BUBARNYA AGAMA

BUBARNYA AGAMA
Oleh Said Muniruddin

Makkah sepi
Madinah sunyi
Kakbah dipagari
Masjid tutup
Jamaah bubar
Jumat batal
Umrah di stop
Haji tak pasti
Lafadz adzan berubah
Salaman dihindari

Corona datang
Seolah-olah membawa pesan
Ritual itu rapuh!

Ketika Corona datang
Engkau dipaksa mencari Tuhan
Bukan di tembok Kakbah
Bukan di dalam masjid
Bukan di mimbar khutbah
Bukan dalam thawaf
Bukan pada panggilan azan
Bukan dalam shalat jamaah
Bukan dengan jabat tangan

Melainkan,
Pada keterisolasianmu
Pada mulutmu yang terkunci
Pada hakikat yang tersembunyi

Corona mengajarimu,
Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian
Tuhan itu bukan (melulu) pada syariat
Tuhan itu ada pada jalan keterputusanmu
Dengan dunia yang berpenyakit

Corona memurnikan agama
Bahwa tak ada yang boleh tersisa
Kecuali Tuhan itu sendiri!

Temukan Dia
___________________
Banda Aceh, 16 Maret 2020

BACA: PUISI-PUISI SAID MUNIRUDDIN LAINNYA (POEMS)

45 Comments

  1. Margareth

    A big remainder. That sometimes, alone is the best.

    Like

  2. Jeko Poer

    Wow keren..

    Like

    1. Monica

      Ini karya Kyai Haji Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus loh. Kok diaku2i orang lain ya?

      Like

      1. Wiwiek Harwiki

        Pak dosen Unsyiah parah
        Ini puisi gus Mus

        Like

  3. Anonymous

    joss

    Like

  4. irwan

    good reminder.. but pls correction, lafadz adzan never change

    Like

  5. One kom

    Bismillah…semoga ini cepat berlalu..

    Like

  6. Anonymous

    Tiada tuhan melainkan Allah, tuhan hanya 1, tuhan selalu ada di dekat kita.
    #itu keyakinan kami, keyakinan kalian menurut kalian
    #agamamu agammu, agamaku agamaku
    #yang jelas kita semua satu Bangsa tahan air

    Like

  7. Anonymous

    Iya mirip ini bu:

    Vatikan sepi,
    Yerusalem sunyi,
    Tembok Ratapan dipagari,
    Gereja ditutup,
    Jemaat dirumahkan,
    Misa batal,
    Jalan Salib distop,
    Paskah tak pasti,
    Litani doa berubah,
    Air suci menguap.

    Corona datang… Seolah-olah membawa pesan bahwa Ritual itu rapuh!

    Ketika Corona datang,
    Engkau dipaksa mencari Tuhan,
    Bukan di Basilika Santo Petrus,
    Bukan di dalam gereja,
    Bukan di mimbar kotbah,
    Bukan pada panggilan lonceng,
    Bukan dengan jabat tangan.

    Melainkan,
    Pada kesendirianmu,
    Pada keheningan yang bermakna.

    Keadaan ini mengajarimu,
    Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian.
    Tuhan itu bukan (melulu) pada ritual.
    Tuhan itu ada pada jalan keputus-asaanmu dengan dunia yang berpenyakit.

    Corona memurnikan agama
    Bahwa tak ada yang boleh tersisa.
    Kecuali Tuhan itu sendiri!

    Datangi, temui dlm doa dan kenali DIA melalui perkataan-Nya di saat yg Teduh…

    Like

  8. Anonymous

    Kenapa mirip dengan tulisan agama lain?

    Like

    1. Netral

      Karena tulisan ini buatan manusia, sama seperti agama yang juga buatan manusia. Yang membuat seolah paling benar menurut agamanya masing2, tp yang belum tentu dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.

      Like

  9. LN

    tulisannya bagus, pesannya juga sangat bagus, Cuma judulnya aja agak2
    Sejak jaman Rasulullah saw masih hidup, beliau juga sudah kasih informsi bahwa pada masa2 tertentu agama hanya tinggal kulitnya saja, orang baca kitab suci/quran hanya sampai ditenggorokkan. Mungkin yg perlu diperbaharui adalah pedalaman &penghayatan agama yang menyentuh pada esensi & hakikinya.

    Tidak perlu membenturkan antara syariat, hakikat & ma’rifat. Mestinya yg belajar syariat ya di lanjutkan pada hakikat & ma’rifat. Dan sebaliknya yg dah berhakikat & berma’rifat akan lebih indah & juga tetap bersyariat. Jangan bikin term sendiri seakan-akan kelasnya lebih tinggi & dah sampai ke Tuhan.

    Kalau dibongkar sampai hakikat & ma’rifat semua gerak & diamnya kehidupan adalah pekerjaan & kehendak Tuhan (zat, sifat & af’alNYA semata-mata)

    Salam

    Like

  10. Anonymous

    Gusmus

    Like

  11. Monica

    Ini karya Gus Mus kan?

    Like

    1. Anonymous

      Betul ini karya gus mus..jiplakan nih
      Ngaku2

      Like

      1. Anonymous

        Ini karya Pak Said Munirudin. Gus Mus sudah klarifikasi di FB beliau

        Like

    2. Anonymous

      bkn. gus mus sudah resmi menyangkalnya

      Like

    3. Huda

      bukan baca klarifikasi menantu gus mus di sini https://twitter.com/ulil/status/1240483257990275072?s=19

      Like

  12. Anonymous

    ini kaya KH. ahmad mustofa bisri yg biasa d sebut Gus mus

    Like

    1. Huda

      bukan baca klarifikasi menantu gus mus di sini https://twitter.com/ulil/status/1240483257990275072?s=19

      Like

    2. budairi89

      Kok jadi viral, ya?

      Like

  13. Keren. Harusnya di bawah ditulis pengarang aslinya

    Like

  14. Keren. Harusnya di bawah ditulis pengarang aslinya.
    Tahu kan siapa pengarang aslinya?

    Like

  15. elfan

    TAK PERLU DIDRAMATISIR

    bukankah dalam perjalan sejarah umat Muslim ada peristiwa umat Muslim dipersilahkan membaca doa qunut nazilah?

    fisik di Baitul Haram dan Masjidil Haram bisa terjadi seperti ini, tapi yang masih memalingkan untuk menghadapkan (QS. 2:144) wajahnya bersujud ke arah sana, bukankah masih jutaan bahkan miliaran umat Muslim!

    Like

  16. La Hawula Wala Quwwata Illa Billah

    Like

  17. Wiwiek Harwiki

    Assalamualaikum..
    Saya terkesan membaca puisi Bubarnya Agama, di source lainnya, puisi dengan judul dan idi yang sama persis, ditulis oleh KH Mustofa Bisri.
    Mohon penjelasan bapak, jika siapakah sebagai plagiator karya elok ini.
    Sepanjang pengetahuan saya, Kyai Mustofa Bisri lah penulis dan sastrawan handal.
    Tapi jika memang puisi ini karya asli bapak Said, perlu klarifikasi ke khalayak, demikian juga sebaliknya …dan tentu harus disertai permohonan maaf ke KH Mustofa Bisri..mari berkarya dengan jujur.

    Wass,
    Wiwiek Harwiki

    Like

  18. Dr.H.Andi Sessu, M.Si

    Allahu Akbar, Mudah2an Allah yang maha kuasa yang menjadikan segala-galanya, menguasai semua, memiliki semua, secepatnya menghentikan wabah virus corona ini, supaya manusia di dunia, khususnya di Indonesia cepat hilang ke gelisaannya, ke bingungannya, ke panikannya, kecemasannya, agar bisa beraktivitas seperti biasa sehingga per ekonomian normal kembali, ini semua bisa terwujud bila semua elemen mulai masyarakat biasa hingga pemerintahan tertinggi berperan aktif semua melawan virus corona berbagai upaya, ide masing-masing, jangan ada yg saling menyalahkan, bersatu melawan dan ber doa kepada Allah, karena manusia hanya berusaha tetap ke hendak Allah yang menguasai segalanya, bersatu dan berdoa kepada Allah, Allahu Akbar

    Like

    1. sayyid

      Tidak ,sudah waktunya Dia bertindak.

      wassalamualaikum wr.wb,
      ustadz sayyid habib yahya

      Like

  19. Anonymous

    ini karya gus mus kok di akui sih

    Like

  20. K. Zulfikor

    terasa betul. mksh…izin shear

    Like

  21. Mantul, izin share

    Like

  22. sayyid

    1). أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
    Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

    (2). فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
    Itulah orang yang menghardik anak yatim,

    (3). وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
    dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

    (4). فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ
    Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

    (5). الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
    (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

    (6). الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
    orang-orang yang berbuat riya.

    (7). وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
    dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

    coba kalian perhatikan ayat 4 dan 5, Ini adalah teguran bagi mereka yg shalat tetapi tidak mengerti maksud sholat itu untuk apa.Mereka telah lalai ,mereka telah berdusta.
    mereka mendustakan agama mereka sendiri dan pada diri mereka sendiri.

    sebenarnya masih banyak yg saya ingin ungkapkan tetapi biarlah ini saja dulu.

    wassalamualaikum wr.wb,

    ustadz sayyid habib yahya

    Like

  23. Terimakasih Pak tulisannya, keren, saya gunakan untuk mengcounter orang2 bebal d fb 😀

    Like

  24. Anonymous

    Alangkah sayangnya jika kita menggagap ibadah yang kita lakukan adalah ritual belaka.
    Bukan semata2 karena mencari keridhaan, iman takwa kepada syariat Allah Azza wa jalla.

    Makkah, Madinah, Masjid hanyalah sarana…, walau ada keutamaan tersendiri di sana.
    Tanpanya ibadah itu tetap harus dilakukan, karena itu kewajiban.
    Seandainyapun ibadah itu adalah ritual… adalah salah jika ritual itu dianggap rapuh.
    Justru kita harus semakin memperkuat kerapuhan itu dimanapun kita berada…

    #bukanustadzcumaberpendapat

    Like

  25. […] serta paksaan dari pemerintah dan ulama untuk mengurung diri, menginspirasi kami untuk menulis “Bubarnya Agama”. Sebuah puisi sufistik yang kemudian ikut direspon oleh salah satu anggota DPRK Kota Banda Aceh […]

    Like

  26. Takim Sabri

    puisinya keren

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s