AMALAN DAN PUBLIKASI

image: unjkita.com

image: unjkita.com

AMALAN DAN PUBLIKASI
Oleh Said Muniruddin

Pernah suatu ketika di Kufah – Irak, anak-anak yatim setiap subuh mendapati susu dan roti terletak di depan rumah-rumah mereka. Namun sejak 20 Ramadhan tahun 40 H tak lagi mereka temukan makanan-makanan itu. Baru mereka sadari, ternyata orang yang selama ini mengirimi mereka paket pangan, baru saja ditebas pedang beracun ibnu Muljam ketika sedang memimpin shalat subuh pada 19 Ramadhan. Dia syahid 3 hari kemudian, pada tengah malam 21 Ramadhan.

Lihatlah. Apa yang secara sembunyi-sembunyi dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib ini, terekam oleh sejarah dan dikenang berabad-abad kemudian. Padahal tidak ada kru kamera dan juru tulis yang dibawa serta dalam misi-misi kemanusiaan.

Bandingkan dengan kita, wakil-wakil kita, dan pemimpin-pemimpin kita sekarang, termasuk saya, saban hari meng-upload gambar dan berita tentang santunan kepada kaum dhu’afa. Seolah-olah saya lah pemimpin yang paling peduli mereka.

Saya tidak menolak nilai penting saling berbagi. Pun saya menyadari ada baiknya memberi secara terbuka, guna memotivasi yang lain untuk melakukan hal serupa. Saya tau, ada sebagian kecil dari kita yang begitu ikhlas dengan hal-hal seperti ini. Tapi saya mencium, ada bau kental pencitraan politik pada sebagian besar lain dari kita, yang diniatkan untuk mendulang suara pada Pilkada. Tapi penciuman saya boleh jadi salah, karena belakangan saya semakin sulit membedakan antara bau kentut dan kesturi.

Ah, positif saja. Mungkin inilah cara efektif beramal pada zaman global arus informasi. Jika dulu pahalanya banyak diperoleh dari amalan memberi, mungkin sekarang kita mendapatkan balasan dari Allah dengan amalan publikasi. Atau mungkin model ke-riya-an seperti ini menjadi instrumen utama untuk survive dalam kompetisi di era demokrasi. Ah, saya terlalu banyak berprasangka, walaupun sudah sebulan berusaha berpuasa. Semoga Allah kembali mengampuni saya.

Sudahlah, ini memang zaman penuh fitnah dan serba salah. Berbuat tanpa diketahui, juga salah. Diketahui tak berbuat, lebih salah lagi.*****

1 Comment

  1. […] rumah-rumah mereka. Namun sejak 20 Ramadhan tahun 40 H tak lagi mereka temukan makanan-makanan itu. https://saidmuniruddin.com/2015/07/16/amalan-dan-publikasi/#more-1261 ——————————— (12) CIRI UTAMA […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s