PENYEBAB KEMISKINAN (TINJAUAN SAINS DAN SUFISME)

Jurnal Suficademic | Artikel No. 20 | Januari 2024

PENYEBAB KEMISKINAN (TINJAUAN SAINS DAN SUFISME)
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

Penyebab kemiskinan macam-macam. Secara “saintifik”, kemiskinan dikategorisasikan dalam tiga sebab: natural, struktural, dan kultural. Setelah membahas ini, kita akan membandingkannya dengan sebab-sebab lain yang berdimensi “spiritual”.

Kemiskinan dalam Perspektif Sains

Pertama, kemiskinan natural. Ini adalah “the act of nature”. Alam bisa sangat bermurah hati. Dari perutnya bisa keluar aneka sumberdaya. Sekalipun bodoh, kita bisa kaya mendadak kalau hasil alam melimpah. Orang Arab itu tidak jenius-jenius kali. Setelah ditemukan minyak, kaya semua mereka. Akan berbeda jika kita tinggal di wilayah yang kering kerontang dan minim sumberdaya. Bisa lapar kita. Tapi sesekali, di daerah kaya sekalipun, alam bisa mengamuk. Alam punya emosi. Alam akan bereaksi atas tabiat manusia. Sehingga terjadi badai, kekeringan, kebakaran, gempa, banjir, longsor, tsunami, dan lainnya. Bisa hancur semua. Bisa miskin mendadak kita.

Orang cacat dan jompo juga secara nature punya keterbatasan dalam bekerja. Karena itu, mereka secara alamiah menjadi tidak atau kurang produktif. Banyak dari mereka yang hidup miskin. Apalagi di negeri yang sistem sosialnya tidak menjamin kesejahteraan kelompok rentan.

Kedua, kemiskinan struktural. Ini adalah “the act of leader”. Kemiskinan ini diakibatkan oleh struktur (kekuasaan. Ada hak-hak masyarakat yang dikorupsi. Apakah oleh presiden, menteri, gubernur, bupati, kepala desa, legislatif, birokrat, aparat dan lainnya. Ada abuse of power. Ada kekeliruan dalam governance. Ada inefisiensi dan ketidak adilan dalam pelaksanaan program dan kegiatan. Sehingga, walaupun sumber daya dan anggaran melimpah, kemakmuran tidak bertambah. Masyarakat justru semakin susah.

Ketiga, kemiskinan kultural. Ini adalah “the act of one’s behaviour”. Walaupun sumberdaya alam banyak, pemimpinnya adil, boleh jadi masih ada yang miskin. Sistem keyakinan, mental, sikap, budaya dan pola pendidikan akan mempengaruhi cara seseorang bekerja. Banyak yang miskin karena malas dan suka minta-minta. Ada juga yang miskin karena tidak mau belajar untuk mengembangkan potensi alam dan diri. Ada juga yang miskin karena saudaranya tidak peduli. Harta tertimbun pada satu pihak dan tidak bergulir. Bahkan ada yang miskin karena menganggap kekayaan itu membawa mudharat. Ada negara yang iklim dan kondisi alamnya sulit, tapi rakyatnya sejahtera. Ada juga yang alamnya subur dan kaya, rakyatnya menderita. Perlu diperiksa struktur perilaku pemimpinnya, ataupun mental system rakyatnya.

Kemiskinan dalam Dimensi Sufistik

Jadi, Anda dapat menggunakan tiga alasan “saintifik” di atas untuk menilai kenapa Anda, ataupun orang-orang di sekitar Anda masih miskin. Tapi, secara “spiritual” tidak sesederhana itu cara menilai kenapa seseorang menjadi miskin. Sebab, ada variabel lain yang menyebabkan seseorang mendadak kaya ataupun jatuh miskin. Inilah yang disebut sebagai kemiskinan yang dihadiahkan, “poor by design”, atau “the act of God”.

Suatu ketika, ada pemuda yang datang ke seorang ahli sufi. Pemuda ini berasal dari kalangan bangsawan. Pendapatannya lumayan. Makanan kesehariannya cukup melimpah. Tapi ia merasa masih ada yang kurang. Hatinya rindu dengan Tuhan. Ia ingin belajar ilmu-ilmu spiritual. Ia ingin menjadi sufi.

Pada pertemuan pertama, setelah melihat keseriusan si calon murid, sang guru sufi berkata kepadanya: “Mulai bulan depan, kamu siap-siap makan seadanya”. Si murid bingung dengan bahasa bersayap dan misterius semacam itu. Ia tidak tau apa maksud gurunya.

Tiba-tiba, sebulan kemudian, ia bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Bisnisnya seperti macet. Pendapatannya terasa berkurang. Oleh sebuah penyebab yang aneh, simpanannya mendadak habis untuk sebuah keperluan.

Ia bingung. Sebab tidak bisa lagi membiayai kebiasaannya. Ia tidak bisa lagi berpesta dan menikmati makanan mewah seperti biasa. Uang ada. Tapi pas-pasan. Hanya cukup untuk makan seadanya. Bahkan harus sering menahan lapar dan keinginan. Ia bingung. Kenapa hidupnya tiba-tiba menjadi seperti itu. Sampai kemudian ia teringat kata gurunya: “Mulai bulan depan, kamu siap-siap makan seadanya”.

Sudah berbulan-bulan sejak pertemuan dengan ahli sufi, ia menjalani kehidupan yang prihatin dan mirip-mirip miskin. Barulah ia sadar. Itu semua kehendak Tuhan lewat visi sang guru. Baru ia menyadari, bahwa seseorang tidak akan disebut beriman, sebelum diuji oleh Tuhan. Anda tidak akan menjadi ahli makrifat, sebelum perut Anda kosong dari makanan. Anda tidak akan menjadi muslim sejati, sebelum membiasakan perut Anda dalam kondisi miskin dan lapar (berpuasa).

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۝

“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang sabar” (QS. Al-Baqarah: 155)

Kalau sudah dipilih Tuhan, kemungkinan besar Anda akan dicerca. Dihina. Dituduh sesat. Dikucilkan. Ditinggalkan. Dibuat jatuh sakit. Dimiskinkan. Itu semua akan Anda alami sebelum derajat Anda diangkat. Semua yang hilang akan diganti dengan sesuatu yang maha sempurna. There is a price for freedom. Kisah Ayyub menjelaskan ini secara sempurna. Itu semua “by design”, “the act of God”.

Masalahnya, tidak semua orang sadar dengan apa yang sedang dialaminya. Boleh jadi, Anda miskin karena penyebab “nature”, “structure” atau “culture”. Jadi tidak perlu menganggap kemiskinan Anda sebagai kehendak Tuhan, lalu pasrah dengan itu. Jangan banyak protes. Cukup hanya dengan berusaha sungguh-sungguh, Anda akan kaya raya.

Tapi, kalau Anda serius ingin menempuh jalan Tuhan, siap-siap untuk dikasih ujian. Kalau sudah dicintai dan mulai dikenal oleh Tuhan, siap-siap. Seringkali pada fase (makam) ini, Anda diberi jubah kemiskinan. Terkadang Tuhan ingin Anda kehilangan banyak materi, hanya untuk memampukan Anda menyadari kehadiran-Nya. Seringkali Tuhan ingin kita miskin, untuk menerima sebuah perbendaharaan suci dari sisi-Nya. Pada level ini, para penempuh jalan spiritual akan menemukan dinamika kefakiran yang sangat agung. Sebab, Allah hanya muncul pada saat kita sudah ‘tiada’ (faqir ‘indallah).

Jatuh miskin terkadang menjadi ujian dan media penghapusan dosa. Untuk memahami bahwa yang sebenarnya ada hanya Dia. Sebab, saat kaya dan berlebih, kita sering lupa kepada-Nya. Kecuali jiwa kita sudah sempurna, kaya dan miskin bukan masalah. Allah hudhur dalam segala kondisi.

Penutup

Jadi, Anda tidak bisa menilai kemiskinan kaum sufi dalam kacamata biasa. Pun kalau Anda sedang sungguh-sungguh menempuh jalan kesufian dan merasakan kenapa tiba-tiba jadi miskin, jangan heran: Tuhan lagi bekerja! Kalau miskinnya kelamaan, mungkin Tuhan suka ngerjain Anda lama-lama. Banyak sahabat nabi yang miskin, padahal rajin bekerja. Lihat burung elang, ada periode mereka harus menyendiri untuk memperbaharui diri. Semua bulu ditubuh, bahkan cakarnya dicabut Tuhan. Ia kehilangan semua. Sakit sekali. Apakah ia mengeluh? Tidak. Ia sangat sabar. Karena itulah ia menjadi makhluk baru.

Sebaliknya. Hati-hati kalau Anda mudah rejeki. Kaya pun belum tentu karena rahmat Tuhan. Ada orang yang kaya raya karena banyak dosa. Mungkin Tuhan ingin orang tersebut miskin di akhirat, lalu diberikan semua di dunia. Karena itu, kemampuan mensyukuri atas apa yang diperoleh akan menentukan siapa kita. “Value”-nya (kebahagiaan) ada pada syukur dan sabar. Bukan pada kaya dan miskin. Allah hanya hadir dalam sikap syukur dan sabar. Bukan pada kondisi kaya atau miskin.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
Channel WA: The Suficademic
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

One thought on “PENYEBAB KEMISKINAN (TINJAUAN SAINS DAN SUFISME)

Comments are closed.

Next Post

"THE LAW OF 7x3": USIA BERAPA HARUS BERTARIKAT?

Fri Feb 2 , 2024
Jurnal […]

Kajian Lainnya