Author: Said Muniruddin

Writer I Spiritual Leadership Speaker

REFOCUSING KESADARAN: DARI “AKU BERPIKIR” KE “AKU DIWAHYUKAN”

Refocusing Kesadaran: Dari “Aku Berpikir” ke “Aku Diwahyukan”
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ada dua level kesadaran manusia, dan kita harus berevolusi (atau melakukan refocusing) dari yang pertama kepada yang kedua. Pertama, manusia sebagai “binatang” yang berakal (makhluk rasional). Pada tingkatan ini, kita yang aktif berpikir. Kedua, manusia sebagai “Tuhan” yang supra-rasional (representasi khalik). Pada maqom ini, Tuhanlah yang sudah memikirkan melalui kita. Untuk menjadi sempurna, kita harus menempuh jalan evolutif: dari “kesadaran berpikir” (bergerak dan berpikir menurut maunya ego kita); kepada “kesadaran diwahyukan” (menjadi wadah tempat Tuhan bergerak dan berpikir).

ZIARAH DAN SPIRIT KEMAJUAN

Ziarah dan Spirit Kemajuan
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Kalau penuhnya masjid dijadikan ukuran bakal jayanya umat Islam, ragu juga saya. Masjidil Haram penuh sesak 24 jam. Arab Saudi tetap di kaki US dan Israel. Sekalipun kuota haji ditambah tujuh kali lipat biar Haramain tambah padat, dukungan negara-negara Arab terhadap zionisme makin kuat. Tidak tau juga saya, apakah dengan penuhnya masjid di kampung anda, lalu umat Islam tiba-tiba jadi maju.

ANDA BISA MENGENAL WALI, TANPA HARUS JADI WALI

Anda Bisa Mengenal Wali, Tanpa Harus Jadi Wali
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Pertanyaannya, bisakah kita “mengenal” Allah tanpa mengenal para rasul ataupun wali-walinya? Kalau bisa, mungkin tidak ada relevansinya seorang rasul diutus. Sementara dalam Alquran disebut, rasul diutus untuk memperkenalkan Tuhan kepada manusia. Tentu bukan sekedar kenal “nama”. Kalau sekedar tau DIA ada dan namanya adalah “Allah”, itu tinggal baca di kitab-kitab sebelumnya.

TERDENGAR “RINDU” MEGGY Z DALAM TAKBIR IDUL ADHA

Terdengar “Rindu” Meggy Z dalam Takbir Idul Adha
Oleh Said Muniruddin | Rector The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Mungkin karena masih suasana lebaran. Tetangga kami seperti sedang merasakan bahagia lebih dari biasanya. Mereka ini semacam “happy people”. Kalau nyetel musik kedengaran satu dusun. Mungkin itu cara mereka bahagia. Sebaliknya, cara kami mendapatkan pahala sabar, sekaligus sakit kepala.

POSISI ‘AQAL DALAM HUKUM ISLAM

Posisi ‘Aqal dalam Hukum Islam
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Mazhab-mazhab dalam Islam sepakat, Al-Quran dan Sunnah merupakan sumber utama hukum Islam. Disamping juga ada Ijmak (kesepakatan para ahli). Lalu dimana posisi ‘Aqal?

“SUDAH BERAPA LAMA KITA MATI?” (MENGHIDUPKAN PARADIGMA MAKRIFAT DALAM DUNIA AKADEMIK)

 

“SUDAH BERAPA LAMA KITA MATI?”
(Menghidupkan Paradigma Makrifat dalam Dunia Akademik)

Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tahun demi tahun terus berjalan. Usia semakin bertambah. Ada yang mau pensiun. Alih-alih bertanya sudah berapa lama hidup; pertanyaan sebenarnya adalah: “Sudah berapa lama kita mati?”

TEUNGKU SYIAH KUALA DAN NURUDDIN AR-RANIRY BERGURU PADA DUA HABIB INI

Teungku Syiah Kuala dan Nuruddin Ar-Raniry Berguru Kepada Dua Habib ini
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Adalah Syeikh Abdurrauf bin Ali Al-Fansury (1615-1693 M) dan Syeikh Nuruddin Muhammad Jailani bin Ali Ar-Raniry (1500an-1658 M). Kedua “profesor” ini memiliki kontribusi dalam berbagai bidang ilmu. Mereka menjadi rujukan banyak ulama di Nusantara dan Asia Tenggara. Ketokohan mereka diabadikan menjadi nama dua perguruan tinggi negeri di Darussalam, Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry.

KASIH SAYANG-NYA MELAMPAUI GOMBALMU

Kasih Sayang-NYA melampaui Gombalmu
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Siang ini kudekati istriku. Kubisikkan sesuatu yang baru: “Sayang.. sekiranya semua suami yang ada di dunia, beserta seluruh kasih sayang mereka kepada istri-istri mereka dikumpulkan jadi satu, masih kalah jauh dengan kasih sayangku kepadamu”.

SCHOOL DAY 1: “INI BUDI”

School Day 1: “Ini Budi”
Oleh Said Muniruddin

“INI BUDI.” Masih teringat sekali, pelajaran pertama membaca waktu SD dulu. “Ini Budi, ini Ibu Budi, ini Ayah Budi…”. Semua tentang Budi. Berhari-hari, berminggu, berbulan-bulan ngurusi si Budi. Tanpa pernah sekalipun kami diperkenalkan yang mana Budi. Begitulah metode pengajaran kita. Disuruh hafal dan baca. Tanpa tau realitasnya!

SUFI ITU ‘MISKIN’

Sufi itu ‘Miskin’
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ada orang yang beranggapan, bahwa sufi itu kumpulan orang-orang fakir, miskin dan putus asa. Mungkin tidak salah. Sebab, bisa jadi saat itu ia sedang melihat banyak orang miskin dan stress dalam kelompok itu. Seperti orang luar melihat Islam sebagai agama orang-orang tertinggal dan bodoh. Mungkin potret yang terlihat adalah sekelompok muslim yang memang sedang begitu. Sementara Islam sejati tidak punya tempat untuk kemiskinan dan kebodohan. Sufisme sejati juga begitu. Tidak toleran dengan kemiskinan dan keterpurukan.

MENCARI IMAM YANG DIDENGAR TUHAN

Mencari Imam yang Didengar Tuhan
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Suatu ketika, ada seorang qari. Suaranya bagus sekali. Irama tilawahnya sangat memukau. Semua shalat yang dipimpinnya, senantiasa menuai decak. Lantunannya itu lho!