Said Muniruddin (SM)

A Short Biography of SM


SMLatar Keluarga. Nama lengkapnya Said Muniruddin bin Ali bin Abdullah bin Muhammad bin Umar bin Musa bin Idris bin Ahmad bin Abdullah asy-Syili. Ia lahir di Tijue, Pidie – Aceh pada 27 Desember 1979. Kakeknya, Said Ahmad (lebih dikenal dengan nama “Syarief Busu”) adalah ulama abad 17 yang menyebarkan Islam dan mendirikan dayah di daerah Busu, Pidie, Aceh. Ayahnya (alm) Said Ali bin Abdullah selain berprofesi sebagai seniman, kaligrafer, penyair, dan sejarawan yang menguasai 5 bahasa asing (arab, inggris, india, jepang, dan hebrew); juga terkenal sebagai da’i yang memiliki kemampuan menghipnotis audien 5-7 jam melalui retorika ceramahnya.

Said Muniruddin merupakan anak ke 10 dari 11 bersaudara. Anggota keluarganya mewarisi darah seniman. Salah satu abangnya, Said Akram, adalah seniman nasional yang melahirkan mazhab baru dalam seni kaligrafi Islam kontemporer yang dikenal dengan gaya “tetesan air.” Sementara (alm) Said Rabadian, abangnya yang lain, merupakan pelatih dan juri MTQ Khattil Qur’an di Aceh. Ia juga memiliki kakak perempuan bernama Syarifah Munirah, aktifis sosial dan anggota legislatif perempuan di DPRK Banda Aceh periode 2014-2019. Sedangkan Syarifah Nargis, kakak yang lain, merupakan guru disebuah SMP di Banda Aceh yang pada 2015 terpilih sebagai guru berprestasi se-Aceh. Sedangkan adiknya, Said Husain, adalah arsitek dan disainer ornamentasi masjid. Kakak dan abangnya yang lain adalah (alm) Syarifah Kausarina, (alm) Syarifah Bahlena, Said Zulfikar dan Syarifah Fadhilah.

Pendidikan. Masa kecil Said Muniruddin dihabiskan di sebuah desa berjarak 120 KM dari ibukota provinsi yang bernama Lameue yang terletak di Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, Aceh. Setengah hari ia belajar di sekolah dasar, setengah hari lagi mengaji di pesantren tradisional. Karena konflik GAM-RI yang mengganggu kehidupan di daerah, pada usia sekolah menengah ia pindah ke Banda Aceh dan menempuh pendidikan di SMPN-6 Lampineung. Kemudian dilanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri  (MAN-1) Banda Aceh. Setelah menamatkan pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, ia memperoleh gelar master (M.Sc) dengan predikat cum laude dari Birmingham Business School, England pada 2006 melalui beasiswa Ford Foundation International Fellowship Program (FF-IFP).

Keorganisasian dan Aktifisme. Jiwa aktifisme Said Muniruddin mulai terasah sejak kecil. Ketika di sekolah dasar ia selalu menjadi ketua kelas. Pada saat SMP dan SMA ia aktif dalam berbagai organisasi seperti OSIS. Di perguruan tinggi pun ia berkontribusi aktif dalam sejumlah organisasi kemahasiswaan seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan pernah menjabat sebagai ketua umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banda Aceh tahun 2000-2001. Pada masa kuliah ia juga berpartisipasi dalam berbagai demontrasi dan gerakan Reformasi yang akhirnya menggulingkan Soeharto pada 21 Mei 1998. Sewaktu menempuh studi S2 di Inggris tahun 2006 ia juga diangkat sebagai ketua Perhimpunan Masyarakat Indonesia di Birmingham.

Dalam ranah kepemudaan Said Muniruddin juga pernah menjadi staf ketua DPD KNPI Aceh tahun 2010. Dalam bidang seni dan budaya ia merupakan direktur dari Guntomara “The Kingdom of Art”, sebuah lembaga seni kaligrafi Islam berpusat di Banda Aceh. Seperti beberapa abangnya, ia juga pelatih dan juri MTQ Bidang Kaligrafi (Khattil Qur’an). Selain itu, ia juga menjadi salah satu Dewan Ketua “Asyraf Aceh”, sebuah lembaga yang melakukan pencatatan nasab dan pengkajian sejarah kaum sayyid di Aceh.

Sementara di kampusnya Universitas Syiah Kuala – Banda Aceh, selain aktif mengajar accounting and business, ia juga tercatat pada tahun 2007 sebagai salah satu pendiri pusat pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM Centre). Pada tahun 2010 ia juga menginisiasi pendirian International Accounting Program (IAP), sebuah program S1 international yang menerima mahasiswa asing, serta telah mengirimkan banyak mahasiswa untuk studi ke berbagai universitas di luar negeri. Ia telah menjadi dosen di Fakultas Ekonomi dan Business, Universitas Syiah Kuala sejak 2003 dan memiliki peran penting dalam pengembangan leadership keorganisasian mahasiswa baik intra maupun ektra kampus.

Pemikirannya tentang leadership kini telah terkompilasi dalam “Bintang ‘Arasy” (Syiah Kuala University Press, 2013). Buku ini menjadi referensi bagi organisasi mahasiswa seperti HMI se-Indonesia, karena membantu pembentukan character building melalui pendekatan filosofis-irfani: menyentuh otak sekaligus hati.

Pengalaman Internasional. Said Muniruddin memiliki sejumlah pengalaman internasional dalam bidang leadership. Pada Mei 2005 ia terpilih oleh Australia Indonesia Institute (AII) sebagai salah satu perwakilan dari Indonesia untuk mengikuti program pertukaran pemimpin muda muslim Indonesia-Australia (Australia-Indonesia Young Moslem Leader Exchange). Selama di Australia ia mengunjungi kota Melbourne dan Sidney untuk berdiskusi dan berinteraksi dengan berbagai kelompok intelektual, komunitas sosial dan keagamaan. Resume perjalanan dan pengalaman tersebut telah ia tuangkan dalam sebuah buku kecil berjudul “Aussie Mossie: Muslem di Australia” (Syiah Kuala University Press, 2017).

Pada September 2005 ia juga memfasilitasi pameran lukisan anak-anak tsunami di Norwegia (Tsunami Children Painting Exhibition). Lukisan-lukisan tersebut merupakan hasil karya anak-anak korban tsunami yang dibina oleh lembaga seni Guntomara yang dikelolanya. Beberapa anak-anak korban tsunami ikut memperoleh beasiswa dari hasil pameran tersebut.

Pada tahun 2006 ia bersama puluhan mahasiswa program Ford Fellows dari seluruh dunia berkesempatan mengikuti training Leadership for Social Justice di Inggris. Disana ia berkesempatan mempelajari bagaimana sebuah kebijakan (policy) dari tingkat pusat dapat di implementasikan sampai ke level bawah. Disana ia bertemu dengan tokoh-tokoh politik di London serta melihat aktifitas  masyarakat marginal dibeberapa desa di Inggris. Inti dari training tersebut adalah untuk memberi gambaran bagaimana sebuah sistem yang menjamin keadilan sosial dapat dibentuk.

Pada Agustus 2007 – September 2008 ia terpilih sebagai salah satu peserta dari tiga negara: Indonesia, Filipina, dan Vietnam, untuk mengikuti International Leadership Training in Regional Economic Development (ILT-RED) yang difasilitasi oleh inWEnt dan Kementerian Ekonomi German. Selama disana ia menetap dan belajar pengembangan ekonomi regional di kota Saarbruecken, Manheim, Berlin dan Stuttgart. Pengalaman setahun di German ini ia tuangkan dalam buku “RED-Expert: Lessons Learnt from Germany” (Syiah Kuala University Press, 2017).

Dalam rangka studi leadership, business and spirituality, Said Muniruddin telah mengunjungi sejumlah negara seperti: Malaysia, Singapura, Filipina, Australia, Inggris, Norwegia, Wales, Skotlandia, Belanda, Belgia, Perancis, Andora, Spanyol, German, Luxembourg, Swiss, Austria, Swedia, Italia, dan China.*****

Advertisements