TENTANG AYAT MAULID


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.71 | Oktober 2021


TENTANG AYAT MAULID
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ayat ini disampaikan oleh Isa as. Tentang bagaimana ia membesarkan hari maulidnya. Disampaikan kembali oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW, guna diteruskan kepada kita. Agar kita paham betapa pentingnya maulid seorang nabi: Continue reading

KITA SELAMAT, KARENA DEKAT


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.70 | Oktober 2021


KITA SELAMAT, KARENA DEKAT
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Kita selamat, seringkali karena dekat. Karena kenal dan akrab, kita ditolong. Banyak kemudahan. Dibantu. Diluluskan. Itulah pentingnya networking. Silaturahmi. Tentu tanpa mencurangi yang lain. Continue reading

WHY DO WE EXIST?

 


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.69 | Oktober 2021


WHY DO WE EXIST?
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Pada saat miskin, orang-orang mengira, kalau harta berlimpah, hidupnya bahagia. Kenyataannya, banyak orang kaya yang gelisah. Banyak orang tenar yang kena sabu. Banyak pejabat yang mentalnya terganggu. Banyak orang cerdas yang hatinya susah. Continue reading

APA TANDA AKRAB DENGAN ALLAH?


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.68 | Oktober 2021


APA TANDA AKRAB DENGAN ALLAH?
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tanda akrab dengan Allah, anda bisa bercakap-cakap dengan-Nya. Kapanpun anda mau, Dia meladeninya. Dia hadir kapan saja, untuk berkomunikasi dengan anda. Sebab, “Islam itu tinggi”, kalau umatnya bisa menjangkau Yang Maha Tinggi. Kalau belum, berarti kita masih menganut tipe Islam yang “rendah”. Yang masih berjarak, jauh dengan Allah. Continue reading

RUKUN ISLAM YANG PERTAMA “DZIKIR”, BARU KEMUDIAN “SHOLAT”


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.67 | Oktober 2021


RUKUN ISLAM YANG PERTAMA DZIKIR, BARU KEMUDIAN SHOLAT
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Rukun Islam yang pertama, kalau boleh dibahasakan ulang, itu adalah “dzikir”. Nama lain dari syahadat.

Dzikir, dalam bentuknya yang paling sederhana, adalah “menyebut-menyebut” nama Allah. Jadi, secara umum, dzikir itu sama dengan syahadat, yaitu mengakui keberadaan “Allah”. Mengucap kalimat tentang ketuhanan akan Allah. La ilaha illa Allah itu kalimat dzikir, dan juga syahadat.

Itu bentuk dzikir atau syahadat yang paling awam: sekedar mengucap (berikrar dengan ujung lidah). Maka secara lahiriah, asal sudah bunyi kalimat Allah di mulut, keislaman anda dianggap sah. Secara batiniah, belum. Karena pada tingkatan sempurnanya Islam, dzikir atau syahadah adalah “menyaksikan” apa yang anda ucap (di-tashdiq-kan dengan mata qalbu).

Jadi, dzikir (syahadat), pada level awam adalah berteori tentang Tuhan. Pada level khusus, itu sudah menemukan realitas dari Wujud ketuhanan. Alias sudah menyatu dengan gelombang Tuhan. Sudah berada pada frekuensi Tuhan.

***

Syahadat, secara umum bermakna “mengucap”. Yaitu secara lisan menyebut dua kalimat syahadat. Pada level ini, Islam hanya sebatas aktualisasi verbal dari keyakinan kepada adanya Tuhan. Walau Tuhan tidak pernah disaksikan, dia dipersepsikan ada. Lalu di ujung lidah tersebut nama-Nya. Syahadat kita umumnya ada pada maqam ini.

Sementara secara substantif, syahadat maknanya “menyaksikan”. Yaitu melihat, merasakan atau terhubung secara “langsung” dengan wujud yang diimani. Para nabi dan orang-orang shaleh mampu mengalami syahadah sampai pada level ini. Jadi sifatnya sudah mengalami. Bukan lagi teori (kepercayaan) di atas kertas.

Syahadat itu, pada hakikatnya adalah “pengalaman”. Pengalaman menyaksikan Tuhan. Para nabi mengalami musyahadah. Yaitu pengalaman tersingkapnya berbagai tirai yang membatasi antara mereka dengan Tuhannya. Tuhan itu benar-benar hadir. Bisa diajak bicara. Bisa di dengar segala firman-Nya. Itu syahadah. Tuhan sudah lebih dekat dari urat leher (QS. Qaaf: 16).

Semua orang tau, proses untuk mengalami “musyahadah” (syahadah), itu ditempuh melalui riyadhah ruhaniah. Ini merupakan proses dzikir yang intensif. Proses penyucian jiwa, yang dimulai dari “kematian diri”.

Makanya orang yang sudah mati juga disebut sebagai orang syahid. Syahid bermakna menyaksikan. Karena, “mati” adalah prasyarat untuk mengalami musyahadah, berjumpa Tuhan.

Namun mati dalam makna tasawuf bukanlah mati secara biologis. Melainkan mati secara ideologis. Yaitu kematian ide-ide rendah, hilangnya ego setan, hijab-hijab, dorongan dan unsur-unsur kotor kemanusiaan; sehingga aktual unsur-unsur ruhaniah yang mampu “menyingkap” posisi Tuhan. Kematian ini juga memampukan manusia untuk terlebih dahulu terhubung dengan berbagai elemen malakut (malaikat), sebelum sampai kepada Tuhan.

Itulah mengapa para nabi mampu berkomunikasi dengan para malaikat, dan juga Allah. Karena mereka semua sudah “mati”. Sudah hidup sisi ruhaninya. Jiwanya sudah kembali wushul dengan Tuhan. Sudah tersucikan. Sudah tersambung dengan Ruhul Quddus, Ruhul Muqaddasah, Nur Muhammadiah, Nurun ‘ala Nurin.

***

Pertanyaan, dengan cara apa para nabi bisa mengalami ini? Metode apa yang ditempuh, sehingga mampu mencapai maqam syahadah keislaman yang tinggi?

Nabi adalah orang-orang yang mengajari kita cara sampai kepada Tuhan. Sudah pasti mereka mengajari kita apa yang mereka lakukan untuk itu. Muhammad (SAAW) misalnya, itu separuh usianya dihabiskan untuk membangun koneksi dengan dunia ilahi. Dia tidak jadi nabi secara tiba-tiba. Sampai usia 40, ia masih rajin “bersemedi” di gua. Bahkan setelah 40 juga itu kerjaannya. Senantiasa mencari ruang-ruang sunyi, untuk menghampiri Tuhannya. Itu ritualnya orang-orang yang mencari Tuhan.

Ada teknik bersemedi yang dijalani para nabi dan orang-orang shaleh. Sebuah teknik yang maha dahsyat, yang mampu menyibak tirai batin untuk mengalami syahadah (penyaksian ruhaniah). Teknik ini diajarkan dalam metode irfan. Metode perjalanan jiwa. Metode tazkiyatun nafs. Atau umum disebut tasawuf tariqah. Ada gurunya. Ada ulamanya. Ada walinya.

Jadi, proses untuk syahadah adalah proses penyucian jiwa, dengan berbagai elemen dzikir yang menyertainya. Sebuah proses yang wajib ditempuh untuk sempurnanya shalat kita. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menjalani proses penyucian diri. Dan dia mendzikirkan nama Tuhannya. Baru kemudian tegaklah sholatnya” (QS. Al-‘Ala: 15-15).

Inilah tariqah dzikir dengan berbagai proses iluminasi ruhani. Dzikir inilah yang membawa kita sampai kepada syahadah. Pengalaman menyaksikan Tuhan. Sebuah pengalaman yang kemudian melahirkan kalimat kesaksian. Artinya, kalimat syahadat adalah seperangkat teori yang terbentuk dari proses uji empirik. Dialami. Dibuktikan. Baru kemudian dirumuskan penyataannya. Jadi, secara hakikat, kalimat syahadat baru absah setelah mengalami musyahadah.

Jadi, untuk berislam secara sempurna, kalau mengikuti gayanya para nabi, itu diawali dengan musyahadah. Yaitu proses dzikir (sayr wa suluk) yang membawa jiwa menembusi alam-alam yang lebih tinggi. Sehingga mengalami penyaksian secara Hak. Barulah setelah syahadah (dzikir) sempurna, sholat bisa tegak. Begitu juga dengan ibadah lainnya (zakat, puasa, haji, jihad, dsb). Tanpa sempurnanya kemampuan untuk “ingat” kepada Allah, semua amal ibadah menjadi tidak sempurna. Karena syarat diterimanya ibadah adalah “hadirnya Allah” (khusyuk). Khusyuk itu syahadah. Perhatian hanya tertuju kepada Wajah Allah. Semua dimensi ibadah harus ada unsur syahadah, penyaksian akan Wujud Allah.

Itulah kenapa, sholat juga disebut dzikir. Bahkan dalam Alquran, kata-kata dzikir lebih banyak disebut daripada sholat. Karena amal ibadah paling utama adalah dzikir. Seluruh dimensi kehidupan kita harus memiliki daya ingat kepada Allah.  Sholat adalah salah satu usaha untuk kembali merefresh ingatan dan kesaksian terhadap Allah.  Sehingga, keseluruhan gerak dan bacaan sholat sesungguhnya adalah wujud keterhubungan (kekhusyukan/penyaksian) akan Allah. Tanpa ini, sholat kita menjadi “terlempar”. Putus. Tidak diterima. Maka, kalau dzikirnya benar, sholat akan benar. Karena mesin dari semua ibadah adalah dzikir (kehadiran Allah).

***

إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, (saksikanlah) tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS. Thaha: 14)

Sebagai penutup, ayat ini secara ekstrem mendorong kita untuk “melihat” Allah -secara langsung. Allah menyebut dirinya sebagai “Aku”, seolah-olah hadir dihadapan kita. Tersaksikan secara langsung oleh keseluruhan mata ruhani kita, sehingga kita naik saksi, bahwa tidak ada Tuhan selain Dia. Baru setelah itu Dia berhak disembah, di sholati. Karena sudah pernah dirasakan kehadiran, dilihat Wajahnya. Bahkan dalam sholat pun ada pengakuan inni wajjahtu wajhiya. Wajah Tuhan telah terekam dan diingat kembali dalam sholatnya. Inilah syahadah. Awal dari keislaman yang hakiki.

Maka untuk sempurnanya dunia syariah dan muamalah, perbaiki jalan menuju Tuhan. Sempurnakan dzikir. Bangun hubungan dengan Tuhan. Saksikan Dia. Leburkan diri dalam lautan makrifat-Nya. Sehingga Dia bersedia hadir dalam semua gerak ibadah kita.

Caranya bagaimana?

Tidak mungkin juga kita sempurnakan perjalanan jiwa sampai 40 tahun lamanya, baru kemudian melaksanakan sholat. Atau sebaliknya, menyempurnakan dulu gerak dan bacaan syariat dari sholat selama berpuluh-puluh tahun, baru kemudian bertariqat. Mustahil. Solusinya, lakukan secara berbarengan, agar keduanya sempurna secara bersamaan. Sebab, Muhammad juga mencari Tuhan sambil berdagang.

Jadi, rukun Islam, kalau boleh sedikit saya koreksi (atau mungkin bahasanya saya ganti) akan menjadi begini: (1) dzikir, (2) sholat,(3) puasa, (4) zakat, (5) haji. Dzikir itu, kalau dalam rukun keislaman khas kita Sunni, adalah syadahat. Dalam versi mistisisme Syiah, itu disebut tauhid wal makrifat. Sama saja.

BACA JUGA: Beda Antara “Percaya” dan “Berjumpa”, Aku “Bersaksi”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

BEDA ANTARA “PERCAYA” DENGAN “BERJUMPA”

“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.66 | September 2021


BEDA ANTARA “PERCAYA” DENGAN “BERJUMPA”
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Agama, pada tahap awam hanya sebatas percaya. Percaya kepada apapun yang ditulis dan dicerita. Itu iman. Sebatas hipotesa. Termasuk wujud Tuhan. Diduga, ada. Continue reading

AKU “BERSAKSI”


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.65 | September 2021


AKU “BERSAKSI”
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Pagi ini, Ahad 26 September 2021. Kami duduk di D’Energy. Mengupas “sisi lain” dunia Islam. Dunia yang telah mengguncang dada sahabat kami Bang Munawir Bateei. Yang sebenarnya juga telah cukup mengguncang dada para Pencari. Continue reading

IZIN GURU


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.64 | September 2021


IZIN GURU
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Nashruddin, kalau diajak melakukan sesuatu, selalu menolak; sampai ada izin Gurunya. Continue reading

BAHASA WAHYU


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.63 | September 2021


BAHASA WAHYU
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM.

Wa mā yanṭiqu ‘anil-hawā, in huwa illā waḥyuy yụḥā (QS. An-Najm: 3-4).

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ – إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Tidak ada satupun yang diucapkan Muhammad atas dasar hawa nafsu, melainkan wahyu yang diwahyukan. Hanya saja, cara penyampaiannya berbeda. Satu dalam bentuk bahasa “sensasional” (yang kemudian disebut Al-Quran). Satu lagi dalam bahasa “operasional” (atau disebut hadis). Continue reading

TRIK MENEMUKAN ALLAH


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.62 | September 2021


TRIK MENEMUKAN ALLAH
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Bagi yang ngotot ingin bertemu Allah, atau merasa mampu langsung berjumpa dengan Allah; dimana mau kau temukan Dia? Yang mana Dia? Yakin kau itu Dia? Mampu kau berbicara langsung dengan-Nya? Continue reading

ISLAM KREATIF


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.61 | September 2021


ISLAM KREATIF
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Hidup harus kreatif. Bertuhan juga begitu. Continue reading

AWALUDDIN MAKRIFATULLAH, SETELAH ITU APA?


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.60 | Agustus 2021


AWALUDDIN MAKRIFATULLAH, SETELAH ITU APA?
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Awal dari beragama adalah mengenal Allah. Apa yang dimaksud dengan mengenal Allah? Continue reading

KE “BINTIS”

KE “BINTIS”
Oleh Said Muniruddin

MALAM ini ketemu lagi guru lainnya. Pak Sayuti. Sepanjang pertemuan ini kami berbicara dalam bahasa Inggris. Tentu saja, karena beliau adalah guru bahasa Inggris kami sewaktu di MAN-1 Banda Aceh dulu. Seputaran tahun 1995-1997. Continue reading

SEMUA SUDAH KALIAN MILIKI, KECUALI HUSAIN

Taliban yang baru saja menguasai Afghanistan, awalnya kontra dengan peringatan Asyura, kini telah ikut serta dalam sebuah majelis Muharram di Kabul, dan menyatakan bahwa Husain adalah milik bersama (17 Agustus 2021)


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.59 | Agustus 2021


SEMUA SUDAH KALIAN MILIKI, KECUALI HUSAIN
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tauhid anda boleh jadi setinggi langit. Ritual ibadah anda mungkin mampu mengalahkan para nabi. Begitu pula hafalan ayat dan hadis, jangan-jangan anda sudah tingkat dewa. Tapi, anda tidak akan pernah bisa mengusir para penjajah dari rumah anda sendiri. Sumberdaya alam akan terus dihisap. Dicucuk hidung. Dipaksa normalisasi hubungan dengan para penindas. Seperti Uni Emirat Arab. Bahrain. Sudan. Maroko. Segera menyusul Arab Saudi dan para aristokrat lainnya. Khawatir negeri ini juga begitu. Kenapa ini bisa terjadi?

Continue reading

76 TAHUN, SEMBUH ATAU MATI?

76 Tahun, Sembuh atau Mati?
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

76 tahun kemudian,
Kita disuruh tutup mulut
Dikurung
Diisolasi
Dijaga
Divaksin
Dirazia Continue reading

AGAMA ITU (BUKAN) DALIL


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.58 | Agustus 2021


AGAMA ITU (BUKAN) DALIL
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ilmu Tuhan tidak terbatas. Selama bersama Tuhan, kita akan terus diberi tau rahasia dan jawaban-jawaban yang lebih unik lagi mendalam tentang semesta agama. Tentang Qur’an, dan sebagainya. Semua pengetahuan ini ada di lembaran hati kita, yang merupakan sebuah lokus suci, kitab induk dari segala sesuatu. Kalau dekat dengan Tuhan, kitab ini akan tersibak untuk kita baca. Continue reading

DOA YANG TAK LAGI MAKBUL


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.57 | Agustus 2021


DOA YANG TAK LAGI MAKBUL
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Dulu ada seorang kafir Quraisy. Kerjanya menjaga Kakbah. Khadam Baitullah. Begitu bagusnya si kafir musyrik ini mengabdi di rumah Tuhannya. Sampai Kakbah menjadi pusat peribadatan yang semakin terkenal. Lalu menimbulkan iri raja negeri sebelah. Abrahah. Continue reading