ASPEK KOMUNIS DAN LIBERAL DALAM AGAMA

image: QS. Al-Baqarah 143

Aspek Komunis dan Liberal dalam Agama
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Macam komunis kita ya”, kata seorang ulama kharismatik, beberapa waktu lalu saat mendengar fatwa-fatwanya. Ini dilontarkan sambil tertawa, ketika menengahi berbagai doktrin dan praktik beragama yang mengikat.

Katakanlah, mulai dari mazhab ibadah yang dipaksa seragam. Sampai kepada fashion sunnah harus dalam format jenggot dan celana jingkrang. Masyarakat seperti dicucuk hidungnya, sehingga kehilangan kearifan dalam mengartikulasi pesan-pesan Tuhan. Hidup bukan lagi pilihan. Tapi paksaan.

Anda tau sistem komunis kan? Kita tidak bicara ateisme. Kita bicara aspek rigiditas/fleksibilitas ruang ekspresi publik dan privat.

Dalam fiqh komunis, masyarakat digiring kepada satu paham. Negara dianggap paling tau kebenaran. Penguasa mendikte gerak-gerik warga. Semua diatur, mesti serupa. “Sama rasa, sama rata”.

Itulah syariat dalam kerangka politik dan kekuasaan. Agama dibungkus dalam kotak: hitam atau putih. Pilihan dipersempit. Kita tidak diberitau tentang banyaknya aturan yang bisa jadi pertimbangan. Tetapi harus menurut ulama tertentu, kitab dan golongan. Ini yang benar. Lain salah. Anti perbedaan. Beda artinya sesat.

Islam yang nilainya universal, diframe dalam egoisme partikular: wajib begini, wajib begitu. Misal, prinsip dasarnya adalah menutup aurat. Seharusnya bisa dilakukan dengan apapun. Tetapi dipaksa pakai rok. Tafsir sopan pun hanya milik negara. Semua perempuan dilarang mengangkang saat berkendara.

Agama dalam warna komunis menghilangkan kemerdekaan. Masyarakat tercerabut dari kesempatan untuk merasakan pengalaman personal dalam bertuhan. Agama yang seperti ini menghilangkan sisi individualitas, yang merupakan prinsip paling asasi dari fitrah. Toh di akhirat kita akan disidang satu-satu atas apa yang kita kerjakan. Lalu mengapa pula di dunia kita dipaksa seragam?

Lalu diperkenalkan kembali prinsip-prinsip sufisme yang membebaskan. “La ikraha fiddin”. Jangan paksa-paksa orang. Kebenaran sudah jelas. Kita semua sudah dewasa. Beragama jangan macam anak-anak, yang harus dikawal ketat saat menyeberang jalan.

Biarkan mereka mencicipi agama dengan caranya. Dengan piring, sendok dan menu yang dianggap paling memenuhi rasa. Biarkan mereka mengetuk pintu Tuhan dengan pilihan dzikir yang dia suka. Biarkan kesadaran jiwa yang membimbing. Bukan ceramah aqidah yang menakut-nakuti. Apalagi tema bid’ah dan neraka.

Sufisme itu liberal. Toleran. Siap dengan perbedaan. Agama boleh sama, tetapi bertuhan masing-masing. Ada 1001 jalan untuk mengekspresikan cinta. Dan sufisme membimbingmu menikmati pengalaman personal menuju bahagia. Namun ingat, kau tetap harus patuh kepada guru. Adab dijaga. Sebab, kebebasan tanpa batas hanya akan menghancurkan.

Jadi beragama itu memang harus liberal. Namun terpimpin. Merdeka, tapi terikat. Sufisme, bersyariat. Maka, “jalan tengah” adalah mazhab beragama yang paling ideal. Tidak berlebihan. Kiri kanan. Liberal sekaligus komunal. Moderat.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian Kami menjadikan kamu sebagai ummatan  wasathan (umat penengah) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan manusia) dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu…” (QS. al-Baqarah: 143).

Namun sejauh mana kita harus kaku seperti komunis ataupun rileks dan inovatif ala liberal, masih dalam perdebatan. Sebab, “golongan kiri” percaya bahwa segala sesuatu mesti ada dalil Bukhari Muslimnya. Sementara “golongan kanan” baru haqqul yakin jika bertanya kepada hati yang telah disucikan, dan memperoleh jawaban langsung dari Allah Ta’ala.

Ah! Tak usah kita bahas ini lagi ya. Mendingan kita ngopi aja.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s