TUHAN SEMAKIN GAIB

Tuhan Semakin Gaib
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tidak ada yang gaib, kecuali bagi yang ‘buta’ (bodoh).

Agama, bagi orang-orang awam (buta/bodoh), itu tersusun dari perkara-perkara gaib. Tuhan, malaikat, syurga, neraka; bagi kita yang bodoh, semuanya gaib. Tapi bagi nabi dan para walinya, semuanya terlihat. Terang benderang. Semua sudah pernah mereka rasakan dan saksikan. Bahkan berulang-ulang dan menjadi pengalaman sehari-hari. Dengan demikian, rukun iman memiliki tingkatan. Bagi yang awam (buta/bodoh), keimanan adalah percaya kepada yang gaib. Tapi bagi orang cerdas (terbuka matanya), itu sudah pada tingkat menikmati kenyataan. Jadi, ini hanya masalah mata, masih terbuka atau tertutup.

Kalau masih sekedar percaya kepada adanya Tuhan yang gaib, itu tanda kita masih buta (bodoh). Kalau sudah melihat/berjumpa yang gaib-gaib tersebut, itu tanda anda sudah mulai faktual dalam beragama. Sebenarnya inilah yang disindir oleh Mahyar Kumbang. Beliau sangat galau terkait itu saat beragama. Ia pernah beragama pada level dipaksa percaya kepada sesuatu, yang ia sendiri (dan mungkin juga orang yang menyuruhnya percaya) tidak mampu memfaktualkan objek kepercayaan tersebut. Hanya ketika itu menjadi faktual; beragama akan mencapai level reliable, valid, known dan confirmed (tersaksikan)!

Sebenarnya tidak ada yang gaib. Sejauh sesuatu itu ada, maka ia bisa dijangkau. “Ada” artinya tidak tersembunyi. Tuhan itu wujud, ada. Maka sudah pasti sesuatu yang ada bisa diketahui, dilihat, dan dirasakan. Beda halnya kalau sesuatu itu memang tidak ada, maka mustahil bisa dilihat/dirasa. Kalau Tuhan belum bisa dilihat dan rasa; maka bagi orang tersebut Tuhan tidak ada. Tidak faktual. Hanya sebatas kepercayaan (hipotesis/dugaan). Inilah yang disebut “jahiliah” (bodoh/buta). Beragama, tapi tidak punya kemampuan untuk sampai kepada Tuhan (tidak mampu melihat dan merasakannya). Kita akui saja kita masih bodoh, tidak usah diperdebatkan. Dan ini menjadi kesempatan bagi kita untuk terus belajar.

Di era jahiliah, semua orang percaya kepada adanya Tuhan (Allah). Termasuk mereka yang sangat menguasai kitab-kitab agama (ahli kitab). Tapi mereka tidak lagi mencapai level musyahadah (penyaksian). Muhammad diutus untuk mengajari kembali mereka cara untuk konek (wushul), kembali (ruju’)  atau bisa berjumpa (liqa’) dengan-Nya. Sebab, apa sih sulitnya berjumpa dan berkomunikasi dengan sesutu yang memang ada, maha hidup, maha besar, maha mendengar, dan maha berkata-kata. Konon lagi kita punya semua kelengkapan alat; mulai dari unsur fisik sampai elemen ruhaniah, untuk menjumpai entitas apapun (baik secara lahiriah maupun batiniah).

Kini, setelah 1400an tahun Muhammad tiada, Islam telah kembali kepada timbunan kitab. Kita semua telah kembali menjadi ahli baca (ahli kitab). Bacaan itu bagus. Bagus sekali. Tapi membaca juga membuat banyak orang jadi bebal, keras kepala, angkuh dan sok tau. Bacaan-bacaan itu membuat Tuhan semakin gaib. Tuhan hanya ada pada level hafalan. Tidak faktual. Tidak nyata. Untuk itulah, sepanjang zaman -sampai kiamat, selalu ada al-mahdi (wali-wali agung/imam/mursyid) yang menuntun jalan. Yang membuka mata kita: “Ini adalah engkau, dan itu adalah Tuhan”. Aktual!

Sebenarnya; bukan hanya perkara Tuhan, malaikat, surga dan neraka yang gaib. Banyak hal di alam ini yang gaib (bagi yang awam). Virus, bakteri, kuman; juga gaib. Tidak kasat mata. Makhluk-makhluk ini tidak serupa dengan kita (laitsa kamislihi syai’un). Tapi dengan teknologi tertentu bisa diketahui dan dilihat secara terang benderang dan tak terbantahkan (enlighten). Pun berbagai hukum yang mengatur alam ini; seperti gravitasi, elektromagnet, cahaya, serta berbagai energi dan kekuatan lainnya; semuanya gaib. Sampai datang sejumlah ‘utusan Tuhan’ (para ahli) yang dengan metodologi tertentu mampu membuktikan dan menunjuki kita secara jelas dan terbuka bagaimana cara melihat dan merasakan semua yang hidden tersebut. Riset-riset yang setiap hari dilakukan oleh berbagai institusi adalah usaha membongkar berbagai dugaan, fenomena dan skeptisisme (hal-hal yang masih gaib).

Jadi, kalau yang gaib itu tidak mampu kita buktikan sejak sekarang, khususnya Tuhan (Allah); maka di akhirat segalanya akan lebih gaib lagi. Sebab, kita yang ada di dunia sekarang, adalah sama dengan kita yang ada di akhirat nanti. Begitu juga dengan Allah. Allah yang ada di dunia ini, sama persis dengan Allah yang ada di akhirat. Kalau buta di dunia, tentu buta juga di akhirat. Dan barang siapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan buta dan lebih sesat dari jalan (QS. Al-Isra: 72). Sehingga dunia ini menjadi tempat kita diuji untuk melakukan iqra: menjadi enlightened, cerdas, mempelajari dan membuktikan segala hal yang dipercayai ada, khususnya keberadaan Allah. Untuk itulah kita harus terus sekolah, belajar atau berguru. Di akhirat tak sempat lagi!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin