MENGAPA PARA NABI SELALU BERTAUBAT, APA DOSANYA?


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.80 | November 2021


MENGAPA PARA NABI SELALU BERTAUBAT, APA DOSANYA?
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Untuk memahami bentuk dosa yang sering dilakukan seorang nabi, pertaubatan mereka, serta efek setelahnya; perhatikan ayat 31-40 Surah Shad berikut ini:

 اِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصّٰفِنٰتُ الْجِيَادُۙ
(Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya (kuda-kuda) yang jinak, (tetapi) sangat cepat larinya (Q.S Shad: 31)

 فَقَالَ اِنِّيْٓ اَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّيْۚ حَتّٰى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِۗ
Maka dia berkata, “Sesungguhnya aku menyukai segala yang baik (kuda), yang membuat aku ingat akan (kebesaran) Tuhanku, sampai matahari terbenam” (Q.S Shad: 32)

رُدُّوْهَا عَلَيَّۚ فَطَفِقَ مَسْحًا ۢبِالسُّوْقِ وَالْاَعْنَاقِ
“Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku.” Lalu dia mengusap-usap kaki dan leher kuda itu (Q.S Shad: 33)

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمٰنَ وَاَلْقَيْنَا عَلٰى كُرْسِيِّهٖ جَسَدًا ثُمَّ اَنَابَ
Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertobat (Q.S Shad: 34)

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
Dia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi” (Q.S Shad: 35)

فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖ رُخَاۤءً حَيْثُ اَصَابَۙ
Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya (Q.S Shad: 36)

وَالشَّيٰطِيْنَ كُلَّ بَنَّاۤءٍ وَّغَوَّاصٍۙ
dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam (Q.S Shad: 37)

وَّاٰخَرِيْنَ مُقَرَّنِيْنَ فِى الْاَصْفَادِ
dan (setan) yang lain yang terikat dalam belenggu (Q.S Shad [38] : 38)

هٰذَا عَطَاۤؤُنَا فَامْنُنْ اَوْ اَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) tanpa perhitungan (Q.S Shad [38] : 39)

وَاِنَّ لَهٗ عِنْدَنَا لَزُلْفٰى وَحُسْنَ مَاٰبٍ
Dan sungguh, dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik (Q.S Shad [38] : 40)

***

Nabi Sulaiman ‘berdosa’ akibat berbuat baik. Ia menyukai kuda, yang digunakannya untuk mengingat kebesaran Allah. Itulah nabi, ‘berdosa’ karena perbuatan baiknya (QS. Shad: 31-33). Mereka pun bertobat atas semua kebaikan itu (QS. Shad: 34-35). Karenanya Allah terus mengangkat derajat mereka, menambahkan ilmu, serta diberikan berbagai kecakapan laduniah (mukjizat) dari sisi Tuhannya (QS. Shad: 36-40).

Taubat itulah yang membuat mereka selalu sehat. Sebab, taubat adalah sebuah tindakan untuk mengembalikan jiwa dan segala perbuatan kita kepada Allah. Taubat (taaba, yatuubu, taubatan) secara bahasa bermakna “kembali”, “rujuk”, atau “mendekatkan diri” kepada Allah. Bahwa sesungguhnya, yang kita lakukan sebenarnya bukan kita yang melakukan, tetapi Allah sendiri. Taubat adalah bentuk “pengosongan diri”, pengakuan ketidak berdayaan kita. Orang yang jarang bertaubat pasti cepat sakit, lahir maupun batin. Sebab ia tidak mampu menanggung semua perbuatannya, walau baik sekalipun. Harus ada mekanisme mengembalikan itu semua kepada Allah. Itulah taubat.

Jadi, beda dosa kita dengan dosa para nabi. Kita bertobat karena betulan berdosa. Para nabi bertaubat karena telah berbuat baik. Itulah kenapa Nabi Muhammad sepanjang hari berbuat baik. Tapi selalu beristighfar atas itu semua. Bahkan istighfarnya lebih banyak dari kita semua.

Taubat menjadi titik paling sentral dari ajaran Islam. Mengingat begitu banyaknya dosa manusia. Hanya saja bentuk dosanya berbeda-beda. Ada yang berdosa gara-gara berbuat keburukan (syarru). Seperti mencuri, memanipulasi, menghasut, iri, dengki, sombong, mesum, riya, berfikir jorok, berkata kotor, dan sejenisnya. Itu dosa manusia pada umumnya. Dosa orang awam seperti kita. Sedangkan para nabi dan juga wali-walinya sudah berbeda bentuk ‘dosa’. Mereka ber-‘dosa’ gara-gara selalu berbuat kebajikan (khair). Begitulah Tuhan mengajari kita untuk tidak melihat adanya kebaikan pada apapun yang kita kerjakan, selain hanya mengharap ridha-Nya.

Jadi, beda level taubat nabi dengan taubat kita. Karena kasusnya beda. Nabi bertaubat bukan karena berbuat dosa, tapi karena terlalu banyak pahala. Maka bisa anda bayangkan, dalam perspektif nabi, betapa banyak dosa orang-orang yang suka mengejar pahala; namun merasa benar dan lupa bertaubat atas hal-hal baik yang dilakukannya itu.

Sebab, kebaikan adalah dosa. Dosa yang harus dilakukan. Tapi jangan lupa bertaubat. Karena kebaikan bukanlah Tuhan, atau seringkali bukan Tuhan. Kebaikan adalah “hijab cahaya”. Sangat bersilau dia, seolah-olah Tuhan. Berbuat baik adalah jebakan paling halus bagi para penempuh jalan. Ia wajib dilakukan. Tapi itu semua ujian (jebakan). Banyak sekali orang yang jatuh karena merasa telah berbuat baik, atau memandang baik terhadap apa yang telah dikerjakan. Padahal sebagian kebaikan justru datang dari tipuan akal dan bisikan syaitan (bukan sesuatu yang diarahkan oleh Tuhan).

Maka tak heran, kerjaan orang-orang saleh menangis terus. Karena ada sisi batin mereka yang selalu melihat bahwa ada kekurangan pada dirinya. Selalu merasa salah dan rendah dihadapan-Nya. Walau sudah solat, zikir, sedekah, puasa, beramal dan berjihad tanpa henti; masih juga meringis: “dhalamtu nafsi… dhalamtu nafsi!”. Ampun Tuhan, aku telah mendhalimi diriku sendiri. Padahal amalannya, menurut pandangan awam, mungkin sudah sampai ke langit ke tujuh. Tapi mereka masih “membanting diri”, merasa hina dan menghamba. Perilaku ini justru semakin membuat mereka melambung ke sisi Allah SWT. Semakin maksum.

Jadi, kalau para nabi saja masih bertaubat atas segala kebaikan yang mereka lakukan; lalu mengapa kita yang otak, hati, mulut, mata, hidung, telinga, tangan dan kaki bergelimang kejahatan kok masih merasa suci dan masih suka mencari-cari kesalahan orang?

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s