INI DIA, CARA MATI DALAM KEADAAN TENANG

Jurnal Suficademic | Artikel No.30 | Maret 2024

INI DIA, CARA MATI DALAM KEADAAN TENANG
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

Kenapa ada orang yang susah sekali mati? Mau mati, tapi susah. Lalu bagaimana cara mati dalam keadaan tenang?

***

Begini. Yang disebut “mati” adalah tidur, kebetulan tidak bangun-bangun lagi. Jadi sederhana saja, mati adalah “tidur panjang”. Satu kata yang menandai mati, yaitu “tidur”.

Karena itulah, tidur juga disebut “mati”. Setiap hari kita mengalami kematian. Kebetulan setiap pagi hidup lagi. Karenanya banyak yang percaya, bahwa saat tidur, ruh kita berjalan kemana-mana. Sehingga tidak heran, banyak visi kreatif justru kita temukan selama proses tidur.

Ada nabi yang bisa menjumpai Tuhan saat tidur, dan memperoleh banyak petunjuk dari-Nya. Yusuf as misalnya. Bukan hanya Yusuf, banyak orang suci seperti itu. Kesadaran mereka bisa berjalan sampai kepada Tuhan selama periode ‘kematian’ (ketiduran) itu. Sebaik-baik ‘kematian’ (tidur) adalah mereka yang ruhnya bisa kembali ke Tuhan.

Brainwaves

Mimpi yang bersifat intuitif biasanya diperoleh pada saat otak mengalami ‘kematian’. Gelombang otak pada saat itu berada pada Theta (tingkat frekuensi sekitar 4-8 Hz). Ada level frekuensi lebih rendah lagi, yaitu 0.5-4 Hz (disebut gelombang Delta). Pada level ini otak boleh dikatakan mirip-mirip betulan mati. Pada level Delta, tidur kita lelap sekali (deep sleep). Tidak sadar sama sekali. Itulah ‘mati’, yang bisa kita alami setiap hari.

Oleh sebab itu, kunci sehat adalah bisa tidur, sampai ke level Delta (pulas). Kalau tidak bisa tidur, bahaya! Penyakit bermunculan saat Anda mulai susah tidur. Emosi pun bisa terganggu kalau kualitas tidur terganggu. Betapa banyak orang yang kaya raya, banyak uangnya, tapi susah tidur. Betapa banyak pejabat, tinggi posisi, tapi sulit tidur. Pada akhirnya, tidak ada yang kita cari dalam hidup ini, selain enak makan dan juga enak tidur.

Artinya, tidak ada yang paling menyehatkan dan membahagiakan kita, selain dengan bisa ‘mati’ (tidur). Banyak penyakit sembuh, ketika seseorang mampu tidur nyenyak (terhipnosis pada gelombang Delta). Pada level frekuensi inilah tubuh melakukan proses “self healing”.

Karena itu, dokter sering memberi obat tidur kepada pasien yang susah tidur. Tujuannya, otaknya bisa ‘mati’ (berhenti bekerja), sehingga sel tubuhnya bisa efektif memperbaiki diri. Bahkan obat flu dan batuk sekalipun bertugas untuk membuat Anda tidur. Saat tidur itulah tubuh Anda disembuhkan. Kalau tidak bisa tidur, flu dan batuk justru bertambah.

Disisi lain, betapa banyak orang mati gara-gara overdosis pil tidur. Susah tidur bisa membuat orang menjadi gila, bahkan sampai mengkonsumsi obat pada level bahaya.

Apa maknanya? “Susah tidur” adalah makna lain dari “susah mati”, pada level sederhana. Terkadang, makin tua, makin susah tidur kita. Walau banyak juga orang, semakin tua semakin enak tidurnya. Intinya bukan pada lamanya tidur. Tapi pada kualitas lelapnya, walau hanya sebentar.

Pertanyaannya, kenapa bisa susah tidur (‘mati’)?

Jawabannya, karena gelombang otak kita sering terkunci pada level Beta (12-30 Hz). Pada level ini, otak terisi dengan aneka “materi”. Otak akan terus berpikir dan tidak bisa dikosongkan. Sekalipun Anda berusaha tidur dan menutup mata, otak terus berpikir. Alhasil, mata akan kembali terbuka. Bayangkan jika Anda mengalami itu sampai berhari-hari, lelah sekali.

Apalagi kalau sudah pada level “was-was”, itu susah sekali tidur. Was-was itu gelombang jin dan setan (QS. An-Nas). Makanya, orang bersetan susah mati. Bahkan katanya, sampai harus dibuka atap rumahnya. Hati-hati dengan pikiran dan jiwa yang kotor (bersetan), susah mati. Dalam hal ini, belajarlah dengan anak kecil yang belum punya memori tentang dosa. Hatinya bersih. Tidurnya mudah dan lelap.

Itulah penyebab orang susah mati. Gelombang otak atau ruhaninya terisi aneka frekuensi terkait “dunia”. Ketika pikiran tentang harta, jabatan, tugas, utang, pekerjaan, politik, anak dan istri tidak bisa dikosongkan dari memori; kita akan digerogoti dengan semua yang kita miliki. Kita bahkan harus membawa itu secara terus menerus dalam lorong kematian. Gelombang ruh tidak akan mencapai level rileks atau “tenang” (muthmainnah) selama kita tidak punya kemampuan untuk “mengosongkan” diri.

Berat sekali kematian model itu. Nabi saw menjelaskan ini semua dalam bahasa sederhana: “Cinta dunia, takut mati”. Keterikatan dengan gelombang materi, menyebabkan seseorang susah mati. Oleh sebab itu, Islam sejak awal sudah mengajarkan kita cara “mengosongkan” diri. Itulah yang disebut zikir, sholat, meditasi, suluk atau khalwat. Semua itu adalah bentuk ritual (latihan ruhani) untuk menanggalkan gelombang “materi”. Yang dilatih adalah level khusyuk. Yaitu kemampuan untuk mengosongkan diri dari segala sesuatu, kecuali Tuhan.

Karena itulah, para nabi dan orang-orang shaleh, proses meninggalnya mudah sekali. Tidak sakit sama sekali. Tidak terasa, dan bahkan nikmat sekali. Sebab, mereka sudah melatih kematian setiap hari. Mereka sudah punya kemampuan untuk me-nol-kan gelombang otak dan ruhani setiap hari, dalam proses-proses zikir atau meditasi. Mereka mampu secara cepat menanggalkan egonya setiap saat.

Karena itu, koneksi dan perjumpaan dengan Tuhan bisa dicapai setiap saat melalui jalan taslim, “letting go”, atau relaksasi gelombang ruhani. Sebab, syarat berjumpa Tuhan adalah mengalami ‘kematian’. Dalam tradisi sufisme, yang dikaitkan dengan Syekh Siti Jenar ada yang disebut ilmu “rogo sukmo”. Sebenarnya ini hanya teknik sufistik untuk mencapai jiwa yang tenang. Yaitu, teknik untuk menarik diri agar terpisah dari gelombang materi yang destruktif. Itulah cara menuju Tuhan.

Bahkan sebenarnya, seni tertinggi dalam hidup adalah seni untuk mematikan diri guna mendengar panggilan Tuhan. Panggilan Tuhan hanya bisa di dengar pada level frekuensi tinggi dari gelombang Gamma (+30 Hz). Gelombang ini diperoleh setelah kita berulang kali mengalami latihan ‘kematian’ (dalam tradisi sufi disebut “suluk/khalwat”):

 Oارۡجِعِىۡۤ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةً​ ۚ‏ O يٰۤاَيَّتُهَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ
O وَادۡخُلِىۡ جَنَّتِى O فَادۡخُلِىۡ فِىۡ عِبٰدِىۙ‏

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku" (QS. Al-Fajar: 27-30)

Penutup

Sebagai penutup, hati-hati kalau sudah terjadi dua hal ini pada diri Anda: (1) susah khusyuk, dan (2) susah tidur. Itu pertanda jiwa kita mulai digerogoti oleh halusinasi dunia. Bisa-bisa, kita berakhir dengan susah mati. Untuk itu, segera latih dan biasakan teknik olah jiwa, atau zikir. Cari masternya. Hidup dan mati bisa diulang-ulang, setiap hari. Begitulah cara kita memperbaharui gelombang diri, agar senantiasa terkoneksi dengan Allah:

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

"Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan" (QS. Al-Baqarah: 28)

Sejumlah teknik zikir dapat membuat Anda untuk terus secara berulang mengalami ‘kematian’. Lalu ruh Anda dihidupkan kembali oleh Tuhan dalam kondisi damai dan bahagia. Melalui zikir pula, gelombang jiwa akan tersucikan, sehingga mudah terkoneksi dengan-Nya. Dekat dengan Tuhan akan membuat jiwa menjadi tenang. Efeknya; selain enak hidup dan enak tidur, nantinya Anda juga akan enak mati. Apa lagi yang kita cari, kalau bukan enak hidup dan enak mati.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
Channel WA: The Suficademic
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

One thought on “INI DIA, CARA MATI DALAM KEADAAN TENANG

Comments are closed.

Next Post

HARI AULIYA DAN KONSER YANG "SEMPURNA"

Sun Mar 10 , 2024
Jurnal […]

Kajian Lainnya