VIRTUAL REALITY (RESENSI)

image: cio.com

Virtual Reality (Resensi)

“Hidup ini seperti sedang bermimpi. Kalau mati, baru kita akan terjaga”, kata Imam Ali. Alquran juga menyebutkan, “dunia ini senda gurau dan permainan” (QS. Al-An’am: 32, Al-Ankabut: 64, Muhammad: 36) bahkan “kesenangan yang menipu” (QS. Al-Hadid: 20).

Persis sama dengan menonton simulasi virtual reality yang dipasang dimata (bahkan sekarang sudah dalam bentuk ruang yang terkesan hidup). Semuanya terlihat interaktif dan nyata. Ketika filmnya habis (pasti akan habis), lalu alatnya kita buka, baru kemudian kita kembali ke alam nyata.

Begitulah Allah, malaikat, ruh para nabi, kitabul majid, taqdir/rahasia masa depan dan akhirat; semua itu wujud (kenyataan) yang sebenarnya paling nyata. Tetapi bagi ruh yang masih tertidur, semua itu gaib. Cuma sekedar yakin-yakin saja.

Dunia ini semacam game. Kita memang butuh game untuk menikmati hidup dan disarankan untuk berjihad secara baik dan benar untuk menjadi pemenang dalam berbagai jenis game. Namun banyak dari kita yang adiktif dengan game, sampai ia lupa dengan kehidupan akhiratnya.

Yang dimaksud “akhirat” adalah Allah dan semua dimensi yang abadi. Dunia dan segala jenis game (mumkinul wujud) yang menyelimutinya akan binasa. Kita malah terpaut hati dengan berbagai abstraksi, dan lupa kepada “Wajibul Wujud” (Allah dan keabadian ukhrawi).

Sebenarnya, dunia dan akhirat tidak terpisah. “Dimana kaki dipijak, disitu langit dijunjung.” Dimana kita menjalani kehidupan duniawi, disitu pula idealnya ruh kita ada bersama Allah di “langit” sana. Allah itu ada saat kita masih hidup. Jangan menunggu mati untuk bisa menyaksikan keberadaan-Nya.

Syariat yang kita amalkan memang tak akan pernah bisa membawa kita untuk melihat semua kebenaran yang tertinggi. Hanya dengan metode tasawuf dan tarekatlah kita menjadi sempurna, bisa terbangun sejak dini dan melihat semua yang gaib sebagai nyata.

Penting untuk segera terjaga guna menyaksikan kebenaran yang nyata. Jangan virtual terus sampai mati. Sebab, “Barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih buta (QS. A-Isra: 72).

Ini pemahaman yang saya tangkap dari pesan-pesan spiritual seorang Mursyid sebuah thariqah yang berlaqab “Sufimuda”. Tulisan terkait itu secara utuh dapat diakses pada: https://sufimuda.net/2018/09/07/virtual-reality/

Salam,
Said Muniruddin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s