SYAJARAH MAL’UNAH


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” PEMUDA SUFI | Artikel No.72 | Oktober 2021


SYAJARAH MAL’UNAH
Oleh Said Muniruddin | Rector The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM.

وَمَا مَنَعَنَآ اَنْ نُّرْسِلَ بِالْاٰيٰتِ اِلَّآ اَنْ كَذَّبَ بِهَا الْاَوَّلُوْنَۗ وَاٰتَيْنَا ثَمُوْدَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوْا بِهَاۗ وَمَا نُرْسِلُ بِالْاٰيٰتِ اِلَّا تَخْوِيْفًا ° وَاِذْ قُلْنَا لَكَ اِنَّ رَبَّكَ اَحَاطَ بِالنَّاسِۗ وَمَا جَعَلْنَا الرُّءْيَا الَّتِيْٓ اَرَيْنٰكَ اِلَّا فِتْنَةً لِّلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُوْنَةَ فِى الْقُرْاٰنِ ۗ وَنُخَوِّفُهُمْۙ فَمَا يَزِيْدُهُمْ اِلَّا طُغْيَانًا كَبِيْرًا °

Continue reading

TENTANG AYAT MAULID


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.71 | Oktober 2021


TENTANG AYAT MAULID
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ayat ini disampaikan oleh Isa as. Tentang bagaimana ia membesarkan hari maulidnya. Disampaikan kembali oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW, guna diteruskan kepada kita. Agar kita paham betapa pentingnya maulid seorang nabi:

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam: 33).

Yang jelas nabi itu banyak. Bukan hanya Isa. Setiap nabi ada hari kelahiran. Juga ada hari kematian. Pun ada “kebangkitannya”. Ketika disebut “hari” (yaum) kelahiran, itu bukan saja merujuk pada indikasi hari (Senin, Selasa dan sebagainya) an sich. Tapi juga keseluruhan  momentumnya. Baik hari, tanggal, bulan maupun tahunnya.

Apa makna ayat ini?

Pertama, nabi memperingati hari kelahirannya. Nabi mengingat hari lahirnya masing-masing dan mengadakan selamatan untuk dirinya sendiri. Para nabi menganggap sakral hari kelahiran mereka, sehingga lahir “salam” (doa-doa kesejahteraan) untuk diri mereka sendiri. “Wassalamu ‘alayya yauma wulidtu” (dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan…”.

Maka, jika seorang Isa pantas mengucapkan selamat atas kelahirannya; apakah tidak pantas bagi seorang Muhammad melakukan itu untuk dirinya sendiri? Apakah tidak pantas bagi kita untuk membesarkan hari kelahirannya? Padahal, ia adalah nabi yang kemunculannya paling ditunggu oleh para nabi, jauh sebelum Beliau lahir. Termasuk Isa yang terang-terangan mengagungkan kedatangam seorang nabi setelahnya yang bernama Ahmad:

وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَمُبَشِّرًاۢ بِرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗٓ اَحْمَدُۗ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ قَالُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

“Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad..” (QS. As-Shaff: 6).

Jika para nabi terdahulu terang-terangan merayakan kehadiran Muhammad yang tidak pernah mereka lihat, maka bid’ahkah kita yang juga merayakan kelahiran Nabi yang juga tidak pernah kita lihat itu? Berdosakah kita jika merayakan syukur atas kelahiran Muhammad pada momentum tanggal dan bulan kelahirannya? Jika seorang nabi mengisi doa pada maulidnya, maka tidak pantaskah bagi kita ikut melakukan hal serupa bagi mereka pada saat hari ulang tahunnya?

Sampai disini sudah jelas. Merayakan maulid adalah sunnah para nabi. Kitapun harus melakukan itu. Menyambut gembira kedatangan mereka; yang secara simbolik itu ada baik pada hari, tanggal ataupun bulan kelahiran mereka. Boleh saja dirayakan pada setiap Senin, dengan niat merayakan maulid. Karena ada hadis, Nabi berpuasa setiap Senin untuk merayakaan maulid. Ataupun dapat dirayakan langsung pada momentum tanggal dan bulan kelahirannya. Ini tentu dilakukan dalam suasana gembira: “Katakanlah, dengan anugerah Allah dan rahmatNya (Nabi Muhammad SAAW) hendaklah mereka menyambut dengan senang gembira (QS. Yunus: 58).

Masalahnya, bagaimana cara mengekspresikan rasa senang dan gembira tersebut?

Ya, paling tidak ada doa-doa selamatan. Sebagaimana para nabi melakukan untuk dirinya sendiri. Doa apa? Ya, paling sedikit adalah shalawat dan salam. Karena Allah dan para malaikat pun melakukan itu kepada Nabi. Selebihnya; kalau mau potong ayam, kambing, sapi atau lembu; itu urusanmu. Itu persoalan kedermawananmu. Itu bentuk lain dari rasa senang dan gembiramu. Itu ekspresi masing zaman dan tempat.

Nabi tidak ada waktu untuk meregulasi hewan apa yang harus dipotong untuk sebuah kenduri, berapa ekor, dimasak dengan bumbu apa, digulai atau digoreng, untuk berapa orang tamu, dan sebagainya. Terkait teknis, itu urusanmu di kampungmu. Jangan kau cari hadis tentang itu. Tidak ada. Mau kau ganti nama sekalipun, menjadi sekatenan, ataupun khauri pang ulee; itu bagian dari kreatifitas dan identitas lokalmu. Nilai universalnya, kau mengikat batin dengan Nabi.

Urusan kenduri, itu sebenarnya tergantung engkau melihat apakah penting atau tidak untuk menunjukkan rasa syukur atas kelahiran nabimu dengan cara berbagi. Besar tidaknya hidang, misalnya, tergantung besar tidaknya persepsimu terhadap nabimu. Kalau dia nabi besar, besarkan hidangnya. Kalau bagimu dia itu nabi kecil, tak perlu kau kenduri. Kau simpan saja duitmu untuk perayaan kelahiran anak cucumu. Kira-kira begitu. Tapi kalau dipikir-pikir, kelahiran anak kita saja, yang itu bukan siapa-siapa, kita potong kambing. Tanda gembira. Masa nabimu lahir, kau hindari untuk ‘berpesta.’ Aliran apa kau ini?

Surah Maryam 33, itu sudah lebih dari cukup untuk ‘mewajibkan’ kita memperingati maulid seorang nabi. Tapi ayat untuk kenduri tidak ada. Karena, Alquran memang bukan kitab kenduri. Walaupun ada surah khusus tentang “jamuan hidangan” (Almaidah). Maka jangan pula menyepelekan urusan hidang menghidang, khususnya pada hari bahagia seperti even kelahiran Nabi. Hari dimana kita juga kembali mengikat janji (‘uqud) dengan Rasulullah. Hari untuk me-muhammad-kan kembali diri kita.

Kelihatannya tidak ada hadis yang secara tegas mendikte kita untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Ayat diatas pun levelnya santun sekali. Tidak etis bagi seorang Muhammad untuk secara langsung memaksa kaumnya merayakan kelahirannya. Kita sendiri yang harus sadar. Dari ayat ini kita sudah harus paham, kita mesti memberikan hak kepada nabi kita, sekalipun tanpa diminta. Termasuk merayakan kelahirannya, sebagaimana dia sendiri melakukannya. Sebab, kelahiran nabi bukanlah kelahiran manusia biasa. Melainkan hadirnya seorang Rasul ke tengah kita. Hadirnya seorang utusan Tuhan yang sangat langka. Nabi terakhir pula.

Kedua, nabi memperingati hari kematiannya. “… wa yauma amuutu” (Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku meninggal). Lihat. Belum meninggal, Nabi Isa as sudah memberikan sinyal selamatan untuk hari dia akan meninggal. Sebab, tidak mungkin orang yang sudah meninggal merayakan hari kematiannya. Itu cuma bisa dirayakan oleh para pengikut setelahnya.

Kalau Nabi Isa begitu, Nabi Muhammad bagaimana?

Tentu lebih wajib lagi. Kewafatan Nabi kita seharusnya juga diperingati. Diingat. Didoakan. Dibacakan sholawat dan salam. Namun apa daya, mungkin inilah kealpaan kita. Kelahirannya kita peringati. Wafatnya tidak. Kecuali sedikit dari umat ini yang masih memperingati syahadah (kewafatan) Rasulullah. Syiah misalnya, masih melakukannya. Kita Sunni mungkin sudah menggabungkannya sekalian pada maulidnya. Kalau kawan-kawan kita yang Wahabi jangan tanya. Dari maulid sampai meninggal, mereka tidak mau tau. Ah! Tak usah dipertentangkan. Kita jaga ukhuwah saja.

***

Kenapa penting bagi syaitan, atau musuh-musuh Islam, untuk menghapus perayaan maulid dan kewafatan nabi?

Karena, mereka tidak mau Nabi itu terus-menerus “lahir”. Berbahaya jika nabi hidup terus. Perayaan maulid adalah bentuk usaha untuk terus “menghidupkan” nabi. Dan ini terkait dengan ujung ayat surah Maryam 33 di atas: “Wa yauma ub’asu hayya” (dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali).

Nabi tidak pernah mati. Isa putra Maryam sudah tiada. Tapi bangkit dan hidup kembali dalam wujud Muhammad bin Abdillah. Merayakan kelahiran Isa, itu juga sama dengan meyakini bahwa dia akan terus hidup dalam spirit baru. Wafatnya diperingati sebagai tanda dia adalah manusia biasa, dan akan ada pengganti. Kesucian ajarannya akan bangkit lagi dalam diri para suksesornya.

Muhammad pun begitu. Muhammad bin Abdullah sudah tiada. Memperingati hari lahirnya adalah tanda dia akan terus lahir. Spiritnya abadi. Nur Muhammad-nya akan terus menjelma, bertajalli dalam wujud-wujud baru. Baik dalam para ulil amri, wali, mursyid, qutub atau imam-imam yang menjaga kemurnian ideologi ilahi sepanjang masa. Warisnya akan terus ada. Itu pasti. Karena “titisan” Rasul dari kaum anda sendiri akan terus hadir dimuka bumi (QS. At-Taubah: 128).

***

Inilah urgensi maulid. Kita tidak hanya merujuk pada sosok Muhammad yang telah tiada 1400an tahun lalu. Tapi juga terus memproyeksikan kelahiran, kemunculan, atau kebangkitan muhammad-muhammad baru di zaman kita. Tidak hanya dalam wajah-wajah Arab, tapi juga wajah-wajah non Arab. Itulah esensi maulid.

Mungkin ada benarnya kritik terhadap maulud yang sudah jadi tradisi “mulut” (makan), sehingga melupakan esensinya. Inti maulid adalah mendoakan sosok nabi terdahulu, dan pada saat yang sama meyakini adanya suksesi Ruhani Muhammad kepada orang-orang shaleh disepanjang masa. Melalui maulid, kita melihat masa lalu kita di padang pasir Arab sana, sekaligus membangun spirit dan model tak terbatas untuk masa depan kita dimanapun itu.

Maulid yang terjebak kepada sosok nabi di masa lalu, tanpa mendoakan dan meyakini kemunculan warisnya di masa kini, itu maulid “kosong”. Hanya sekedar ritual tanpa elan vital. Seperti disinggung Sayyid Abdul Malik Al-Houthi dihadapan jutaan rakyatnya yang hadir saat perayaan Rabiul Awal tahun 2021 di San’a Yaman baru-baru ini (Sabtu, 09/11/2021): “Jika sekiranya peringatan maulid Nabi kita itu dapat menggetarkan hati Yahudi dan musuh-musuh Islam, serta dapat memperkuat hubungan kita dengan Rasulullah, maka selayaknya kita memberi perhatian yang lebih pada perayaan ini”.

Benar apa yang dikatakannya. Saban tahun kita merayakan “kelahiran” nabi. Tapi tak satupun muncul orang yang mampu mengalahkan Yahudi, yang jumlahnya kecil dan terus merongrong jantung dunia Islam. Yang banyak lahir justru orang-orang yang picik jiwanya, dan ingin melakukan normalisasi dengan zionisme Yahudi. Itu pertanda, (spirit) nabi sudah benar-benar mati. Tidak pernah bangkit lagi. Perayaan maulid tidak lagi mampu melahirkan nabi. Yang banyak lahir justru sebaliknya, koruptor.

Susah memang untuk melahirkan ‘nabi’. Kalau sekedar melahirkan orang yang pandai meniru jubah dan jenggotnya nabi, itu mudah. Bahkan penampilan kita sekarang, saya curiga, sudah lebih bagus dari nabi. Atau untuk sekedar mencetak generasi yang fasih mengucap alhamdulillah, masyaallah atau ana dan ente; itu juga gampang sekali. Bahkan saya curiga, sudah lebih fasih bahasa Arab kita daripada nabi. Tapi melahirkan orang-orang yang spiritnya seperti nabi, memiliki kontak dengan Allah, itu susah. Walau seribu maulid sudah kita peringati. Maulid kita hanya sekedar mengulang-ulang cerita nabi. Tak lagi mampu membangkitkan “nabi” (Cahaya Tuhan dalam diri) untuk hidup kembali.

Berharap pada teman-teman kita yang Wahabi untuk menghadapi Israel juga tidak mungkin. Walau tidak merayakan maulid, kulihat duluan Saudi cs yang bersahabat dengan zionis. Walaupun tidak maulidan, Islamnya tak jelas juga. Ah! Tak usah kita perlebar perbedaan. Karena kitapun belum tentu lebih baik dari kawan-kawan salafi. Sama-sama kita perbaiki diri dan jaga ukhuwah.

Kesimpulan. Merayakan kelahiran dan kewafatan orang-orang suci, itu merupakan tradisi spiritual Islam. Tidak hanya maulid Nabi. Bermacam khaul (peringatan tahunan) dilakukan untuk mengenang hari lahir maupun wafatnya para ulama pewaris nabi yang hidup disetiap zaman. Bahkan kenduri dan doa tahunan juga kita lakukan untuk mengenang arwah orang tua dan leluhur kita. Tujuannya bukan untuk sekedar glorifikasi sekte, sejarah dan famili. Melainkan agar regenerasi spirit ketuhanan dapat terus hidup dalam jiwa. Agar Ruh Muhammad mampu kita bangkitkan disetiap masa.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

KITA SELAMAT, KARENA DEKAT


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.70 | Oktober 2021


KITA SELAMAT, KARENA DEKAT
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Kita selamat, seringkali karena dekat. Karena kenal dan akrab, kita ditolong. Banyak kemudahan. Dibantu. Diluluskan. Itulah pentingnya networking. Silaturahmi. Tentu tanpa mencurangi yang lain. Continue reading

WHY DO WE EXIST?

 


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.69 | Oktober 2021


WHY DO WE EXIST?
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Pada saat miskin, orang-orang mengira, kalau harta berlimpah, hidupnya bahagia. Kenyataannya, banyak orang kaya yang gelisah. Banyak orang tenar yang kena sabu. Banyak pejabat yang mentalnya terganggu. Banyak orang cerdas yang hatinya susah. Continue reading

APA TANDA AKRAB DENGAN ALLAH?


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.68 | Oktober 2021


APA TANDA AKRAB DENGAN ALLAH?
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tanda akrab dengan Allah, anda bisa bercakap-cakap dengan-Nya. Kapanpun anda mau, Dia meladeninya. Dia hadir kapan saja, untuk berkomunikasi dengan anda. Sebab, “Islam itu tinggi”, kalau umatnya bisa menjangkau Yang Maha Tinggi. Kalau belum, berarti kita masih menganut tipe Islam yang “rendah”. Yang masih berjarak, jauh dengan Allah. Continue reading

RUKUN ISLAM YANG PERTAMA “DZIKIR”, BARU KEMUDIAN “SHOLAT”


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.67 | Oktober 2021


RUKUN ISLAM YANG PERTAMA DZIKIR, BARU KEMUDIAN SHOLAT
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Rukun Islam yang pertama, kalau boleh dibahasakan ulang, itu adalah “dzikir”. Nama lain dari syahadat.

Dzikir, dalam bentuknya yang paling sederhana, adalah “menyebut-menyebut” nama Allah. Jadi, secara umum, dzikir itu sama dengan syahadat, yaitu mengakui keberadaan “Allah”. Mengucap kalimat tentang ketuhanan akan Allah. La ilaha illa Allah itu kalimat dzikir, dan juga syahadat.

Itu bentuk dzikir atau syahadat yang paling awam: sekedar mengucap (berikrar dengan ujung lidah). Maka secara lahiriah, asal sudah bunyi kalimat Allah di mulut, keislaman anda dianggap sah. Secara batiniah, belum. Karena pada tingkatan sempurnanya Islam, dzikir atau syahadah adalah “menyaksikan” apa yang anda ucap (di-tashdiq-kan dengan mata qalbu).

Jadi, dzikir (syahadat), pada level awam adalah berteori tentang Tuhan. Pada level khusus, itu sudah menemukan realitas dari Wujud ketuhanan. Alias sudah menyatu dengan gelombang Tuhan. Sudah berada pada frekuensi Tuhan.

***

Syahadat, secara umum bermakna “mengucap”. Yaitu secara lisan menyebut dua kalimat syahadat. Pada level ini, Islam hanya sebatas aktualisasi verbal dari keyakinan kepada adanya Tuhan. Walau Tuhan tidak pernah disaksikan, dia dipersepsikan ada. Lalu di ujung lidah tersebut nama-Nya. Syahadat kita umumnya ada pada maqam ini.

Sementara secara substantif, syahadat maknanya “menyaksikan”. Yaitu melihat, merasakan atau terhubung secara “langsung” dengan wujud yang diimani. Para nabi dan orang-orang shaleh mampu mengalami syahadah sampai pada level ini. Jadi sifatnya sudah mengalami. Bukan lagi teori (kepercayaan) di atas kertas.

Syahadat itu, pada hakikatnya adalah “pengalaman”. Pengalaman menyaksikan Tuhan. Para nabi mengalami musyahadah. Yaitu pengalaman tersingkapnya berbagai tirai yang membatasi antara mereka dengan Tuhannya. Tuhan itu benar-benar hadir. Bisa diajak bicara. Bisa di dengar segala firman-Nya. Itu syahadah. Tuhan sudah lebih dekat dari urat leher (QS. Qaaf: 16).

Semua orang tau, proses untuk mengalami “musyahadah” (syahadah), itu ditempuh melalui riyadhah ruhaniah. Ini merupakan proses dzikir yang intensif. Proses penyucian jiwa, yang dimulai dari “kematian diri”.

Makanya orang yang sudah mati juga disebut sebagai orang syahid. Syahid bermakna menyaksikan. Karena, “mati” adalah prasyarat untuk mengalami musyahadah, berjumpa Tuhan.

Namun mati dalam makna tasawuf bukanlah mati secara biologis. Melainkan mati secara ideologis. Yaitu kematian ide-ide rendah, hilangnya ego setan, hijab-hijab, dorongan dan unsur-unsur kotor kemanusiaan; sehingga aktual unsur-unsur ruhaniah yang mampu “menyingkap” posisi Tuhan. Kematian ini juga memampukan manusia untuk terlebih dahulu terhubung dengan berbagai elemen malakut (malaikat), sebelum sampai kepada Tuhan.

Itulah mengapa para nabi mampu berkomunikasi dengan para malaikat, dan juga Allah. Karena mereka semua sudah “mati”. Sudah hidup sisi ruhaninya. Jiwanya sudah kembali wushul dengan Tuhan. Sudah tersucikan. Sudah tersambung dengan Ruhul Quddus, Ruhul Muqaddasah, Nur Muhammadiah, Nurun ‘ala Nurin.

***

Pertanyaan, dengan cara apa para nabi bisa mengalami ini? Metode apa yang ditempuh, sehingga mampu mencapai maqam syahadah keislaman yang tinggi?

Nabi adalah orang-orang yang mengajari kita cara sampai kepada Tuhan. Sudah pasti mereka mengajari kita apa yang mereka lakukan untuk itu. Muhammad (SAAW) misalnya, itu separuh usianya dihabiskan untuk membangun koneksi dengan dunia ilahi. Dia tidak jadi nabi secara tiba-tiba. Sampai usia 40, ia masih rajin “bersemedi” di gua. Bahkan setelah 40 juga itu kerjaannya. Senantiasa mencari ruang-ruang sunyi, untuk menghampiri Tuhannya. Itu ritualnya orang-orang yang mencari Tuhan.

Ada teknik bersemedi yang dijalani para nabi dan orang-orang shaleh. Sebuah teknik yang maha dahsyat, yang mampu menyibak tirai batin untuk mengalami syahadah (penyaksian ruhaniah). Teknik ini diajarkan dalam metode irfan. Metode perjalanan jiwa. Metode tazkiyatun nafs. Atau umum disebut tasawuf tariqah. Ada gurunya. Ada ulamanya. Ada walinya.

Jadi, proses untuk syahadah adalah proses penyucian jiwa, dengan berbagai elemen dzikir yang menyertainya. Sebuah proses yang wajib ditempuh untuk sempurnanya shalat kita. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menjalani proses penyucian diri. Dan dia mendzikirkan nama Tuhannya. Baru kemudian tegaklah sholatnya” (QS. Al-‘Ala: 15-15).

Inilah tariqah dzikir dengan berbagai proses iluminasi ruhani. Dzikir inilah yang membawa kita sampai kepada syahadah. Pengalaman menyaksikan Tuhan. Sebuah pengalaman yang kemudian melahirkan kalimat kesaksian. Artinya, kalimat syahadat adalah seperangkat teori yang terbentuk dari proses uji empirik. Dialami. Dibuktikan. Baru kemudian dirumuskan penyataannya. Jadi, secara hakikat, kalimat syahadat baru absah setelah mengalami musyahadah.

Jadi, untuk berislam secara sempurna, kalau mengikuti gayanya para nabi, itu diawali dengan musyahadah. Yaitu proses dzikir (sayr wa suluk) yang membawa jiwa menembusi alam-alam yang lebih tinggi. Sehingga mengalami penyaksian secara Hak. Barulah setelah syahadah (dzikir) sempurna, sholat bisa tegak. Begitu juga dengan ibadah lainnya (zakat, puasa, haji, jihad, dsb). Tanpa sempurnanya kemampuan untuk “ingat” kepada Allah, semua amal ibadah menjadi tidak sempurna. Karena syarat diterimanya ibadah adalah “hadirnya Allah” (khusyuk). Khusyuk itu syahadah. Perhatian hanya tertuju kepada Wajah Allah. Semua dimensi ibadah harus ada unsur syahadah, penyaksian akan Wujud Allah.

Itulah kenapa, sholat juga disebut dzikir. Bahkan dalam Alquran, kata-kata dzikir lebih banyak disebut daripada sholat. Karena amal ibadah paling utama adalah dzikir. Seluruh dimensi kehidupan kita harus memiliki daya ingat kepada Allah.  Sholat adalah salah satu usaha untuk kembali merefresh ingatan dan kesaksian terhadap Allah.  Sehingga, keseluruhan gerak dan bacaan sholat sesungguhnya adalah wujud keterhubungan (kekhusyukan/penyaksian) akan Allah. Tanpa ini, sholat kita menjadi “terlempar”. Putus. Tidak diterima. Maka, kalau dzikirnya benar, sholat akan benar. Karena mesin dari semua ibadah adalah dzikir (kehadiran Allah).

***

إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, (saksikanlah) tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS. Thaha: 14)

Sebagai penutup, ayat ini secara ekstrem mendorong kita untuk “melihat” Allah -secara langsung. Allah menyebut dirinya sebagai “Aku”, seolah-olah hadir dihadapan kita. Tersaksikan secara langsung oleh keseluruhan mata ruhani kita, sehingga kita naik saksi, bahwa tidak ada Tuhan selain Dia. Baru setelah itu Dia berhak disembah, di sholati. Karena sudah pernah dirasakan kehadiran, dilihat Wajahnya. Bahkan dalam sholat pun ada pengakuan inni wajjahtu wajhiya. Wajah Tuhan telah terekam dan diingat kembali dalam sholatnya. Inilah syahadah. Awal dari keislaman yang hakiki.

Maka untuk sempurnanya dunia syariah dan muamalah, perbaiki jalan menuju Tuhan. Sempurnakan dzikir. Bangun hubungan dengan Tuhan. Saksikan Dia. Leburkan diri dalam lautan makrifat-Nya. Sehingga Dia bersedia hadir dalam semua gerak ibadah kita.

Caranya bagaimana?

Tidak mungkin juga kita sempurnakan perjalanan jiwa sampai 40 tahun lamanya, baru kemudian melaksanakan sholat. Atau sebaliknya, menyempurnakan dulu gerak dan bacaan syariat dari sholat selama berpuluh-puluh tahun, baru kemudian bertariqat. Mustahil. Solusinya, lakukan secara berbarengan, agar keduanya sempurna secara bersamaan. Sebab, Muhammad juga mencari Tuhan sambil berdagang.

Jadi, rukun Islam, kalau boleh sedikit saya koreksi (atau mungkin bahasanya saya ganti) akan menjadi begini: (1) dzikir, (2) sholat,(3) puasa, (4) zakat, (5) haji. Dzikir itu, kalau dalam rukun keislaman khas kita Sunni, adalah syadahat. Dalam versi mistisisme Syiah, itu disebut tauhid wal makrifat. Sama saja.

BACA JUGA: Beda Antara “Percaya” dan “Berjumpa”, Aku “Bersaksi”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

BEDA ANTARA “PERCAYA” DENGAN “BERJUMPA”

“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.66 | September 2021


BEDA ANTARA “PERCAYA” DENGAN “BERJUMPA”
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Agama, pada tahap awam hanya sebatas percaya. Percaya kepada apapun yang ditulis dan dicerita. Itu iman. Sebatas hipotesa. Termasuk wujud Tuhan. Diduga, ada. Continue reading

AKU “BERSAKSI”


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.65 | September 2021


AKU “BERSAKSI”
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Pagi ini, Ahad 26 September 2021. Kami duduk di D’Energy. Mengupas “sisi lain” dunia Islam. Dunia yang telah mengguncang dada sahabat kami Bang Munawir Bateei. Yang sebenarnya juga telah cukup mengguncang dada para Pencari. Continue reading

IZIN GURU


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.64 | September 2021


IZIN GURU
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Nashruddin, kalau diajak melakukan sesuatu, selalu menolak; sampai ada izin Gurunya. Continue reading

BAHASA WAHYU


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.63 | September 2021


BAHASA WAHYU
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM.

Wa mā yanṭiqu ‘anil-hawā, in huwa illā waḥyuy yụḥā (QS. An-Najm: 3-4).

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ – إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Tidak ada satupun yang diucapkan Muhammad atas dasar hawa nafsu, melainkan wahyu yang diwahyukan. Hanya saja, cara penyampaiannya berbeda. Satu dalam bentuk bahasa “sensasional” (yang kemudian disebut Al-Quran). Satu lagi dalam bahasa “operasional” (atau disebut hadis). Continue reading

TRIK MENEMUKAN ALLAH


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.62 | September 2021


TRIK MENEMUKAN ALLAH
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Bagi yang ngotot ingin bertemu Allah, atau merasa mampu langsung berjumpa dengan Allah; dimana mau kau temukan Dia? Yang mana Dia? Yakin kau itu Dia? Mampu kau berbicara langsung dengan-Nya? Continue reading

ISLAM KREATIF


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.61 | September 2021


ISLAM KREATIF
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Hidup harus kreatif. Bertuhan juga begitu. Continue reading

AWALUDDIN MAKRIFATULLAH, SETELAH ITU APA?


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.60 | Agustus 2021


AWALUDDIN MAKRIFATULLAH, SETELAH ITU APA?
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Awal dari beragama adalah mengenal Allah. Apa yang dimaksud dengan mengenal Allah? Continue reading

KE “BINTIS”

KE “BINTIS”
Oleh Said Muniruddin

MALAM ini ketemu lagi guru lainnya. Pak Sayuti. Sepanjang pertemuan ini kami berbicara dalam bahasa Inggris. Tentu saja, karena beliau adalah guru bahasa Inggris kami sewaktu di MAN-1 Banda Aceh dulu. Seputaran tahun 1995-1997. Continue reading

SEMUA SUDAH KALIAN MILIKI, KECUALI HUSAIN

Taliban yang baru saja menguasai Afghanistan, awalnya kontra dengan peringatan Asyura, kini telah ikut serta dalam sebuah majelis Muharram di Kabul, dan menyatakan bahwa Husain adalah milik bersama (17 Agustus 2021)


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.59 | Agustus 2021


SEMUA SUDAH KALIAN MILIKI, KECUALI HUSAIN
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tauhid anda boleh jadi setinggi langit. Ritual ibadah anda mungkin mampu mengalahkan para nabi. Begitu pula hafalan ayat dan hadis, jangan-jangan anda sudah tingkat dewa. Tapi, anda tidak akan pernah bisa mengusir para penjajah dari rumah anda sendiri. Sumberdaya alam akan terus dihisap. Dicucuk hidung. Dipaksa normalisasi hubungan dengan para penindas. Seperti Uni Emirat Arab. Bahrain. Sudan. Maroko. Segera menyusul Arab Saudi dan para aristokrat lainnya. Khawatir negeri ini juga begitu. Kenapa ini bisa terjadi?

Continue reading

AGAMA ITU (BUKAN) DALIL


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.58 | Agustus 2021


AGAMA ITU (BUKAN) DALIL
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ilmu Tuhan tidak terbatas. Selama bersama Tuhan, kita akan terus diberi tau rahasia dan jawaban-jawaban yang lebih unik lagi mendalam tentang semesta agama. Tentang Qur’an, dan sebagainya. Semua pengetahuan ini ada di lembaran hati kita, yang merupakan sebuah lokus suci, kitab induk dari segala sesuatu. Kalau dekat dengan Tuhan, kitab ini akan tersibak untuk kita baca. Continue reading

MENGINGAT ALLAH


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.55 | Agustus 2021


MENGINGAT ALLAH
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Apa yang dimaksud dengan mengingat Allah? Pernahkan anda bertemu Allah, lalu setelah itu mampu mengingatnya? Continue reading

MENUHANKAN ALLAH: SEKEDAR TAU NAMA, ATAU HARUS TERHUBUNG DENGAN-NYA?


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.54 | Agustus 2021


MENUHANKAN ALLAH; SEKEDAR TAU NAMA, ATAU HARUS TERHUBUNG DENGANNYA?
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Allah” sebagai nama Tuhan, itu bukan cuma Islam saja yang tau. Kaum jahiliah juga tau, itu nama Tuhan. Kaum pagan juga begitu. Semua agama tau, “Allah” itu nama Tuhan. Bahkan sebutannya banyak. Bisa disebut dengan berbagai nama, perilaku dan sifat. Lalu apakah dengan tau itu semua anda sudah Islam? Continue reading

SUAMI YANG BERSETAN


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.53 | Juli 2021


SUAMI YANG BERSETAN
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Malam itu, semua terlihat sempurna. Pulang dari kantor sudah agak Magrib. Saya mandi. Sholat. Lalu duduk santai, menunggu santap malam. Continue reading