UNTUK HUSAIN RASUL MENANGIS

husen rasul menagis

image: carolecgood.com

Untuk Husain Rasul Menangis
Oleh Said Muniruddin

Muharram adalah bulan aneka kejadian. Dari beragam peristiwa, kesyahidan Husain lah yang membuat Rasul SAW menangis. Tangisan Rasul bahkan dimulai ketika Husain lahir, 58 tahun sebelum ia syahid.

Ketika Fatimah baru melahirkan, Rasul datang dan berkata kepada Asma: “Berikan kepadaku puteraku”. Kemudian Asma menyerahkan Husain yang diselimuti kain putih. Setelah mengadzani pada telinga kanan dan mengiqomatinya pada telinga kiri, Rasul saaw meletakkan Husain di pangkuannya.

Wajah Rasul yang sebelumnya gembira tiba-tiba berubah sedih. Rasul menangis. Jenggotnya basah oleh cucuran air mata. Asma keheranan: “Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis? Bukankah ini hari kelahiran, hari semua orang bergembira?”.

Dalam isak tangisnya Rasul menjawab: “Jibril baru saja memberitahuku bahwa putraku ini akan dibunuh oleh kelompok dhalim. Wahai Asma, jangan beritahu Fathimah tentang ini karena ia baru saja melahirkan” (Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, Hadis ke 13 dan 14 tentang biografi Husain).

Tentang Rasul menangis untuk Husain, Aisyah juga meriwayatkan: ”Suatu ketika Husain kecil datang merangkak menuju Rasul yang sedang berbaring, tapi aku menghalanginya. Tidak berapa lama kemudian aku melihat Rasul bangun dan terisak-isak. Aku bertanya:

“Mengapa engkau menangis?”.

Rasul SAW menjawab: “Jibril baru saja datang memperlihatkan kepadaku tanah dimana Husain terbunuh. Allah murka kepada orang yang membunuhnya” (Daruqutni, alI’lal, juz 5 hal. 83; asSyafi’i, “al’Alam anNubuwwah, bab 12, hal. 23; Musnad Ahmad bin Hambal, jil.I hal.85).

Dari Fathimah Rasul SAW memiliki dua cucu, Hasan dan Husain, yang beliau sebut sebagai pemimpin pemuda di syurga. Hasan syahid di racun, sementara Husain syahid di perang Karbala. Untuk mereka Rasul bersabda: “Ya Allah aku mencintai mereka. Karena itu cintailah mereka dan cintailah orang-orang yang mencintai mereka” (Sunan Tirmidzi, jil.5, hal.46; Mustadrak alHakim, jil.3, hal.666).

Kecintaan orang Aceh terhadap Hasan dan Husein besar sekali. Begitu cintanya mereka, oleh para salaf di Aceh, bulan Muharram dinamakan dengan bulan “Asan Usen”. Tujuannya, agar setiap bulan Muharram kita teringat, berdoa dan melakukan sedikit khanduri untuk cucu Nabi kita. Namun sebagian kita mulai melupakan kedua cucu Nabi ini. Bahkan cucunya sendiri banyak yang lupa kepada kakeknya ini. Hal ini membuat Rasul menangis.

Namun demikian, masih ada di kampung-kampung yang merayakan Asyura untuk mengenang Husain dengan memasak kanji untuk dibagi-bagikan kepada sesama. Beragam hikayat dan barzanji masih dibacakan untuk memuliakan kedua sayyidusy syuhada ini. Sayyidina Ali pernah berkata, “Kalian tidak akan pernah bisa memadamkan cahaya kami”. 

Banyak sekali hadist meriwatkan Rasul berkali-kali menangis untuk Husain. Mengapa Rasul menangis? Apakah karena Husain itu sekedar cucunya? Tentu tidak. Ada makna tertinggi dari sebuah perilaku Nabi, apalagi beliau menangis berulang kali. Tangisan Nabi ini adalah suri tauladan (QS. Ahzab: 21), bukan atas dasar hawa nafsu (QS. anNajm: 3). Semua prilakunya adalah perwujudan akhlak yang agung (QS. alQalam: 4), serta sunnah yang bersumber dari wahyu (QS. anNajm: 4). Ada nilai risalah dari tangisan Nabi tersebut.

Lima puluh tahun setelah Rasul wafat, penyimpangan melanda kaum muslimin. Khalifah tertentu telah melupakan nilai-nilai Islam. Sejarah mencatat bagaimana Yazid membangun agama diatas foya-foya, hura-hura dan mabuk-mabukan. Istana dipenuhi harem dan pelacuran. Husain dan pengikutnya adalah segelintir orang yang masih berdiri tegak meneruskan ajaran Muhammad, melawan penguasa yang berusaha menghidupkan kembali ajaran-ajaran jahiliah dalam wajah Islam.

Saat itu, semua orang tau Husain berada pada jalan yang benar, tapi mereka ketakutan kepada intelijen dan siksaan penguasa (imam Syafi’i juga pernah diborgol karena kecintaannya kepada Keluarga Nabi). Sebagian yang bekerja pada pemerintahan Yazid juga enggam membantu Husain karena takut kehilangan jabatan dan tetap ingin dalam kemapanan. Pola menjilat dan takut membela yang benar senantiasa ada sepanjang zaman. Untuk sikap umat seperti ini Rasul menangis.

Setiap sholat, kaum muslim selalu bershalawat kepada Rasul dan Keluarganya: Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aali Sayyidina Muhammad”. Tetapi, ketika Ahlul Baitnya (QS. alAhzab: 33) berjuang mati-matian dalam keadaan haus dan lapar di medan perang, mereka yang rajin bershalawat menjadi ragu, acuh tak acuh bahkan tidak mau ikut serta membela kebenaran. Rasul tidak pernah berhenti berdoa dan menangis untuk kita semua terkait hak-hak Keluarganya (QS. asSyu’ara: 23).

Akhirnya, pada 10 Muharram 61 H, setelah waktu Zuhur, Husain yang berusia 58 tahun beserta puluhan keluarga Rasul lainnya termasuk anak-anak, dibunuh dalam keadaan haus di tepi sungai Eufrat di Karbala, Irak. Mereka dibantai dan kepalanya dibawa kehadapan penguasa. Zainab dan keluarga Rasul lain yang selamat ditawan, diarak dan dipermalukan di depan umum sampai ke Syiria. Sejak saat itu dzuriat Nabi dikejar-kejar, diracun, diisolasi, dan terpencar kemana-mana sampai ke Irak,  Iran, Yaman dan lainnya.

Tragedi menyayat hati ini cenderung dilupakan. Begitu rumit dan sedihnya kisah Islam khususnya paska Khulafaur Rasyidin. Sehingga pesantren dan sekolah-sekolah Islam hanya terpusat pada pengajian tauhid dan fiqh, dan tidak punya keberanian membahas kitab sejarah secara tuntas. Ditambah lagi usaha keras dari para penguasa jahat yang mencoba menghapus Karbala dari memori ummat. Kalau mengingat Husein, anda akan difitnah sebagai kelompok sesat.

Muharram adalah bulan duka. Namun kita tidak perlu mengikuti gaya menyayat diri yang dilakukan segelintir Syi’ah. Bagi kita, tangisan cukup berawal dari pengetahuan memadai tentang Husain dan perjuangannya. Menangisi Husain sebagai sebuah sunnah adalah menangis yang timbul dari hati yang penuh kebencian terhadap kaum penindas. Sebab, para kapitalis dan penguasa otoriter senantiasa muncul disepanjang zaman dalam bentuk jubah, jas dan dasi yang berbeda. Tangisan, empati dan simpati harus muncul untuk semua proses penegakan hukum dan keadilan di setiap zaman dan tempat.

Ingatlah nasehat Husain menjelang kesyahidannya: “Wahai manusia! kebebasan, kemuliaan, keadilan, dan kesempurnaan adalah karakteristik kehidupan yang baik. Melalui jalan ini, kepribadian seorang manusia akan abadi. Berusahalah hidup demikian”. Sehingga, selain mengartikulasikan ratapan perjuangan melalui berbagai tarian sufistik seperti “geleng-geleng kepala” dan “pukul-pukul dada” (saman), orang Aceh juga menerjemahkan seruan Husain ini dalam slogan: “Hudep Mulia, Matee Syahid!”. Kenduri Asyura untuk Hasan dan Husain, sampai hari ini masih dapat ditemukan dalam kultur keislaman Aceh.

BACA: “MENGAPA HARI INI SAYA MENANGIS”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aalihi wa Shahbihi wa Sallam.*****

(Versi singkat tulisan ini pernah terbit pada buletin “Gema Baiturrahman”, Jum’at: 24/12/2010).

2 Comments

  1. […] (Catatan tentang “Untuk Husein Rasul Menangis” dapat dibaca di https://saidmuniruddin.com/2016/10/11/untuk-husen-rasul-menangis/)* […]

    Like

  2. […] BACA: “UNTUK HUSAIN RASUL MENANGIS”  […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s