KUNCI SEHAT, NON AKTIFKAN OTAK

Jurnal Suficademic | Artikel No.33 | Maret 2024

KUNCI SEHAT, NON-AKTIFKAN OTAK
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

Bismillahirrahmanirrahim.

Kami menulis judul ini dengan serius. Kalau mau sehat, non-aktifkan otak. Ini berlaku baik untuk kesehatan fisik maupun kesehatan batin.

Otak “off”, Badan jadi Sehat

Sumber penyakit adalah “otak”. Ketika kami menyebut otak, maknanya adalah akal/pikiran. Bukan berarti kita tidak butuh akal untuk berpikir. Sangat perlu. Akal diperlukan untuk memahami benar salah sesuatu secara mandiri. Akal sangat diperlukan dalam proses “problem solving”. Masalah hidup bisa dipecahkan, salah satunya melalui proses berpikir. Ada yang namanya pertolongan Tuhan, yang hadir di luar jangkauan akal. Ada juga yang namanya ikhtiar, yang diawali dari proses berpikir.

Tapi untuk menjadi sehat, Anda harus mematikan akal. Harus berhenti berpikir. Ada periode dimana Anda tidak boleh berpikir. Itulah kenapa diciptakan malam. Disitulah kita disuruh tidur. Tidur artinya “mati”. Otak yang mati. Saat tidur, otak berhenti berpikir. Ketika itulah tubuh bekerja memperbaiki diri. Jika tidurnya pulas, Anda akan bangun dalam keadaan sehat. Jika tidur tidak berkualitas, Anda akan rentan sakit.

Tidur yang berkualitas adalah tidur yang mencapai level “kematian”. Pada kondisi kematian ini, gelombang otak bisa mencapai level Delta (0.5-4 Hz). Pada level ini, otak total off, atau disebut “deep sleep”. Proses self healing terjadi pada frekuensi otak yang sangat rendah ini. Itulah kenapa, hampir semua bayi kondisinya sehat. Sebab, tidurnya mudah dan nyenyak sekali. Karena akal belum aktif berpikir, pertumbuhannya cepat. Juga bahagia sekali. Senyum saja kerjanya. Belum mikir utang dia.

Kita semua mulai sakit-sakitan setelah bisa berpikir. Saat otak hidup, mulailah kita kepikiran macam-macam. Ada yang berpikir tentang tagihan yang belum terbayar. Ada yang berpikir tentang kondisi ekonomi yang semakin sulit. Ada yang berpikir tentang kegagalan dalam Pemilu dan sebagainya. Setiap orang punya sesuatu untuk dipikirkan. Bahkan untuk menghujat dan menjelekkan orang lain, apakah dalam hati atau secara terbuka, butuh kekuatan untuk berpikir.

Padahal, kalau mau hidup senang dan bahagia mudah sekali. Berhentilah berpikir tentang itu semua. Caranya: tidur! Tapi, jika dalam tidur pun masih terbawa semua memori tentang dunia, bisa lebih cepat sakit kita. Bahkan bisa gila. Karena itulah, orang-orang yang susah tidur harus minum obat. Lebih parah lagi ada yang lari ke narkoba, hanya untuk menghindari masalah yang selalu melintas dalam pikirannya.

Jadi, mencapai tidur yang berkualitas itu sebenarnya tidak mudah. Perlu latihan. Sebab, manusia cenderung hidup pada gelombang Beta (13-30 Hz). Pada frekuensi ini, otak kita selama seharian terus berpikir. Fungsi inteleknya hidup. Bahkan sangat kritis dan logis. Semua kita analisis. Semua kita curigai.

Di satu sisi, akal pikiran dibutuhkan saat memecahkan sebuah masalah. Pengetahuan filosofis dan sains lahir pada frekuensi ini. Tapi, ada yang tidak sadar dengan bahaya berpikir. Sebagian besar pemikir terseret dalam mentalitas “was-was”. Kita memandang semua yang kita pikir sebagai sesuatu yang nyata. Padahal “fana” semua. Kecuali Tuhan, hanya Dia yang absolut nyata. La maujuda illallah. Itulah alasan, kenapa dunia barat sangat cerdas secara sains dan intelektual. Tapi miskin secara spiritual. Akhirnya banyak yang pergi ke India untuk belajar meditasi guna menetralkan ketegangan gelombang otak.

Gelombang otak (brainwaves) ada 5: Beta (13-30 Hz), Alpha (8-13 Hz), Theta (4-8 Hz), Delta (0.5-4 Hz) dan Gamma (+30 Hz). Jika Beta adalah gelombang otak yang berpikir, maka Alpha adalah gelombang relaksasi/meditatif. Sementara Theta adalah gelombang otak yang sedang tertidur ringan, deep meditation, penuh imajinasi dan mimpi kreatif. Sedangkan Delta adalah gelombang otak yang sama sekali sudah non-aktif (pulas). Terakhir adalah Gamma, gelombang otak/jiwa yang “tercerahkan”, otak berpikir tapi relaks (meditatif). Gelombang Gamma ini cenderung dimiliki oleh para master spiritual (termasuk sufi). Wahyu atau ilham turun pada gelombang yang memiliki frekuensi yang tinggi ini.

Brainwave (Gelombang Otak)

Jadi, sudah jelas, kunci sehat secara fisik adalah dengan menonaktifkan otak. Caranya, tidur! Agama secara tegas menyuruh kita untuk tidur pada malam hari, agar fisik menjadi sehat sehingga kuat untuk bekerja:

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ لِبَاسًا وَّالنَّوْمَ سُبَاتًا وَّجَعَلَ النَّهَارَ نُشُوْرًا

"Dialah yang menjadikan malam untukmu (sebagai) pakaian dan tidur untuk istirahat. Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha" (QS. Al-Furqan: 47)

Otak “off”, Jiwa jadi Sehat

Sebenarnya, kunci sehat secara spiritual juga sama. Tidur. Tapi bukan tidur betulan. Melainkan “tidur kreatif”. Tidur kreatif adalah proses meditasi (zikir). Ini di awali dari proses relaksasi di alam Alpha, sampai tertidur ringan di alam Theta. Zikir adalah proses menghipnosis diri dengan kekuatan Asma-Nya. Apalagi ketika Anda punya kekuatan penggerak yang kuat dalam proses zikir, ada titik fokus yang berkekuatan Ilahi, maka proses transendensi dari jiwa (trance) akan lebih mudah dan cepat. Disinilah dibutuhkan seorang Guru yang memiliki energi murni sebagai pusat rabithah.

Selain menyuruh tidur, agama juga menganjurkan kita untuk mengurangi tidur. Dalam artian, kita dianjurkan bangun malam untuk mensimulasikan sebuah model “tidur kreatif” lainnya di sepertiga malam akhir. Itulah yang disebut qiyamul lail (tahajud):

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

"Pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji" (QS. Al-Israk: 79).

Mereka yang menguasai rahasia tahajud akan “sehat” (cerdas) secara spiritual, sehingga mudah dengan Allah. Tahajud adalah ibadah khas para nabi/wali. Tahajud adalah ibadah (sholat/zikir) yang dapat membuka portal alam malakut. Kalau kita belum terkoneksi dengan dunia Ilahi, itu pertanda ada masalah dengan tahajud. Mungkin levelnya masih pada bacaan dan gerak lahiriah dari sholatnya saja. Masih bermain pada gelombang Beta.

Tahajud adalah zikir malam yang panjang, yang harus diaktivasi pada level gelombang yang sangat dalam. Tahajud adalah sujud dan tasbih kita di malam hari, dimana gelombang otaknya harus mirip-mirip “mati” (khusyuk). Kesehatan spiritual dibangun dengan cara “sujud”, sebuah simbolisme non-aktifnya fungsi otak. Lalu sebagai ganti, hidupkan “hati” (dengan cara berzikir/bertasbih):

وَمِنَ الَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهٗ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيْلًا

"Pada sebagian malam bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang" (QS. Al-Insan: 26)

Proses iktikaf (suluk) selama 40 atau 10 hari dalam tradisi kenabian; biasanya mengajarkan secara khusus teknik-teknik “mematikan” otak/diri. Kalau metodenya salah, atau tidak tepat, hasilnya juga tidak efektif. Ritual ibadah ini terkadang diiringi dengan puasa atau pantangan. Dalam tradisi kenabian digambarkan hanya berbuka dengan unsur “kurma” (nabati) saja.

Jika prosesnya iktikafnya benar, dan dibimbing oleh seorang khizir (master) yang hebat, seseorang akan mendapatkan “lailatul qadar”. Lailatul qadar adalah momen diangkatnya jiwa ke tempat yang tinggi, sehingga dapat merasakan kehadiran makhluk malakut dan Ruh. “Tanazzalul malala-ikatu war Ruh” (QS. Al-Qadar: 4).

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN | The Suficademic
Web: 
saidmuniruddin.com
Channel WA: The Suficademic
YouTube: youtube.com/c/SaidMuniruddin
TikTok:
 tiktok.com/@saidmuniruddin
IG: instagram.com/saidmuniruddin/
Facebook: facebook.com/saidmuniruddin/
Twittertwitter.com/saidmuniruddin
Join Grup WA: The Suficademic-1
Join Grup WA: The Suficademic-2

Next Post

SAMUDERA TASAWUF

Wed Mar 13 , 2024
Jurnal […]

Kajian Lainnya