‘GAGALNYA’ QURBAN IBRAHIM

image: thestraightway.info

‘Gagalnya’ Qurban Ibrahim
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ibrahim panik. Begitu membuka mata, ia melihat yang tersembelih oleh pisau tajamnya justru seekor kibas, bukan Ismail. Ibrahim takut, jangan-jangan persembahannya tidak diterima Tuhan. Karena yang seharusnya syahid adalah anaknya, bukan kambing itu.

Ditolaknya qurban bukan perkara baru. Ibadah qurban termasuk yang tertua di muka bumi. Qabil, anak Nabi Adam as, juga pernah tidak diterima qurbannya. Waktu itu, ia bersama Habil saudaranya diperintahkan Allah untuk memberikan yang terbaik dari harta yang mereka punya. Ini untuk menguji siapa diantara mereka yang paling bertakwa.

Tetapi hanya qurban Habil yang diterima (yang diriwayatkan dengan terbakarnya qurban tersebut, sebagai tanda-tanda dari Tuhan), karena Habil mempersembahkan dari hasil ternak dan pertanian terbaik yang ia miliki (QS. al-Maidah: 27).

*****

Melihat putranya tidak sukses menjadi qurban, Ibrahim menjadi sedih. Ia khawatir telah salah berqurban, atau mungkin persembahannya bukan yang terbaik sehingga tertolak. Lalu turun wahyu:

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ° قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ° إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ° وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ° وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ °

Kami memanggil dia: “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Engkau termasuk orang yang benar. Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebajikan. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menggantinya dengan sebuah sembelihan yang agung (dzibhin ‘azhim). Kami kami tinggalkan itu pada kalangan umat terakhir.” (QS. ash-Shaffat: 104-108).

Bahkan Injil pun ikut mengabarkan kisah Kurban Agung ini. “Orang yang tangkas tidak dapat melarikan diri, Pahlawan [Al-Husain dan keluarganya] tidak dapat meluputkan diri; di utara, di tepi sungai Efratlah mereka tersandung dan rebah” (Yeremia 46 : 6). Di bagian lain, “Sebab Tuhan Allah semesta alam mengadakan korban penyembelihan di tanah utara, dekat sungai Efrat” (Yeremia 46: 10). Kedua kabar ini serupa dengan yang digambarkan dalam QS. As-Shaffat 37: 107-108 di atas, “Dan Kami tebus dia dengan sembelihan yang agung. Dan Kami tinggalkan itu pada kalangan ummat yang terakhir”.

***

Memang Ibrahim telah ‘gagal’ mengorbankan anaknya Ismail. Tuhan sendiri yang menggagalkan itu. Tetapi alhasil, Ibrahim sukses melewati ujian demi ujian sehingga ia diangkat Tuhan menjadi “imam.” Bayangkan, ia seorang Nabi, tetapi setelah melewati berbagai testing tambahan, ia diangkat lagi menjadi “imam” ummat manusia. Ini menunjukkan betapa tingginya posisi para imam pilihan Tuhan. Allah berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim” (QS. al-Baqarah: 124).

*****

Sekali lagi, Ibrahim ‘gagal’ mengorbankan anaknya. Namun itu telah digantikan oleh sebuah kibas. Tetapi Ibrahim tidak benar-benar gagal. Karena beberapa generasi kemudian, pada tahun 61 H, salah satu anaknya yang lain bernama Husain, sebagaimana dijanjikan dalam QS. ash-Shaffat: 107, telah menjadi pengganti sebagai persembahan yang agung atau “dzibhin ‘azhim“. Sebuah peristiwa yang terus diingat dan menjadi penyemangat untuk terus melakukan perlawanan terhadap imperium-imperium yang menebarkan kejahatan. Sampai hari ini, kelompok-kelompok resistensi (muqawamah) yang memegang teguh ideologi qurban Al-Husain masih menjadi musuh utama para kapitalisme yang hendak menguasai tanah dan minyak Arab, termasuk zionisme.

Sayyidina Husain merupakan cucu Nabi SAW. Ia tepatnya anak dari Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib. Sayyidina Ali kwh dan Muhammad SAW satu kakek, dan sama-sama anak keturunan Ibrahim as. Husain bersama serombongan keluarga Nabi lainnya menjadi sasaran sembelihan oleh musuh-musuhnya. Husain maju ke medan jihad karena melihat agama ini telah mulai dibalikkan ke tradisi jahiliah oleh para penguasa, oleh para khalifah yang dhalim dan tamak.

Sebagaimana dulunya Ismail as, ia juga maju menawarkan dirinya sebagai qurban, untuk sebuah risalah yang ia harus membelanya. Kematian bukan sesuatu yang ia takuti, apalagi jika itu dijalan Tuhan. Di Padang Karbala, di tepi sungai Eufrat, imam Husain dengan tulus ikhlas menggantikan posisi Ismail as sebagai “persembahan agung” untuk tegaknya seruan agama pada nilai-nilai keadilan.

Disaat satu persatu anggota pasukan dan keluarganya bertumbangan termasuk bayi yang ada dalam gendongannya, beliau bermunajah, “Ya Allah, ringankanlah deritaku. Engkau telah menyaksikan semuanya. Terimalah pengurbanan ini!”

*****

Anak Ibrahim dari jalur Ismail tidak ada yang menjadi nabi sebagaimana yang banyak terdapat pada jalur keturunan Ishaq, kecuali Muhammad SAW. Tetapi janji Tuhan seperti tersebut dalam QS. al-Baqarah 124 di atas adalah pasti. Sebagian anak cucu Ibrahim dari Muhammad diangkat Tuhan menjadi “imam-imam” ummat manusia. Kepada para imam anak cucunya ini Ibrahim berdoa agar hati sebagian manusia terpaut kepada mereka:

“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).

Menurut riwayat, Mahdi yang disebut-sebut muncul di akhir zaman, juga seorang imam (pemimpin spiritual) anak cucu Ibrahim as dan juga mewarisi genetik nurullah daripada Nabi Muhammad SAW. Menurut hadist, beliau pun pada akhirnya akan menjadi syuhada, atau salah satu “qurban” terbesar lainnya di akhir zaman demi tegaknya nilai-nilai kebenaran. Wallahu ‘alam bisshawab.

Sepanjang sejarah; kita menyaksikan bagaimana para nabi, imam, wali, ulama dan ulil amri (para mujaddid, pemimpin dan pemberi petunjuk) hadir untuk mengurbankan diri kepada Tuhan. Karena sejatinya, qurban terbesar itu adalah diri kita sendiri, bukan binatang-binatang itu. Sebagian mereka ada yang mati beneran. Sebagian lagi setengah mati di jalan Tuhan. Tapi Ruh mereka kemudian menjadi abadi dalam sejarah. Sebagaimana juga dijelaskan dalam QS. Al-Hajj 37, bukan daging dan darah binatang itu yang menjadi wasilah untuk diterima Tuhan. Melainkan taqwa, keseluruhan jiwa dan raga yang engkau berikan kepada-Nya.

Labbaik ya Ibrahim. Labbaik ya Ismail. Labbaik ya Rasulullah. Labbaik ya waliyyal mukminin! – 10 Dzulhijjah 1437 H.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s