“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 08 | Februari 2022


DHAHIR, SEKALIGUS BATIN
Oleh Said Muniruddin

Allah itu punya wujud. Nyata (lahiriah), sekaligus batin (gaib).

Bagi orang yang matanya terbuka, Allah itu teman duduk yang terlihat, dapat dirasa, bisa diajak bicara dan dapat di dengar kalam-Nya. Sementara, Allah itu menjadi gaib; bagi orang-orang yang belum mampu membuka mata. Untuk mereka, ya sekedar disuruh percaya.

Allah itu dhahir (nyata), sekaligus batin (gaib). Tergantung di dimensi mana kita berada. Jika berada di dimensi “dunia”, Dia memang gaib. Kalau kita sudah berdimensi “ukhrawi”, Dia sangat nyata.

Kalau kita menyadari bahwa kita adalah (berasal dari) Dia, maka tentu tidak sulit untuk berada pada dimensi yang sama dengan-Nya. Untuk melihat ke-Nyata-an Dia.

Untuk menuju Tuhan yang maha nyata, Tuhannya para Nabi dan syuhada, ada metodologinya. Yaitu, metode “matikan dirimu sebelum kamu mati”, agar dapat masuk ke dimensi ukhrawi. Metode untuk menyamakan frekuensi kita dengan frekuensi Dia. Sehingga, Dia menjadi terjangkau, nyata. Tidak gaib lagi.

Tuhan anda; sudah nyata, atau masih gaib?

Jika masih gaib, berarti anda masih berada di dimensi syariat. Masih menggunakan Nokia tet tot. Segera ganti metode beragama. Upgrade hp anda ke android, yang dapat memunculkan wujud-Nya. “Cahaya”-Nya. Dalam Wajah yang Dia suka.

Lebih unik lagi, bagi yang sudah ahli, Dia selalu tersaksikan. Saat membuka mata, anda bisa melihat Dia yang nyata. Saat menutupnya, tersyahadahi Dia dalam wujud batiniahnya.

Allahumma shalli ‚Äėala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

ūü핬†powered by¬†SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin