“CURI START” SELAMAT IDUL FITRI

image: saidmuniruddin.com

“Curi Start” Selamat Idul Fitri
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tahun ini berkembang diskursus “curi start” ucapan “selamat Idul Fitri.” Ucapan ini katanya, seharusnya (sunnah) dilayangkan saat sudah masuk 1 Syawal. Ucapan yang terlalu awal ini juga disinyalir dapat mengganggu kekhusyukan ibadah akhir Ramadhan bagi penerimanya. Apalagi ucapan ini masuk secara masif dan juga muncul perasaan wajib untuk membalasnya.

Sekilas topik seperti ini terlihat sepele dan tidak perlu diperdebatkan. Masa urusan “ucapan selamat lebaran” harus diributkan. Namun karena ini mulai menuai perhatian, ada baiknya kita saling memberi pendapat.

Menurut saya, perkembangan teknologi memang telah memberi kita kesempatan untuk berkomunikasi secara lebih cepat. Spirit beragama serta proses diseminasi berbagai pengetahuan juga ikut dipengaruhi oleh teknologi informasi. Di era digital ini, segala sesuatu bergerak semakin cepat. Termasuk spirit untuk mengkomunikasikan tentang Idul Fitri dengan beraneka bentuk dan disain syiar yang atraktif (sejauh tidak riya).

Untuk urusan ucap mengucapkan selamat ini saya tidak melihatnya ada dalam frame fiqh ibadah tentang “benar-salah”, “boleh-tidak boleh”, atau “halal-haram” sebagaimana tidak bolehnya shalat Ashar di waktu Dhuhur. Bagi saya ini hanya sebatas rasa beragama serta kepatutan dalam interaksi kemanusiaan (muamalah) ketika menyambut hari-hari besar agama.

Jadi, kapanpun itu diucapkan saya kira sah-sah saja. Tapi akan sangat lucu kalau baru pertengahan Ramadhan sudah melakukannya (walaupun iklan-iklan di TV sudah memulainya). Namun secara umum kita lihat orang-orang menyebarkan ucapan-ucapan ini hanya pada 1 atau 2 hari sebelum masuk Syawal.

Terakhir, ada kasus tertentu dalam Alquran yang Allah SWT juga sudah duluan menyebarkan ucapan “selamat” kepada orang-orang yang akan masuk surga, padahal belum ada yang masuk surga. Ucapannya adalah:

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

“Salam”, ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang” (QS.Yasin: 58).

Saya kira, semua ucapan “Selamat Idul Fitri” tersebut dapat menjadi penyemangat dan kabar gembira tentang akan datangnya janji kefitrahan yang Allah persiapkan bagi mereka yang sedang menekuni sisa-sisa Ramadhan. Dari bulan yang mulia akan lahir orang-orang yang tunduk pada agama aslinya. Yaitu orang-orang yang pikiran, lisan dan perbuatannya penuh kebaikan dan selalu menyeru atau menebarkan suasana damai (salam).

Jadi tidak ada yang salah dengan ucapan tersebut. Semua itu dapat menjadi doa dari saudara-saudara kita untuk memaksimalkan ujung Ramadhan. Apalagi ucapan tersebut berisi seuntai doa yang luar biasa:

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ

“Semoga Allah menerima (amal ibadah) kami dan (amal ibadah) saudara-saudara sekalian.”

Wallahu ‘alam bisshawab.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

1 Comment

  1. […] Terakhir, Habib Quraish Shihab juga menjelaskan tentang bagaimana merintis suasana damai di bumi Indonesia sebagaimana di syurga. Gambaran syurga beliau katakan penuh dengan ungkapan “salam.” Saya juga baru kemarin (Sabtu, 24/6/2017) menulis tentang “ucapan kedamaian” dari Tuhan kepada para penghuni surga dalam artikel berjudul “Curi Start Selamat Idul Fitri” yang dapat diunggah di https://saidmuniruddin.com/2017/06/24/curi-start-selamat-idul-fitri/#more-4252) […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s