HEDONISME BERBUKA

image: jpupdates.com

image: jpupdates.com

Fenomena berbuka. Selama Ramadhan sering kita temukan postingan foto acara buka puasa bersama, dengan menu mewah luar biasa. Aktifitas berbuka yang nilainya “sakral”, cenderung menjadi riya’. Perilaku ini dianggap tidak sensitif dengan kondisi mereka yang bahkan tidak punya makanan untuk berbuka. Bagi orang miskin, jangankan bisa makan enak di hotel dan cafee-cafee, sekedar bisa makan pun susah. “Sesungguhnya kita sedang menimbun luka bagi mereka yang miskin”, kata Ampuh Devayan, yang juga guru saya, mantan wartawan Serambi Indonesia dan salah seorang pemerhati sosial dari Komunitas Belajar PANTEUE, desa Doy Banda Aceh. Inilah yang membuat saya menulis.

*****

Makmur tanpa keadilan. Apa yang dikatakannya Ampuh memang benar. Namun saya ingin melihat persoalan ini dalam perspektif yang lebih luas, sekaligus lebih dalam. Semoga bisa menjawab hukum “halal-haram” dari fenomena berbuka dengan segala kemewahannya.

Sebenarnya, jangankan berbuka puasa di resto-resto mewah dengan segala gegap gempita; berbuka puasa sendirian di rumah dengan menu sederhana sekalipun, dapat mengandung unsur hedonisme. Mengapa? Karena selama kita punya sesuatu yang bisa dimakan tetapi tidak berbagi dengan karib kerabat, tetangga, anak yatim, fakir dan miskin; maka disana ada jebakan kapitalisme. Letak persoalannya bukan pada kemewahan. Tapi pada kesadaran kita untuk berbagi. Kita diperintahkan untuk mengejar banyak hal, tapi wajib berbagi. Kita disuruh Nabi SAAW untuk menyediakan makanan-makanan terbaik, bukan untuk “al-haakumut takaatsur” (show-off), melainkan untuk memuliakan tamu-tamu kita.

Mewah tanpa berbagi itu dinamakan makmur tanpa keadilan (pemerataan). Adil dan makmur merupakan dua hal yang tidak boleh dipisahkan. Itulah problem berbuka puasa kita, mewah, tapi kita makan sendiri. Ini juga problem di negara yang kaya raya seperti Indonesia. Sumberdaya negara melimpah, tetapi tidak terdistribusi secara adil. Semua dimakan sendiri atau dihabisi bersama kelompoknya.

*****

Kaya atau sederhana, harus berbagi. Terkait kesederhanaan hidup, anda bisa saja mencontohkan bagaimana Rasululullah SAAW hidup, makan dan minum secara sederhana. Namun anda juga tidak boleh melupakan, bagaimana ia dalam kesederhanaan itu selalu berbagi, baik itu makanan, pakaian dan lainnya. Lantas kemudian, apakah kita akan mengharamkan kenikmatan duniawi atas diri kita sendiri agar bisa mencicipi kenikmatan ukhrawi? Apa itu yang anda sebut “zuhud”?

Anda harus paham. Islam bukan agama yang selalu mengedepankan suasana penuh keprihatinan. Islam juga agama yang perlu menonjolkan kemajuan, kelebihan, kekayaan, dan kemakmuran. Tetapi semua itu harus dalam kerangka berbagi dengan saudara-saudara anda, terutama dengan kelompok-kelompok marginal. Oleh sebab itu, jangankan berbuka puasa di restoran-restoran mewah, berbuka puasa dirumah sekalipun -walau sederhana- juga berbahaya bagi perkembangan jiwa. Selama apa yang kita makan tidak kita bagi. Konon lagi jika anda bersama kawan-kawan anda asik dengan kemewahan berbuka di  warung-warung terkenal, sementara tak satu sendok pun yang anda telan itu dapat dicicipi oleh mereka yang miskin papa. Dimata Tuhan, ini kejahatan.

*****

Bolehkan bermewah-mewah? Kisah Imam Jafar Shadiq berikut menjustifikasi kemewahan, namun bersifat kondisional.

Pernah suatu ketika seorang sufi mendatangi Imam Ja’far Shadiq. la melihat Imam mengenakan pakaian indah dan halus. Kemudian ia mengatakan: “Wahai putra Rasulullah, mengapa Anda mengenakan pakaian mahal dan mewah?”. Imam Ja’far menjawab: “Mungkin Anda berpikir, jika mengenakan pakaian mewah merupakan perbuatan baik, mengapa Rasulullah SAAW dan Imam Ali tidak mengenakannya? Dan apabila itu merupakan perbuatan buruk, mengapa Anda mengenakannya?”

Mereka menjawab: “Benar, itu yang akan kami katakan.” Kembali Imam menjelaskan: “Kalian tidak mengikuti perkembangan jaman. Menurut pandangan Islam, mengenakan pakaian mewah bukanlah sebuah dosa. Allah menciptakan semua kenikmatan duniawi untuk dimanfaatkan manusia. Dan Allah tidak menciptakan segala kenikmatan ini untuk dijauhi manusia. Allah menciptakannya supaya kita bisa memanfaatkannya. Namun, terkadang, dikarenakan kondisi dan tujuan tertentu kita diharuskan berpaling dari kenikmatan-kenikmatan tersebut. Salah satunya jika kita berada dalam suatu kondisi kehidupan masyarakat yang sedang sangat kesulitan dan kritis. Dengan kata lain, kita hidup di tengah masyarakat yang tengah mengalami krisis ekonomi. Jika hidup dalam masyarakat seperti ini, sementara kita memiliki fasilitas hidup mewah, kita tidak boleh hidup secara mewah. Sebab, jika kita hidup mewah, berarti kita tidak merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang lain. Namun, kadangkala kita hidup dalam masyarakat yang memiliki kondisi ekonomi yang sangat baik. Dalam kondisi demikian, kita tidak memiliki alasan untuk menutup mata dari pakaian yang indah.”

Kemudian Imam Ja’far menambahkan: “Rasulullah dan Imam Ali hidup dalam kondisi dan masa di mana keadaan ekonomi masyarakat sangatlah buruk. Rasulullah tinggal di Madinah, di mana di dalamnya terdapat sekelompok orang yang terlantar (ashhab ash-shuffah). Mereka adalah orang-orang yang sangat fakir dan miskin. Tambahan lagi, Madinah saat itu tengah berada dalam situasi peperangan. Negara atau kota yang sedang berperang dengan negara atau kota lain, mau tak mau akan mengalami kesulitan ekonomi, terlebih jika pada saat bersamaan mereka dilanda musim kemarau dan paceklik. Madinah acapkali mengalami kondisi seperti itu. Dikarenakan keadaan semacam itu, para sahabat yang datang dari luar Madinah (ashhab ash-shuffah) terpaksa tinggal di samping masjid Nabawi. Kehidupan mereka sangat sulit dan menderita, sampai-sampai tidak memiliki pakaian untuk datang ke masjid dan bergabung dengan jamaah lainnya. Saking jarangnya pakaian yang dimiliki, mereka terkadang harus bergantian dalam mengenakan pakaian. Apabila salah seorang usai menunaikan shalat, baju yang tadi dikenakannya kemudian digunakan orang lain, juga untuk shalat. Dalam kondisi seperti ini, tidak dibenarkan bagi seorang mukmin mengenakan baju mewah, meskipun itu dibeli dari hartanya sendiri.”

Kemudian Imam melanjutkan lagi, “Pernah pada suatu ketika Rasulullah berkunjung ke rumah putrinya, Sayyidah Fathimah Zahra. Ketika sampai, beliau melihat lengan putrinya dibalut gelang perak dan pintu rumahnya dilapisi tirai berwarna warni. Melihat keadaan putrinya seperti itu, Rasulullah langsung pulang sebagai isyarat kekurangsenangannya terhadap penampilan putrinya. Sayyidah Fathimah langsung memahami sikap ayahnya. Dengan serta merta; beliau melepaskan gelang perak dari tangannya dan menanggalkan tirai dari pintu rumahnya. Kemudian beliau menyuruh seseorang untuk menyerahkan semua itu kepada ayahandanya. “Sampaikan salamku pada ayahku dan katakan bahwa putrinya yang mengirimkan semua ini untuk digunakan menurut yang terbaik bagi Rasulullah.” Kemudian Rasulullah memerintahkan seseorang untuk membagi-bagikannya kepada ashhab ash-shuffah. Dalam kondisi seperti ini, seorang mukmin memiliki tugas yang lain, yakni turut merasakan penderitaan orang lain.”

Kepada orang-orang yang mengkritiknya, Imam Ja’far mengatakan: “Saya sekarang hidup dalam kondisi yang berbeda dengan kondisi Rasulullah. Jika saya hidup dalam kondisi seperti kakekku, Rasulullah, niscaya saya akan bersikap seperti beliau. Dan jika Rasulullah hidup di masa saya sekarang ini, di mana kondisi ekonomi masyarakat sudah membaik dan lebih mapan, tentu Rasulullah akan hidup dan (berpenampilan) seperti saya.” Inilah salah satu filosofi yang lain dari kezuhudan (Sumber: “Filsafat Zuhud dalam Pandangan Islam”, almujtaba.com).

*****

Kesimpulan. Negara kita sudah damai. Ekonomi relatif mulai membaik. Sebagian kita punya pekerjaan yang bagus bahkan melimpah harta. Silakan anda mencari rumah makan termewah untuk berbuka puasa bersama keluarga dan teman-teman anda. Namun pastikan ada fakir miskin, anak yatim, atau karib kerabat melarat yang anda bawa ikut serta. Atau setidaknya anda bawa pulang apa yang anda makan itu guna dibagi kepada tetangga-tetangga miskin anda. Bangunan niat yang benar untuk acara buka bersama adalah bukan untuk memuaskan selera perut anda, tetapi untuk silaturahmi dan membahagiakan mereka-mereka yang tidak pernah menyentuh kemewahan itu. Maka kepada orang-orang yang peduli dan ikhlas seperti inilah Allah akan berikan kemudahan hidup dan lipat gandakan keberkahan harta.

Maaf, saya sendiri masih jauh dari sempurna, masih jauh dari seperti apa yang saya tuliskan. Saya berdo’a, semoga anda semua menjadi seperti itu.

Advertisements

1 Comment

  1. […] luar biasa. Aktifitas berbuka yang nilainya “sakral”, cenderung menjadi “riya”. https://saidmuniruddin.com/2016/06/28/hedonisme-berbuka/#more-2921 ——————————— (7) 30 HARI UNTUK […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s