“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 53 | Juli 2022


MAKRIFAT ITU APA?
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Kalau tiba-tiba dalam benak anda terlintas keinginan untuk makan, maka berhentilah sejenak. Tahan dulu keinginan anda. Tanyakan kepada Allah, apakah boleh atau tidak bagi anda untuk makan.

Ketika Dia misalnya menjawab: “Tidak Boleh” (artinya tidak ada izin untuk makan), lalu anda pasrah dan tidak jadi makan, maka itu pertanda anda telah tunduk pada keinginan/perintah Allah. Bukan pada keinginan nafsu anda.

Masalahnya, anda tidak tau cara bertanya kepada Allah, juga tidak tau seperti apa cara Dia menjawabnya. Sebab, anda tidak mengenal Allah. Juga tidak tau Dia menggunakan bahasa apa saja.

Itulah urgensi “makrifat” dalam tradisi gnostis (sufisme/irfan). Makrifat artinya “mengenal”. Bersahabat. Saling menyapa. Akrab. Dengan makrifat inilah kita mampu berkomunikasi dengan Allah. Makrifat ini ilmu para nabi, para imam dan wali-wali.

Artinya apa?

Tidak mudah mengalahkan nafsu (keinginan-keinginan yang muncul dari ego pribadi kita). Kecuali pada saat yang sama kita juga mengetahui apa maunya Allah. Itulah mengapa, tanpa makrifat, kita semua berpotensi tersesat dalam tafsiran akal dan nafsu.

Contoh di atas baru keinginan “nafsu” untuk makan. Belum lagi keinginan-keinginan (bisikan) iblis dalam diri, yang mendorong kita untuk melakukan berbagai hal, termasuk hal-hal (yang seolah-olah) terlihat baik. Padahal Allah sendiri belum tentu setuju dengan kebaikan itu. Kalau itu sebuah kebaikan yang dibisiki/disuruh kerjakan oleh iblis, sudah pasti Allah melarang. Sebab, segala sesuatu yang datangnya dari iblis dan setan, pasti batil. Karena kerjaannya memang untuk menyesatkan orang. Maka, kita harus mendengar apa yang baik, yang datangnya hanya dari Allah.

Begitulah “etika beragama”. Lebih tepatnya “etika bertuhan”. Walaupun kita secara mandiri (menurut hukum-hukum akal dan syari’at) mampu berfikir apa yang terbaik buat diri kita sendiri, tapi etisnya harus minta izin terlebih dahulu, konfirmasi kepada Allah.

“Ya Allah, boleh saya makan sekarang?”, kita bertanya. “Boleh”, jawab Allah. Baru kita makan.

“Ya Allah, boleh saya tidur disini?”, kita bertanya. “Tidak boleh”, jawab Allah. Maka jangan tidur disitu.

“Ya Allah; boleh saya naik haji tahun depan?”, kita bertanya. “Tidak boleh, haram!”, jawab Allah. Maka jangan dilakukan. Allah Mengetahiui apa yang terbaik secara aktual buat kita. Jangan menganggap semua yang baik itu baik. Jangan merasa lebih tau dari Allah.

Kita ini “abdi” Allah. Sama seperti abdi negara, yang juga harus memelihara etika. Ketika mau bicara, minta izin dulu kepada atasan. Ketika diberi izin, baru bicara. Itu namanya tindakan yang telah memperoleh “ridha atasan”. Sebagai hamba Allah, segala tindakan juga harus terlebih dahulu memperoleh izin/ridha Allah. Itulah makna insya-Allah, telah mendapat izin Allah.

Kalau semua tindakan kita sudah diizinkan/diridhai Allah, tentu di akhirat tidak ada lagi “hisab” (pemeriksaan). Sebab, semuanya sejak awal sudah di setujui Allah. Ngapain lagi diperiksa. Itulah orang-orang yang masuk surga tanpa hisab. Karena semua tindakannya sudah tersucikan sejak awal. Allah selalu hadir dalam setiap pemilihan keputusan sebuah tindakan.

Beda dengan orang-orang yang belum makrifat (sejak di dunia tidak pernah bertegur sapa dengan Allah). Semua amalnya akan di audit (dihisab) secara ketat di akhirat. Karena semuanya dilakukan atas dasar kebaikan menurut hawa nafsu, akal pikiran dan berbagai tafsir/teori/doktrin mazhab. Yang semua itu belum tentu benar, dan bahkan besar sekali potensi salah. Dalam konteks inilah dikatakan: “Barang siapa menggunakan akalnya, maka tempatnya di neraka” (hadis). Karena harusnya Allah lah yang bicara, bukan akalnya. Apalagi akal-akalan. Kira-kira begitu.

Oleh sebab itu, makrifat itu penting sekali. Makrifat inilah yang menjamin kita masuk surga. Sebab, sejak di dunia sudah akrab dengan Allah. Karena itulah dikatakan, “fondasi (awal) dari agama adalah makrifatullah”. Awaluddin makrifatullah.

Namun, untuk mencapai makrifat juga bukan perkara mudah. Anda tidak akan pernah mengenal Allah, kecuali ada seorang kekasih Allah yang memperkenalkan-Nya kepada anda. “Hai Fulan, ini adalah engkau; dan ini adalah Allah”. Guru spiritual itulah yang akan memperkenalkan yang mana dirimu, dan yang mana Allah. Bahkan sampai pada titik dimana engkau tidak mengenal apapun, selain Allah. Maka, barangsiapa mengenal kekasih Allah, ia akan mengenal Allah.

Dengan demikian, hidup ini tidak perlu susah-susah. Pertama, jangan menyembah Tuhan yang tidak anda kenal. Itu bahaya! Seperti kata Sayyidina Ali, “Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak aku lihat“. Kedua, jangan juga merepotkan diri untuk mencari Allah. Tidak bakal ketemu. Di dunia saja anda bisa tersesat. Apalagi menempuh jalan menuju akhirat. Peta tidak ada, alamat Tuhan pun tidak jelas.

Cari saja kekasih Allah, sosok yang akan mengantarkan anda. Kalau tidak ketemu dia di masjid, coba cari di pusat perbelanjaan, di mall atau shopping center. Sebab, Muhammad SAW pun, dulu, sering dijumpai sedang jualan di tengah pasar. Beruntung kalian, kalau ketemu dia sedang minum sanger di warung kopi!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin