebai dan berputar-putar dalam kehidupan beragama, tapi tidak pernah sampai kepada Tuhan.

Mungkin kita rajin sholat, mengaji, naik haji, dan sebagainya. Tapi itu semua tidak sampai kepada Allah. Lalu mau dibawa kemana semua amal ibadah itu?

Artinya, syarat mutlak pertama dalam beragama adalah “sampai” (wushul) kepada Allah. Jika tidak, maka apapun yang kita kerjakan, tidak sampai kepada Allah. Sehingga dikatakan, syariat berfungsi untuk secara argumentatif mengkaji sah atau tidak sahnya ibadah. Sedangkan tarikat (tasawuf) bertugas untuk memastikan bahwa ibadah kita “sampai” kepada (diterima oleh) Allah.

Apa contoh kalau sesuatu itu “sampai” (diterima)?

Misalnya, Anda mengirim surat kepada Presiden. Untuk itu perlu alamat yang jelas. Kemudian ada media (teknologi/petugas) untuk mengirim itu. Lalu Anda kirim suratnya. Pertanyaannya, apakah surat Anda bisa sampai (diterima) oleh Presiden? Jawabannya sangat spekulatif. Bisa iya, bisa tidak.

Pada level awam, Anda akan menjawab dengan nada husnuzhan: “insyaAllah”. Sementara, pada level pasti (profesional), Anda harus punya indikator yang jelas, bahwa surat itu sudah diterima atau tidak oleh Presiden. Salah satu indikatornya adalah, ada balasan WA dari presiden kepada Anda, “surat saudara sudah saya terima”.

Dengan Allah juga begitu. Relasi hubungan kita dengan-Nya bisa sangat spekulatif, bisa juga pasti. Tergantung level seseorang dalam beragama. Tasawuf bertugas mengupgrade level (maqamat) dari relijiusitas seseorang, dari sekedar percaya (iman), ke level pengetahuan yang pasti (haq). Dari pengetahuan hipotetis, ke pengetahuan yang konfirmatif.

Dalam tasawuf diajarkan indikasi-indikasi pasti (hakikat), apakah sebuah amalan telah sampai/wushul kepada Allah atau belum. Agama itu ilmu pasti. Bukan ilmu spekulasi. Sekedar berbaik sangka (ilmul yakin), itu bagus. Lebih bagus lagi kalau punya pengetahuan yang pasti (haqqul yakin).

Kekafiran yang Tersembunyi

Selain disebut “sesat”, orang-orang yang tidak sampai kepada Allah juga dinamai “kafir”. Apa itu kafir?

“Cover” dalam bahasa Inggris diambil dari kata “kafir”. Artinya “penutup” atau “tertutup”. Cover buku misalnya. Itu penutup buku. Kafir adalah orang-orang yang hatinya tertutup. Sehingga, Dia tidak bisa “mikraj” menuju Tuhan. Tuhan tidak bisa hadir pada dirinya, karena hatinya tertutup. Kafir adalah orang-orang yang “cahaya Tuhan” terkurung dan tidak pernah aktual dalam hatinya.

Pada level teologis, kekafiran terjadi akibat seseorang tidak percaya kepada adanya Tuhan. Itu namanya “ateis” (mulhid). Atau mungkin percaya kepada banyaknya Tuhan. Biasa disebut “politeis” (musyrik).

Tapi, pada level advance, kekafiran terjadi karena hati kita “kotor”, sehingga tidak wushul dengan Allah. Semua orang Islam berpotensi kafir pada level halus ini. Kita bisa saja Islam secara lahiriah (percaya kepada Allah). Secara batiniah belum tentu. Jika belum wushul dengan Allah, pertanda “kekafiran” (ketertutupan) masih menyelimuti jiwa kita. Seseorang baru disebut Islam secara batiniah, ketika terjadi “ketersingkapan ruhani”, terbukanya hijab (cover) yang membatasi antara dirinya dengan Allah. Itulah “wushul”. Pengalaman mukasyafah ataupun musyahadah hanya dialami oleh para penempuh jalan spiritual (nabi/sufi).

Wushul dengan Ruh (Hati/Qalbu)

Banyak pemikir lahiriah yang marah dengan konsep “wahdatul wujud”. Dikiranya, orang menyatu dengan Allah pada dimensi fisik. Tentu tidak. Meskipun wujud fisik juga punya silsilah ke level ruhaniah. Dimensi fisik murni tidak akan pernah “kembali” (menyatu/rujuk/wushul) dengan Allah. Hanya wujud cahaya (ruh) yang bisa wushul dengan Allah.

Amal ibadah dan segala persembahan kita juga begitu. Tidak akan pernah diterima (sampai/wushul) kepada Allah, kalau berdimensi fisik. “Darah dan daging, tidak akan pernah sampai kepada Allah..” (QS.Al-Hajj: 37). Formalitas sholat, suara bacaan mengaji, gerak langkah haji dan semua wujud fisik ibadah; tidak akan pernah diterima dan wushul kepada Allah, sebelum itu dikonversi menjadi wujud “cahaya” (taqwa).

Satu-satunya yang bertugas melakukan itu adalah “teknologi ikhlas” (hati). Rumus ikhlas adalah E=MC². “Ikhlas” adalah proses fusi nuklir ruhaniah, untuk menangkap dan mengubah massa fisik dari ibadah sehingga menjadi energi Ilahiah. Fisik ibadah, ketika dikali dengan faktor tidak terhingga dari elemen “Ruh” (wasilah Nur yang ada di hati), akan berubah menjadi cahaya Ilahi. Wujud amal yang telah berubah menjadi “energi” inilah yang bisa di teleportasi sehingga sampai kepada Allah.

Semua amal ibadah, itu “diantar” ke sisi Allah oleh perangkat “hati” (ruh/qalbu) yang berwasilah. Hati itu bukan benda fisik (bukan lever). Hati seorang mukmin yang telah menjalani tazkiyatun nafs, adalah komponen cahaya dalam jiwa, yang berkekuatan “burak”.

Sebenarnya, yang terbang atau sampai kepada Allah bukanlah wujud dari amal ibadah. Melainkan wujud hidup dari elemen ruhani kita. Ruh kita sendiri yang terbang kepada Allah, bukan amal ibadah kita. Semua amal ibadah telah berubah menjadi “wajah” kita. Itulah yang disebut “wushul”.

Mencari “Mentor”

Tidak sulit untuk “wushul”, untuk terkoneksi dengan Allah. Itu bukan ilmu atau pekerjaan yang berat. Itu ilmu yang umum dimiliki para nabi. Sejak Adam as sampai Muhammad saw. Karena itulah mereka semua bisa “wushul” dengan Allah. Tinggal ikuti saja ajaran mereka terkait tata cara wushul ilallah.

Ilmu wushul adalah ilmu membersihkan hati (ruh/qalbu), sehingga seseorang terbuka hati dan mampu berjalan (salik) menuju Allah. Namun setan tidak ingin kita masuk ke wilayah yang sangat transformatif ini. Dibuatnya kita ragu. Itu saja masalahnya. Disatu sisi kita percaya, ilmu dzikir itu ada. Tapi kita akan dihalangi setan untuk menemukan seorang mentor (mursyid) yang dapat mengajari kita secara khusus tentang teknik-teknik cara mengamalkan itu. Sehingga terjadi fusi ruhani, dan jiwa bisa berselancar jauh ke dalam diri dan lebur dalam wajah Ilahi.

Penutup

Tidak semua orang ingin wushul dengan Allah. Approach orang terhadap agama beda-beda. Ada yang cuma sekedar ingin percaya kepada Allah. Ada juga yang sekedar ingin melaksanakan perintahnya. Mungkin sedikit yang ingin “berjumpa” (sampai) ke sisi-Nya.

Banyak orang yang “anti-spiritual”, meskipun mereka itu beragama. Mereka percaya agama, tapi tidak mau bertemu dengan-Nya. Allah adalah sosok gaib, yang takut untuk ditemui. Meskipun, bagi para sufi, kebahagiaan seperti itu yang dicari. Sebagian orang terlalu kuat dengan kesadaran lahiriah-materialnya, sehingga percaya, bahwa gelombang Dzat tidak bisa di akses sama sekali. Padahal, para nabi dan orang-orang shaleh, dengan metode tertentu, bisa terkoneksi secara aktif dan komunikatif dengan Wujud yang maha batiniah itu.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
Channel WA: The Suficademic
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

One thought on “BISAKAH KITA SAMPAI KEPADA ALLAH?

Comments are closed.

Next Post

DIMANAKAH ISLAM?

Sat Jan 27 , 2024
Jurnal […]

Kajian Lainnya