BERBICARA DENGAN ALLAH SECARA “LANGSUNG”


“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 44 | Juni 2022


BERBICARA DENGAN ALLAH SECARA “LANGSUNG”
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Seorang manusia biasa (basyar) mampu berbicara dengan Allah secara langsung melalui elemen wasilah yang disebut “Wahyu” (atau Ruh). Sebagaimana dijelaskan dalam Asy-Syura 51-52:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ (51) وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗمَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا ۗوَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۙ (52)

(51) Tidak mungkin bagi seorang manusia untuk diajak berbicara langsung oleh Allah, kecuali dengan (perantaraan) wahyu, dari belakang tabir, atau dengan mengirim utusan (malaikat) lalu mewahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana. (52) Demikianlah Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) Rūh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya (Al-Qur’an) cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Sesungguhnya engkau benar-benar membimbing (manusia) ke jalan yang lurus” (QS. Asy-Syura: 51-52).

Wahyu adalah “Ruh” yang merupakan gelombang langsung atau amar Allah. Wahyu adalah manifestasi langsung dari kalam, gerak dan perintah Allah. Apa yang Allah bicarakan disana, begitulah Wahyu berbunyi kepada anda. Jadi, Wahyu itu adalah bentuk langsung dan asli dari apapun yang Allah ucapkan dari “langit” sana. Wahyu adalah “pancaran langsung” diri-Nya. Maka, siapapun yang menemukan “Ruh” (yang merupakan Logos, wujud dari Wahyu, gelombang dan frekuensi ketuhanan), maka dia mampu berkomunikasi secara langsung dengan Allah.

Karena itulah “Jibril” juga disebut Ruh. Karena itu merupakan personifikasi dari Kalam Tuhan, Allah yang berbicara secara langsung melalui gelombang-gelombang malakut. Gelombang-gelombang ini merupakan para malaikat, utusan-Nya. Bayangkan; semua pesan yang dikirim dan masuk ke televisi dan mobilephone anda, itu wujud dari gelombang. Pesan-pesan itu tidak dikirim lewat makhluk dongeng yang “bersayap”. Makna “bersayap” itu metaforis, menggambarkan kemampuan ia bergerak dan mengirim pesan. Ia mampu mengirim pesan dari satu ufuk ke ufuk bumi lain secara sangat cepat. Begitulah sifat dari gelombang Tuhan/gelombang malakut (Ruh/Jibril).

Bagi spiritualis tingkat tinggi (para nabi dan shalihin), Ruh ini bisa di download melalui riyadhah khusus. Sehingga dalam diri mereka kemudian hadir/ter-install Ruh ini. Dengan adanya perangkat ini, mereka kemudian dapat berkomunikasi secara langsung dengan Allah.

Jadi, jangan selalu membayangkan Jibril itu sebagai sosok bersayap yang terbang-terbang seperti burung, lalu hinggap di rumah anda. Jibril adalah Ruh Suci, Nur-Muhammadi, Pancaran Pertama Diri-Nya sendiri, Utusan-Nya, Kalam-Nya, Nur Muhammadi; yang “turun” dan menetap dalam diri para nabi dan shalihin. Saat seseorang berdialog dengan Jibril, sebenarnya mereka sedang berdialog dengan Ruh yang telah hadir dalam dirinya sendiri. Itulah makna “Allah lebih dekat dari urat leher”. Allah dan para malaikat-Nya hadir dalam keseluruhan dirimu. Kecuali dalam kasus tertentu, Ruh/Jibril ini hadir dalam wujud orang lain kehadapan anda.

Jadi, Allah itu memang beda dengan kita. Beda alam, beda semuanya. Laitsa kamislihi syai-un. Sehingga, mengatakan bisa berjumpa dan berbicara dengannya secara langsung mungkin akan rancu, bahkan dianggap gila. Walau kenyataannya, banyak orang biasa/basyar (nabi) yang mampu melakukannya.

Tapi ya begitulah. Allah sendiri dalam Quran mengatakan ada nabi yang berbicara langsung dengan Allah. Di ayat lain, Allah menegaskan bahwa sebenarnya bukan langsung, melainkan melalui “tirai”. Sebenarnya sama saja. Semua itu sifatnya “langsung.” Begitu anda menemukan Ruh ini, anda akan terhubung langsung dengan Allah dalam cara-cara tertentu. Ini persis sama dengan seseorang yang telah menemukan sinar/pancaran aktif gelombang hp, sehingga mampu berkomunikasi secara “langsung” dengan siapapun yang berada dibelahan dunia lain.

Inilah yang disebut berbicara dari “belakang tirai/tabir”. Ngomong dari belakang hp, alias tidak berhadapan secara langsung dalam arti fisikal. Karena Allah memang immateri murni. Tapi juga tidak bisa dibantah, dengan perantaraan sinyal dan pancaran wajah di layar hp, sebenarnya anda juga sedang berbicara secara “langsung” dengan-Nya. Karena sifatnya live dan interaktif. Kalau anda berdialog saat sinyal lagi kuat, Allah pasti jawab: “astajiblakum”. Dia Maha Mendengar dan Maha Berkata-Kata. Agama dengan berbagai ritual khusus (khawash), adalah upaya memperbaiki sinyal komunikasi ini.

Jadi, disatu sisi ada ayat yang menyebut bahwa ada nabi yang berbicara secara langsung: “Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berbicara dengannya..” (QS. Al-Baqarah: 253). Di ayat lain: “.. dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung” (QS. An-Nisa: 164). Namun ada ayat lain yang mengklarifikasi, bahwa tidak ada seorang manusia pun yang dapat berbicara secara langsung dengan Allah, melainkan dengan perantaraan Wahyu/Ruh (QS. Asy-Syura: 51-52). Sama saja itu: semuanya langsung, tapi dengan perantaraan teknologi (wasilah) Ruh!

Teknologi inilah yang dikejar para sufi. Teknologi yang dapat membuat seseorang akrab, dekat dan mampu berkomunikasi secara “langsung” dengan Allah. Karena, para nabi adalah “basyar”, manusia biasa seperti kita. Karena telah melatih Ruhani secara benar melalui guru-guru tertentu, maka memungkinkan bagi mereka untuk berkomunikasi dengan Allah (via Ruh). Kita semua juga basyar. Kalau kita mampu mentauladani metode (sunnah/tariqah) yang sama yang pernah ditempuh para nabi, maka kita juga akan mampu mereplika pengalaman spiritual mereka.

Diluar kelompok sufi, hal semacam ini dianggap non-sense. Kisah orang mampu berbicara dengan Allah “secara langsung” hanya sebatas cerita masa lalu. Alquran mirip-mirip sudah jadi legenda, dongeng.  Sementara dalam kitab-kitab sufistik disebutkan, hal ini masih dapat terus terjadi. Para sufi ingin membuktikan kebenaran Alquran dengan kembali melakukan berbagai riset dan eksperimentasi tazkiyatun nafs. Sehingga hal ini dapat dialami kembali. Dengan demikian Islam menjadi sebuah ajaran universal, pengalaman spiritual para nabi masih berlaku dan dapat dialami sepanjang zaman.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s