BERIBADAH DENGAN BAHASA IBU, BOLEHKAH?

Jurnal Suficademic | Artikel No. 25 | Februari 2024

BERIBADAH DENGAN BAHASA IBU, BOLEHKAH?
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Sudicademic

Bismillahirrahmanirrahim.

SHOLAT misalnya, iya, secara lisan harus dengan bahasa Arab. Disatu sisi, begitulah cara kita menjaga keaslian sumber bacaan dari Arab. Itu tradisi ilmiah, mengutip bacaan dari sumber bahasa aslinya.

Tapi, bahasa qalbu atau bahasa hati, haruslah bahasa ibu. Hanya dengan cara itu kita memahami apa yang kita baca. Misalnya, coba baca bahasa Arab dengan lisan, “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”. Untuk paham itu, hati Anda harus mengubah kalimat Arab ini ke dalam bahasa ibu: “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”. Hanya dengan cara itu kita paham apa yang kita baca. Disitulah letak khusyuknya.

Sholat itu kombinasi dua bahasa (bilingual): bahasa Arab dan bahasa ibu. Bahasa lisan dan bahasa qalbu. Bahkan sejak awal sudah diingatkan, niat sholat yang merupakan rukun sholat, itu boleh dan bahkan harus dalam bahasa ibu. Sejak awal Anda harus paham apa yang Anda baca. Sesuatu bisa dipahami ketika dikonversi ke bahasa ibu.

Allah sebenarnya memahami bahasa apapun. Dia mengetahui apa yang kita rahasiakan dan apa yang kita nyatakan. Dia memahami bahasa terang ataupun bahasa rahasia. Bahkan, secara spiritual, Allah mendengar apa yang tersembunyi di “rongga dada”-mu. Dia mendengar apa yang dibisikkan oleh hatimu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati (QS. Fatir: 38; At-Tagabun: 4; Al-Munafiqun: 1; Hud: 5; Al-Maidah: 7; Lukman: 23; Mulk: 13; Asy-Syura: 24; Hadid: 6; Al-Anfal: 43; Ali Imran: 119; Ali Imran: 154; An-Nisa: 63). Karena itu, komunikasi dengan Allah sangat efektif dilakukan dengan bahasa yang sampai ke qalbu, bahasa yang dipahami oleh hati. Bahasa ibu!

Atas dasar ini kita paham. Kenapa Quran dijaga kelestariannya dalam bahasa Arab. Itu tradisi sangat ilmiah, untuk menjaga keaslian teks. Inilah masalah dengan injil. Semua sudah diterjemahkan, dan kata-katanya telah berubah dan diubah-ubah secara radikal. Bahkan kehilangan semua redaksi asli Aramaiknya. Konon lagi ada sejumlah penipu yang berusaha mengutak-atik ayat selama berabad-abad. Beruntung, Quran masih dijaga redaksi aslinya. Hanya saja, untuk paham Quran, Anda harus membeli Quran yang ada terjemahannya. Jika tidak, maka kita akan seperti “Cina main seudati”. Tau baca, tak tau arti. Dapat pahala, tapi tak dapat pemahamannya.

***

Lalu ada pertanyaan begini, bolehkah shalat dalam bahasa Ibu? Atau azan dalam bahasa ibu?

Saya memahaminya begini. Sejumlah ibadah, itu nilai formalitas ilmiahnya tinggi (alias kaku) sekali. Sehingga keaslian bahasa Arabnya tetap dijaga. Tidak diubah sedikitpun. Untuk sholat seperti itu. Kecuali bahasa qalbu yang mengirinya, termasuk niat, itu bahasa ibu. Selain sholat, azan juga begitu. Tetap asli dalam bahasa Arab. Namun, kalau di Aceh misalnya, ada sholawatan yang dilantunkan antara azan dan iqamat, itu rata-rata berbahasa Aceh. Menurut masyarakat, itu bagus dan sangat menyenangkan Allah dan rasulnya. Walau disampaikan dalam bahasa ibu.

Sejumlah prosedur ketat ilmiah lainnya ditemukan dalam penyampaian rukun khutbah. Bahasa Arabnya dipelihara. Selebihnya diceramahin dalam bahasa ibu. Tapi ada masjid di Jakarta yang pernah kami temui, khutbah Jumatnya total berbahasa Arab. Entah rutin begitu. Entah khatibnya kebetulan orang Arab. Memang terkesan seperti jumatan di negeri Arab. Tapi jamaah tidak mengerti sama sekali apa yang disampaikan.

Jadi, semakin formal dan ilmiah sebuah ibadah, semakin dijaga ke-Araban bahasanya. Sebab, bahasa Arab adalah bahasa primer dari dalil-dalil agama. Al-islamu ilmiyun wa ‘amaliyun (hadis). Islam itu ilmiah dan amaliah. Nabi berbahasa Arab. Merefer sesuatu dalam bahasa aslinya, itu sebuah hal biasa dalam tradisi ilmiah. Dalam tradisi akademik di kampus juga begitu. Mengutip sebuah referensi dalam bahasa aslinya, itu sebuah tindakan sangat ilmiah. Sebelum itu dikomentari atau diterjemahkan ke bahasa si penulis.

Namun demikian, ada bentuk-bentuk ibadah lainnya yang dianggap tidak perlu se-ilmiah sholat. Doa setelah sholat misalnya, tingkat ilmiahnya tidak terlalu tinggi. Sehingga memungkinkan dibawa dalam nuansa “populer”. Bahkan kontennya bisa sangat informal. Karena itu kita temukan ada acara-acara yang munajatnya disampaikan dalam bahasa ibu. Berbagai niat ibadah lainnya, seperti puasa dan lainnya, juga rata-rata punya versi bahasa lokal dan selalu diajarkan dalam bahasa ibu. Uniknya, ada momen langka dan perjanjian paling sakral dalam hidup, seperti akad nikah, rata-rata menggunakan bahasa ibu. Bukan bahasa Arab.

Konsern sufisme sebenarnya lebih kepada doa-doa yang dipahami oleh hati. Silakan menghafal versi Arab. Tapi, bahasa ibu dari semua itu harus dipunyai oleh setiap hati. Dengan bahasa hati inilah seorang sufi dalam aneka lokalitas berkomunikasi dengan Tuhannya. Lebih dalam lagi, ketika hubungan dengan Tuhan sudah sedemikian akrab, tidak ada lagi bahasa yang mampu menampung sebuah rasa. Sebuah tatapan, sebilah senyum, ataupun setetes air mata; itu sebenarnya sudah melampaui semua jenis bahasa. Sebab, bahasa kelas tinggi, itu sebenarnya sudah tidak berhuruf dan tidak bersuara. Atau seperti kata Rumi: “Silence is the language of God. All else is poor translation”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
Channel WA: The Suficademic
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

One thought on “BERIBADAH DENGAN BAHASA IBU, BOLEHKAH?

Comments are closed.

Next Post

BINTANG 'ARASY DI ASAHAN: DARI PESERTA YANG MEMBLUDAK, SAMPAI PESAWAT YANG GAGAL MENDARAT

Fri Mar 1 , 2024
KISARAN […]

Kajian Lainnya