KECANTIKAN YANG MENIPU

Jurnal Suficademic | Artikel No. 23 | Februari 2024

KECANTIKAN YANG MENIPU
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

Dunia ini seperti perempuan cantik, yang dikejar oleh seorang lelaki. Apapun akan dilakukan untuk mendapatkannya. Begitu dinikahi, hidupnya mulai di atur-atur oleh si perempuan ini. Ia menuntut banyak hal. Tidak jarang ia diremehkan. Saban hari bertengkar, gegara beda persepsi terhadap banyak hal. Lama-lama baru ia sadar. Ternyata, si perempuan ini tidak secantik yang dulu ia bayangkan. Sampai sakit si lelaki ini dibuatnya.

Atau sebaliknya, dunia ini seperti lelaki tampan, yang digandrungi seorang wanita. Ia rela melakukan apapun demi si lelaki. Lalu ia menikah dengannya. Setelah itu, mulailah si perempuan ini disiksa. Disuruh-suruh. Dikerjain. Ditipu dan sebagainya. Baru kemudian ia sadar. Si lelaki ini tidak sebaik yang dulu ia pernah saksikan. Sampai kurus si perempuan ini dibuatnya.

Imam Ali meringkas fenomena ini dalam kalimat: “Dunia ini seperti seonggok bangkai dan hanya anjing yang tertarik untuk merebutnya”.

Rasa suka terhadap hal-hal yang terlihat “indah” adalah sifat alamiah kita. Namun tidak jarang, apa yang indah menurut pandangan mata dan akal, belum tentu indah dalam realitas hakikinya. Ada yang suka sekali menjadi anggota dewan. Lalu berjuang habis-habisan untuk mendapatkannya. Habis uang, waktu, pikiran dan tenaga. Bisa jadi ia menang dan menemukan kebaikan untuk memperjuangkan isu-isu social justice pada posisi itu. Namun ada juga yang berhasil, tapi belum tentu itu baik untuknya. Tidak jarang, jabatan itu membunuhnya. Karakternya positifnya terus tergerus akibat perilaku baru yang korup. Jabatan itu mengubah dirinya menjadi makhluk berpenyakit, lahir dan batin.

Manusia adalah makhluk penuh keinginan. Keinginannya tidak terbatas. Nafsu mendorong kita untuk menyukai segala hal yang memancing sensasi. Apakah itu harta, jabatan atau perempuan. Semua berlomba untuk memilikinya. Sampai ia sadar, ia telah berpenyakit gara-gara itu. Jiwanya berubah galau. Pikirannya menjadi ekstrim. Mentalnya telah terganggu. Hanya gara-gara itu semua.

Seorang sufi menjelaskan makna “dunia”. Ia berkata: “Dunia adalah segala sesuatu yang tidak ada Tuhan di dalamnya”. Harta, tahta, wanita; jika tidak ada Tuhan di dalamnya akan menjadi “dunia”. Siapapun yang memilikinya, pasti akan rusak dan sakit dibuatnya.

Bukan kita tidak boleh mengejar dunia. Boleh. Tapi, yang harus kita kejar, sebenarnya bukan dunia. Melainkan akhirat. Yaitu, unsur “Tuhan” dalam semua dimensi dunia. Ketika sejak awal kita sudah memiliki visi ilahi, mampu melihat dan merasakan adanya kehadiran Tuhan pada sebuah jabatan, perempuan ataupun properti; silakan perjuangkan itu. Ketika visi seperti itu tidak kita miliki, maka seperti kata Imam Ali, yang kita kejar tidak lebih dari seonggok “bangkai”. Makna bangkai adalah unsur “mati” dari sesuatu. Tidak hidup. Tidak ada vibrasi ketuhanannya.

Suatu ketika, saat sedang melakukan tawaf di Kakbah, Ibnu Arabi melihat seorang perempuan yang sangat cantik. Perempuan cantik banyak sekali di Arab. Hampir semuanya cantik. Tapi yang satu ini beda. Sehingga ia berkata, “Kulihat Tuhan dalam wajah perempuan”. Bayangkan, seorang syekh sufi pun tertarik dengan perempuan. Itu alamiah. Sehingga lahir syair-syair indah tentang perempuan dalam “Tarjuman Asywaq”-nya. Lebih dari sebuah pandangan sensual, Syaikh Akbar ini menemukan getaran malakut pada wajah indah yang dijumpainya. Diriwayatkan, beliau bahkan sempat berguru pada sejumlah syaikhah cantik di Mekkah. Konon seorang perempuan suci nan jelita yang bernama Sayyidah Nizam, kemudian menjadi kekasihnya.

Getaran Tuhan ada pada aneka dimensi. Jika kita menemukan unsur itu, maka dunia sah menjadi milik kita. Bahagia akan kita dapatkan dari materi apapun yang kita miliki. Jika tidak, kita akan dikuasai dan tersiksa olehnya. Menjadi kaya, belum tentu membuat kita semakin bahagia. Jika tidak ada getaran Tuhan di dalamnya, justru semakin menenggelamkan kita dalam was-was. Miskin juga begitu, justru semakin menyiksa, jika gagal menangkap gelombang Tuhan dalam kefakiran kita. Intinya bukan pada materi. Melainkan pada visi spiritual dibalik itu semua.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
Channel WA: The Suficademic
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

Next Post

SUFISME KOPI, LEMANG DAN APAM

Sun Feb 25 , 2024
SUFISME […]

Kajian Lainnya