BUBARNYA AGAMA
Oleh Said Muniruddin

Makkah sepi
Madinah sunyi
Kakbah dipagari
Masjid tutup
Jamaah bubar
Jumat batal
Umrah di stop
Haji tak pasti
Lafadz adzan berubah
Salaman dihindari

Corona datang
Seolah-olah membawa pesan
Ritual itu rapuh!

Ketika Corona datang
Engkau dipaksa mencari Tuhan
Bukan di tembok Kakbah
Bukan di dalam masjid
Bukan di mimbar khutbah
Bukan dalam thawaf
Bukan pada panggilan azan
Bukan dalam shalat jamaah
Bukan dengan jabat tangan

Melainkan,
Pada keterisolasianmu
Pada mulutmu yang terkunci
Pada hakikat yang tersembunyi

Corona mengajarimu,
Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian
Tuhan itu bukan (melulu) pada syariat
Tuhan itu ada pada jalan keterputusanmu
Dengan dunia yang berpenyakit

Corona memurnikan agama
Bahwa tak ada yang boleh tersisa
Kecuali Tuhan itu sendiri!

Temukan Dia
___________________
Banda Aceh, 16 Maret 2020

BACA: PUISI-PUISI SAID MUNIRUDDIN LAINNYA (POEMS)

BUBARNYA AGAMA

54 thoughts on “BUBARNYA AGAMA

  1. Tiada tuhan melainkan Allah, tuhan hanya 1, tuhan selalu ada di dekat kita.
    #itu keyakinan kami, keyakinan kalian menurut kalian
    #agamamu agammu, agamaku agamaku
    #yang jelas kita semua satu Bangsa tahan air

    Like

  2. Iya mirip ini bu:

    Vatikan sepi,
    Yerusalem sunyi,
    Tembok Ratapan dipagari,
    Gereja ditutup,
    Jemaat dirumahkan,
    Misa batal,
    Jalan Salib distop,
    Paskah tak pasti,
    Litani doa berubah,
    Air suci menguap.

    Corona datang… Seolah-olah membawa pesan bahwa Ritual itu rapuh!

    Ketika Corona datang,
    Engkau dipaksa mencari Tuhan,
    Bukan di Basilika Santo Petrus,
    Bukan di dalam gereja,
    Bukan di mimbar kotbah,
    Bukan pada panggilan lonceng,
    Bukan dengan jabat tangan.

    Melainkan,
    Pada kesendirianmu,
    Pada keheningan yang bermakna.

    Keadaan ini mengajarimu,
    Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian.
    Tuhan itu bukan (melulu) pada ritual.
    Tuhan itu ada pada jalan keputus-asaanmu dengan dunia yang berpenyakit.

    Corona memurnikan agama
    Bahwa tak ada yang boleh tersisa.
    Kecuali Tuhan itu sendiri!

    Datangi, temui dlm doa dan kenali DIA melalui perkataan-Nya di saat yg Teduh…

    Like

    • Karena tulisan ini buatan manusia, sama seperti agama yang juga buatan manusia. Yang membuat seolah paling benar menurut agamanya masing2, tp yang belum tentu dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.

      Like

  3. tulisannya bagus, pesannya juga sangat bagus, Cuma judulnya aja agak2
    Sejak jaman Rasulullah saw masih hidup, beliau juga sudah kasih informsi bahwa pada masa2 tertentu agama hanya tinggal kulitnya saja, orang baca kitab suci/quran hanya sampai ditenggorokkan. Mungkin yg perlu diperbaharui adalah pedalaman &penghayatan agama yang menyentuh pada esensi & hakikinya.

    Tidak perlu membenturkan antara syariat, hakikat & ma’rifat. Mestinya yg belajar syariat ya di lanjutkan pada hakikat & ma’rifat. Dan sebaliknya yg dah berhakikat & berma’rifat akan lebih indah & juga tetap bersyariat. Jangan bikin term sendiri seakan-akan kelasnya lebih tinggi & dah sampai ke Tuhan.

    Kalau dibongkar sampai hakikat & ma’rifat semua gerak & diamnya kehidupan adalah pekerjaan & kehendak Tuhan (zat, sifat & af’alNYA semata-mata)

    Salam

    Like

  4. TAK PERLU DIDRAMATISIR

    bukankah dalam perjalan sejarah umat Muslim ada peristiwa umat Muslim dipersilahkan membaca doa qunut nazilah?

    fisik di Baitul Haram dan Masjidil Haram bisa terjadi seperti ini, tapi yang masih memalingkan untuk menghadapkan (QS. 2:144) wajahnya bersujud ke arah sana, bukankah masih jutaan bahkan miliaran umat Muslim!

    Like

  5. Assalamualaikum..
    Saya terkesan membaca puisi Bubarnya Agama, di source lainnya, puisi dengan judul dan idi yang sama persis, ditulis oleh KH Mustofa Bisri.
    Mohon penjelasan bapak, jika siapakah sebagai plagiator karya elok ini.
    Sepanjang pengetahuan saya, Kyai Mustofa Bisri lah penulis dan sastrawan handal.
    Tapi jika memang puisi ini karya asli bapak Said, perlu klarifikasi ke khalayak, demikian juga sebaliknya …dan tentu harus disertai permohonan maaf ke KH Mustofa Bisri..mari berkarya dengan jujur.

    Wass,
    Wiwiek Harwiki

    Like

  6. Allahu Akbar, Mudah2an Allah yang maha kuasa yang menjadikan segala-galanya, menguasai semua, memiliki semua, secepatnya menghentikan wabah virus corona ini, supaya manusia di dunia, khususnya di Indonesia cepat hilang ke gelisaannya, ke bingungannya, ke panikannya, kecemasannya, agar bisa beraktivitas seperti biasa sehingga per ekonomian normal kembali, ini semua bisa terwujud bila semua elemen mulai masyarakat biasa hingga pemerintahan tertinggi berperan aktif semua melawan virus corona berbagai upaya, ide masing-masing, jangan ada yg saling menyalahkan, bersatu melawan dan ber doa kepada Allah, karena manusia hanya berusaha tetap ke hendak Allah yang menguasai segalanya, bersatu dan berdoa kepada Allah, Allahu Akbar

    Like

  7. 1). أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
    Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

    (2). فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
    Itulah orang yang menghardik anak yatim,

    (3). وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
    dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

    (4). فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ
    Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

    (5). الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
    (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

    (6). الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
    orang-orang yang berbuat riya.

    (7). وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
    dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

    coba kalian perhatikan ayat 4 dan 5, Ini adalah teguran bagi mereka yg shalat tetapi tidak mengerti maksud sholat itu untuk apa.Mereka telah lalai ,mereka telah berdusta.
    mereka mendustakan agama mereka sendiri dan pada diri mereka sendiri.

    sebenarnya masih banyak yg saya ingin ungkapkan tetapi biarlah ini saja dulu.

    wassalamualaikum wr.wb,

    ustadz sayyid habib yahya

    Like

  8. Alangkah sayangnya jika kita menggagap ibadah yang kita lakukan adalah ritual belaka.
    Bukan semata2 karena mencari keridhaan, iman takwa kepada syariat Allah Azza wa jalla.

    Makkah, Madinah, Masjid hanyalah sarana…, walau ada keutamaan tersendiri di sana.
    Tanpanya ibadah itu tetap harus dilakukan, karena itu kewajiban.
    Seandainyapun ibadah itu adalah ritual… adalah salah jika ritual itu dianggap rapuh.
    Justru kita harus semakin memperkuat kerapuhan itu dimanapun kita berada…

    #bukanustadzcumaberpendapat

    Like

  9. Pingback: SULUK CORONA | Said Muniruddin

  10. Pingback: KLARIFIKASI PUISI “BUBARNYA AGAMA” | Said Muniruddin

  11. Pingback: Bubarnya Agama – Unlimited Motivation

  12. Pingback: Pemuka Agama Bisa Berperan Lebih Dalam Komunikasi Terkait Pandemi - WordPress Site

  13. Org sini klo agama disinggung suka ada yg tergelitik gitu makes me laugh. Gw sbg introvert nerd lebih suka bertuhan dlm sepi & syahdu

    Like

  14. Pingback: Sastra Yang Bertumbuh Di Tengah Pandemi - Konde.co

  15. Pingback: Tsunami Sastra di Tengah Corona – Piramida.id

  16. Pingback: Tsunami Sastra di Tengah Corona - Voxpop Indonesia

  17. Pingback: Tsunami sastra di tengah corona | Utustoria

  18. Pingback: BUBARNYA HAJI | Said Muniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s