SUDAH 77 TAHUN, HMI MASIH MISKIN

Jurnal Suficademic | Artikel No. 22 | Februari 2024

SUDAH 77 TAHUN, HMI MASIH MISKIN
Oleh Said Muniruddin | Presidium KAHMI Aceh

Bismillahirrahmanirrahim.

SARAN saya, orientasi terkini ber-HMI harus diarahkan kepada lahirnya kader dan alumni yang “kaya” dan “bahagia”. Ini tidak berlebihan. “Kaya” adalah bahasa lain dari makmur. Sedangkan bahagia terminologi lain dari “ridha Allah”.

“Makmur” dan “ridha Allah”, keduanya adalah tujuan HMI. Sebagaimana tertuang diujung redaksi pasal 4 Tujuan HMI. Hanya saja, makmur dan ridha Allah sedikit “abu-abu”. Indikatornya kurang jelas. Beda dengan “kaya” dan “bahagia”, lebih cepat dipahami bagaimana bentuknya.

HMI memang punya masalah dengan ideologinya. Mungkin ideologinya tidak salah. Penyampaian ideologinya yang harus diubah. Ideologi HMI adalah “Nilai-Nilai Dasar Perjuangan” (NDP). Sebuah dokumen lama; yang lahir dari hasil pengamatan, pengalaman dan imajinasi kreatif Cak Nur dan kawan-kawan seputaran tahun 1969. Ada 8 bab. Arah ideologinya memang terlalu normatif. Terkadang secara praktis tidak jelas, mau diarahkan menjadi apa kadernya.

Puncak ideologi dalam NDP adalah Bab 6 “Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi”. Inilah inti perjuangan, mencapai keadilan sosial dan ekonomi. Setelah sebelumnya sejak Bab 1 sampai dengan Bab 5 diajarkan tentang tauhid dan kemanusiaan. Bab 6 menegaskan puncak tujuan kader dalam berjuang.

Apa makna “keadilan sosial dan ekonomi”?

Maknanya, kadernya harus kaya raya. Itu saja, titik. Tidak usah ribet sekali berpikirnya. Demikian juga dengan masyarakatnya, kawannya, tetangganya; harus ikutan berkolaborasi untuk sama-sama kaya.

Faktanya, negara kita kaya. Sumberdaya alamnya melimpah. Tapi kitanya miskin. Kalau kita adil dengan diri sendiri, pasti kaya. Maksudnya, kita harus berjuang sungguh-sungguh menegakkan keadilan, untuk mencapai itu semua. Adil artinya seimbang. Kita berjuang sungguh-sungguh baik untuk dunia maupun akhirat kita. Kita berjihad untuk kaya, di dunia dan akhirat.

Sayangnya, indoktrinasi di HMI tidak diarahkan kepada pemikiran untuk menjadi kaya. Melainkan untuk menjadi pejuang saja, tanpa kejelasan hasilnya. Ini mirip-mirip menjadi pahlawan di era perlawanan melawan kolonial. Pokoknya lawan, sampai menang atau mati. Training di HMI selalu diawali dengan sejarah kelahiran HMI yang dikaitkan dengan Belanda dan cita-cita merdeka. Akhirnya, kader HMI jadi pejuang 45 terus. Padahal, eranya sudah berbeda.

Ini bukan lagi era melawan Belanda. Juga bukan melawan komunis. Ini era saatnya kita kaya raya. Walaupun untuk kaya, perlu juga perjuangan untuk menghadapi para kapitalis, pebisnis dan penguasa licik. Namun, era kaya bukan lagi era konsentrasi massa ala zaman revolusi. Era kaya adalah era berpikir strategis, era membaca peluang bisnis, era politik entrepreneurial. Era kaya adalah era untuk mengenal pasar, memahami produksi dan menguasai sumberdaya.

Kasihan, saat mahasiswa kita teriak-teriak tegakkan demokrasi dan keadilan ekonomi. Begitu lulus jadi sarjana, langsung menganggur dan bingung mau cari uang dimana. Mindset kita tidak terdidik sejak awal untuk menjadi milioner. Mindset kader hanya terdidik untuk menjadi tukang kritik, protesters. Kita dididik untuk cerdas secara intelektual. Bukan cerdas secara finansial. Karenanya, walau dikenal jago berorasi, kita malah tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Kita semua rata-rata telat kaya. Itupun kalau sempat kaya. Kalau sukses jadi politisi. Kita hanya hidup berapi-api saat mahasiswa, dengan aneka idealisme. Paska itu langsung lemas.

Akibat lemahnya kekuatan ekonomi, kader/alumni tidak mandiri. Kalaupun menjadi politisi, menjadi politisi yang ikut-ikutan gerbong oligarki lain. Ikut dinasti Megawati, SBY, Paloh, Prabowo dan lainnya. Berapa banyak partai yang dimiliki alumni HMI? Mungkin cuma PKN. Itupun baru. Semua alumni ikut partai milik orang kaya. Termasuk partai orang Cina. Itu sebuah tanda, sudah 77 tahun usia HMI, kita masih miskin. Sebuah indikasi kegagalan ideologi.

Coba periksa daftar 10 orang kaya Indonesia tahun 2023. Tidak ada yang lahir dari rahim HMI. Padahal, cita-cita kita adalah “mewujudkan masyarakat adil makmur”. Inti dari masyarakat adalah kita sendiri. Kita yang harus kaya terlebih dahulu, sebelum mampu mendistribusikan kekayaan kepada orang lain. Jelas sekali, tujuan HMI sudah 77 belum tercapai. Kita belum sejahtera. Apakah sebegitu bodoh dan malasnya kita? Padahal, mesin perkaderan kita ada di setiap pelosok Indonesia.

10 Orang Terkaya Indonesia (Forbes, 2023)

Berpolitik, tanpa uang pun akan terseok-seok. Karena itulah banyak alumni yang jadi caleg. Tapi sedikit yang jadi. Waktu ditanya kenapa gagal, jawabannya: “kurang modal”. Artinya, ideologi yang kita miliki tidak mampu lagi membuat kita sukses dalam medan pertempuran terkini. Ideologi kita tidak menghasilkan uang. Lebih kacaunya lagi, katanya kongres-kongres HMI, belakangan ini ada cukong dan mafia yang membiayai. Betapa rendahnya kita.

Bahkan lebih sedihnya lagi, ketika diadakan acara penggalangan dana untuk pembangunan gedung, pengembangan wakaf, pelaksanaan latihan kader; lama uangnya baru terkumpul. Ada HMI cabang dan KAHMI daerah/wilayah yang sudah berusia puluhan tahun, tapi belum punya kantor sendiri. Bukan karena alumninya pelit. Tidak. Alumninya dermawan. Rasa kekeluargaan di HMI besar. Cuma rata-rata lagi tidak ada uang. HMI itu miniatur Indonesia. Indikasi Indonesia sudah makmur, itu kalau alumni HMI sudah kaya semua.

Karena itu, mahasiswa sebagai calon kader harus dididik sejak malam pertama di HMI untuk memiliki visi kaya raya. Sekaligus berakhlak mulia. Lalu dengan itu kita berdakwah dimana-mana. Di politik, di masyarakat, dan sebagainya. Itulah cara bahagia, bisa menghambur-hamburkan uang untuk membesarkan nama Allah dalam setiap sektor publik di Indonesia.

Selamat milad HMI ke 77, 5 Februari (1947-2024). “Kaya, kaya, kaya. Bahagia!”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
Channel WA: The Suficademic
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

Next Post

RAKER LPM PERSPEKTIF

Sat Feb 17 , 2024
___________________SAID […]

Kajian Lainnya