EMIRATES FIRST CLASS VS. BLANGPADANG 001

Emirates First Class Vs. Blang Padang 001
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Semua yang beragama punya gaya yang sama. Gaya sedang terbang. Bedanya, yang satu terbang dengan Emirates First Class. Lainnya dengan Seulawah 001 yang parkir di Blang Padang”, anekdot pembuka dari Abuya Sayyidi Syekh Ahmad Sufimuda. Disampaikan kepada para jamaah yang hadir ke kediamannya pada lebaran hari kedua Idul Adha 1441 H.

Maknanya, ada bentuk Islam yang “canggih dan orisinil”. Ada yang cuma “replika”. Agama yang asli mampu ‘menerbangkan’ pengikutnya sampai ke sisi Allah. Mampu mencapai pembuktian pengalaman mikrajul mukminin (ruhnya tersambung dengan petunjuk-petunjuk langsung dari Allah SWT). Sementara yang ‘bodong’, hanya mampu selfie-selfie saja. Terus terjebak dalam penampilan lahiriah. Hanya mampu membaca yang tertulis. Tidak merasakan kontak dengan ‘arus’ yang hidup. Ruhaninya tak bergerak sama sekali.

Sufimuda juga tertawa lebar dengan para murid yang mengalami “turbulensi” dalam bertarikat. Banyak pencari zikir yang terkejut dengan dinamika dunia ‘penerbangan’ ke alam spiritual. Menurutnya, itu wajar. Karena kita sudah lama akrab dengan pesawat mainan. Belum pernah melihat, apalagi take-off dengan pesawat yang asli.

Muhammad bin Abdullah juga dilukiskan “demam” dengan kedahsyatan alam musyahadah. Dua tahun Beliau “berselimut”, menghindari kelanjutan interaksi dengan dunia wahyu. Para nabi pun sebenarnya tidak sanggup menerima tanggungjawab yang berat, memikul Kalimah Allah yang asli (QS. Al-Ahzab: 72). Semua mereka seperti ‘terjebak’ (terpilih) dalam perjalanan spiritual, tak tau mau lari kemana lagi. Karena Tuhan sudah ada dimana-mana.

Begitulah Islam yang “asli”. Mengharuskan anda terus bergerak dan mengasah diri, bersama Ruh Muqaddasah-Nya. Tidak ada konsep istirahat. Sangat dinamis. Islam yang otentik menawarkan pengalaman jiwa (ibadah) dan actions (ubudiyah) secara terus menerus. Sehingga terbuka tabir sepanjang waktu. Semakin lama semakin tinggi derajat. Serta menerima pengetahuan-pengetahuan (rahasia) setiap saat.

Karena dinamika seperti ini, Islam sinonim dengan “syariat” dan “tariqat”. Keduanya berarti “jalan” (dinamika riyadhah lahiriah dan batiniah). Tanpa terus “mengalami”, itu menjadi pertanda keislaman kita sedang stress. Mandeg. Stagnan. Palsu. Mati. Sebab, bertuhan kepada Yang Maha Hidup akan memberi “vibrasi” sepanjang jalan. Vibrasi artinya energi (“cahaya”) yang menuntun, mengarahkan, menyemangati, menenangkan, dan mencerahkan.

Apa yang disampaikan Walimursyid besar sebuah tariqah Sunni yang berpusat di Aceh ini, mengingatkan saya kepada catatan ceramah seorang pemikir revolusioner Syiah, Ali Syari’ati. Tentang “Religion versus Religion” (1970), yang menyadarkan kita akan keharusan untuk hadirnya “kesadaran ilahiah” (prophetic-like consciousness) dalam gerak langkah membangun umat dan bangsa.

Dalam terminologi irfan (tariqah), saya memaknai “kesadaran ilahiah” (prophetic-like consciousness) Syariati ini sebagai muraqabah. Sebuah detector untuk mengetahui yang mana malaikat, yang mana setan. Semacam ‘thermo gun’ yang mampu membedakan yang mana  keyakinan palsu (divinely-imitative religion) yang selalu melegitimasi benar-salah dalam fungsi-fungsi keulamaan (priestly-functions); dan yang mana wali-wali Tuhan yang asli, walau dalam jubah complang. Beragama harus sampai mampu membedakan yang hak dengan yang batil, yang mana bentuk-bentuk faith (Ahlu ini, Ahlu itu) yang digunakan untuk melegitimasi kenyamanan sebuah kelompok dan kekuasaan, dan yang mana yang memang benar-benar membebaskan umat dari iblis dan setan (memberdayakan).

Tanpa tersambung dengan Ruh Suci para nabi dan wali-wali, keislaman kita hanya tersisa kupiah dan jubah. Agama tanpa kehadiran Arwah Suci Rasulullah dalam gerak langkah sehari-hari, menjadi agama duga-duga. Bagaimana anda bisa membedakan antara ulama yang sedang membaca kitab, dengan iblis yang sedang membaca kitab? Bagaimana anda bisa membedakan antara ustad yang sedang berceramah agama, dengan setan yang sedang berceramah agama?

Kalau tidak punya sanad ruhaniah kepada Rasulullah (ruh kita senantiasa “live” dan terup-grade sampai ke Pentium Rabbani), kita bisa tersesat. Terus dibohongi. Diberi “opium” yang bernama bidadari dan syurga, untuk tindakan bodoh tertentu. Ditakut-takuti dengan neraka. Agama menjadi fosil. Selalu melihat kebelakang. Tak lagi punya depan. Kita tidak bisa memutuskan benar-salah secara Haqq dan mandiri.

Begitulah perumpamaan beragama dengan menaiki “Emirates First Class” yang mampu terbang antar benua (divinely-origianated religion), dengan menumpangi “Dakota RI 001” (divinely-imitative religion) yang menjadi pajangan di tengah kota. Maka penting ‘berjumpa’ Tuhan, agar punya liberation force dalam beragama. Sehingga kita menjadi Sunni sejati. Menjadi Syiah hakiki.

Dan Tuhan tidak bisa dijumpai dalam standar syariat biasa. Kalau sekedar mengaku bahwa Allah itu ada, tanpa beragama juga bisa. Kalau cuma rukuk sujud saban hari, anak kecil juga mampu. Semua itu bagus. Tapi untuk menjumpai Dia, anda harus temukan khalifah-Nya (yang terkadang berpenampilan biasa). Pendeta Buhairah dari Syiria mampu mengenalnya. Pun Salman dari Persia bisa mengidentifikasi imam zaman, manusia biasa yang membawa power Tuhan ini. Masak kita yang sudah membaca 1001 kitab dan mengaji tauhid 7 tahun tak bisa mengenali wajah para pewaris karamah-Nya.

Penting untuk aktif terhubung (memiliki sanad ruhaniah) dengan Rasulullah. Jangan terus berpose di pesawat Blang Padang, dengan tagline: “hanya kami yang masuk surga”. Naiklah ke Emirates First Class, untuk menikmati agama pada level batiniah tertinggi.

Di akhir sesi ceramah selama dua jam itu, Abuya Sufimuda sejenak terdiam. Seperti biasa, Beliau mengamati jamaah satu persatu. Khasnya para walimursyid yang kasyaf, mampu membaca isi hati. Tak perlu kita sok hebat untuk bertanya. Beliau duluan yang menjawab isi kepala kita. Metode pendidikan ruhiyah ulama sufi memang begitu. Perbaikan yang diberi sangat kontekstual dengan masalah yang kita hadapi. Tak ada yang bisa kita sembunyikan dihadapan Tuhan dan para kekasih-Nya. Semua diketahui. Beliau senantiasa mengoreksi akhlak buruk kami yang sangat halus lagi tersembunyi. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin