HARI AULIYA DAN KONSER YANG “SEMPURNA”

Jurnal Suficademic | Artikel No.31 | Maret 2024

HARI AULIYA DAN KONSER YANG “SEMPURNA”
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

“ACARA persembahan seni malam ini berlangsung sempurna”, kata Sang Sufi di penghujung acara outdoor Hari Auliya ke-48 (Sabtu malam, 9/3/2024).

Saya berusaha mencerna makna “sempurna” yang disampaikan tersebut. Apakah benar-benar sempurna, atau sempurna dalam makna lainnya. Sebenarnya tidak ada yang namanya “perfectly perfect”. Tidak ada yang benar-benar sempurna. Dengan berbagai kelemahan, acara tersebut sebenarnya telah “disempurnakan” oleh-Nya. Acara malam itu, disatu sisi berlangsung luar biasa sukses, sekaligus luar biasa bermasalah.

Begini ceritanya.

Sejenak saat masih di atas panggung, saya merenung singkat terhadap nada kata “sempurna” yang disampaikan secara bijak oleh Sang Sufi. Dari renungan itu, saya mendapat dua jawaban.

Pertama, secara “syariat”, untuk konsumsi umum, acara pertunjukan seni malam itu berlangsung meriah dan asik sekali. Ada 11 lagu, plus dua puisi; yang secara apik dimainkan oleh para artis, musisi dan seniman SufimudaTV.

Semua jamaah yang dimintai testimoni oleh Guru Sufi pada Ahad pagi setelahnya, menyebut betapa dahsyatnya pertunjukan malam itu. Bagi jamaah, di tengah cuaca sejuk yang berbalut cahaya redup lampu-lampu, itu sungguh sebuah tontonan yang luar biasa berkelas. Apalagi ada narasi kisah Laila dan Majnun yang penuh muatan spiritual yang mengisi celah acara. Semua ini membuat acara begitu memukau dan padu.

Itu yang kami sebut “sempurna” dari sisi syariatnya. Tampilannya sudah ok sekali. Tapi, hakikatnya lain lagi.

Kedua, secara “hakikat”, untuk konsumsi Sang Sufi, jawabannya ada pada beberapa kalimat terakhir fatwa-fatwanya malam ini. Kata Beliau, “Tahun depan kita tidak perlu lagi MC. Banyak konser kelas internasional yang berjalan otomatis, dari satu lagu ke lagu lainnya, tanpa harus dipandu oleh MC. Karena itu perlu stage manajer yang bagus”. Itu pesan terakhir malam itu.

Secara umum, setelah 6 kali acara Hari Auliya, dengan sejumlah penampilan seni, acara Sabtu malam itu (dengan sedikit kekurangan disana-sini) dinilai sudah sempurna secara “lahiriah”. Namun kesempurnaan itu tentu bertingkat-tingkat. Selanjutnya, perlu digagas model penampilan yang lebih berkelas lagi. Termasuk model acara-acara besar tanpa dominasi master of ceremony (MC). Biarkan audien lebih banyak menikmati musiknya.

Saya pernah beberapa kali, mengikuti konser orkestra ketika di Jerman. Sekian lama acara, mereka terus memainkan aneka instrumen, dari satu karya ke karya lainnya, tanpa MC sama sekali. Konser terus berlanjut, sampai selesai. Mereka hanya mengikuti arahan dirigen, yang sama sekali tidak bersuara.

Mungkin kita juga pernah melihat konser-konser musik internasional. Paling MC nya hanya diperlukan sedikit di awal pembuka acara. Lalu di penutupnya. Selebihnya full atraksi. Banyak seremoni yang terasa begitu membosankan. Sebab MC terlalu formal dan bertele-tele.

Itulah yang kelihatannya malam itu mulai terjadi. Saya khawatir dengan keberadaan saya sebagai MC. Dulu, saya cuma berbicara ala kadar saat menjadi MC. Kemudian mulai menarasikan sedikit lebih panjang tentang filosofi lagu. Terakhir, saya mulai mengulas lebih panjang kisah cinta Majnun dan Laila pada acara bertemakan “Arabian Night” malam itu. Kalau sempat Hari Auliya mendatang saya masih jadi MC, bisa-bisa saya jadi penceramah di atas panggung.

Inilah kenapa, ke depan acara perlu di disain secara lebih mantap, bisa berjalan mulus, mungkin tanpa MC. Jika sukses, ini akan menjadi bentuk “kesempurnaan” dalam tingkatan lainnya.

Sangat berbahaya, kalau MC banyak ngomong. Sekilas, secara “lahiriah” (bagi audien umum), itu bagus sekali. Tapi tidak elok jika MC terlalu banyak bicara di depan Gurunya. Apalagi, yang diceramahi itu sesuatu yang Gurunya lebih paham. Kisah Laila Majnun adalah kisah yang Sang Sufi sudah sering sampaikan. Mungkin tidak perlu mengulang itu. Terkesan seperti menyaingi Guru dalam bercerita.

Walaupun niat kami menampilkan cerita itu agar suasana lebih hidup dan berbeda dengan sebelumnya, tapi belum tentu itu sesuai dengan selera-Nya. Akal kita berpikir bahwa kisah-kisah itu bagus. Tapi Tuhan belum tentu suka. Menurut persepsi kita, kisah “kegilaan” Qais bisa menjadi narasi yang baik untuk “Arabian Night”. Namun belum tentu relevan dengan tema kemakmuran yang sedang dicanangkan. Kita tidak tau apa yang benar-benar baik. Hanya Tuhan yang tau. Terkadang kita baru tau salah, setelah terjadi. Padahal ada sinyal-sinyal khusus yang hadir untuk memberi tau, tapi kita terlalu bebal dan tidak sensitif untuk memahaminya. Itulah dunia Sufi. Walau baik secara lahiriah (syariat), secara esensi (hakikat) belum tentu.

Ada hal-hal “halus” lainnya yang menyebabkan terjadi distraksi pada malam itu. Posisi MC yang terus duduk diatas panggung juga menimbulkan masalah tersendiri. Posisi duduk saya sepertinya juga menghalangi pandangan Guru untuk menyaksikan permainan gitar dan band dari beberapa musisi. Kita tidak sempat uji duduk di panggung yang kecil itu sebelum acara. Sebagian kawan-kawan memilih turun panggung ketika sudah selesai penampilan. Lalu naik lagi ketika tiba penampilan berikutnya.

Suasana rintik di awal acara dan kekhawatiran akan hujan menjadi alasan kenapa MC stay di panggung. Ada kertas di tangan. Ada narasi yang harus segera dibacakan saat sebuah lagu selesai. Kalau kena hujan bisa basah dan luntur semua. Sebenarnya, sebagai MC, kami lebih nyaman di luar panggung, seperti hari-hari Auliya awal. Tapi, setelah melihat tidak ada posisi berdiri yang tepat di sisi panggung, konon lagi khawatir hujan, akhirnya saya membatatkan diri untuk tetap duduk bagian kiri panggung.

Batat inilah yang menjadi masalah. Memang, untuk pertunjukan seni sufi, Anda tidak bisa sekedar mengandalkan analisis pribadi. Bahwa ini bagus atau itu tidak bagus. Anda harus benar-benar mengosongkan diri. Mungkin niat Anda baik. Tapi jangan mengandalkan kecerdasan dan pemikiran (ego). Anda harus mengandalkan spiritual. Biar Dia saja yang bekerja dalam diri Anda. Ketidak ikut sertaan saya dalam suluk dan penutupan suluk, tentu sedikit banyaknya ikut menyumbang atas ketidak sempurnaan saya pada sisi “hakikat” penampilan malam itu. Namun demikian, hanya Dia yang sempurna. Hanya zikir dan performa Dia yang sempurna. Hanya Dia yang mampu menyempurnakan, sekaligus menyembunyikan segala keburukan.

Syukurlah. Apa yang terjadi malam itu sudah “disempurnakan”. Lebih dari itu, momentum ini mengarahkan kita untuk mencoba model-model kesempurnaan lainnya untuk show-show bernada sufistik pada aneka event yang akan datang. Konon lagi, kita mau mendunia. Tentu harus ada usaha untuk menginisiasi pertunjukan dengan pola-pola lebih dahsyat lagi. Kalaupun masih diperlukan MC, dominasinya harus benar-benar dikurangi. Mungkin cukup di belakang panggung saja, dan hanya berbicara seadanya. Tapi, jika tanpa MC sama sekali, itu tentu lebih menarik lagi.

Untuk itu perlu persiapan yang lebih baik. Tantangan kita disitu, latihan selalu dadakan. Selalu ready di last minutes. Sebab, selain sibuk, lokasi tinggal para musisi juga lintas wilayah. Tapi itu juga kelebihan kita. Bisa show dengan baik, meskipun dengan persiapan dadakan.

Demikian. Ini hanya evaluasi pribadi, yang kami sampaikan kepada sejumlah seniman sufi, yang perform pada Hari Auliya ke-48 tahun 2024.

Live Concert, Hari Auliya ke-48 (2024)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
Channel WA: The Suficademic
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

Next Post

BOROS DI JALAN TUHAN

Mon Mar 11 , 2024
Jurnal […]

Kajian Lainnya