KEKUATAN KEYAKINAN

image: “splitting the red sea”

Kekuatan Keyakinan
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tidak ada yang tidak bisa. Semua bisa kita lakukan. Itu namanya “keyakinan”. Pada hakikatnya, Tuhanlah yang bisa melakukan segalanya, bukan kita. Maka memiliki persepsi yang kuat, atau “yakin” bisa, merupakan bentuk leburnya kita dalam dimensi ketuhanan yang serba bisa. Read more…

CACAT BAWAAN SYARIAT

image: “sah dan diterima”

Cacat Bawaan Syariat
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Sejak lahir, syariat punya satu cacat bawaan yang tidak bisa diobati, kecuali dengan tarekat (makrifat). Cacatnya adalah, setelah mengatakan harus begini harus begitu, benarnya begini benarnya begitu, syariat tidak bisa memastikan apakah ibadah tersebut diterima atau tidak oleh Allah. Sehingga muncul bahasa, “Kita hanya berusaha, diterima atau tidak, itu urusan Allah”. Sangat spekulatif! Read more…

AKIBAT DARI ‘SEDIKIT’

image: “illa qalila”

Akibat dari ‘Sedikit’ (Illa Qalila)
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Sedikit saja pertanyaan riset tentang gejala-gejala empiris dalam masyarakat dan alam (yang notabenenya adalah juga “urusan Tuhan”) diajukan, Allah bisa membuat seseorang dengan ilmu yang sedikit itu jadi profesor. Bagaimana kalau seseorang bertanya tentang ruh lalu memperoleh ‘sedikit’ jawaban dari Allah, bisa jadi apa orang itu? Read more…

KHUTBAH REFLEKTIF

KHUTBAH REFLEKTIF. “Semua kita punya dosa, termasuk khatib. Bahkan dosa para khatib lebih besar dari dosa jamaah. Karena apa yang diceramahin ke orang-orang belum tentu dikerjakannya”. Demikian salah satu potongan khutbah reflektif hari ini. Jarang kita dengar seorang khatib (atau ustadz) yang mengajak jamaah sambil menyentil diri sendiri. Kiban menurut khatib-khatib laen? – Masjid Almizan FEB Unsyiah, Jumat, 6 September 2019.

HAKIKAT GURU

HAKIKAT GURU. Kalau sekedar ingin memperbaiki gelombang informasi dalam otak, tak perlu guru. Google saja sudah lebih dari cukup untuk itu. Tapi yang dapat menyambungkan jiwa kita dengan Allah siapa? Karena fungsi itulah yang tidak dipunyai Google dan kitab-kitab pengetahuan lainnya. Harus ada “nabi” (atau para pewarisnya) yang mengambil peran ini. Sebab, kalau sekedar bersandar kepada kitab semacam injil, zabur atau taurat; itu banyak beredar di Arab pada zaman nabi. Tapi yang dibutuhkan adalah seorang guru pembawa wasilah, guna mentransfer Kalimah Allah yang asli dalam qalbu. Sebenarnya, pola hidup manusia sepanjang zaman selalu sama: bertugas mencari ‘nabi’. Jangan berhenti pada kecerdasan (kebodohan) yang sudah ada. Temukan ruhnya Gaes!

QUANTUM IKHLAS

image: freeislamiccalligraphy.com

Quantum Ikhlas
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ikhlas secara lughawi (bahasa) artinya “murni” atau “tidak bercampur”. Tidak ada unsur selain Allah. Maknanya, kesadaran kita untuk berfikir dan bertindak berasal dari dimensi immaterial yang hakiki, bukan sekedar mengikuti mood kimiawi atomik atau feeling bawah sadar yang sering bercampur rasa was-was. Ikhlas yang sebenarnya hanya bisa dipahami oleh ahli muraqabah. Yaitu orang-orang yang sudah tau apa maunya Allah. Lalu dia memilih untuk murni berserah diri, tunduk patuh, atau semata-mata mengikuti keinginan Allah.

Read more…

ISLAM KARNAVAL

image: Serambi Indonesia (Jum’at, 30/8/2019)

Islam Karnaval
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Judulnya “Islam Karnaval”. Sudah hampir setahun seorang Guru sufi menugaskan kami untuk mengurainya. Tetapi entah kenapa, selalu tertunda. Ide-ide seperti susah mengalir. Padahal, sudah lebih dari 50 judul lain kami lahirkan dalam waktu selama ini. Ternyata, baru hari ini izin menulis “turun” dari langit, setelah membaca sebuah berita di harian Serambi Indonesia. Read more…

FISIKA QUANTUM MEMBENARKAN: DUNIA INI “FANA”

image: “materialitas” atom newtonian vs. “kefanaan” atom quantum (The Biology of Belief, 2015)

Fisika Quantum Membenarkan: Dunia ini “Fana”
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Fana”, selain diartikan sebagai “tidak kekal” “binasa”, dalam makna yang lebih berani malah dipahami sebagai “hampa”, “kosong”, “fatamorgana” atau bahkan “tidak berwujud”. Read more…

ESENSI DARUSSALAM

ESENSI DARUSSALAM. Unsyiah dan UIN Arraniry, kalau dibangun dengan relasi “syariah”, itu ada hukum-hukum, ada batas-batas, ada hitam putih. “Ini tanah kami, itu tanah kalian”. Sementara, kalau dibangun dengan hubungan “hakikat”, kita semua berasal dari jiwa dan kesadaran sejarah yang sama. “Tanahku kan tanahmu juga.” Relasi syariat penting, meskipun mudah menimbulkan ketegangan. Sementara relasi hakikat yang toleran hanya bisa dibangun dengan kecerdasan emosi dan spiritual yang tinggi. Perlu usaha untuk terus menerus menyelaraskan berbagai pola hubungan agar tercipta negeri yang damai, “Darussalam”.

KALIGRAFI KONTEMPORER

image: TC MTQ Kab. Aceh Barat Daya (Agustus 2019).

Kaligrafi Kontemporer
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Setelah sebelumnya hanya sebatas eksibisi, lomba kaligrafi kontemporer akhirnya dihalalkan pada MTQN 2016 di NTB. Sejak saat itu, ayat-ayat yang sebelumnya dikenal “kaku” dan “suci” mulai berkembang ke arah penulisan yang lebih lues dan bahkan ‘angker’. Read more…

OBJEKTIFITAS SUFISME

image: Suluk, eksperimentasi “akademis-objektif” ala sufi (Dayah Sufimuda Aceh).

Objektifitas Sufisme
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Dalam dunia akademis, seorang peneliti diharuskan membatasi bahkan menghilangkan persepsi tentang objek yang sedang coba dipahami. Hanya dengan itu jawaban bisa diperoleh secara objektif. Sedikit frame teori boleh-boleh saja sebagai mukaddimah untuk masuk ke dalam sebuah fenomena yang “dzat” atau jawaban esensialnya belum diketahui secara pasti. Read more…

IDUL GHADIR

IDUL GHADIR (18 Dzulhijjah 10 H). Selamat hari kewalian dan kesempurnaan Alquran. Semoga spirit nubuwwah melalui para awliya Allah terus menyinari kita sampai akhir zaman. Alquran sebagai “teori suci” baru dikatakan sempurna manakala ia mampu melahirkan the leaders, “pribadi-pribadi maksum” paska kenabian (dalam berbagai terminologi disebut imam, wali mursyid, dsb). Itu yang membuat Alquran aktual sepanjang zaman, dimana teks tidak pernah terpisah dari orang. Sebab, Alquran (baca: Adz-dzikr) yang otentik wajib menyatu dalam dada seseorang. Yang dengan itu wajahnya memancarkan Karamah, sehingga tak pernah bisa ditiru (dikalahkan) syaitan.
—————————
Hadis Idul Ghadir turut diriwayatkan dalam Musnad Ahmad bin Hambal, Mustadrak Alhakim, Sunan At-Tirmidzi, Khashaish An-Nasai, Mafatih Ghaib imam Fakhrurrazi, Dur Mansur imam Jalaluddin Suyuthi, Sunan Ibnu Majah, Tarikh Ibnu Katsir, Fath Albari Ibnu Hajar, Mukaddimah Ibnu Khaldun, Sirr Alamin Abu Hamid Alghazali, dll (image:).

KAPAN MERDEKA?

image: JIKA diperlukan 350 tahun untuk mengalahkan kerakusan kolonial semacam Belanda, maka berapa ratus tahun lagi dibutuhkan untuk mengalahkan kerakusan diri sendiri sampai kita semua benar-benar menjadi bangsa yang merdeka? (17 Agustus 2019)

AHLI BEDAH JIWA

image: npr.com

Ahli Bedah Jiwa
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Manusia terdiri dari unsur material dan immaterial. Untuk dekat dengan Allah Yang Maha Suci, keduanya tentu harus dibersihkan, dibedah atau disucikan. Caranya? Read more…

MEMASTIKAN IBADAH KITA IKHLAS (DITERIMA ALLAH)

image: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (QS. Al-Kausar: 1-3).

Memastikan Ibadah Kita Ikhlas (Diterima Allah)
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Kita harus ekstra hati-hati. Beribadah dengan dimensi fisik saja (tanpa kehadiran ruhani) tidak pernah membawa kita sampai kepada Yang Maha Gaib. Sebuah hadis menerangkan, ada orang yang rajin shalat. Tapi shalatnya dilipat-lipat oleh malaikat lalu dilemparkan kembali ke wajahnya. Persis seperti atasan yang memarahi kerja buruk bawahan. Secara fisik, gerak shalat dan bacaannya bagus. Namun ditolak. Karena ada dimensi batin yang tidak membuatnya terkoneksi dengan Allah. Ternyata, Allah tidak menerima semua dimensi material itu. Dia hanya mengapresiasi aspek taqwa (ketersambungan jiwa) dari semua persembahan lahiriah kita: Read more…